Akhirnya Justin Bieber menginjakkan kaki di Jakarta, Jumat (22/3) lalu. Kedatangannya penuh histeria, terutama bagi penggemarnya yang disebut 'Beliebers' ini. Apa benar yang ada pada diri justin bieber? Di usianya yang masih belia, baru 17 tahun, ia sudah berprestasi. Bukan sembarang prestasi. Prestasi mendunia. Jika kita bandingkan dengan 'Artis Youtube' keluaran lokal, tentu belum apa-apa dibanding Bieber. Sebut saja, Shinta-Jojo, Bona 'Gayus Tambunan', Soaludin 'Udin Sedunia' dan yang teranyar Briptu Norman Camaru. Mereka semua juga telah menghentak se-isi Indonesia, tapi sayang mereka tak begitu menggaung ke seantero dunia.
Justin bieber telah menunjukkan eksistensinya melalui konser bertajuk 'My World Tour'. Telah hampir seluruh belahan dunia ia datangi untuk unjuk aksi panggung, termasuk Indonesia. Dan di seluruh kesempatan itu pula ia mampu membuat penggemarnya di luar kendali. Tangis, tawa, dan teriak. semuanya berpadu. Sejauh perhatian saya, ada seorang remaja di Israel memakai gaun layaknya seorang pengantin perempuan dan mengusung board bertuliskan, Justin, marry me!! hah, apa-apaan ini?
Pada salah satu acara televisi, terlihat para Anak Baru Gede (ABG) sangat histeris ketika akan menyambut kedatangan Bieber di Jakar. Bahkan ada yang mau bunuh diri jika keinginannya untuk bertemu justin tidak kesampaian. Ada lagi yang mengumpat promotor pengundang Justin dikarenakan mereka tak kebagian tiket untuk menyaksikan konser secara langsung. Ada juga yang ketipu oleh calo. Bertempat di Sentul International Convention Centre, promotor hanya menyediakan 10.000 tiket. Tiket dijual online, pada penjualan pertama, 6000 tiket ludes terjual via online. Hanya menghabiskan waktu 2 jam. Gila...!!
Membludaknya penggemar Justin membuat banyak yang tak kebagian tiket. Di salah satu tayangan televisi diperlihatkan sekelompok remaja yang meluapkan emosinya. Sumpah serapah pun tak dapat dielakkan, *^%&$###@&*. Mereka mengaku telah puasa belanja selama sebulan demi mengantongi tiket nonton justin. ada pula yang berani membohongi orang tua demi bisa bertemu sang idola. Memang, tak tanggung-tanggung pengorbanan mereka. Harga tiket jutaan tak jadi masalah. pada akhirnya mereka yang tak kebagian menonton pun terjebak oleh ulah calo yang meraup keuntungan dari acara ini.
Belum lagi dari situs youtube, saya melihat beberapa anak ABG bahkan anak kecil berteriak-teriak, mengamuk, menentang orang tua karena keinginannya bertemu Justin juga tak terpenuhi. Ah, sungguh menggila mereka ini.
Menurut saya luapan emosi remaja tanggung yang mayoritas perempuan itu adalah sesuatu yang kurang wajar. Bukan bermaksud mencela perbuatan mereka, hanya saja ada banyak cara lain untuk mengungkapkan kekaguman kepada sang idola. tak mesti menguntit, mengikuti style, hingga melakukan hal-hal yang tak logis.
Segala bentuk ketidakwajaran sikap mereka ini tentu tak terlepas dari didikan orang tua masing-masing. Ada orang tua yang terlalu memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengekspresikan diri terhadap sang idola, ada juga yang terlalu mengekang. Dua-duanya ada tak baiknya. Jika mereka terlalu diberi kebebasan, para remaja yang masih membutuhkan perhatian ini akan terjebak, kehilangan identitas diri. Apabila terlalu dikekang, mereka akan menentang orang tua. Berbagai cara pun mereka tempuh untuk mengikuti kehendak.
Kata Psikolog Tika Bisono dalam suatu situs internet, hal ini merupakan fase yang dialami oleh sebagian besar para remaja, sebagai orang tua suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, itulah tahapan yang dilalui yang ada pada diri remaja dan ketika umur mereka bertambah perilaku tersebut berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambah kedewasaannya.
Ya, persoalan remaja memang agak sedikir rumit (sok tau..he..). Bukanlah perkara mudah untuk mendidik mereka di tengah lajunya arus globalisasi sekarang ini. Butuh berbagai pendekatan untuk mereka. Menurut saya, yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada mereka (remaja) dari segala sisi. Orang tua perlu menjelaskan bahwa perbuatan 'menggila' kepada idola bukanlah suatu prilaku yang baik. Setiap anak yang demikian akan kehilangan identitas diri, senantiasa mengikuti segala tingkah dan gaya sang idola. Nah, bukankah lebih baik kita percaya pada diri sendiri? dan bukankah kita harus bisa mengeksplorasi potensi diri sendiri untuk berkarya?
Selain itu, dari sudut pandang agama (islam), remaja yang demikian yang cenderung mengidolakan penyanyi, aktris, aktor yang bergaya hidup tidak islami (apalagi dari manca negara yang jelas-jelas sangat berbeda gaya hidupnya dan kebanyakan mempunyai perilaku yang jauh dari budaya timur). Apabila remaja tersebut terpengaruh dengan kebiasaan demikian tentu sangatlah bertentangan dengan ajaran agama dan budaya kita. Alangkah lebih baiknya mengidolakan tokoh-tokoh yang bisa menjadi panutan dan teladan semisal ulama, ilmuwan, para pahlawan pembela bangsa, dan seniman yang islami.
Disamping mengidolakan tokoh yang pantas diidolakan, alangkah lebih baik pula kita mengidolakan diri sendiri. Maksudnya bukan meyakini diri sendiri sebagai orang hebat, melainkan mengidolakan diri sendiri dengan yakin atas kemampuan yang dimiliki dan terus menggali segala potensi yang ada. Dengan kebiasaan seperti ini remaja akan terbentengi dari fenomena, arus atau trend yang terus berkembang seiring berkembangnya zaman.
Membentengi diri dari fenomena atau trend yang tengah berlangsung bukan berarti membuat remaja kurang pergaulan alias kuper. Tak ada salahnya mereka sekadar mengikuti--bukan berlebihan, agar tidak ketinggalan informasi. Tidak semua pula idola memberikan dampak negatif terhadap sikap remaja. Kembali ke justin biebier, para remaja bisa saja mengambil yang baiknya. Kegigihan biebier untuk terus berlatih dan menjaga eksistensi dirinya juga patut ditiru. Salah satunya, melalui lagu Never Say Never-nya, ia mengajarkan agar kita jangan pernah mengatakan tidak. Teruslah berusaha.. Nah, ada bagusnya juga bukan. yang ini, tak apa ditiru. Justin tak apa dijadikan inspirasi untuk terus berbuat mewujudkan mimpi kita, jangan mudah menyerah.
So, ikuti baiknya, tinggalkan buruknya. Tak perlu meraung-raung karena tak bisa ikut menonton.Dan tak perlu memaksakan diri agar bisa bertemu si Justin,bukan..? Having fun.. ***
*)postingannya telat kali ya? udah nggak update lagi. si Justin entah sudah kemana pula, nih tulisan baru muncul.. whatever lah. kali-kali aja ada guna.
rukan panggung, 26th apr 2011. sepasang headset menempel di telinga.. salah satu pada playlist, Never Say Never -- Justin Biebier.
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Boleh Idola tapi Jangan Menggila
Posted by
tutihandriani
on Selasa, 26 April 2011
/
Labels:
idola,
justin bieber,
opini,
remaja
/
Comments: (0)
Hari Rohana Kudus tanpa Kartini
Posted by
tutihandriani
on Kamis, 21 April 2011
/
Labels:
Kartini,
opini,
Rohana Kudus
/
Comments: (5)
Memperingati 21 April dengan Hari Kartini sepertinya kita hanya akan mengakui bahwa yang punya sejarah hanyalah orang Jawa. Bukan bermaksud mendiskreditkan sosok Kartini, saya hanya merasa tidak adil saja apabila ada hari spesial yang dikhususkan untuk Kartini. Terlepas dari Kartini, kita punya sesosok perempuan yang mempunyai perjuangan nyata melebihi perjuangan Kartini, yaitu Rohana Kudus. Begitu banyak kiprahnya semasa hidup yang membuat kaum hawa bangga.
Mengapa saya merasa perlakuan tersebut tidak adil? Ya, karena Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Sama halnya bahkan lebih dari Kartini, Rohana telah berbuat banyak untuk kaum perempuan di negerinya semasa itu. Tak hanya di bidang pendidikan, jurnalistik, politik, bahkan meningkatkan kualitas perekonomian kaum perempuan pun telah ia lakoni. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa ada diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena yang harus dilawan.
Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972. Terlahir dari sepasang orang tua yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan Kiam. Rohana Kudus juga memiliki hubungan keluarga dengan Perdana Menteri Indonesia pertama, Soetan Sjahrir. Selain itu, ia juga bibi atau 'mak tuo' dari penyair terkenal Chairil Anwar dan ia juga sepupu dari H. Agus Salim.
Berbekal kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Pada usia 24 tahun setelah menikah dengan Abdul Kudus yang waktu itu berprofesi sebagai notaris, Rohana pulang ke kampung halamannya. Pada 11 Februai 1911 ia mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan bermana 'Sekolah Kerajinan Amai Setia'. Di sekolah ini ia mengajarkan anak didiknya mulai dari mengelola keuangan, baca-tulis, budi pekerti, pendidikan agama, bahkan Bahasa Belanda.
Perjuangan Rohana tak serta-merta mulus begitu saja, banyak tantangan yang ia hadapi. Pergerakannya berbenturan dengan kehidupan sosial yang biasanya berlaku di ranah minang. Meski ia harus berhadapan dengan para pemuka adatdan pihak lain yang menentangnya, hal ini tak membuat Rohana mundur, melainkan ia semakin kuat dan yakin dengan apa yang tengah diperjuangkannya hingga meraih kesuksesan.
Kesuksesan Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama. Pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang anak didiknya yang telah diajarkan hingga pintar telah menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya dan dukungan seluruh keluarga. Beberapa kali persidangan, tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun Rohana menolak tawaran tersebut karena ia berniat pindah ke Bukittinggi.
Di Bukittinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama 'Rohana School'. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Rohana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun. Rohana School sangat terkenal, muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari daerah lain. Di Bukittinggi Rohana juga memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina.
Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga piawai berwirausaha. Dari sekolah kerajinannya, ia dengan mudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda. Kerjasama untuk pengadaan peralatan dan kebutuhan sekolahnya hingga memasarkan hasil kerajinan anak didiknya ke Eropa. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau. Ditambah lagi, Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.
Kiprah Rohana membuat banyak petinggi Belanda kagum. Kagum akan wawasannya yang luas dan fasih berbahasa Kompeni. Kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.
Perjuangan Rohana tak sampai disitu saja. Pada tanggal 10 Juli 1912 ia mendirikan Surat Kabar Perempuan Pertama di Indonesia, 'Sunting Melayu' namanya. Pendirian surat kabar ini berawal dari keinginan Rohana untuk membagi cerita tentang perjuangannya memajukan pendidikan kaum perempuan dan juga tak lepas dari kebiasaannya menulis. Sunting Melayu digawangi kaum perempuan, Pemimpin Redaksi, Redaktur hingga Penulisnya adalah perempuan.
Masih dalam pergulatan tulis-menulis, Rohana juga aktif turut serta dalam dunia politik. Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.
Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera.
Demikian Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang menjadi kebanggan kaum hawa yang ia perjuangkan. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tahun 2008 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.***
Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Rohana menjelaskan:
Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.--wikipedia
*)Tulisan yang tak seberapa ini saya rangkum dari sedikit sumber, teruntuk teman-teman perempuan saya yang sekarang mulai berkutat di dunia jurnalistik (sebelumnya baru menjadi wartawan kurcaci di media kampus masing-masing): Septri Lediana, Meidella Syahni, Sonya Winanda, Adek Risma Dedees, Anies Zenevieva, dan Ivo Yasmine. Semoga terlahir 'Sunting Melayu' jilid II dari tangan dan pikiran cerdas nan kreatif kalian.. he
@rukan panggung, 21 Apr 2011--tanggal ini juga bertepatan dengan ulang tahun (Alm.) kakak sulung saya yang semasa hidupnya telah menjadi pahlawan bagi adik-adiknya. Do'aku selalu untukmu.. uni.
Mengapa saya merasa perlakuan tersebut tidak adil? Ya, karena Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Sama halnya bahkan lebih dari Kartini, Rohana telah berbuat banyak untuk kaum perempuan di negerinya semasa itu. Tak hanya di bidang pendidikan, jurnalistik, politik, bahkan meningkatkan kualitas perekonomian kaum perempuan pun telah ia lakoni. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa ada diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena yang harus dilawan.
Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972. Terlahir dari sepasang orang tua yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan Kiam. Rohana Kudus juga memiliki hubungan keluarga dengan Perdana Menteri Indonesia pertama, Soetan Sjahrir. Selain itu, ia juga bibi atau 'mak tuo' dari penyair terkenal Chairil Anwar dan ia juga sepupu dari H. Agus Salim.
Berbekal kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Pada usia 24 tahun setelah menikah dengan Abdul Kudus yang waktu itu berprofesi sebagai notaris, Rohana pulang ke kampung halamannya. Pada 11 Februai 1911 ia mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan bermana 'Sekolah Kerajinan Amai Setia'. Di sekolah ini ia mengajarkan anak didiknya mulai dari mengelola keuangan, baca-tulis, budi pekerti, pendidikan agama, bahkan Bahasa Belanda.
Perjuangan Rohana tak serta-merta mulus begitu saja, banyak tantangan yang ia hadapi. Pergerakannya berbenturan dengan kehidupan sosial yang biasanya berlaku di ranah minang. Meski ia harus berhadapan dengan para pemuka adatdan pihak lain yang menentangnya, hal ini tak membuat Rohana mundur, melainkan ia semakin kuat dan yakin dengan apa yang tengah diperjuangkannya hingga meraih kesuksesan.
Kesuksesan Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama. Pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang anak didiknya yang telah diajarkan hingga pintar telah menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya dan dukungan seluruh keluarga. Beberapa kali persidangan, tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun Rohana menolak tawaran tersebut karena ia berniat pindah ke Bukittinggi.
Di Bukittinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama 'Rohana School'. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Rohana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun. Rohana School sangat terkenal, muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari daerah lain. Di Bukittinggi Rohana juga memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina.
Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga piawai berwirausaha. Dari sekolah kerajinannya, ia dengan mudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda. Kerjasama untuk pengadaan peralatan dan kebutuhan sekolahnya hingga memasarkan hasil kerajinan anak didiknya ke Eropa. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau. Ditambah lagi, Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.
Kiprah Rohana membuat banyak petinggi Belanda kagum. Kagum akan wawasannya yang luas dan fasih berbahasa Kompeni. Kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.
Perjuangan Rohana tak sampai disitu saja. Pada tanggal 10 Juli 1912 ia mendirikan Surat Kabar Perempuan Pertama di Indonesia, 'Sunting Melayu' namanya. Pendirian surat kabar ini berawal dari keinginan Rohana untuk membagi cerita tentang perjuangannya memajukan pendidikan kaum perempuan dan juga tak lepas dari kebiasaannya menulis. Sunting Melayu digawangi kaum perempuan, Pemimpin Redaksi, Redaktur hingga Penulisnya adalah perempuan.
Masih dalam pergulatan tulis-menulis, Rohana juga aktif turut serta dalam dunia politik. Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.
Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera.
Demikian Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang menjadi kebanggan kaum hawa yang ia perjuangkan. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tahun 2008 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.***
Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Rohana menjelaskan:
"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan."
*)Tulisan yang tak seberapa ini saya rangkum dari sedikit sumber, teruntuk teman-teman perempuan saya yang sekarang mulai berkutat di dunia jurnalistik (sebelumnya baru menjadi wartawan kurcaci di media kampus masing-masing): Septri Lediana, Meidella Syahni, Sonya Winanda, Adek Risma Dedees, Anies Zenevieva, dan Ivo Yasmine. Semoga terlahir 'Sunting Melayu' jilid II dari tangan dan pikiran cerdas nan kreatif kalian.. he
========
@rukan panggung, 21 Apr 2011--tanggal ini juga bertepatan dengan ulang tahun (Alm.) kakak sulung saya yang semasa hidupnya telah menjadi pahlawan bagi adik-adiknya. Do'aku selalu untukmu.. uni.
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Beberapa waktu lalu, Penulis mewakili SKK Ganto dalam kegiatan yang diselenggarakan sebuah Lembaga Pers Mahasiswa salah satu universitas di luar Sumatera Barat. Kembali dari perjalanan tentu Laporan Pertanggungjawaban harus diserahkan. Tapi, salah satu bukti_tiket bus yang harus dilampirkan hilang.
Untuk itu, penulis mendatangi loket tempat pembelian tiket tersebut. Dengan santai petugas loket mengatakan, “Bayar saja administrasinya, terserah adek mau menulis kapan berangkatnya dan berapa jumlah ongkosnya.” Dari pernyataan petugas tadi, penulis pun bertanya, “Kenapa seperti itu Pak? Bukannya seharusnya Bapak yang menuliskan?” Si Petugas langsung menjawab, “Itu biasa dek, sudah terlalu sering orang-orang yang melakukan perjalanan, meminta tiket kosong di sini, agar mereka bisa membubuhkan berapa ongkos mereka nantinya, bahkan aparat sekalipun,” tambahnya.
Itulah sekelumit pengalaman penulis. Korupsi itu adalah hal yang biasa dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Masyarakat lelah mengikuti kejadian politik yang terjadi di negara ini dan telah bosan bertanya kenapa dan akhirnya menjadi masa bodoh. Betapa tidak, ketika para pemimpin sibuk memperkaya diri dengan fasilitas negara dan berebut kantor dengan segala kemudahannya, melakukan korupsi terhadap harta negara dan rakyat dengan nilai yang tidak terbayangkan apabila dihitung mulai dari angka satu sampai ke angka uang yang telah dikorupsinya. Begitu juga ketika peristiwa suap-menyuap antara aparat dan masyarakat di depan umum adalah hal biasa.
Di negara kita yang mayoritas Islam ini patut kita memperhatikan bahwa dalam Islam kita diajarkan untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Allah berfirman yang artinya: ”Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (Qs. al-Baqarah:188). Allah juga berfirman: ”Siapa saja yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya. Kemudian setiap orang menerima balasan setimpal atas segala yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara dzalim.” (Qs. Ali Imran: 161). Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ”Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulul (kecurangan).” (HR. Abu Dawud).
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Shalat dan korupsi. Sekilas keduanya tidak berhubungan sama sekali. Shalat adalah sebuah rutinitas ibadah bagi umat islam. Korupsi merupakan tindakan tercela. Namun, ada kesamaan diantara keduanya; dapat dilaksanakan secara berjamaah. Apabila shalat berjamaah pahalanya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri, apakah korupsi yang dilakukan secara berjamaah, dikerjakan bersama-sama, melibatkan banyak orang dengan kerugian negara yang banyak, juga dapat dikenai hal yang demikian; dosa yang berlipat-lipat?
Jika diperhatikan lebih jauh, setiap manusia sebenarnya memiliki sifat serakah, hanya ada yang berkembang dalam dirinya, dan ada terkalahkan oleh keimanannya. Kalau dibawa ke zaman sekarang, memang banyaknya orang yang korupsi menandakan keserakahan mengalahkan keimanan mereka, banyak dari mereka yang Islam, shalat juga, sudah haji pula, tapi kenapa bisa korupsi? Bukan kesalahan shalat dan hajinya, tapi bagaimana ibadah yang mereka lakukan tidak memberi manfaat pada mereka, karena mereka melakukannya juga tidak khusyu, tidak mencari pahala Allah, mengharap terhindar dari neraka Allah, mereka berhaji hanya untuk dipanggil pak haji, bu haji. Mereka shalat hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim. Tanpa merefleksikan ke dalam perilaku mereka sehari-hari. Akhirnya itulah yang terjadi, ibadah terus, tapi mencuri, merampok, korupsi, ya jalan terus.
Dulu, pada tahun 2002 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta mengadakan penelitian tentang Islam dan demokrasi. Penelitian ini dilakukan di 16 propinsi seluruh Indonesia dan mewawancarai langsung 2000 responden. Banyak temuan yang menarik dalam penelitian ini. Salah satunya adalah bahwa umat Islam di Indonesia semakin tinggi tingkat kesalehannya. Misalnya, adanya kecenderungan makin dominannya kelas santri.
Kecenderungan ini terlihat dari makin merebaknya kesalehan dalam masyarakat. Sayangnya, tingginya kesalehan ini dibarengi dengan semakin tinggi pula tingkat kecurigaan dan tidak tolerannya terhadap kelompok di luar Islam. Majalah Tempo yang memuat laporan penelitian itu merumuskan temuan itu dalam kalimat pendek yang cukup baik, “More Pious, Less Tolerant”. Artinya: kian saleh, kian enggan menoleh. Maksudnya “menoleh” kepada golongan-golongan yang berbeda agama.
Jika kita lihat sampai sekarang, fenomena ini masih juga terjadi. Kalau manusia kurang hati-hati tergelincirlah mereka. Mereka berfikir sanggup memerdekakan dirinya sendiri, mereka akan sanggup berjuang dengan setan dengan hawa. Padahal dengan tidak disadarinya mereka telah terpengaruh oleh setan, dan hawa nafsu. Bahkan kadang-kadang dirinya sendiri telah jadi setan dengan tidak disadarinya karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya, maka diputarnya, didalihnya, dibajui dengan baju agama.
Kadang-kadang orang yang lancar lidahnya untuk berpidato, tidak gugup untuk naik podium sanggup memegang pimpinan kumpulan dan orang banyak, padahal mereka menurutkan hawa nafsu. Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap “atas nama agama”, “demikian firman Allah”, demikian “titah Rasul” tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa. Padahal ayat dan hadits itu hanya mereka ambil sebagai penguat hawa mereka. Bukan hawa mereka yang mereka taklukkan kepada Al Quran dan Hadits.
Sesungguhnya shalat merupakan sarana pengendali terbaik untuk mencegah perbuatan menyimpang apabila seseorang melaksanakan dengan benar. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal. Begitu pula sebaliknya, semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya. Sebagaimana Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan.Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59).
Dari ayat di atas dapat kita maknai bahwa orang yang melakukan korupsi adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu akan memiliki harta yang banyak. Tanpa memperhatikan dari mana harta tersebut diperoleh. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang gila akan uang atau harta. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Qs. Al Adiyat:8 ”Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta shingga ia menjadi bakhil.
Maka di sini manusia dituntut untuk memerangi hawa nafsu mereka ketika mereka telah dihadapkan kepada kekuasaan dan jabatan. Karena ini nantinya akan mempengaruhi tindakan mereka selama berkuasa.
Memerangi Hawa Nafsu
Untuk mencegah korupsi ini, manusia dituntut bisa memerangi hawa nafsunya. Di dalam perjuangan melawan hawa nafsu, Hamka di dalam bukunya ‘Tasauf Modern’, membagi manusia menjadi 3 bagian; Yang kalah dirinya oleh hawa sampai ditahan dan diperbudak oleh hawa itu sendiri djadikannya Tuhan, perperangan antara keduanya berganti-ganti, kalang dan menang jatuh dan tegak, dan orang yang dapat mengalahkan hawanya.
Manusia golongan ketiga inilah yang mampu mengalahkan hawa nafsunya sehingga mereka yang memerintah hawa bukan hawa yang memerintah mereka. Tidak bisa hawa mengutak-atikkannya, mereka yang jadi raja, penguasa, dan mereka yang merdeka_tidak terpangaruh dan tidak diperbudak hawa. Rasulullah S.A.W bersabda: “Tidak seorang pun di antara kita yang tidak bersetan, saya sendiri pun ada juga bersetan tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya menghadapi setean saya itu sehingga dia saya kalahkan.” (HR. Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdurrahman As-Sulami).
Jika manusia tidak hati-hati dalam memerangi hawa nafsunya, maka akan membawa mereka ke jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebelum bertindak perlulah kita mengawasi atau memikirkan apakah yang akan kita lakukan merupakan perintah hawa atau perintah akal. Biasanya akal mempertahankan sesuatu yang pahit tetapi manis akibatnya, sedangkan nafsu mempertahankan sesuatu yang manis tapi pahit bekasnya. Itulah sebabnya, Rasulullah bersabda: “Diramaikan syurga dengan barang yang berat mengerjakan dan diramaikan neraka dengan syahwa.,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apabila segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan perintah akal, mudah-mudahan segala tindakan kecurangan tidak akan dilakukan. Ketika kita dihadapkan kepada sesuatu yang meragukan, menggiurkan, tertarik kepada sesuatu keinginan yang besar, maka lekaslah pertimbangkan. Ketika hawa membawa kita jauh berangan-angan, maka akal akan dibawa untuk mempertimbangkan. Tetap teguh kepada pedoman kita sebagaimana manusia dalam hidup. Yakni, Al Quran dan Hadits.***
*)masih klipingan opini, ditulis 2008 lalu
Untuk itu, penulis mendatangi loket tempat pembelian tiket tersebut. Dengan santai petugas loket mengatakan, “Bayar saja administrasinya, terserah adek mau menulis kapan berangkatnya dan berapa jumlah ongkosnya.” Dari pernyataan petugas tadi, penulis pun bertanya, “Kenapa seperti itu Pak? Bukannya seharusnya Bapak yang menuliskan?” Si Petugas langsung menjawab, “Itu biasa dek, sudah terlalu sering orang-orang yang melakukan perjalanan, meminta tiket kosong di sini, agar mereka bisa membubuhkan berapa ongkos mereka nantinya, bahkan aparat sekalipun,” tambahnya.
Itulah sekelumit pengalaman penulis. Korupsi itu adalah hal yang biasa dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Masyarakat lelah mengikuti kejadian politik yang terjadi di negara ini dan telah bosan bertanya kenapa dan akhirnya menjadi masa bodoh. Betapa tidak, ketika para pemimpin sibuk memperkaya diri dengan fasilitas negara dan berebut kantor dengan segala kemudahannya, melakukan korupsi terhadap harta negara dan rakyat dengan nilai yang tidak terbayangkan apabila dihitung mulai dari angka satu sampai ke angka uang yang telah dikorupsinya. Begitu juga ketika peristiwa suap-menyuap antara aparat dan masyarakat di depan umum adalah hal biasa.
Di negara kita yang mayoritas Islam ini patut kita memperhatikan bahwa dalam Islam kita diajarkan untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Allah berfirman yang artinya: ”Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (Qs. al-Baqarah:188). Allah juga berfirman: ”Siapa saja yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya. Kemudian setiap orang menerima balasan setimpal atas segala yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara dzalim.” (Qs. Ali Imran: 161). Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ”Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulul (kecurangan).” (HR. Abu Dawud).
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Shalat dan korupsi. Sekilas keduanya tidak berhubungan sama sekali. Shalat adalah sebuah rutinitas ibadah bagi umat islam. Korupsi merupakan tindakan tercela. Namun, ada kesamaan diantara keduanya; dapat dilaksanakan secara berjamaah. Apabila shalat berjamaah pahalanya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri, apakah korupsi yang dilakukan secara berjamaah, dikerjakan bersama-sama, melibatkan banyak orang dengan kerugian negara yang banyak, juga dapat dikenai hal yang demikian; dosa yang berlipat-lipat?
Jika diperhatikan lebih jauh, setiap manusia sebenarnya memiliki sifat serakah, hanya ada yang berkembang dalam dirinya, dan ada terkalahkan oleh keimanannya. Kalau dibawa ke zaman sekarang, memang banyaknya orang yang korupsi menandakan keserakahan mengalahkan keimanan mereka, banyak dari mereka yang Islam, shalat juga, sudah haji pula, tapi kenapa bisa korupsi? Bukan kesalahan shalat dan hajinya, tapi bagaimana ibadah yang mereka lakukan tidak memberi manfaat pada mereka, karena mereka melakukannya juga tidak khusyu, tidak mencari pahala Allah, mengharap terhindar dari neraka Allah, mereka berhaji hanya untuk dipanggil pak haji, bu haji. Mereka shalat hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim. Tanpa merefleksikan ke dalam perilaku mereka sehari-hari. Akhirnya itulah yang terjadi, ibadah terus, tapi mencuri, merampok, korupsi, ya jalan terus.
Dulu, pada tahun 2002 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta mengadakan penelitian tentang Islam dan demokrasi. Penelitian ini dilakukan di 16 propinsi seluruh Indonesia dan mewawancarai langsung 2000 responden. Banyak temuan yang menarik dalam penelitian ini. Salah satunya adalah bahwa umat Islam di Indonesia semakin tinggi tingkat kesalehannya. Misalnya, adanya kecenderungan makin dominannya kelas santri.
Kecenderungan ini terlihat dari makin merebaknya kesalehan dalam masyarakat. Sayangnya, tingginya kesalehan ini dibarengi dengan semakin tinggi pula tingkat kecurigaan dan tidak tolerannya terhadap kelompok di luar Islam. Majalah Tempo yang memuat laporan penelitian itu merumuskan temuan itu dalam kalimat pendek yang cukup baik, “More Pious, Less Tolerant”. Artinya: kian saleh, kian enggan menoleh. Maksudnya “menoleh” kepada golongan-golongan yang berbeda agama.
Jika kita lihat sampai sekarang, fenomena ini masih juga terjadi. Kalau manusia kurang hati-hati tergelincirlah mereka. Mereka berfikir sanggup memerdekakan dirinya sendiri, mereka akan sanggup berjuang dengan setan dengan hawa. Padahal dengan tidak disadarinya mereka telah terpengaruh oleh setan, dan hawa nafsu. Bahkan kadang-kadang dirinya sendiri telah jadi setan dengan tidak disadarinya karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya, maka diputarnya, didalihnya, dibajui dengan baju agama.
Kadang-kadang orang yang lancar lidahnya untuk berpidato, tidak gugup untuk naik podium sanggup memegang pimpinan kumpulan dan orang banyak, padahal mereka menurutkan hawa nafsu. Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap “atas nama agama”, “demikian firman Allah”, demikian “titah Rasul” tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa. Padahal ayat dan hadits itu hanya mereka ambil sebagai penguat hawa mereka. Bukan hawa mereka yang mereka taklukkan kepada Al Quran dan Hadits.
Sesungguhnya shalat merupakan sarana pengendali terbaik untuk mencegah perbuatan menyimpang apabila seseorang melaksanakan dengan benar. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal. Begitu pula sebaliknya, semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya. Sebagaimana Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan.Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59).
Dari ayat di atas dapat kita maknai bahwa orang yang melakukan korupsi adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu akan memiliki harta yang banyak. Tanpa memperhatikan dari mana harta tersebut diperoleh. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang gila akan uang atau harta. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Qs. Al Adiyat:8 ”Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta shingga ia menjadi bakhil.
Maka di sini manusia dituntut untuk memerangi hawa nafsu mereka ketika mereka telah dihadapkan kepada kekuasaan dan jabatan. Karena ini nantinya akan mempengaruhi tindakan mereka selama berkuasa.
Memerangi Hawa Nafsu
Untuk mencegah korupsi ini, manusia dituntut bisa memerangi hawa nafsunya. Di dalam perjuangan melawan hawa nafsu, Hamka di dalam bukunya ‘Tasauf Modern’, membagi manusia menjadi 3 bagian; Yang kalah dirinya oleh hawa sampai ditahan dan diperbudak oleh hawa itu sendiri djadikannya Tuhan, perperangan antara keduanya berganti-ganti, kalang dan menang jatuh dan tegak, dan orang yang dapat mengalahkan hawanya.
Manusia golongan ketiga inilah yang mampu mengalahkan hawa nafsunya sehingga mereka yang memerintah hawa bukan hawa yang memerintah mereka. Tidak bisa hawa mengutak-atikkannya, mereka yang jadi raja, penguasa, dan mereka yang merdeka_tidak terpangaruh dan tidak diperbudak hawa. Rasulullah S.A.W bersabda: “Tidak seorang pun di antara kita yang tidak bersetan, saya sendiri pun ada juga bersetan tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya menghadapi setean saya itu sehingga dia saya kalahkan.” (HR. Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdurrahman As-Sulami).
Jika manusia tidak hati-hati dalam memerangi hawa nafsunya, maka akan membawa mereka ke jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebelum bertindak perlulah kita mengawasi atau memikirkan apakah yang akan kita lakukan merupakan perintah hawa atau perintah akal. Biasanya akal mempertahankan sesuatu yang pahit tetapi manis akibatnya, sedangkan nafsu mempertahankan sesuatu yang manis tapi pahit bekasnya. Itulah sebabnya, Rasulullah bersabda: “Diramaikan syurga dengan barang yang berat mengerjakan dan diramaikan neraka dengan syahwa.,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apabila segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan perintah akal, mudah-mudahan segala tindakan kecurangan tidak akan dilakukan. Ketika kita dihadapkan kepada sesuatu yang meragukan, menggiurkan, tertarik kepada sesuatu keinginan yang besar, maka lekaslah pertimbangkan. Ketika hawa membawa kita jauh berangan-angan, maka akal akan dibawa untuk mempertimbangkan. Tetap teguh kepada pedoman kita sebagaimana manusia dalam hidup. Yakni, Al Quran dan Hadits.***
*)masih klipingan opini, ditulis 2008 lalu
Pemimpin Teladan
Pemimpin tentu merupakan suatu jabatan yang diidam-idamkan oleh seseorang. Karena ketika kita sudah menjadi pemimpin berarti orang yang berada di lingkungan kita telah melimpahkan kepercayaannya kepada kita. Dan kita pun harus menjaga kepercayaan itu. Sekarang, bagaimanakah cara seorang pemimpin mengemban tugasnya? Karena pemimpin bukanlah suatu jabatan yang sembarangan, nanti kita akan mempertanggungjawabkannya.
Dale Carnegie_trainer terkemuka berpendapat: “Hanya ada satu cara di muka bumi ini untuk membuat orang lain melakukan sesuatu. Pernahkah kamu memikirkan itu? Ya, hanya satu cara, yakni membuat orang itu sendiri ingin melakukannya.” Tak ada orang yang senang merasa bahwa dia dipaksa membeli atau disuruh melakukan sesuatu. Kita lebih suka merasa kita membeli karena keinginan sendiri. Kita senang jika ditanyai tentang keinginan, impian, dan pikiran kita. Itulah, yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin. Maka, jangan mengelola terlalu detail.
Dalam sebuah organisasi, ikatan dan lembaga lainnya, seorang pemimpin harus mampu mengelola anggotanya. Pun, anggota mereka mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Apabila seorang pemimpin tidak mampu mengarahkan tujuan anggota akan terjadi kesenjangan tujuan. Yang nantinya pun tujuan organisasi tak akan tercapai. Diperlukan keselarasan tujuan di sini Goal Congruence.
Banyak cara yang dapat diterapkan oleh seorang pemimpin dalam menjalani tugasnya. Seorang pemimpin yang baik mereka bukanlah membuat keputusan, tapi mendengarkan usulan dari bawahannya. Di sinilah diperlukan gaya kepemimpinan yang demokratis. Maka perlu ditanamkan prinsip: Dengarkanlah! Maka kamu akan didengarkan.
Tak jarang terjadi perbedaan pendapat dalam organisasi. Yang apabila dibiarkan saja nanti akan berlarut-larut dan menjadi pertengkaran pahit. Di sini dibutuhkan peran semua anggota untuk menyelesaikannya terutama bagi pemimpin. Biasanya hal ini terjadi karena sikap tidak mau menerima perbedaan. Maka banyak jalan yang dapat ditempuh. Cobalah untuk menyambut sebuah perbedaan, pertanyakan naluri kita, carilah kesamaan, gunakan kesamaan itu untuk menyatakan pendapat kita, cobalah untuk jujur, dan endapkan dulu. Baru segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Di sini pemimpin dituntut untuk menengahi, bukan turut emosi dengan persoalan yang muncul. Karena sering kita temui pemimpin lebih sulit mengendalikan emosinya. Tidak mungkin bisa mencarikan solusi.
Tak hanya itu, jangan segan untuk memuji anggota ketika mereka mampu memberikan usulan dan solusi yang sangat baik pada waktu terjadi perbedaan pendapat. Tidak hanya ketika mereka memberikan solusi pada saat muncul persoalan. Juga pujian atas semua tindakan positif yang telah mereka perbuat. Karena penghargaan yang berarti akan mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik lagi.
Layaknya manusia, seorang pemimpin tentu tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Maka, pada saat pemimpin salah atau khilaf cobalah untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Jangan ragu atau malu untuk mengungkapkan penyesalan. Berjanjilah untuk memperbaiki diri dan mencoba untuk menebus kesalahan. Karena orang bodoh mana pun bisa membela kesalahannya. Dan sebagian besar orang bodoh memang melakukannya. Tetapi seseorang akan ditinggikan diantara yang lain dan akan merasa mulia dan tinggi jika dia mengakui kesalahannya sendiri. Pada saat inilah seorang pemimpin bisa dijadikan tauladan oleh anggotanya. ***
*)disalin dari klipingan tulisan saya beberapa tahun lalu, beriringan dengan impian untuk menjadi pemimpin.. :)
Jangan Mengkritik Kalau Hanya Untuk Mengecam
Imam Ali bin Abi Thalib as, mengatakan: “Benturkan pandangan kalian satu sama lain, niscaya kalian temukan kebenaran!”. Ada semangat besar dalam mencari kebenaran yang terkandung di dalam kata mutiara itu. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog, dan berdebat, berbagi atau bertukar pikiran, tetapi juga harus siap berpukul-pukulan pandangan sekeras dan sealot mungkin, bukan lagi membenturkan, kalau perlu bahkan juga menghantamkan. Dan kritik selalu menjadi semen perekat yang tak terelakkan.
Kritik sering kali di artikan orang sebagai protes dan sanggahan dari sesuatu yang tak dapat diterima. Bila kita perhatikan di dalam KBBI, kritik memiliki arti: kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb. Dari pengertian ini, dapat kita simpulkan kritik bukanlah wujud dari protes semata, melainkan membutuhkan pertimbangan dan solusi untuk yang dikritisi.
Ada dua kebenaran tentang kritik. Semua orang adalah pengkritik (setidaknya sesekali) dan tak ada yang menyukai pengkritik (sekali pun tidak). Kadang-kadang pengamatan yang kita sampaikan dengan niat membantu bisa saja diterima orang sebagai penghakiman. Dan, kalau kita tidak hati-hati memilih kata, yang kita niatkan sebagai kritik membangun bisa saja malah membuat keadaan menjadi porak-poranda.
Padahal asal kata kritik itu sendiri dari bahasa Latin, yaitu cretia yang berarti memilah dan menerangkan. Yakni, kritik lebih merupakan sebuah usaha bagaimana seseorang dapat menunjukkan; mengurai dan memilah titik-titik positif dan negatif, sekaligus. Maka itu, suatu kritik menjadi proporsional dan benar-benar wajar tatkala disampaikan untuk mencari titik-titik itu sehingga tidak terkesan cerewet dan sewot, serta menimbang bobotnya masing-masing sehingga tidak mesti selalunya berakhir pada penjungkirbalikkan. Di sini kritik menemukan nilainya yang berkeadilan. Jadi, apa yang lebih asosiatif dari kata itu adalah distorsi yang tidak kecil.
Tak jarang si pengkritik malah menjadi si pencela. Kenapa dikatakan sebagai si pencela? Karena dalam menyampaikan kritiknya, si pengkritik sering terjerumus pada penyampaian dengan menggunakan kata-kata tajam. Meski pun si pengkritik berniat memberikan saran kepada yang dikritik. Buka berarti tidak boleh memberi saran kepada orang lain. Tapi, dibutuhkan keterampilan komunikasi yang baik untuk mengkritisi orang lain. Pastikan kata-kata yang akan disampaikan kepada orang yang dikritik tidak akan menyinggung perasaannya. Dengan niat yang tulus untuk memberi saran dan pertimbangan bukan berniat untuk memojokkannya.
Maka kritik benar-benar sebuah amanat yang mesti ditunaikan oleh pelaku kritik, sekaligus janji yang semestinya dinantikan oleh objek kritikan. Pada titik ini, kritik jadi mazlum kalau harus diwaspadai saja. Tampak sekali misalnya, kita yang dikritik ada di antara cemas dan puas, dan kita yang mengkritik pun ada di antara puas dan cemas pula. Sekali lagi, kritik sungguh menampakkan nilainya yang berkeadilan. Posisi kita sebagai objek kritikan sebenarnya –kalau tidak lebih nyaman- sama dengan kita sebagai subjek.
Bagi kita yang dikritik saatnya untuk membuktikan bahwa apa yang dikataka orang itu salah dengan cara melakukan yang terbaik. Dan untuk si pengkritik harus benar-benar berempati pada orang lain__kita tak akan terburu-buru menghakimi mereka dan menawarkan kritik hampa.
*) tulisan ini saya ambil dari blog sebelumnya. mencoba mengumpulkan tulisan yg berserak di mana saja.
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.--wikipedia bahasa indonesia





