Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Galau Pasti Berlalu

Judul            : Yang Galau Yang Meracau :
                      Curhat (Tuan) Setan
Penulis         : Fahd Djibran
Tahun Terbit : Cetakan I, Juni 2011
Penerbit       : Kurnia Esa Publishing
Halaman      : 226 Hal




Saya merasa beruntung bisa mendapatkan YGYM lebih awal. Setelah berhasil Pre Order, YGYM sampai di kota domisili saya sekarang. Ada tanda tangan penulis (Fahd Djibran) pula. Tapi itu tak ada penting-pentingnya untuk dibahas jika dibandingkan dengan isi dari YGYM sendiri.

Baru saja saya tengok halaman sampul depan dan belakang, YGYM begitu menarik perhatian. Ilustrasi gambar depan kalau saya tak salah kira merupakan gambar dari Tuan Setan dengan kulit kepala/rambut terangkat, saking galau dan banyaknya yang terpikirkan oleh si Tuan Setan. He.. Nah, apalagi membaca curhat Tuan Setan di sampul belakang. Sungguh menggelitik dan menarik, sehingga tak sabar untuk berkelana di halaman-halaman dalam YGYM.

Berikut curhat Tuan Setan di halaman sampul belakang YGYM:

A Buzz for God

Dear God,
Kenapa sih Kamu invisible terus?
Sesekali aku pengin lihat donk—
nggak perlu ketemu
aku cuma pengin yakin
bahwa Kamu benar-benar ada
meski statusMu
busy atau not on My desk

Kalau Kamu mau membalas pesanku
mendengarkan curhatku
atau sekadar tersenyum
lewat emoticon

:-)

… maka hidupku akan sempurna!

BUZZ!!!
BUZZ!!!

::::

Bagaimana? Menarik bukan?
Itulah Fahd Djibran, selalu menyajikan bahasan yang begitu unik, cerdas, juga sangat menyentuh.

Penulis yang memiliki nama asli Fahd Pahdepie ini meski masih tergolong berusia muda (kelahiran 22 Agustus 1986) tapi ia telah jauh berkembang di dunia kepenulisan. Beberapa bukunya yang telah diterbitkan antara lain A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), serta dua buah novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan dan Menatap Punggung Muhammad (2010).

Bagi pecinta buku, saya rasa Fahd Djibran bukanlah nama asing lagi bagi mereka. Di buku terbaru ini, Fahd menampilkan bahasan yang sebenarnya cukup rumit tapi ia menuangkan ke dalam tulisan yang begitu sederhana. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahami tentang Tuhan, Cinta, dan Setan. Sebagaimana tiga bagian yang ada dalam YGYM.

Tak sedikit yang merasa buntu ketika mempertanyakan tetang tiga hal ini. Tapi, bagi Fahd semuanya begitu sederhana. Berangkat dari kegalauannya dan dari pertanyaan-pertanyaan yang sering singgah di pikirannya, Fahd mampu menuangkan dengan cara yang begitu unik ke dalam buku setebal 226 ini.

Ketika ia galau, Fahd akan meracau. Kira-kira begitu. Bukan sembarang racau. Meski tak ada alur, tak ada penokohan, Fahd mampu membahas apa pun yang ia inginkan dari sudut pandang kreatif dan filosofis. Salah satu judul yang paling menarik menurut saya: Perahu Kertas. Pada bagian ini Fahd menguraikan tahap awal dari pembuatan perahu kertas sampai akhirnya kertas tadi menemukan bentuk. Secara filosofis dan sederhana, Fahd mengaitkan proses pembuatan perahu kertas tersebut dengan proses perjalanan manusia menemukan bentuk. Menjadi manusia seperti apa. Setiap manusia punya kuasa untuk hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri.
    “Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
    –Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial
Ditambah lagi, pada setiap racauannya, Fahd menyelipkan lirik lagu yang sangat matching dengan pembahasannya. Tak dipungkiri seperti yang saya alami juga, setiap kisah hidup ini memiliki soundtracknya sendiri. Ketika patah hati, jatuh cinta, merasa berdosa, atau apa lah suasana hati ini, pasti ada saja lagu-lagu yang mewakili perasaan. Di sinilah saatnya, saya mungkin Anda juga merasa tak sendiri. Ternyata, ada juga yang merasakan hal yang serupa.

Dengan tambahan lirik-lirik lagu inilah semakin membuat buku ini dibahas dari cara pandang yang sangat kaya. Tak perlulah saya banyak meracau pula pada pembahasan YGYM ini. Yang jelas, Fahd telah mampu mengajak saya untuk berfikir kreatif. Tak selalu 'serius' dalam menghadapi permasalahan, sekecil (berat) apapun itu.

Jadi, selamat menikmati racauan Fahd, sembari membaca lirik dan mendengarkan lagu soundtrack racauannya. Dan yakinlah, Galau pasti berlalu!! Ajeeb..

Suatu yang Hilang di Bingkai Kesederhanaan

Judul: Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis: Tere-Liye
Penerbit: Republika
Cetakan: V November 2010
Halaman: iv + 426 hal


Buku ketiga yang ditulis Tere-Liye yang saya baca. Benar-benar menakjubkan. Untuk seterusnya dengan mantap saya mengatakan saya penggemar tulisan Tere-Liye. Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Ketiganya begitu menggugah, begitu mengena, begitu menohok ke hati saya. Mungkin terlambat, tak apalah yang penting saya bisa juga menikmati tulisan penulis hebat ini.

Jika sebelumnya saya telah uraikan komentar saya tentang Hafalan Shalat Delisa dan Bidadari-Bidadari Surga, kali ini saya juga akan bercuap-cuap sedikit saja tentang Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Melalui buku ini Tere-Liye kembali mengaduk-aduk emosi saya, rasa penasaran untuk segera mengkhatamkan bacaan pun tak terbendungkan. Hingga curi-curi waktu di sela pekerjaan kantor saya lakukan demi mengkhatamkan bacaan ini.

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu berkisah tentang perjalanan hidup seorang Ray. Adalah Rehan (Ray), seorang anak yatim piatu dengan kehidupannya yang diceritakan dengan alur mundur. Perjalanan hidupnya sedikit demi sedikit dikuak dengan jawaban atas 5 pertanyaan besar yang selama ini tak ia dapatkan sepanjang hidupnya. Ia mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dan mulai mengerti akan hubungan sebab akibat yang telah ia lalui dan tak jarang ia sesali.

Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan hidup? Apa makna kehilangan? Itulah lima pertanyaan yang mengikuti Ray di sepanjang perjalanan hidupnya. Mulai dari kehidupan sebagai anak panti asuhan, anak jalanan (pengamen), pencuri hingga pengusaha sukes hingga menjelajahi bisnis internasional. Di sela-sela perjalanan ini pula Ray akan bertemu dengan para sahabatnya. Juga, si gigi kelinci. Perempuan yang mengisi separuh jiwanya, yang ikhlas menjadi pendamping hidupnya. Tapi, itu hanya sementara. Ray harus kehilangan ketika rumah tangganya begitu hangatnya. Inilah kehilangan yang benar-benar menyakitkan ditanggung oleh Ray. Selain kehilangan sahabat dan orang tuanya yang tak pernah ia ketahui dimana rimbanya.

Kelima pertanyaan Ray terjawab sudah ketika ia diberi kesempatan oleh satu malaikat bersayap indah yang datang kepadanya. Ia diajak kembali mengamati perjalanan hidupnya dari awal hingga akhir. Malaikat dengan wajah menyenangkan itu memberi kesempatan kepada Ray karena Ray merasa setiap kali kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Seperti yang ia rasakan ketika menatap Rembulan. Ray merasa kuasa Tuhan menjejak setiap sudut bumi dimana cahaya rembulan menyentuhnya. Cahaya yang dijanjikan di balik kepedihan yang terus dirasakannya. Itulah janji Tuhan. 

Kisah perjalanan kehidupan Ray dikisahkan benar-benar membawa pembaca untuk memasuki dunia 'fantasi'
Tere-Liye tentang perjalanan hidup. Kalaulah boleh disimpulkan: Semua urusan adalah sederhana. Tere-Liye mengajarkan bagaimana kita memaknai kehilangan. Rasa kehilangan yang begitu rumit, menyakitkan, tapi tidak bagi Tere-Liye. Semuanya begitu indak dalam bingkai kesederhanaan. Jadi, tak perlulah kita berandai-andai untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya tak ada batasnya. Percayalah, setiap apa yang kita hadapi di dunia ini tak lepas dari campur tangan-Nya. Di balik semua itu, akan selalu ada hikmah yang tak terkira.

Laisa....sungguh, Aku ingin seperti Kau

Judul             : Bidadari Bidadari Surga
Penulis          : Tere Liye
Penerbit        : Republika
Halaman       : vi + 363 hal
Tahun terbit  : Cetakan VII, Maret 2011

Begitu banyak pelajaran yang kau berikan kepadaku, Laisa. Kau berhasil menjadikan empat adikmu benar-benar menjadi 'orang'. Sukses dengan segala pencapainnya. Dalimunte bulat sudah menjadi seorang Profesor mendunia, Ikanuri-Wibisana keduanya meski sedari kecilnya telah menyayat hatimu mengatakan bahwa kamu bukanlah kakaknya, kini mereka telah sukses juga menjadi pengusaha bengkel mobil balap lebih kerennya disebut bisnis otomotif terkemuka di negeri ini bahkan keluar. Si bungsu Yashinta, adik tersayangmu itu kini telah menyelesaikan S2 nya. Dengan predikat Cumlaude pula. Kini ia benar-benar tumbuh menjadi perempuan mempesona, tetap keras kepala. Berawal dari kau, Laisa. Yashinta begitu mencintai alam, berawal dari ajakan kau membawa Yashinta ke perbukitan nun jauh dari Lembah Lahambay yang begitu permai di cerita itu. Kau tunjukkan berang-berang, kau ceritakan pula bagaimana pertumbuhannya. Dari situ, Yashinta kini telah menjadi seorang aktivis di sebuah lembaga konservasi di kota provinsi.

Sempurna sudah mereka semua, itu berkat kau, Laisa.
Laisa... sungguh, aku ingin seperti kau.

Kau ajarkan empat adikmu untuk terus bekerja keras. Kerja keras. Kerja keras. Kerja keras... Begitu kau meneriaki ketika dua sigung Ikanuri-Wibisana mulai berulah lagi, ketika mereka bolos sekolah mengikuti star wagon ke kota dekat Lembah Lahambay. Pulangnya ketika magrib menjelang saja. Begitu pula kau mengajarkan Dalimunte yang sedari kecilnya senang sekali menemukan hal-hal terbaru. Termasuk lima kincir air lima tingkat yang telah merubah kehidupan penduduk Lembah Lahambay itu. Memiliki empat adik, ditinggalkan babak dari empat adikmu dan juga 'babakmu' itu, hanya ditemani mamak Lainuri kau telah bersumpah. Bersumpah akan memberikan kesempatan pada adik-adikmu untuk menjadi orang yang hebat. Sumpah yang tak pernah kau ingkari hingga penghujung hidupmu. Benar, mereka semua sudah menjadi orang hebat, Laisa. 

Kau begitu cinta kepada mereka Laisa. Cinta akan keluarga, tiada tara. 
Laisa...sungguh, aku ingin seperti kau.


Aku tahu kau jauh memiliki lebih banyak keterbatasan daripada aku. Aku tahu kau hanyalah seorang bayi yang ditinggal oleh ayah tak bertanggung jawabmu. Oleh sebab ayahmu itu pula, kau memiliki keterbatasan seperti ini. Oleh sebab ayahmu itu pula kau dikatai Ikanuri-Wibisana pendek, jelek, hitam.. Sungguh, aku merasai betapa sakitnya ketika kau mendengarkan kata-kata dari mulut dua sigung nakal itu. Apa daya, memang di waktu itu mereka masih terlalu kecil untuk memaknai arti sebuah keluarga. Ikanuri waktu itu baru sembilan, Wibisana menuju sepuluh tahun. Begitu perkiraanku. Kau memang benar, Laisa. Empat adikmu memang jauh banyak lebihnya daripada kau. Mereka lebih tampan dan cantik, putih dan tinggi. Mereka dilahirkan dari babak, babak yang bukanlah babak kandungmu. Tentulah berbeda fisik mereka daripada kau.

Semua keterbatasan itu kau lewati begitu sederhana, Laisa.
Laisa...sungguh, aku ingin seperti kau.

Laisa, sungguh aku juga tau begitu banyak pengorbananmu. Kau rela untuk tidak sekolah demi empat adikmu. Kau berjuang membantu mamak Lainuri untuk menopang ekonomi keluarga. Kau juga menyimpan penyakit paru hingga stadium IV. Hanya mamak Lainuri yang tahu. Itu semua kau lakukan agar empat adikmu tak ikut khawatir. Kau benar-benar tak mau merusak kebahagiaan mereka. Begitu juga kau berkali-kali menyuruh mereka untuk segera berkeluarga. Dalimunte, Ikanuri dan Wibisana 'melintas'mu, Laisa. Sungguh mereka tidak mau mendahuluimu. Tapi kau berkeras hati agar mereka segara menjemput kebahagiaan itu. Kebahagiaan mereka akan bertambah ketika telah memiliki keluarga.

Sedangkan si bungsu Yashinta akhirnya mengikuti permintaan terakhirmu. Di penghujung hayatmu, akhirnya Miss Headstone itu menerima si Mata Biru 'Goughsky'. Pria Uzbek akhirnya mendapatkan cinta yang telah ia tanam dalam waktu tak sebentar. Bertahun-tahun lamanya. Itu semua karena adik tersayangmu, Yashinta tak tega hati untuk 'melintas'mu untuk yang keempat kalinya. Ia telah terlanjur membenci laki-laki. Yash telah memiliki kesimpulan sendiri, laki-laki hanya mementingkan kecantikan dan fisik dari perempuan. Oleh karena itu perjodohan-perjodohan untukmu terhenti, semua laki-laki itu terhenti ketika melihat fisik kau, Laisa. Mereka tak pernah melihat kecantikan hatimu Laisa, mereka juga tak pernah melihat keberhasilanmu mendidik adik-adikmu. Mereka juga tak perhatikan kesuksesanmu mengelola perkebunan strawberry yang telah merubah kehidupan masyarakat Lembah Lahambay jauh lebih baik daripada masa kecil kau dulu.

Suatu kali kau mengatakan:
"Setiap kali menatap hamparan perkebunan strawberry ini, aku selalu merasa, Allah amat baik kepada kita... Kau tahu Dali, setiap kali mendengar kabar kalian. Mendengar apa yang telah kalian lakukan. Aku merasa, Allah benar-benar baik kepada kita. Kakak sungguh merasa cukup dengan semua ini.. Umurku hampir empat puluh tahun, Dali. Setelah sekian lama jodoh itu tidak pernah datang, aku pikir itu bukan masalah besar lagi... Mungkin benar sudah menjadi kodrat manusia untuk menikah, berkeluarga. Mungkin Wak Burhan benar. Tapi itu tidak pernah menjadi sebuah kewajiban, kan..Sejak lama aku sudah menerima kenyataan jika memang menjadi takdirku hidup sendiri, jika memang tak ada lelaki yang menyukai tampilan wajah dan fisik. Keterbatasan ini....Ah, Allah sudah amat baik dengan memberikan kalian, adik-adik yang hebat. Keluarga kita. Perkebunan ini. Kakak sungguh sudah merasa cukup dengan semua itu..."

Sekali lagi, kau benar-benar ikhlas Laisa..

Andai saja Tere-Liye tak turut menerima pesan pendek seperti yang dikirimkan mamak Lainuri ke empat adikmu di empat penjuru dunia itu, tentu aku takkan pernah tau tentang perjuangan hidup kau, Laisa. Tere inilah yang telah mengisahkan semua ini Laisa. Kisah ini pula yang membuat aku begitu ingin seperti kau, Laisa.

Begini pesan singkat 203 karakter yang dikirimkan mamak Lainuri itu: 
"Pulanglah. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah..."

Seketika itu, Dalimunte yang tengah mempresantisikan temuan terbarunya di salah satu ruang Simposium di belahan Eropa, Ikanuri-Wibisana yang tengah di perjalanan menuju Itali untuk menemui kolega bisnisnya, si bungsu Yashinta yang tengah berada di puncak Semeru untuk keperluan penelitiannya. Seketika itu pula mereka menghentikan kegiatannya. Berburu waktu untuk mengejar kau Laisa. Mereka benar-benar tak ingin datang terlambat untuk yang terakhir kalinya. Sama seperti kau yang tak pernah datang terlambat memberikan pertolongan kepada mereka. Pertolonganmu ketika Yashinta kecil sakit keras kau berlari di tengah hujan untuk memanggil mahasiswa KKN untuk menolong adik tersayangmu. Pertolonganmu ketika dua sigung Ikanuri-Wibisana nyawanya terancam oleh penguassa Gunung Kendeng, Harimau. Masih banyak lagi pertolonganmu yang lain.

Oleh karena itu semua orang begitu bangga kepada kau, Laisa.  Empat adikmu, mamak Lainuri, seluruh penduduk Lembah Lahambay dan tiga keponakan mu, Intan, Juwita dan Delima. Ketika mereka semua telah hadir di hadapanmu, "Ya Allah, terima kasih atas segalanya... Terima kasih.. Lais sungguh ikhlas dengan segala keterbatasan ini, dengan segala takdirmu... Karena, karena kau menggantinya dengan adik-adik yang baik.." 

Cahaya matahari senja menerabas indah bingkai jendela kamar. Berpendar-pendar jingga. Sungguh senja itu wajah kau terlihat begitu bahagia. Mungkin seperti itulah bidadari surga. Lima menit kemudian pernikahan Yashinta dengan si Mata Biru dilangsungkan. Seusai ijab-kabul diucapkan, kau tersenyum indah. Senyum untuk selamanya. Kembali. Senja itu, seorang bidadari sudah kembali d tempat terbaiknya. Dan bergabung dengan bidadari-bidadari surga lainnya. 
Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waaqiah: 22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka bik lagi cantik jelita. (Ar Rahman: 70). Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)...Demikian cerita mamak Lainuri kepada Yashinta dan tiga sigung, Intan, Delima dan Juwita.

Laisa... sungguh, aku ingin seperti kau.

***

Dari Lhok Nga, Hafalan Shalat Delisa

  Judul         : Hafalan Shalat Delisa
  Pengarang : Tere Liye
  Cetakan    : XIII, Februari 2011
  Halaman   : vi + 270 hal
  Penerbit    : Republika
  Harga       : Rp 46.000,-


Hafalan Shalat Delisa bukanlah novel terbitan terbaru. Kali kedua saya membacanya. Pertama membaca, kira-kira empat tahun lalu. Membaca untuk kedua kalinya sama sekali tidak membosankan. Malah semakin mengharu-biru.

Salah seorang kakak sama bekerja, saya tulari untuk membaca novel ini. "Ingin punya anak seperti Delisa," komentarnya ketika membaca buku ini. Kebetulan ia tengah hamil lima bulan.

Satu lagi, teman yang tak hobi membaca secara mengejutkan meminjam buku saya. Ia butuh hampir seminggu untuk menamatkan buku yang tebalnya tak seberapa ini.  "Ini buku pertama yang saya baca hingga selesai," katanya.

Berikut ulasan tentang novel yang ditulis oleh Tere Liye. Sebuah nama pena berbahasa India yang berarti; untukmu. Lewat tulisan yang lembut, sederhana, dan jujur ini, saya tak menyangka bahwa penulis adalah laki-laki. Berawal dari tontonannya di televisi yang menampilkan anak-anak Aceh yang kakinya terpaksa diamputasi setelah bencana tsunami, Tere Liye bersumpah untuk menulis sebuah kisah yang menyakitkan itu. 

Hafalan Shalat Delisa, Novel berkisah dramatis diawali dengan kisah romantis. Sebuah keluarga romantis. Saya memiliki makna tersendiri ketika sebuah keluarga dikatakan romantis. Tak ada pertengkaran, tak ada kegaduhan, tak ada siasat untuk saling menelikung dalam sebuah persaudaraan. Pun itu ada, sekali-sekali hanya sekadar bumbu penyedap ketika keluarga itu diselimuti sepi. Sepi karena pekerjaan kepala keluarga (Abi Usman) yang membuat mereka hanya bisa bertemu triwulanan. Abi Usman bekerja di sebuah kapal tanker minyak yang berkelana dari satu negara ke negara lainnya. Sebagai pengobat rindu itu, percakapan melalui satelit telepon  setiap ba'da subuh di awal pekan menjadi sungguh berarti. Setiap kali telpon berdering di Senin Subuh, Ummi Salamah orang pertama yang akan menerima telpon tersebut. Kemudian diikuti empat anak perempuannya.  Si sulung Fatimah, si kembar Aisyah-Zahra dan si bungsu Delisa. Keempat anak perempuan ini benar-benar anak solehah. Rajin ibadah dan belajar. Semua itu tak terlepas dari didikan Ummi Salamah yang begitu tegas dan kuat agama.

Tere Liye menuliskan kisah yang sangat sederhana dengan latar belakang bencana tsunami enam tahun yang lalu dengan settingan kampung Lhok Nga, Banda Aceh. Dengan tokoh utama Delisa, seorang gadis kecil berusia enam tahun, novel ini menceritakan kisah tentang dunia  kanak-kanak.

Berawal dari kebiasaan di keluarga Umi Salamah, setiap anak akan dihadiahi kalung ketika mereka telah hafal bacaan shalat dengan sempurna. Seperti halnya Fatimah, Aisyah dan Zahra, Delisa juga dijanjikan kalung oleh Ummi Salamah. Menjelang ujian praktik bacaan shalat di sekolahnya, Delisa diajak Umi Salamah memilih kalung di toko Koh Acan. Koh Acan, China tulen adalah tempat langganan Ummi Salamah untuk membeli hadiah untuk putri-putrinya sejak zamannya Fatimah dulu. Koh Acan juga begitu baik kepada umi Salamah, "Kalau untuk untuk hadiah hafalan shalat ini, Ummi Salamah bayar separuh saja, haiya!" kata pria 100% konghucu ini. .

Sejak umi Salamah mengantongi kalung itu, Delisa semakin bersemangat untuk terus menghafal bacaan shalatnya hingga sempurna. Ditambah lagi, kalungnya berbeda dengan kakak-kakak sebelumnya. Delisa dihadiahi Koh Acan liontin dengan abjad D. D untuk Delisa. Riang sekali Delisa setiap kali mengeja D untuk Delisa, D untuk Delisa.. Sehingga mengundang kecemburuan Aisyah, kakaknya yang selalu usil kepadanya. 

Meski kalung telah dikantongi Umi Salamah, Delisa mesti bersabar dulu untuk bisa segera mengenakannya, melihat pun Delisa tak diizinkan Ummi. Oleh karena itu, Delisa gigih sekali mengulang-ulang bacaannya yang sering kali terbolak-balik. Bacaan ruku' dan sujud yang hampir serupa membuat Delisa kebingungan.

Hari uji untuk bacaan shalat Delisa dan teman-temannya di Madrasah Ibtidaiyah pun tiba. Hari Minggu, 26 Desember 2004. Delisa bangun dengan semangat, shalat subuh dengan semangat, berangkat ke sekolah dengan semangat. Janji kalung itu membuatnya sumringah. Selepas shalat subuh, Delisa sempat memaksa Ummi untuk memperlihatkan kalung tersebut, Ummi dengan tegas menolak lagi.

"Alisa Delisa," ibu guru Nur memanggil nama Delisa. Delisa bergerak maju ke depan kelas untuk mempraktikkan bacaan shalatnya, bacaan yang sempurna tentunya. Selesai bertakbiratul Ihram; persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. Persis di sana, lantai laut retak seketika. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian itu mencuat. Mengirimkan pertanda kelam-menakutkan.

Di tengah bumi diguncang gempa, Delisa lancar benar menghafal bacaan shalatnya. Sampai saat Delisa akan melanjutkan ke bacaan sujud tiba-tiba tubuhnya terseret air besar sekali. Ya, hari itu tsunami terjadi. Memporakporandakan Lok Nga hingga tak tersisa. Menelan banyak korban yang sampai kini tidak dapat diketahui jumlah pastinya.

Aceh bersedih, Indonesia bersedih. Berita bencana tsunami di Aceh itu pun mendunia. Seorang gadis kecil berumur enam tahun, Delisa kehilangan banyak hal; ummi dan kakak-kakaknya, serta sebelah kakinya. Meskipun telah kehilangan segalanya, itu tidak membuat Delisa hancur. Hanya satu yang membuatnya sedih, karena kehilangan hafalan shalatnya. Sesuatu yang mungkin tidak akan menjadi prioritas bagi sebagian besar dari kita pada umur enam tahun ketika kehilangan semuanya. Sejak kejadian itu pula Delisa benar-benar lupa akan bacaan shalatnya.

Pada akhir novel diceritakan penyebab hafalan shalat Delisa yang hilang. Karena sebelum bencana tsunami terjadi, ia menghafal bacaan shalat tersebut karena iming-iming hadiah, bukan karena ikhlas karena Allah. Ketika ia menyadari hal itu dan menyatakan tidak menginginkan hadiah kalung tersebut, bacaan shalat itu seolah-olah bicara padanya.

Akhirnya Delisa bisa menyempurnakan shalatnya. Pada saat itulah Allah memberikan hadiah besar padanya. Ia menemukan jasad (tulang belulang) Ummi-nya yang selama ini hilang akibat tsunami dalam keadaan memegang kalung yang akan dihadiahkan padanya itu. Ya, Delisa amat tegar, tetap semangat apapun kondisinya, bisa menerima kehilangan akan orang-orang yang dicintainya dengan sederhana. Sungguh, dari Delisa kita bisa belajar banyak hal tentang makna hidup. Bahwa hidup memang sungguh sederhana, belajar tentang rasa ikhlas dan tulus hati, senantiasa bersyukur dan terus memperbaiki diri.

Begitulah ketegaran dan keikhlasan seorang anak berumur enam tahun yang kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya. Sebuah pelajaran yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh kita. Kisah yang sangat menyentuh dan membuka hati. Membuat siapa saja yang membacanya terharu kemudian tanpa sadar meneteskan air mata. Seolah hanyut dalam ceritanya. Ada beberapa bagian dimana penulis memberi catatan kaki tentang doanya untuk Delisa, mengungkapkan kecemburuannya tentang gadis cilik itu. Sungguh membuat hati terenyuh.***






*)saya benar-benar cemburu dengan Delisa, ia punya kisah sungguh penuh makna ketika belajar menyempurnakan bacaan shalatnya. Sementara, saya tak ada apa-apanya. Hanya ada sedikit hal lucu, ketika saya menaruh buku tuntunan shalat lengkap pada sajadah ketika belajar shalat. Melirik ke arah buku untuk menirukan gerakan dan mengintip bacaan shalat.

 

Kisah Nyata Pengantin Belia, Elissa di Sekte Poligami

Judul                 : Stolen Innocence Kisah Nyata Pengantin Belia di Sekte Poligami
Penulis              : Elissa Wall &Lisa Pulitzer
Penerbit            : Dastan Books
Cetakan            : I, September 2009
Jumlah Halmn    : 384 Halaman
Harga                : Rp 65.000,-

Kisah yang dituangkan dalam buku ini terlahir dari pemberontakan seorang mantan anggota sekte The Fundamentalist Church of Latter Day Saints_Gereja Fundamental Para Orang Suci Hari Akhir_(FLDS),  yang dipaksa menikah di usia 14 tahun, Elissa Wall.  FLDS yang terletak di Utah ini merupakan pecahan dari gereja Mormon. Kedua gereja ini pecah karena adanya perbedaan pendapat dalam hal poligami.
 Sebagai anggota dari FLDS, Elissa dibesarkan dengan doktrin bahwa pernikahan haruslah terjadi karena wahyu dari Tuhan dan wahyu tersebut disampaikan melalui sang Nabi, yang dianggap sebagai utusan Tuhan di muka bumi.

Menurut ajaran sekte FLDS, seorang suami harus memiliki minimal empat istri untuk dapat masuk surga. Dilahirkan sebagai anggota dari sekte poligami, tidak membuat Elissa menyetujui ajaran sektenya. Elissa terus-menerus mempertanyakan ajaran sektenya yang tidak masuk akal, misalnya saja utusan Tuhan, yaitu sang Nabi yang dipanggil Paman Warren dapat memperistri wanita mana pun yang ia inginkan walaupun masih di bawah umur. Anak-anak dilarang bersekolah di sekolah umum. Dan sering kali, anak-anak perempuan dipaksa menikah saat mencapai usia remaja.
   
Beberapa ajaran demikian membuat Elissa memberontak. Terlalu banyak ajaran yang tidak masuk akal menurutnya yang mesti dilakukan di sektenya. Sejak kecil Elissa hidup bersama keluarga dan tiga ibu tirinya. Kakak dan adik laki-lakinya diusir dari rumah karena dinilai telah melanggar ajaran FLDS.
   
Tak hanya itu, dalam bukunya Elissa menguraikan jika seorang gadis mengutarakan pendapatnya, maka nikahkan ia. Setelah menikah, buat dia segera hamil. Setelah memiliki anak, maka dia kan patuh seumur hidup_hampir tidak mungkin bagi wanita FLDS untuk membawa anak-anak mereka jika memutuskan untuk pergi, dan tidak ada satu ibu pun yang tega meninggalkan anak mereka. Sayangnya, saat itu, Elissa terlalu muda dan buta untuk bisa menyadari kenyataan itu. Tapi untuknya_dan untuk sebagian besar wanita FLDS_ada sebuah jebakan tersembunyi di dalamnya.
   
Ketika melihat Elissa memiliki sifat pemberontak, Warren menikahkan Elissa yang saat itu masih berusia 14 tahun dengan sepupunya yang bernama Allen, berumur 19 tahun. Pernikahan itu dilangsungkan secara diam-diam karena Elissa masih di bawah umur. Hampir tiap malam, Elissa diperkosa oleh Allen atas nama kewajiban sebagai anggota jemaah yang baik. Banyak sekali penderitaan dan tekanan yang dialami Elissa, sang pengantin belia, yang harus ia lalui hari demi hari, malam demi malam. Tapi Elissa tidak tinggal diam, ia berjuang keras untuk mendapatkan kebebasannya sendiri, juga kebebasan rekan-rekannya sepenanggungan.

Dalam kisahnya ini, Elissa menjabarkan setiap kejadian berdasarkan ingatannya yang benar-benar terjadi. Meski tak semua yang terlibat dalam kisah ini dituliskan Elissa dengan nama sebenarnya, namun segala yang ia alami tak luput dalam ceritanya dan tetap disajikan secara gamblang.  Deskripsinya mengenai sekte poligami yang diperkirakan memiliki anggota lebih dari 10 ribu orang ini, begitu mengejutkan dan perjuangan Elissa untuk meraih kebebasan dan keluar dari sekte tersebut sangat menakjubkan.  Buku ini juga pantas dibaca oleh berbagai kalangan yang tertarik dengan masalah poligami. Kisah yang dipaparkan Lessie_panggilan akrab ibu Elissa terhadapnya, akan mengubah pandangan pembaca tentang daya juang dan keteguhan seorang wanita. ***

*)masih sebuah klipingan, ditulis di akhir 2010

Teknologi untuk Menyelaraskan Vibrasi

Judul           :  The Secret Behind The Secret--Seni Mengelola Vibrasi Hati
Halaman      : 277 + xv
Penulis        : Yudi Sudjana
Penerbit      : PT Elex Media Komputindo, KOMPAS Gramedia
Thn Terbit   : Mei, 2009
Harga          : Rp 64.800,-




Sejak kemunculan film dan buku The Secret oleh Rhonda Byrne yang fenomenal itu,  banyak pula buku sejenis yang diterbitkan namun banyak pembacanya yang masih bingung dan bahkan tidak mencapai perubahan yang signifikan dalam hidupnya karena tidak adanya cara yang diberikan untuk mencapai perubahan itu.

Yudi Sujana, pendiri Suara Hati Foundation, seorang modern days spiritual messenger juga trainer transformasi diri, melalui The Secret behind The Secret menjawab tantangan itu dan memberikan How To atau cara mengaplikasikannya untuk kehidupan sehari-sehari yang tidak diajarkan dalam The Secret ataupun pendidikan formal lainnya. Pelopor manajemen vibrasi hati di Indoensia ini menuangkan caranya dalam bentuk latihan pikiran dan perasaan dan juga game vibrasi yang menyenangkan.

Dalam bukunya, Yudi membongkar rahasia untuk mencapai apa pun yang diinginkan atau untuk mengubah realita hidup. Namun, sebelum perubahan dari luar terlihat, diperlukan perubahan di dalam diri, perubahan pikiran dan perasaan, perubahaan gelombang energi atau vibrasi.

Penulis mengungkapkan semua yang ada di alam semesta adalah vibrasi atau gelombang energi. Semua benda padat adalah vibrasi. Benda padat memiliki vibrasi yang rendah dan pelan, karenanya tidak terlihat namun dirasakan. Sedangkan tubuh manusia memiliki sensor vibrasi melalui pancaindranya. Manusia sebagai makhluk cipaan tuhan yang paling sempurna memiliki vibrasi paling tinggi berupa pikiran dan perasan. Kita bisa tahu apakah sesauatu mempunyai vibrasi yang kuat atau tidak melalui sensor indra keenam, yaitu hati. Melalui pikiran dan perasaan inilah realita kita terbentuk.

Termuat dalam buku ini, seni mengelola vibrasi hati. Penulis lebih memfokuskan pada topik ini karena para pakar di bidang Fisika Quantum telah menyimpulkan bahwa hati itu seperti magnit, hati selalu menarik segalanya  sesuai dengan apa yang dirasakan di hati,dan daya tarik magnit ini kekuatannya ribuan kali dibanding otak. Oleh karena itu, barang siapa yang  trampil mengelola vibrasi hatinya dia akan mendapatkan segala kemudahan dan nikmatnya hidup,dan dia akan mengenal siapa jati dirinya dan barang siapa yang mengenal jati dirinya dia mengenal sang pencipta dan dia sadar bahwa Tuhan selalu membimbing dan berkomunikasi dengan manusia melalui hatinya setiap saat asalkan dia mendengarkan suara dari dalam hatinya.

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari buku ini sebaiknya pembaca mendengarkan terlebih dahulu CD Relaksasi Alpha dari Sound Technology yang dilampirkan dalam buku ini. Teknologi Brainware yang terkandung di dalamnya akan membantu menenangkan otak dan masuk ke kondisi Alpha, kondisi yang sangat ideal untuk menyerap informasi dan meningkatkan kinerja otak. Tak ketinggalan penulis menjelaskan beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menggunakan CD Alpha Sound Technology  di bagian akhir buku ini. Selamat membaca.***


*)masih sebuah klipingan, ditulis 2010 lalu

100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien


Judul : Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan dengan Cepat 100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien
Penulis : Samantha Ettus
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 2009
Jumlah Halaman : 415 halaman + xi
Harga : Rp 65.000,-

Dapatkah kita memenangi lomba mengalahkan waktu? Ketika meminta tubuh agar bisa tidur atau ketika berupaya melakukan tugas yang sudah dijadwalkan, kita sering mendapati diri kita berada di pihak yang kalah dalam pertempuran dalam melawan waktu. Sebagai seorang yang selalu tertarik pada segala hal, kecuali duduk manis, Samantha Ettus, Penulis buku ini selalu berupaya meraih kehidupan yang lebih efisien. untuk meraih hal itu, ia melibatkan sejumlah pakar terkemuka di negeri ini untuk menyusun semua serangan guna memerangi waktu yang hilang dan sikap yang tidak efisien.

Samantha Ettus adalah pencipta seri buku laris The Experts' Guide to 100 Things Everyone Should Know How to Do; The Experts' Guide to Life at Home, dan The Experts' Guide the Baby Years. Ia juga wartawan di udara untuk New York 3600.

Buku ini adalah kumpulan bab dari 100 pakar terkemuka dunia dalam bidang psikologi, budaya pop, kecantikan, makanan, asmara, keuangan, rumah, pekerjaan, dan permainan. Ke-100 pakar ini mewakili orang-orang yang paling berpengalaman dan berdaya cipta di dunia. Setiap pakar menulis babnya sendiri secara khusus untuk buku ini, berbagai bakat, sudut pandang, dan keahlian masing-masing dengan seefisien mungkin.

Sangat lengkap penjelasan yang dituangkan masing-masing pakar dalam buku ini. Dimulai dari Neil Strauss, seniman pemikat wanita paling terkemuka di dunia, menceritakan rahasianya tentang cara meninggalkan kesan pertama yang baik. Jika nasihatnya membuahkan hasil bagi pembaca, mungkin pembaca akan memerlukan saran tentang cara merencanakan pesta pernikahan dengan cepat. tidak perlu khawatir, perencana pesta pernikahan istimewa dari Vegas, Tory L. Cooper, membeberkan caranya. Jika inspirasi yang sedang dicari, Samantha memanfaatkan pikiran Richard Bolles, pengarang buku laris What Color Is Your Parachute? untuk membantu menemukan panggilan hidup. Jika persoalannya cara memulai usaha, Sir Richard Branson dalam tulisannya menceritakan cara mendapatkan pinjaman tanpa tertunda-tunda. Apa lagi? Pindah rumah? pakar real estate Barbara Corcoran menuliskan cara menjual rumah dalam rekor waktu tercepat, dan perencana pesta favorit Oprah, Colin Cowie, akan membantu pembaca memeriahkan pesta jamuan makan malam yang akan diselenggarakan.

Buku ini juga disusun Samantha seefisien mungkin. Ia befikir mungkin pembaca tidak punya banyak waktu, maka ia meyusun buku ini berdasarkan beberapa kategori. Rumah, mulai dari mencuci piring hingga menemukan barang hilang. Pekerjaan, mulai dari membuat komputer bekerja lebih cepat hingga mencapai sasaran kerja. Tubuh, mulai dari olahraga lari hingga cara berpakaian agar terlihat lebih langsing. Cinta, mulai dari menjalin hubungan istimewa hingga berusaha hamil. Perasaan Gembira, mulai dari berupaya memiliki suasana hati yang menyenangkan hingga mendapatkan teman. Perjalanan, ulai dari mengemas pakaian hingga menjelajahi kota baru. Buku ini ditutup dengan kategori Masa Depan, mulai dari peduli lingkungan hingga membangun kekayaan. melalui pembagian kategori ini, Samantha mampu mengajak pembaca secara efisien untuk menemukan topik yang paling diperlukannya.

Setelah membaca buku ini, dalam lomba melawan waktu, pembaca tak lagi sendirian. buku ini sarat dengan saran yang jenaka, memukau, dan sangat cerdas, buku ini juga akan mengajari pembaca berbagai cara untuk meniti kehidupan dengan lebih efisien, sehingga pembaca punya lebih banyak waktu untuk menikmatinya.***

*)salah satu klipingan tulisan, mencoba merensensi buku, kira-kira tahun lalu...

Rinai Kabut Singgalang Hingga Palembang

Cukup menarik-menurut aku- cerita di balik buku Rinai Kabut Singgalang yang kupunya. Salah seorang sahabat, Fizy di suatu malam mengirim pesan singkat melalui ponselku. Sahabatku yang satu ini punya panggilan unik untukku. 'Bro' begitu dia memanggilku. Begitupun sebaliknya. Mungkin dengan panggilan seperti ini kami merasa lebih dekat. Tak perlu dibahas, kita lanjutkan. Kira-kira begini isi pesannya:

Fizy: Bro, loe kenal Muhammad Subhan?
Aku: Tau, MS Rinai Kabut itu kan? emang kenapa?
Fizy: Kok loe bisa tau?
Aku: Ya iyalah.. gw gitu.. he
Fizy: O y, kemarin gw ke Rumah Puisi, ketemu sama dia, terus dia tawarkan novel itu. Ya, gw beli deh. Buku itu langsung ditandatanganinya, Bro. Hebat gw kan?
Aku: Ye.. segitu aja hebat. Gw aja dikirimi AH buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme langsung ditandatangani, biasa-biasa aja. (SMS angkuh)
Fizy: He.. Udah baca loe Rinai Kabut Singgalang bro?
Aku: Belum, gw jarang ke Gramedia sekarang, susah nembusnya.
Fizy: Gw sarankan, bacalah. Bukunya bagus, terharu gw.
Aku: Ya, nanti kalau ke Gramedia gw cari bukunya. Tapi, bukunya udah nyampe belum ya, di sini?
Fizy: Kalau g ada, nanti gw sms kan aja sama loe ceritanya.
Aku: Dasar.. kirimin donk bukune.

Sejak SMS dari Fizy, aku ingat bahwa di FB aku berteman dengan penulis RKS. Pada box search, aku ketik nama Muhammad Subhan. Ya, i get it. Aku baru ingat, kalau tidak salah MS selalu saja OL pada chat FB. Aku aktifkan chat pada FB ku yang biasanya jarang sekali OL. Yes, MS OL. Segera aku sapa. Aku memperkenalkan dari dan sedikit mengingatkan MS bahwa kita dulu pernah bertemu pada suatu acara di tempat bekerjaku dulu. Setelahnya, dengan berbaik hati MS mau membantu aku mengirimkan bukunya via pos. Kusimpan no. rekening yang dia berikan. "Nanti kalau sudah transfer, saya kabari," kurang lebih begitu aku tuliskan via chat. Sepertinya MS tak keberatan untuk mengirimkan buku itu, meskipun hanya 1 eksemplar. Sepertinya, tak ada pentingnya membahas bagaimana asal-muasal aku bisa membaca RKS. Berikut aku akan mencoba sedikit mengulas RKS, semoga bermanfaat bagi yang membaca, kalau tidak cukuplah sebagai dokumen tulisan saya pada blog ini. Akan aku beri judul: "Rinai Kabut Singgalang Hingga Palembang". Judul ini tak ada kaitannya dengan isi buku, hanya saja saya tertarik untuk membuatnya demikian karena luka yang diceritakan MS pada RKS sungguh berasa di mana aku berdomisili sekarang.

Judul: Rinai Kabut Singgalang
Penulis: Muhammad Subhan
Penerbit: Rahima Intermedia Yogyakarta
Tahun Terbit: Cetakan I, Januari 2011
Halaman: 396 hal
Harga: Rp. 48.000,-

RKS tak lebih menceritakan luka, lebih tepatnya maha luka, luka beranak luka yang dirasakan oleh Fikri, tokoh utama dalam cerita ini. Alkisah, Maimunah--ibu Fikri, perempuan yang berasal dari Pasaman (Sumatera Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya karena nekat menikah dengan Munaf yang tak lain tak bukan adalah ayah Fikri. Munaf adalah laki-laki asal Aceh yang mencoba mengadu peruntungan ke Pasaman. Munaf dianggap sebagai 'orang datang, orang yang tak berurat tak berakar, orang di pinggang'. Di ranah minang menurut adatnya, menerima 'orang datang' sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, nasib Maimunah tak sebaik yang dia harapkan. Hidup berkalang malu, sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Yusuf, sahabat Fikri dalam buku ini menceritakan kisah luka yang beruntun, seakan tak ada hentinya dialami oleh Fikri. Berawal dari kehidupan di kampung pesisir Aceh, ayah Fikri meninggal dunia. Sejak ayah Fikri meninggal, ibu Fikri juga mulai sakit-sakitan. Dari sini Fikri mulai merencanakan untuk merantau ke Padang. Sebelum ke Padang Fikri singgah dahulu di nagari Kajai, kampung halaman ibundanya. Karena sebelum berangkat merantau, Fikri dipesankan oleh ibunya untuk mencari mamaknya--kakak laki-laki Maimunah. Maimunah menceritakan bahwa mamak Fikri bernama Safri, adalah satu-satunya anggota keluarganya yang begitu menyayangi Maimunah. Oleh karena itu, dia ingin sekali Fikri untuk menemui Mak Safri untuk mengabarkan bahwa adiknya baik-baik saja. Dengan kebulatan tekad, Fikri memulai kisah merantaunya. Menempuh perjalanan dengan bus, menuju nagari Kajai. Di dalam bus inilah Fikri pertama kali bertemu dengan Bu Aisyah, ibu dari Rahima yang merupakan kekasih tak sampai Fikri.

Sesampainya Fikri di Kajai, kisah luka kembali ditampilkan. Mak Safri ternyata mengalami gangguan jiwa karena menanggung malu akibat perbuatan Maimunah. Di negeri beradat, perbuatan Maimunah sangatlah menjadi aib yang tak tertanggungkan bagi Mak Safri. Selama di Kajai, Fikri mengabdikan diri untuk merawat mamaknya yang selama ini hidup terpasung dalam sebuah gubuk di tengah kebun Manggis.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Setelah memutuskan meninggalkan Kajai, Fikri merantau ke Padang. Ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Dalam prolog buku ini, Damhuri Muhammad seorang cerpenis menguraikan bahwa di titik inilah ada perubahan paradigmatik dalam konsep merantau. Bila masa lalu, merantau adalah pergi menuju sesuatu, tapi perantauan Fikri adalah sebuah ikhtiar meninggalkan sesuatu: luka. Riwayat perjalanan Fikri dimanfaatkan penulis untuk merekam jejak luka sepanjang hidup Fikri.

Semasa perantauan Fikri di Padang, kisah percintaan Fikri pun bermulai. Ia bertemu dengan Rahima yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, kisah cintanya juga berbuah luka. Cinta Fikri bertepuk sebelah tangan, kakak Rahima bernama Ningsih tidak menyetujui hubungan mereka. Rahima tak mampu berbuat apa-apa karena selama masa sekolahnya Ningsihlah yang membiayai hidup Rahima. Terkesan berhutang budi, Rahima terpaksa menerima permintaan kakaknya untuk menikah dengan laki-laki yang telah dipilihkan Ningsih. Pinangan Fikri ditolak mentah-mentah oleh Ningsih, lagi-lagi alasan status Fikri sebagai 'orang datang' menjadi alasan. Namun, dibalik itu, ternyata Rahima dipersiapkan Ningsih untuk menikah dengan laki-laki pencariannya hanya karena Ningsih terlilit hutang kepada laki-laki itu.

Pedihnya kisah percintaan Fikri sama halnya dengan kisah percintaan Zainuddin dengan Hayati yang diceritakan Hamka dalam 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk'. Juga, hampir sama dengan kesuksesan Zainuddin sebagai penulis sukses, dalam RKS Fikri juga mempunyai pengalaman yang sama. Ia dipertemukan kembali dengan Rahima ketika kisah yang ia tuangkan dalam novel difilmkan dan dipentaskan di Jakarta. Kembali kita diingatkan dengan kisah perjumpaan Zanuddin dengan Hayati setelah terpisahkan oleh nasib malang percintaan mereka.

Penggunaan latar, yaitu adat di ranah minang agaknya adalah salah satu faktor yang sangat mendukung dalam novel RKS. Hal inilah yang membuat setiap pembaca dapat terpancing sehingga larut dalam setiap bagian novel ini. Penggunaan bahasa yang halus, bebas dan terkesan apa adanya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca untuk membacanya hingga akhir dari karya ini. Rangkaian peristiwa dan konflik yang disusun sedemikian rupa juga penokohan yang kuat dari setiap karakter, penggambaran latar yang tepat hingga alur cerita yang mengalun indah tak bisa dipungkiri menjadi kelebihan dari karya ini.

Dibalik keindahan karya Muhammad Subhan ini, bukan berarti tanpa cela. RKS Ibarat produk lama yang dikemas dengan kemasan baru, kisah-kisah yang disuguhkan sepertinya dibayang-bayangi oleh kisah pada 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.' Kenapa tidak? Karena ketika saya mengikuti kisah demi kisah RKS ingatan saya tak terlepas dari kisah serupa yang ada pada "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk."

Terlepas dari itu, saya mengapresiasi karya Muhammad Subhan. Karangan laki-laki berdarah Aceh-Minang ini mampu membawa saya hanyut ke dalam kisahnya dan saya merasa sangat dekat dengan kisah tersebut. Rinai kabut dari Singgalang akhirnya singgah juga di Palembang. Semoga novel pertama MS ini turut menuai kesuksesan layaknya kesuksesan 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.'

***

Note: Ini bukanlah resensi, ini juga bukan timbangan buku, hanya sebentuk ulasan mengenai kesan saya setelah membaca RKS. Mungkin ada yang kurang berkenan bagi Pengarang mengenai ulasan di atas. Saya mohon maaf dan harap dimaklumi. Masih belajar menulis.. :). Selain itu, ulasan RKS di atas juga salah satu bentuk terimakasih kepada Pengarang (MS) yang telah mau mengirimkan RKS. Juga, terimakasih kepada si 'Bro' yang telah membuat saya tak mau kalah dari dia untuk segera memiliki buku ini. :))

*)rukan panggung, 24th march 2011 19;19 waktu si kompi.

Menggugat Sejarah Versi Militer




Judul Buku : Ketika Sejarah Berseragam (Edisi Terjemahan):
Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia
Penulis : Katharine E. Mc Gregor
Penerbit : Syarikat
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xxvii + 459 halaman
Harga : Rp 55.000,-

Sejarah merupakan elemen penting dalam sebuah negara. Bahkan, telah dikatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Mengapa sejarah itu penting dan mengapa kita harus peduli pada sejarah? Ini dikarekanakan keyakinan bahwa manusia berbeda dengan binatang yang hanya mampu berpikir tentang masa kini mereka. Perbedaan manusia dengan binatang adalah kemampuannya melakukan refleksi-masa lalu, masa kini dan masa depan-dalam kehidupan mereka. Tapi, apa jadinya ketika sejarah itu direkayasa demi kepentingan sang penguasa waktu itu?
Di Indonesia, rezim penguasa Orde Baru—dengan doktrin sejarah demi masa kini yang diplintir untuk kepentingan kekuasaan sesaaat—turut menyumbang kedangkalan terhadap pemahaman sejarah bangsa kita. Hal ini telah dibuktikan oleh Katharine E. Mc. Gregor dalam bukunya ini. Walaupun penelitian tentang tentang kiprah militer di Indonesia bukan hal baru, karya ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap sejarah utuk kepentingannya.

Pasca orde baru banyak kajian yang menyoroti keterlibatan kaum militer dalam berbagai ranah kehidupan kenegaraan bangsa ini. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari menguatnya peran militer pasca 1965 yang bermetamorfosa menjadi kekuatan yang menggurita dalam setiap sektor kehidupan, sehingga ada yang mengatakan bahwa pada masa orde baru militer Indonesia tak ubahnya seperti sebuah Negara dalam Negara.
Banyak bukti yang disampaikan Katharine E. Mc Gregor dalam karyanya yang berasal dari hasil disertasinya di sebuah universitas di Australia. Buku ini menceritakan tentang bagaimana sejarah di Indonesia dibangun, sebagai representasi sebuah usaha mempertahankan kekuasaan_orde baru. Buku yang terlebih dahulu terbit menggunakan bahasa Inggris tahun 2007 dengan judul History in Uniform: Military Ideologi and the construction of indonesia’s past ini, juga menyuguhkan bagaimana dampak dari usaha militer Indonesia tersebut.

Satu hal yang juga mengejutkan dalam buku ini adalah uraian Penulis tentang seorang tokoh di balik propaganda ini, yaitu Nugroho Notosusanto. Ia lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 15 Juli 1930. Ayah Nogroho bernama R.P. Notosusanto yang mempunyai kedudukan terhormat, yaitu seorang ahli hukum Islam, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, dan seorang pendiri UGM. Sebagai seorang sejarahwan, Nugroho dimanfaatkan oleh ABRI maupun Orde Baru untuk menulis sejarah menurut versi pihak-pihak tersebut. Pada 1964 ABRI menggunakan Nugroho untuk menyusun sejarah militer menurut versi militer karena khawatir bahwa sejarah yang akan disusun oleh pihak Front Nasional yang dikenal sebagai kelompok kiri pada masa itu akan menulis Peristiwa Madiun secara berbeda, sementara militer lebih suka melukiskannya sebagai suatu pemberontakan pihak komunis melawan pemerintah.

Ditulis Katharine, didirikannya Pusat Sejarah ABRI pada tahun 1964 ternyata sangat bermanfaat bagi militer, karena setahun kemudian usaha kudeta terjadi. Nugroho Notosuanto sebagai Kepala Pusat merupakan penulis utama terbitan pertama versi kisah usaha kudeta. 40 Hari Kegagalan ”G-30-S” 1 Oktober-10 November penting karena buku ini mengkonsolidasi propaganda Angkatan Darat mengenai kudeta dan menyajikan laporan yang kronologis mengenai keterlibatan PKI. Buku ini juga menjadi dasar versi resmi Orde Baru tentang kisah usaha kudeta untuk tiga puluh tahun selanjutnya.
Gambaran tentang usaha kudeta sangat penting bagi legitimasi rezim dan bagi pelarangan terhadap PKI dan untuk membenarkan penghancuran partai ini. Untuk tujuan-tujuan inilah militer meneruskan membela dan mengulang-ulang narasi ini dalam bentuk tertulis dan visual sepanjang rezim berkuasa. Usaha mempertahankan legitimasi ini untuk dunia luar dilakukan melalui terbitan versi kisah usaha kudeta dalam bahasa inggris, ditulis oleh Nugroho Notosusanta dan Ismail Saleh dengan bantuan pemerintah Amerika Serikat, sebagai tanggapan terhadap munculnya Makalah Cornell (Cornell Paper). Cara versi kisah kudeta ini diperingati di lokasi Lubang Buaya juga menunjukkan betapa besarnya rezim ingin menanamkan versi mereka mengenai sejarah. Kenyataan bahwa antikomunisme dapat hidup lebih lama daripada orde baru juga menandakan bahwa proyek militer berhasil.

Akan tetapi, banyak orang Indonesia mempertanyakan versi sejarah masa lalu ini karena versi tersebut dipaksakan kepada mereka. Walaupun dalam era pasca-soeharto timbul pertanyaan mengenai kebenaran versi resmi kisah usaha kudeta, sejumlah orang tetap setia kepada versi resmi ini, maupun kepada anti-komunisme karena mereka sudah menetapkan berbagai makna masing-masing tentang masa lalu ini. Bagi mantan tapol dan mereka yang kehilangan anggota keluarganya dalam pembunuan massal, hal ini sangat merugikan dan mendorong mereka menjadi orang paria.

Gambaran mengenai usaha kudeta menceritakan jauh lebih banyak tentang rezim orde baru daripada mengenai kudeta itu sendiri. Versi resmi tentang kisah usaha kudeta digunakan untuk menetapkan nilai-nilai inti, termasuk komitmen kepada agama dan moralitas. Sumur yang dilestarikan di Lubang Buaya ingin mengingatkan orang Indonesia akan martir Angkatan Darat yang dikatakan tewas secara mengerikan di tangan kaum komunis, dan cungkup di atas sumur ingin mengingatkan akan bimbingan Allah dalam penemuan kembali jenazah martir Angkatan Darat. Relief di bawah Monumen Pancasila Sakti menceritakan perjalan menuju krisis nasional di bawah pimpinan Soekarno dan pengaruh komunis yang tidak bermoral.

Tak hanya itu, masih banyak lagi sejarah versi militer yang diungkapkan Katharine dalam karyanya ini. Intinya, ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer.

Terlepas dari kecerdasan militer dalam membodohkan anak bangsa_yang mempelajari sejarah itu_ karena mengabdi kepada kekuasaan orde baru waktu itu, buku ini menarik untuk dibaca, terutama generasi muda. Selain itu, karya ini diharapkan juga mampu menghimbau pakar sejarah untuk menjelaskan masa lalu yang sebenarnya.

*) mencoba menimbang buku pinjaman dari salah seorang junior di kampus dan sudah diposting pada blog saya sebelumnya 23 dec 2008 silam