Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

MC

Kawan,
Masih ingatkah kalian ketika kita menuliskan nama masing-masing seperti ini:
*Thi@
*Thoe_ty
*El_shy
*Umix's
*Dhe_bhy
*Dhe_why
*You_shy

Waktu di zaman putih-abu tulisan ini bertebaran di mana-mana. Hampir di seluruh penjuru sekolah. Misalnya: dinding tangga dekat mushola, dinding tangga dekat kelas Usaha Jasa Pariwisata (UJP), meja-kursi di kelas, dan kantin. Bahkan tulisan masing" nama alay ini juga tersebar di seluruh tempat jalan" yang pernah kita tuju. Kita mengabadikan nama di sana. Sampai sekarang pun mungkin masih ada.

Dan kita memberi judul di atas nama" itu: 'MC'
MC for Mafhia Crew. Entah dari mana nama ini berasal. Entah apa filosofinya. Entah apa visi-misi nya. Semua sampai sekarang terasa buram. Mungkin karena saya anggota termuda di geng ini. Yg jelas, kita selalu bangga menuliskannya di mana-mana.

Saudaraku,
Masih ingatkah ketika kita begitu rajinnya bikin rusuh di sekolah.

*Menyanyi bak girl band. Tapi suara yang memekakkan. Tentu Tia juaranya untuk suara yg menggelegar. Sehinnga beberapa kali dia didapuk menjadi pemimpin upacara. Bernyanyi di pojokan tingkat 3 sekolah, terdengar hingga ruang majelis guru. Bahkan kita sempat diburu guru paling kiler semasa itu. Dan bermain kucing"an dengan beliau.

*Membuat rusuh ketika upacara 5 menit saja akan di mulai. Berjalan bergerombolan 7 siswi di depan barisan yg sudah rapih, guru yg sudah berbaris pada tempatnya. Kita seenaknya menggusur teman lainnya dan mengambil barisan terdepan.

*Bersemangat mengikuti karnaval tahun baru hijriyah se-Bukittinggi. Latihan rebana, persiapan baju kurung, bahkan ikut bermain meriam bambu di sepanjang karnaval. Mengolok sekolah lain karena merasa sekolah kita tersaingi. Lagi" suara Tia juaranya.

*Bergabung di OSIS dan berhasil tergabung di Seksi Imtaq. Entah kenapa, kita gerombolan rusuh nan berprestasi ini bisa tercebur ke seksi satu ini. Haha

*Menyemangati Dewi yg tergila-gila dengan cowok incarannya alias Dicky. Meng-kepoi Habibi yg selalu sibuk dengan pacarnya yg waktu itu kita rasa aneh, mulai dari guru agama sampai penjaga warnet. Mencemburui Elsi yg melebihkan waktunya bersama si Muncusnya dibanding membersamai kita. Menggosipkan Yosi yg sering punya jadwal tiba" dengan sepupunya.. Memikirkan Umik yg masih ga stabil, kadang gabung kadang menyendiri. Dan, kalian dengan tanpa dosa diam" membaca diari saya. Haduh!!

*Menangis dan tertawa berjama'ah. Kenapa bisa ya? Ketika salah seorang di antara kita menangis, yg lain akan latah menangis sesegukan. Serasa langit akan runtuh. Ketika salah seorang mulai tertawa, kita bisa tertawa sebebas-bebasnya. Seperti kerasukan. Tidak bs berhenti kecuali ketika ada signal membahayakan (diburu guru kiler, misalnya). Tapi kita bukanlah segerombolan org gila. Kita waktu itu merasa ya kita sekelompok bersaudara yg memiliki empati tinggi. Aneh ya.. Hehe.


Sahabatku..
Sekarang lain lagi kisahnya. Sekira delapan tahun kita berpisah dari kebersamaan dulu, telah banyak kisah dari masing-masing kita yg terlewati. Aku tidak mengetahui banyak hal tentang kalian. Jika rindu, singgah di laman sosial kalian masing-masing adalah salah satu caraku untuk mengetahui.

Sering kali aku dicap sombong, 'ongas', dan semacamnya. Demikian karena memang aku tidak tergolong sahabat kalian yang nyinyir berkabar, pun bertanya kabar. Tapi percayalah kawan, aku selalu menyinggahi kalian dengan cara lain.

Bumilak, 05 Desember 2013

Ya Qawwiyy

Ya Allah..
Ya Qawwiyy..

Engkau Maha Kuat
dan Menguatkan

Teguhkan hati ini ketika disakiti
Sabarkan hati ini ketika dilukai

Ampuni aku
Ampuni makhlukmu yang juga menyakitiku

Pekanbaru, 27 Februari 2013

Selamat Ulang Tahun

-Dewi Lestari-

Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lengang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Miliaran panah jarak kita

Tak jua tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah

Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan, Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu

Ada "Selamat ulang tahun"
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s'lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku 



Enam November 2012

Enam November 2012,

Kita begitu berani memulai, kenapa begitu khawatir ketika ia harus berakhir? Satu alasan, rasa. Aku yakin rentetan pembelaan, cercaan dan penghakiman hanyalah luapan emosi yang tanpa teriring perasaan dan pemikiran jernih. Selama emosi tak kunjung reda, beribu sumpah serapah, caci-maki tak akan terbendung diluapkan.

Percayalah, sebentar lagi ia akan mereda. Ibarat api yang sebesar apa pun membakar, lama pun lambat ia akan redup. Dan padam. Saat seperti inilah penyesalan akan datang. Satu sama lain akan mengutuk diri sendiri. Mengapa ini harus terjadi. Mengapa saya harus seperti tadi. Mengapa kamu melakukannya

Aku siap. Siap menerima kenyataan setelah emosi kita sama-sama lenyap. Ada hikmah setelah ini. Pasti. Untuk saat ini apa yang telah kita mulai sudah selesai. Setelah ini ia akan bisa dimulai lagi dengan suasana yang baru bahkan ia akan benar-benar kita bungkus rapi dan tak akan pernah dibuka kembali.
Kamu pilih mana?

Serahkan pada waktu. Seperti yang kita percayai dari dulu, waktu itu mampu melakukan segala hal. Ia bisa merubah keadaan, ia bisa membuat baik dan buruk. Dan waktu mengantar kita kepada tujuan.
Masihkah tujuan kita sama?






. (Titik)

Ku akan mulai menyentuhmu dengan media lain.
Ku akan mulai menatamu dengan dmensi lain.
Agar kau tak lagi jauh ditinggal.
Agar kau terlihat terawat.

Aku tak ingin lagi abai
Akan selalu ada kisah yang harus ditandai.
. (Titik)

ibu - kita

ibuku berusaha untuk tidak menolak apa saja kemauanku. agar aku tak kecewa tentunya
aku rasa ibumu juga begitu. tidak akan membiarkanmu berkecil hati atas apapun

kali ini, aku dan kamu sama-sama memiliki kehendak
ingin saling menghargai dan menyanggupi kemauan masing-masing
tapi apa yang terjadi?
tetap saja aku atau kamu melanggarnya
itikad baik untuk memperbaiki,
masih jauh
yang ada benturan pendapat
benturan kehendak
benturan prinsip
agak memaksakan

tapi percayalah
ini sekedar bumbu
menjadi aneka citarasa 
kita saja yang belum cukup mampu memaknainya
let it! enjoy! make it better

lalu kenapa aku menghubungkan 'ini' dengan ibuku ibumu?
alasan pasti aku juga tidak tahu
tentu diantaranya memiliki kesamaan, menurutku
butuh TULUS
ikhlas menabur
tak berharap balikan
selalu terjaga
selamanya

begitulah hendaknya,
kita



Banyak Jalan Satu Tujuan

Pada akhirnya skenario apa pun yang telah kita tuliskan tidak akan selalu berjalan semestinya.
Suatu ketika ia akan sama dengan yang telah kita rencanakan.
Suatu ketika ia akan berputar arah menjauhi rencana yang kita tetapkan.
Ini hanya persoalan penerimaan.
Apabila ia sesuai dengan rencana, terima dengan syukur.
Apabilai ia tak sama dengan rencana, terima juga dengan syukur.
Nah, syukur seperti apa?
Ketika pikiran ini mampu diduasisikan ia akan mampu mencerna dua syukur itu.
Ia juga akan bijak.
Mengiring kita ke tujuan yang terasa kian dekat.

Kali ini, sejauh ini perjalanan kita,
memang terasa di luar jalur.
Kadang kita tidak konsisten dengan skenario yang kita tuliskan.
Tak ada salahnya, bukan.
Karena semua berproses mengikuti alur masing-masing.

Mari berjalan.
Jalan yang tak sama.
Liku-liku.
Lurus.
Banyak jalan.
Satu tujuan.
Bahagia.





untuk ibu dan lelaki (ku)

-untuk ibuku-
-untuk lelakiku-

"Kita lahir ke dunia juga tanpa uang, nak. Jadi jangan terlalu memaksakan. Allah tak akan pernah sia-sia."












"Tidurlah, aku tidak setega itu."

#tuntutan

Tuhan, haruskah MENYERAH?
Bukannya terlalu angkuh untuk merasa BISA melakukan SEMUA ini
Tapi hanya mencoba berTANGGUNG JAWAB atas PILIHAN 

pilihan HIDUP
pilihan CINTA
pilihan PEKERJAAN

semuanya mengandung RESIKO
BESAR sekali

#tuntutan

Surat untuk Sahabat

sahabatku..
izinkan aku menuliskan surat ini untukmu, percakapan kita tadi sore aku merasa sungguh aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. mohon maaf, aku terlalu egois menilaimu.

jikalau saja kita tak berjarak, ingin sekali aku ada di hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. tapi, di halaman ini aku juga merasa tidak bisa dan tidak perlu untuk menjelaskan apapun. aku hanya ingin kamu mengerti aku, makhluk Tuhan yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.

sahabat,
jika kamu berpikir aku buruk, aku tak seburuk itu
jika kamu berpikir aku baik, aku juga tak sebaik itu
kepada siapapun di dunia ini, sungguh aku tidak berharap aku dianggap apa-apa
aku hanya memasrahkan kepada Tuhan untuk menilaiku

jika kamu mendengar apapun dari orang lain tentangku, jangan cepat membuat kesimpulan. sebaliknya, aku pun begitu. sesungguhnya banyak 'hal' yang aku dengar tentangmu, tapi aku berusaha untuk tidak akan menghakimimu. karena aku tau, kamu memang lebih dari aku. lebih tebal imanmu, lebih mantap agamamu. aku hanya berusaha yakin kamu tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. untuk itu, mohon jangan kamu menghakimiku. aku tak seburuk itu. sungguh.

aku juga sangat menyesal telah berusaha jujur untuk memberi penilaian untukmu. pun itu atas permintaanmu. aku benar-benar bodoh, ternyata penilaianku hanya menjadi boomerang bagiku. tak seharusnya aku menilai kamu, tak seharusnya aku menyampaikan apa yang aku rasakan. karena itu semua hanya membuatmu sedih dan kecewa. tak ada kepantasan sedikitpun bagiku untuk menilaimu. hanya Tuhan semata-mata yang berhak untuk menilai umatNya.

sahabat, sudahlah. aku akan melupakan semuanya. aku tidak akan marah, tidak kecewa dan tetap akan menganggap kamu sebagai sahabatku. terimakasih kamu telah mengingatkanku, terimakasih kamu telah menyayangiku karena Allah. sebaliknya, aku juga menyayangimu karena Allah.

Angka berJarak

Kita berjarak 1.664 km. Kita berbeda waktu 1 jam. Kalau ingin bertemu, kita mesti menempuh 3 pulau, Apabila hendak saling melepas rindu kita butuh rupiah kira-kira sebanyak 3 juta. Setiap kali mau bercengkrama, saling mendengar suara, kita butuh pulsa. Entah berapa, mungkin 5 ratusan ribu untuk kita berdua tiap bulannya. Apalagi? Masih banyak.

Ah, itu hanya angka. Meski angka selalu ditakdirkan untuk dihitung, tapi untuk kondisi ini tak perlulah kita menghitung. Tak ada guna. Bukankah ia apabila sudah habis dapat dicari lagi. Yang perlu hanyalah bagaimana angka itu mencipta bahagia. Bahagia karena apa? Karena kita telah membuatnya menjadi tak biasa. Luar biasa, tepatnya. Dengan cinta berbiaya tinggi kita telah memuliakan hubunga kita.

Tak banyak yang bisa melakukan. Tak banyak pula yang bisa bertahan. Mari kita buktikan. Bahwa cinta kita patut diperjuangkan. Patut pula melakukan pengorbanan. Tak ada alasan lain, selain karena kita memang benar-benar ingin menjaganya. Membuat dia berharga.

Bukan berarti pula kita mengagung-agungkan angka yang telah kita keluarkan. Tapi berusaha berlaku semampu kita. Tak ada kondisi untuk memaksakan. Kecuali kerelaan. Satu sama lain. Saling memberi dan menerima. Saling berkorban dan dikorbankan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia. Akan tiba waktunya memetik buah dari pengorbanan yang sama-sama telah kita tanamkan. Tak akan ada orang lain yang akan memetiknya, melainkan kita. Kita yang telah bersusah payah menanamnya, merawatnya, tentu kita pula yang pantas untuk memetiknya. Bersabarlah..


Salam berjarak, Ujung Bori 17th dec 11.

bukan Aku, Kamu tapi Kita

aku benar-benar belum mengerti apa itu pengorbanan. bagaimana pengorbanan yang sesungguhnya. setiap kali aku menyatakan sikapku atas tawaran yang kau hadapkan, rasanya selalu tak sebanding dengan harapanmu. aku berusaha jujur, apa adanya agar tak ada lagi secuil kekecewaanpun antara aku dan kamu. tapi kenapa, pada akhirnya aku berada pada posisi yang salah. kamu berada pada posisi membebaskan. lebih pahitnya, aku merasa kamu seperti tak mau peduli lagi. "mulai sekarang aku tidak akan melarangmu, tidak akan bertanya lagi untuk hal ini," katamu.

kamu tahu, kalimatmu yang tak seberapa itu sungguh membuat aku sakit. aku tak mau dilepaskan. aku tak mau dibiarkan. bimbing aku. tuntun aku. ingatkan aku kalau aku salah. bantu aku dalam menentukan pilihan. selain Tuhanku yang selalu aku libatkan dalam segala gerak langkahku, aku juga butuh kamu. itu semua untuk kita. bukan siapa-siapa.

apabila kamu bertahan dengan sikapmu demikian, sama saja perlahan kau membunuhku. kau biarkan aku, sementara dari kedalaman hatimu menyimpan rasa kecewa. tak terima. kamu hanya beralasan, "aku demikian agar tak ada lagi masalah". itu salah besar, selama kamu diam, selama kamu memendam, selama itu pula masalah ini akan ada. makin lama ia akan menggunung. suatu saat dia akan tumpah. pada saat inilah kita akan berhadapan dengan kenyataan yang sangat pahit. aku tak begitu yakin, kita akan mampu menghadapinya.

untuk kedepannya, jika kamu punya keinginan layaknya keinginanku, aku mohon kamu jangan bertahan dengan sikap seperti ini. aku ingin apa yang telah ada tidak menjadi sia-sia. ia akan berujung bahagia di waktu yang tepat nantinya. apakah kamu juga demikian? aku yakin, kamu punya keinginan yang sama. mari kita bicarakan dengan terbuka, sama-sama kita mencari solusi, sama-sama kita membuat keputusan, sama-sama pula kita menikmati hasilnya.

mulai saat ini,
aku akan belajar untuk tidak banyak meminta.
untuk tidak banyak bertingkah.
untuk tidak memaksa.
aku akan belajar mengerti.
belajar ikhlas.
belajar memahami pengorbanan yang sesungguhnya.
Insyaallah, aku bisa.
aku mohon bantuanmu.
juga, Tuhanku.
demi Kamu, Aku dan Kita.

*Ujung Bori, 10:20 Wita

segala cerita kita

selamat pagi sayang..
pagi ini aku masih ingin menulis untukmu. rasanya, tak ada habis-habisnya inspirasiku untuk menuliskan segala tentangmu. apa saja. begitu banyak hal yang berkesan di hatiku. kau benar-benar telah memberi warna untuk hari-hariku, sayang. kau tahu kan sayang, di sini aku sendiri. hari-hariku sendiri. tak ada teman. tak ada saudara. tak ada keluarga. aku tahu kau juga merasakan kesendirianku. makanya kau begitu pandai bersikap untukku. tak ada lagi sepi. kau selalu ada, sayang. menemani.

sayang, kian hari aku kian merasa beruntung bersamamu. kau memberikan segalanya melebihi yang aku inginkan. kau begitu mengerti. benar-benar mengerti. rasanya terlalu berlebihan jika aku mesti menjabarkan apa-apa saja yang telah kau lakukan untukku. cukup kita saja yang tahu, kan..

pola pikirmu benar-benar luar biasa. segalanya dibuat sederhana. tapi tanpa menyepelekan sedikitpun. kau punya cara pandang sendiri dalam menyikapi kekurangan orang lain. tak pernah kau menyalahkan. tak pernah menghakimi. kau selalu ada cara untuk itu. aku benar-benar belajar darimu, sayang.

akhir-akhir ini hari-hari kita dipenuhi cerita. macam-macam. mulai dari temanku, temanmu. keluargaku, keluargamu. masa laluku, masa lalumu. kadang, masa depan kita juga. sebenarnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk bercerita, tapi aku yang selalu dominan. kau dengan senang hati memberi ruang untukku bercerita . apa saja. meski ada protes-protes kecilmu, tapi tetap saja kau antusias mendengarkannya. terimakasih sayang..

setelah aku bercerita entah kemana-mana, tiba giliranmu. tapi setiap kali kau bercerita, sedikit saja. aku yang selalu mendesakmu untuk bercerita lebih panjang-lebar. meski ceritamu banyak yang membuatku cemburu, tapi aku senang sekali mendengarkannya sayang. aku senang kau begitu jujur. tak ada lagi yang kau tutupi dariku. teruslah bercerita untukku, sayang.

semalam, salah satu dari ceritamu yang sangat berkesan untukku ketika kau katakan bahwa benda kesayanganmu lecet. itu sama sekali tidak kau sengaja. kau bilang, itu tejadi ketika kau hendak menutup jendela kamarmu. ia mengenai teralis besi. sedikit gores. sedikit saja. tapi, kau begitu menyesalkannya. berkali-kali kau mengulangnya. aku tahu sekali kau begitu menjaganya sayang. tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. kenapa demikian? tak lain karena benda itu dari aku. dengan begitu, aku sangat merasakan kau begitu menghargaiku. bukan artinya aku mengharapkan penghargaan darimu, tapi dengan sikapmu demikian aku benar-benar merasa dihargai. untuk seterusnya jagalah benda itu layaknya kau menjagaku. karena ia setia menemanimu, kapanpun. melebihi setiaku.

terimakasih untuk cerita-cerita indahmu semalam, sayang

*selasa pagi di Ujung Bori  09:12 Wita

sekat untuk sahabat

kau bilang, dengan bangga aku memperlihatkan kebodohanku kepada sahabatku
kau bilang, tak ada pentingnya aku berbagi dengan sahabatku
kau bilang, tak perlu orang lain tahu tentang kita

untuk pertama kalinya aku kecewa
kau begitu kentara memberi sekat antara aku dengan sahabatku
alasanmu jelas memang, sangatlah logis
aku tak mengira kau punya cara pandang berbeda
luar biasa

untuk kali ini aku hanya ingin kau paham
perasaan perempuan yang bergejolak
sulit dikendalikan
kadang ia sangat ingin berbagi
kadang pula serba ditutupi

terimakasih sudah mengingatkan
jangan pernah lelah untuk menuntun

*ujungbori, 11.00 Wita

selamat ulang tahun, sayang

sayang..
ini malammu, selamat ulang tahun ya..
ingin sekali aku melihat senyummu malam ini
ingin pula aku menyerahkan secara langsung bingkisan yang telah aku persiapkan dari jauh hari
tapi, jarak ini belum memberi kesempatan untuk kita bertemu, sayang..
aku yakin kamu masih setia menunggu
memberi kesempatan kepada waktu untuk menjawab segala penantian kita

sayang..
dulu, kamu sering mengutarakan kekhawatiranmu
kamu sangat khawatir waktu akan berkhianat karena jarak
aku rasa mulai saat ini kamu tak perlu lagi mengkhawatirkan itu
karena sampai malam ini waktu masih setia menemani kita, bukan?
meski kita berjarak, sang waktu tetap menciptakan kenangan untuk kita berdua
meski ada pahitnya, tapi terlalu banyak indahnya

sayang..
karena alasan waktu pula, aku mengirimkan bingkisan itu kepadamu
belum dapat aku berikan hadiah istimewa untukmu
hanya sebuah jam tangan yang akan menemani di setiap gerakmu menjalani hidup
meski ia tak istimewa, tapi ia akan menjadi penunjuk waktumu
waktu yang tidaklah murah.
sangatlah mahal untuk disia-siakan.

sayang..
seperti pada buku yang sama-sama pernah kita baca,
aku harap kamu akan lebih menghargai waktu dan memanfaatkannnya untuk kebaikan hidupmu
waktu juga akan memberikan kehidupan untuk kita berdua, sayang..
meski kita terpisahkan oleh jarak
ia akan tetap merekam ingatan dan kenangan kita berdua
dulu, kini, dan nanti.
selamanya..

*ujungbori, 16Nov11 - 00:00 Wita

kita

malam ini kesepakatan terbentuk begitu saja. tanpa ada yang meminta. tanpa ada pula yang memaksa. senang, aku benar-benar senang. tak tahu lagi bagaimana mengutarakannya. ternyata jalan keliru yang selama ini sama-sama kita tempuh telah berubah. jalan keliru bukan berarti kau yang mengarahkan, tapi aku turut mengikuti. aku tahu kau membawa aku ke jalan keliru, tapi aku tak cukup berani untuk menghalanginya. aku berusaha membuat segalanya jadi nyaman. tanpa ingin torehkan kecewa dihatimu. aku ingin kau senang. bahagia. itu saja. dan, pada akhirnya kita sama. sama-sama melewati jalan tersebut. meski jalan itu keliru, kita sama-sama menikmati perjalanan itu pula. jadi, tak ada yang mesti disalahkan. kau pun aku.

marilah kita menganggap perjalanan itu sebagai sebuah proses. proses untuk kita lebih baik. mungkin, tanpa kita lewati jalan keliru itu, kita tak akan pernah tahu bagaimana seharusnya kita menempuh jalan yang sekarang. untuk memilih jalan baru, jalan baik tentunya, kita mesti dihadapkan pada pilihan. ketika kita mesti memilih, pasti ada yang dikorbankan. marilah kita sama-sama berkorban. pengorbanan yang sifatnya sementara. hanya butuh kesabaran. percayalah, sabar kita akan berujung manis, kelak. biarlah saat ini kita harus menjaga. menjaga segalanya dari hal-hal buruk. agar di kemudian hari, di waktu yang tepat nanti, kita sama-sama memetik keindahan dari pengorbanan yang telah kita lakukan.

selama proses menuju jalan baik ini, masih banyak yang dapat kita lakukan. kita masih punya banyak kesempatan untuk berproses. menjadi manusia-manusia yang selalu berusaha menjadi yang terbaik. di hadapan siapapun. terutama di hadapan Tuhan kita. tanpa mengurangi rasa yang selama ini telah sama-sama kita tanamkan. semoga bertahan. untuk selamanya..

*notetous, sunday midnite 30th oct 11




tak dipungkiri

rasanya.
tak ada lagi yang mesti dipungkiri
rasanya,
sudah saatnya aku jujur

aku mulai merasa tak sanggup;
jika kau tak ingat aku
jika kau tak sapa aku
jika kau tak peduli aku
jika kau tak sayang aku

kian hari kian lebih
sayang,

ketika semua telah menjadi 'berlebihan'

Apa rasanya ketika kekhawatiranmu sama sekali tak dihargai?
Apa rasanya jika kamu tak dipeduli?
Apa rasanya bila kamu hanya dihadiahi janji?

Hei, kamu. Jika memang  rasa ini tak perlu lagi diperjuangkan, aku mohon jangan lari. Aku yakin pasti ada solusi. Dulu, kita sama-sama berani untuk memelihara rasa ini. Mulai dari ia membenih, tumbuh, hingga mekar. Semuanya begitu indah. Sangatlah indah. 

Tapi, itu baru sebentar. Benar-benar sebentar sayang.. 

Jika kamu sudah merasa tidak nyaman lagi dengan perasaan ini, lebih baik kita mundur. Kembali ke tujuan masing-masing. Tak perlu lagi kita lanjutkan perjalanan ini. Tak perlu pula kita untuk terus bersisian. Karena aku lebih merasa tersiksa ketika kamu bersisian denganku tapi menyimpan rasa tak nyaman. Lebih baik aku sendiri. Sakit sendiri. Tanpa melibatkan kamu. Karena apa? Karena ku sayang kamu. Tak ada inginku sedikitpun untuk membawamu ke wilayah tak nyaman. Aku hanya ingin kamu bahagia. Bahagia yang sebenarnya. 

Mungkin kamu rasa aku terlalu berlebihan. Ya, aku selalu berlebihan. Itu pula yang  menjadi kekuranganku.
Aku paham, aku selalu memberi ruang untuk perasaanku. Hingga ia merambat kemana-mana. Itu tidak dibuat-buat. Ia hadir begitu saja. Aku harap, kamu turut paham juga. 

Kini, aku mulai tak mengerti. Aku mulai khawatir. Khawatir yang juga berlebihan. Aku merasa berada pada posisi serba susah. Susah yang berujung pasrah. Semuanya aku pasrahkan kepadamu. Kendalikanlah jalan kita ini. Aku akan terus di sisimu hingga sampai lelahku. 

Aku hanya ingin kamu tahu, ketika semua ini telah menjadi berlebihan, itu semua karena aku juga telah menyimpan rasa yang sangat berlebihan pula kepadamu. Aku harap aku tak akan pernah lelah. Hingga kamu benar-benar mengerti.

*Mks, monday midnight

air mata rindu

air mata semalam bukan air mata yang aku buat-buat. dia mengalir begitu saja di tebing pipiku. setelah dada ini begitu sesak menahan, akhirnya dia tumpah. selama ini hatiku cukup beku untuk mengeluarkan air mata begitu saja. tak banyak waktu tak banyak kesempatan aku bisa menangis. tapi, semalam hatiku tak beku lagi. ia luruh. mencair begitu saja. mudah sekali.

mungkin, ini namanya air mata rindu. ya, aku rindu. benar-benar rindu. aku tersandera jarak. terperangkap dalam rindu. aku kehilangan arah. tak tahu mesti mengadu kemana. kepada siapa. aku merasa sendiri. aku mulai khawatir. kemudian khawatir itu menjelma menjadi ketakutan.

aku takut kehilangan. kehilangan kamu, kehilangan keluargaku, kehilangan sahabatku. karena itu, jangan pernah kamu memperlebar jarak ini. biarlah kita berjarak pada fisik. tapi aku mohon, tetap dekatkanlah hati ini. aku tak mau kamu biarkan aku sendiri. aku tak sanggup.

aku tak sekuat dulu lagi. aku tak setegar dulu lagi. aku tak setangguh dulu lagi. aku mulai lemah. seringkali aku dikalahkan perasaan. sulit mengendalikan emosi. sekali lagi, aku ingin kau tetap bersamaku. aku ingin kau selalu menjadi teman hatiku. selalu.. :'(

sahabat

sebentar lagi aku akan pergi. sahabat, bukannya aku tega meninggalkanmu. tapi, bukankah kita sama-sama sudah memahami bahwa pertemuan dan perpisahan itu selalu berjodoh? pada akhirnya kita akan menempuh jalur hidup masing-masing, sahabat..

kau katakan, terlalu cepat aku pergi. kau katakan, hanya aku satu-satunya di sini yang mengetahui segala tentangmu. kau katakan, tentu aku akan jauh lebih nyaman ketika sudah tak bersamamu lagi. itu salah, itu keliru. itu hanya karena perasaan ber'dosa'mu saja, sahabat..

sesungguhnya aku merasa gagal. gagal mengajakmu untuk berubah. berubah ke arah yang lebih baik. meninggalkan kehidupan 'ganjil'mu layaknya sekarang. kau telah menceritakan semua tentangmu, jauh dari sebelumnya aku sudah mengetahui. hanya saja, aku tak punya cukup keberanian untuk mengatakan kepadamu. akhirnya, waktu itu datang. kamu sendiri yang mengungkapkan segalanya. ternyata, prasangkaku tak keliru.

kamu tahu, aku benar-benar berada posisi yang sulit. aku merasa tak berguna ketika aku tak bisa membawamu untuk meninggalkan 'dunia'mu. sudah aku berusaha untuk memberi masukan, lebih tepatnya nasihat. tapi, kamu terlalu kuat dengan alasanmu. telah berusaha aku untuk menyampaikan dengan cara yang lebih keras. tapi, kamu tak hirau. akhirnya, aku menyerah. membiarkanmu terus tenggelam di 'dunia'mu. aku mulai berpikir, suatu saat kamu pasti bisa berubah. kamu akan mampu berpikir jernih. akan merasakan betapa bodohnya apa yang telah kamu lakukan selama ini.

sebentar lagi, aku harus pergi. kamu tetap saja belum berubah. seperti curahan hatiku beberapa malam di waktu lalu. "aku merasa tidak ada guna sebagai sahabatmu. aku tak mampu merubahmu. aku gagal. untuk apa aku tahu segalanya, tanpa bisa membantu kamu."

mungkin ini jalannya. ada baiknya aku pergi. setelah aku pergi mungkin kamu menemukan sahabat baru. sahabat yang bisa mengajakmu untuk keluar dari dunia kelirumu itu. percayalah, aku selalu mendoakanmu, sahabat. kamu akan selalu punya kesempatan untuk berubah. segalanya bergantung dari kedalaman hatimu. percayalah...