Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan

Launching Buku Kumpulan Cerpen 25 Penulis Sumatera Barat

Launching Buku Kumpulan Cerpen 25 Penulis Sumatera Barat    
Bukittinggi-inioke. Dunia sastra Sumatera Barat kembali melahirkan sebuah buku Antologi cerpen yang ditulis oleh 25 orang penulis asal Sumatera Barat. Peluncuran buku yang berjudul Potongan Tangan di Kursi Tuhan ini dihelat di depan Ramayana Bukittinggi dan dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari siswa SMA, mahasiswa, guru dan masyarakat pecinta sastra, Kamis (28/7).

Menurut M. Subhan, penulis novel Rinai Kabut Singgalang ini berawal dari ide teman-teman penulis yang ingin menerbitkan sebuah buku. Berawal dari ide tersebut akhirnya setelah melewati proses yang cukup panjang maka lahirlah buku kumpulan cerpen 25 penulis Sumatera Barat.

"Sebenarnya ada 50 penulis yang mengirimkan beberapa naskah cerpen. Namun setelah melalui penyeleksian maka terpilihlah 25 penulis yang naskah cerpennya akan dibukukan," ungkap M. Subhan di sela-sela acara.

Ke-25 Penulis Sumatera Barat yang ada dalam Antologi cerpen yang berjudul Potongan Tangan di Kursi Tuhan ini berasal dari berbagai latar belakang yaitu ada yang berprofesi siswa SMA, mahasiswa, dan guru. Selain itu, ke-25 penulis ini tersebar dari berbagai daerah yang ada di Sumatera Barat.

Peluncuran buku ini digagas oleh Harian Umum Rakyat Sumbar Utara, di mana pimpinan redaksinya, Firdaus juga merupakan salah satu penulis yang ikut mengisi buku kumpulan cerpen Potongan Tangan di Kursi Tuhan.

Meiriza Paramitha, salah satu penulis yang mana judul cerpennya merupakan judul dari kumpulan cerpen ini menyerahkan beberapa buah buku kepada Amri Rasyidin, juga salah satu penulis buku Potongan Tangan di Kursi Tuhan sebagai simbol diluncurkannya sebuah buku yang berisi kumpulan cerpen 25 penulis Sumatera Barat.

Acara ini dimeriahkan juga dengan penampilan akustik dari Muhammad Jujur yang membawakan beberapa lagu ciptaannya, serta bazar buku dan diskusi sastra dengan beberapa nara sumber seperti Firdaus, Pemimpinan Redaksi Harian umum Rakyat Sumbar Utara, Irzen Hawer, penulis novel Prosa Cinta di Kota Serambi, Amri Rasyidin, Penulis.

Berikut Nama-Nama 25 Penulis Buku Antologi Cerpen Potongan Tangan di Kursi Tuhan:
1. Amri Rasyidin
2. Agus Setiawan
3. Budi Saputra
4. Desiyanti Anwar
5. Firdaus
6. Haqimah Rahma Sari
7. Irzen Hawer
8. Kyanti Naurah
9. Keket Apriliyand
10. Lola Geovani
11. Lili Asnita
12. Muhammad Subhan
13. Meiriza Paramitha
14. Merdila Nuril Rahmi
15. Muswair Al Fayd
16. Sastri Bakry
17. Syerli Yenita
18. Sri Novita
19. Tuti Handriyani
20. Tiara Mairani
21. Williya Meta
22. Yusrizal Firzal
23. Yosi Elfiandra
24. Yunarti
25. Zakiyya (*)
 

Sebilah Pedang Saksi Bisu Perjuangan Rasulullah

--busur dan pedang Rasulullah--
 
Ada sembilan pedang nabi yang berhasil terkumpul di Istana Topkapi Istanbul, Turki. Ini merupakan saksi bisu yang merupakan pelaku sejarah perkembangan islam hingga saat ini. Sembilan pedang yang berhasilkan itu sebagian besar adalah hasil rampasan-rampasan perang, diantaranya erang Badar, Uhud, Khandaq dan lain-lain.

*Pedang Al Battar
Pedang Al Battar didapatkan oleh Nabi Muhammad sebagai barang rampasan dari Bani Qaynaqa. Pedang ini dinamakan pedang Nabi dan pada pedang ini terpahatkan dalam bahasa Arab nama dari Daud, Sulaiman, Musa, Zakaria, Yahya, Isa dan Muhammad. Berdasarkan cerita Nabi Daud memenggal kepala Goliath yang merupakan pemilik asli pedang ini. Pedang ini disimpan di Museum Topkapi Istanbul. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa pedang ini akan digunakan oleh Nabi Isa untuk mengalahkan dajjal.


*Pedang Al-'Adb
Al-''Adb berarti memotong atau tajam. Pedang ini dikirim ke Nabi Muhammad oleh salah satu companionnya sebelum perang Badar. Beliau menggunakan pedang ini pada perang Uhud. Pedng ini disimpan di masjid Husein di Cairo, Mesir.

 *Pedang Al Hatf
Hatf adalah pedang yang didapatkan oleh Nabi Muhammad sebagai harta rampasan perang dari Bani Qaynuqa. Dikatakan bahwa Nabi Daud mengambil pedangnya al-Batar dari tangan Namrud sebagai harta rampasan ketika dia mengalahkannya tetapi pada saat itu umur beliau kurang dari 20 tahun. Allah memberikan mu'jizat kepada Nabi Daud kemampuan untuk membuat senjata, tameng dan alat-alat perang dari besi. Kemudian beliau membuat pedang yang dinamai Hatf menyerupai al-Battar tetapi lebih besar. Beliau menggunakan pedang ini sampai meninggal kemudian dirawat oleh suku Levitar, salah satu suku bangsa Israel, dan akhirnya sampai di tangan rasulullah. Pedang ini sekarang berada di museum Topkapi. Pedang ini panjangnya 112 cm dan lebar 8 cm.

 *Pedang Al Mathur
Al Mathur, juga dikenal sebagai Ma'thu al-Fijar adalah pedang yang dimiliki oleh Rasulullah sebelum beliau menerima wahyu pertama di Makkah. Pedang ini adalah kepunyaan ayah beliau. Nabi Muhammad hijrah dengan pedang ini dari Makkah ke Madinah dan pedang ini tetap dengan beliau sampai diberikan ke Ali Bin Abi Thalib. Pedang ini panjangnya 99 cm. Gagangnya terbuat dari emas pada bentuk yang seperti ular dan dihiasi dengan emerald dan batu pirus (batu berwarna biru). Dekat dengan gagang terukir ukiran Kufic, Abdallah bin Abdul Al-Muttalib. Sekarang pedang ini dilindungi di museum Topkapi.

 *Pedang Al Mikdham
Pedang ini berdasarkan cerita diberikan oleh Rasulullah Muhammad kepada Ali bin Abi Thali, dan dari Ali diberikan ke anaknya. Sumber lain mengatakan bahwa pedang ini adalah hasil rampasan terhadap penggerebekan yang dipimpin oleh Ali di Syria. Pedang ini disimpan di museum Topkapi, Istanbul. Pedang ini panjangnya 97cm dan terpahat nama Zayn al-Din al-Abidin.

 *Pedang Al Qadib
Al-Qadib adalah pedang ringan yang menyerupai batang tipis. Pedan ini digunakan untuk pertahanan atau persahabatan untuk musafir tapi tidak untuk berperang. Tertuliskan pada sisi pedang yang berwarna silver Tidak ada berhala tetapi Allah, Muhammad adalah untusan Allah--Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib. Tidak ada tanda pada sumber sejarah manapun bahwa pedang ini pernah digunakan untuk berperang. Pedang ini berada di rumah Rasulullah dan hanya digunakan kemudian oleh kekhalifahan Fatimiah. Pedang ini disimpan di museum Topkapi, Istanbul.
 
 *Pedang Al Qal'i
Pedang ni dikenal sebagai Qal'i atau Qul'ay. Nama pedang ini mungkin ada hubungannya dengan tempat di Syria atau India dekat Cina. Ada juga yang mengatakan Qal'i berarti tin atau timah putih. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang yang menjadi harta rampasan perang bani Qaynuqo. Juga dikatakan bahwa kakek Nabi Muhammad menemukan pedang Qal'i ketika dia membuka air zamzam di Makkah. Sekarang pedang ini disimpan di museum Topkapi, Istambul. Panjang 100 cm. Didekat handle bertuliskan dengan bahasa arap pedng ini adalah pedang mulia nabi Muhammad. Pedang ini terasa istimewa dari pedang-pedang yang lain karena desain yang menyerupai gelombang sampai meninggal kemudian dirawat oleh suku Levitar, salah satu suku bangsa Israel, dan akhirnya sampai di tangan Rasulullah. Pedang ini sekarang berada di museum Topkapi. Pedang ini panjangn dan lebar 8 cm.

*Pedang Al Rashub
Pedang ini adalah salah satu dari sembilan pedang Nabi Muhammad. Dikatakan bahwa pedang ini adalah penjaga ahlul bait seperti Ark menjaga bangsa Israel Istanbul.
 


*Pedang Dhu Al Faqar
Pedang ini didapatkan dari hasil rampasan oleh Nabi Muhammad pada perang Badar. Dikabarkan bahwa Nabi Muhammad memberikan pedang ini kepada Ali Bin Abi Thalib dan dengan pedang ini Ali berperang di perang Uhud. Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini ditetapkan dengan Ali dan keluarganya, dan pedang tersebut memiliki dua ujung, mungkin disini ditunjukkan dengan dua mata pisau.

***

Selain pedang, juga ada beberapa relikui peninggalan Nabi seperti terompah (sandal), baju, dan lainnya. Ini dia: 

--salah satu surat Nabi untuk Kaisar Roma dilengkapi cap stempel (kiri)--
--(searah jarum jam): Rambur Rasulullah SAW, Stempel Surat, Tempat Minum, Jubah, dan Patagan gigi&rambur Rasul--

--(searah jarum jam): pakaian&tongkat, ikat kepala, janggut, rambut, dan pasir dari makam Rasul--

--(searah jarum jam): telapak kaki, Topi perang, baju, bendera perang, dan baju Rasul--

--(searah jarum jam): kotak gigi&rambut, kotak peralatan Fatimah R.A, makam Rasul, busur dan panah Rasul, Pintu kamar--

Berhubung saya tak diperkenankan mengambil gambar waktu mengunjungi pameran Sebilah Pedang, jadi gambar-gambar di atas saya ambil dari referensi: Sebilah Pedang Bukti Sejarah Kejayaan Islam di Masa Silam, Abidurrohman, Piramid, 2010.
Semoga bermanfaat..

Cari-cari Relikui Pedang Nabi

--lokasi pameran--
Sejak Minggu (1/5) lalu hingga Senin (6/6) mendatang warga Palembang dan sekitarnya memiliki objek kunjungan untuk mengisi waktu libur mereka. Ada Pameran Internasional Pedang Nabi di Gedung Baitul Ulama Yayasan Masjid Agung Palembang. Lokasi gedung ini tak berada jauh dari Masjid tersebut, hanya dipisahkan oleh jalan raya di sisi kanan masjid. Pameran ini berlangsung dari pukul 09.00 s.d 21.00 setiap harinya. Tak ada salahnya kita, khususnya para orangtua untuk mengajak anak-anaknya ke pameran tersebut. Banyak hal bisa didapatkan dari pameran tersebut, juga memperkaya pengetahuan mereka tentang sejarah perjuangan nabi.


Pada Senin sore (16/5) lalu, saya bersama 'kakak' juga meluangkan waktu untuk mengunjungi pameran internasional yang telah berlangsung sejak 15 hari lalu. Ba'da Ashar kami keluar rumah menempuh perjalanan yang lumayan lancar karena hari itu bertepatan dengan cuti bersama yang ditetapkan pemerintah. Berbekal informasi dari harian daerah di sini, kami dengan pasti memasuki pekarangan masjid Agung yang lumayan luas dan asri itu. Segera si 'kakak' memarkirkan kendaraan tepat di jalur pekarangan depan masjid. "Pamerannya dimana?" si 'kakak' bertanya. "Kita coba lihat ke dalam saja kak," saya jawab. Setelah mengitari setengah dari bagian masjid tak ada tanda-tanda keramaian di sana. Tak sengaja kami melihat ada dua perempuan yang tengah bercakap-cakap di dalam masjid dan memegang selembar foto. Saya melihat gambar pada foto tersebut dan membaca tulisan di dalamnya. Seseorang tengah berpose di depan salah satu pedang, di bawahnya tertulis pedang nabi. "Oh, kita tanya mereka aja kak, dia pasti pulang mengunjungi pameran," saya katakan lagi sama si 'kakak'.

"Mbak, pameran itu tempatnya dimana ya?" tanya si 'kakak' sambil mengarahkan telunjuknya ke selembar foto yang tengah dipegang perempuan tersebut. Dua perempuan itu tersenyum dan berbaik hati menjelaskan lokasi pameran kepada kami. Saya menangkap arahan dari perempuan itu, lokasinya di perpustakaan masjid. Nah, masalahnya lagi kami juga tidak tau dimana lokasi perpustakaan itu. Maklum, sama-sama kaum pendatang di kota pempek ini. Kemudian kami mengikuti arah telunjuk perempuan yang memberitahu kami tadi. Kami melewati pelataran masjid di sisi kanan dan celingak-celinguk kiri-kanan belum terlihat tanda-tanda keramaian. Daripada nyasar kian-kemari lebih baik bertanya. Malu bertanya sesat di jalan, bukan?

Kali ini target kami bertanya ada bapak-bapak yang tengah asyik melihat siswa SMA yang tengah berkonvoi mengelilingi bundaran air mancur dekat Masjid Agung dalam rangka merayakan kelulusan mereka. Ramai sekali. Bising juga, suara knalpot mereka menderu. Kali ini, masih si 'kakak' yang bertanya. "Pak, pameran pedang nabi itu dimana ya?" Dengan senang hati si bapak menerangkan arah tempat yang kami cari. "Lurus, depan itu belok kiri, nah... gedungnya sederet dengan gedung hijau itu pas di seberang jalan ini," si bapak menunjuk gedung hijau yang juga kelihatan oleh kami. Penjelasan si bapak lumayan membingungkan, lama sekali kami mengerti. Akhirnya setelah berulang-ulang si bapak itu menjelaskan, "Oh.." mulut kami membulat, pertanda mengerti.

Setelah berterimakasih kepada si bapak yang telah berbaik hati memberi petunjuk kepada kami--tentu saja si bapak juga terganggu karena ia tengah asyik memperhatikan konvoi anak SMA tadi-- kami langsung menuju tempat pameran. Berjalan kaki mengikuti trotoar dan menyeberang jalan raya yang lumayan padat oleh kendaraan. Akhirnya, kami menemukan gedung pameran.

Gedung bertingkat dua, lumayan ramai tapi tak terlalu. Memasuki pelataran depan gedung kami memperhatikan setiap penjuru. Tepat di sisi kiri depan gedung dibuat ruang khusus untuk pengunjung yang ingin berfoto. Langsung jadi, Rp.15 ribu/foto cetak berikutnya Rp.10 ribu/lembar. Hm.. lumayan juga, saya bicara dalam hati.

Tak berlama-lama kami segera menuju meja panitia, sebelum masuk kami mesti membayar Rp 15ribu per orang. Lima belas ribu untuk umum dan Sepuluh ribu untuk pelajar. Salah satu panitia tersenyum ramah kepada kami dan seketika itu pula ia bertanya, "Udah berapa bulan mbak?" matanya melirik ke arah perut si 'kakak'. "Baru masuk enam," jawab si 'kakak' singkat. Panitia pun mempersilahkan kami masuk dan memperingatkan kami agar tidak mengambil gambar dengan kamera atau alat perekam apa pun selama dalam ruang pameran.

Memasuki ruang pameran, saya memperhatikan setiap sudut ruangan. Beberapa petugas meminta kami untuk menunggu dulu karena ruang yang pertama harus kami masuki sedang berisi pengunjung sebelumnya. Ya, pertama kali setiap pengunjung disuguhkan pemutaran film terlebih dahulu. "Silahkan duduk dan mohon menunggu selama dua menit," ujar salah seorang panitia dengan ramah. Sembari menunggu, saya mengambil foto seadanya. Kalau masih di luar ruangan tak ada yang melarang saya mengambil foto. Foto yang saya ambil pun tak seberapa, karena tak ada banyak objek yang menarik.

--riwayat gedung--
Kalau dulu waktu di organisasi kampus, saya bisa dengan leluasa bertanya kepada panitia, bisa mengambil gambar dengan bebas. Itu karena saya utusan dari media kampus, alias jurnalis 'kurcaci' atau lebih kerennya wartawan kampus. Tapi sekarang, cukuplah saya sebagai pengunjung pameran yang ingin tahu saja. Karena tak tahu lebih jelas mengenai tempat pameran saya shoot salah satu dinding yang di sana ditempel keramik peresmian gedung tersebut. Terjawab sudah salah satu unsur 5W+1H saya, Where? Di dinding itu telah tertulis lengkap nama gedung, tanggal peresmian dan informasi lainnya.

Ternyata panitia tadi benar, kira-kira memang hanya dua menit kami menunggu. "Silahkan masuk," panitia mempersilahkan kami memasuki ruang yang berlabel 'ruang film'. Hanya ruang sederhana, berukuran kira-kira 3x5 meter, film diputar dengan media LCD yang gambarnya dipantulkan ke dinding bagian ruang tersebut. Di dalam ruang gelap itu, diputar film tentang perjuangan Salahudin Al Ayyubi di Turki. Sebentar saja, kira-kira 15 menit. Saya tak terlalu paham dengan film yang diputar, selain terlalu singkat ruang kurang kondusif sebagai tempat menonton. Lumayan berisik, ada yang terima telpon ada pula yang lalu-lalang selama film ditayangkan.

Setelah menonton film, panitia mengarahkan kami ke ruang pameran. Nah, ini yang saya nantikan. Saatnya memanjakan mata dengan menyaksikan jejak-jejak Nabi Muhammad SAW dan sahabat dalam bentuk relikui (peninggalan barang atau benda suci).
Petugas menjelaskan satu per satu benda yang terpajang. Hm.. tak terlalu memuaskan. Yang menjelaskan terkesan menghafal, terburu-buru, pengunjungpun kurang puas. Atau memang saya saja yang banyak maunya?

Selain itu, seluruh relikui yang dipajang pada pameran tersebut hanyalah replika. Bukan asli peninggalan nabi. "Ini semua dibuat dengan bahan yang sama dengan ukuran 1:1 alias ukuran persis sama dengan yang sebenarnya," jelas petugas. Kata petugas itu lagi, yang asli tidak bisa dibawa kemana-mana. Semuanya tersimpan di Paviliun Relikui Suci, sebuah ruangan terpisah dari Istana Topkapi, Turki. Ya.. kecewa lagi deh. Tapi tak apalah. Melihat relikui tersebut membuat saya lebih mudah mengenal sosok nabi dan para sahabatnya.

Seperti yang diinstruksikan di pintu masuk, pengunjung tak diizinkan mengambil gambar di pameran. Tak menghiraukan panitia, saya pun bertingkah. Mengambil gambar di dalam ruangan tersebut. Satu, gambar pedang nabi dari kejauhan berhasil saya abadikan. Kedua, jejak telapak kaki nabi. Nah, selesai mengambil gambar ini saya kepergok. Salah seorang petugas memaksa mengambil handphone si 'kakak' dari tangan saya. Beruntung si 'kakak' dengan sigap mengambil balik. "Sini, biar saya yang hapus," si 'kakak berkilah. Alhasil, petugas menyerah. Hua.... saya dengan wajah bersemu merah, tersipu malu. Malu bukan digoda tapi malu karena ditegur petugas. Hua... malu. Tapi, syukurlah gambarnya masih aman. Tadi, Si 'kakak' hanya berpura-pura saja menghapus. 

--replika telapak kaki Nabi--foto hasil curi2
Syukurlah, lagi pula apa salahnya mengambil gambar. Sudah jelas pelayanan pamerannya kurang memuaskan, mengambil gambar pun tak boleh. He... alasan, sebanding kok dengan harga tiket masuk yang dipungut. Kalau setiap pengunjung diizinkan mengambil gambar mana ada lagi yang mau datang ke pameran mereka. Kasihan juga, panitia sudah bersusah payah menjalin kerja sama dengan pemerintahan Turki untuk mendatangkan langsung benda-benda tersebut ke sini tapi tak ada yang mengunjungi. Hi..

 
Demikianlah cerita berbelit-belit saya seputar kunjungan pameran nabi. Hari beranjak sore. Mega merah menggantung di tiap sudut langit. Sangat memukau. Kami pun menghabiskan sore menunggu azan magrib dengan mencicip jajanan khas Palembang di pekarangan masjid. Aih, sore yang indah. Azan pun menggema ke seantero kota Palembang. Saya dan si 'kakak' beranjak mensucikan diri, bergegas memasuki masjid kebanggaan wong kito itu. Magrib berjamaah. Sudah lama tidak, sungguh mengobat rindu.

Semoga perjalanan ini bermanfaat untuk saya, si 'kakak' beserta calon bayi, dan siapa saja tentunya.
--hijaunya halaman masjid--

--bersama si 'kakak'--

















--Masjid Agung dari salah satu sisi--
 *)Untuk ulasan tentang relikui lebih lengkapnya, saya akan posting di tulisan berikutnya. Ini sekadar catatan perjalanan saja.. Semoga yang baca tidak bosan

Pernik Edcoustic

Kali ini, Egie yang bicara


Dikasih merchandise--pin Edfriends-- sama panitia

 Gedung Aula Pascasarjana Unsri

 Salah satu stand yang banyak dikunjungi


Terimakasih Kang Aden, sudah membubuhkan tandatangan

Ketemu Ayu' Ena, dari M. Enim


 Mug cantik Edcoustic

 Nada dan Wahid, ikon Akhwat dan Ikhwan LD Nadwah Unsri

 Foto Bareng Edcoustic

 Bonus, datang sendiri..ya, foto sendiri bareng Edcoustic

Sehari Bersama Edcoustic

Palembang, 27 Maret 2011. Ada Konser pada hari itu. Beralamat di Jl. Padang Selasa, bertempat di Aula Pascasarjana Universitas Sriwijaya (Unsri). Jangan mengira pada konser ini akan ada kerumunan penonton yang akan jingkrak-jingkrak selama konser belangsung. Kenapa? Ya, konser kali ini adalah konser nasyid yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus Nadwah Unsri, bukan konser group band yang tengah digandrungi kebanyakan anak muda zaman sekarang. Konser adalah salah satu rangkaian acara dalam rangka 1 Dasawarsa LD Nadwah Unsri. Adapun rangkaian acara yang lain berupa, Bedah Buku Fiqh Remaja, Seminar Muslimah, Nadwah Generation to Generation (G2G) dan Jalan Sehat. Nadwah sendiri mengusung tema '10 tahun menebar dakwah demi mempererat ukhuwah untuk nadwah yang semakin dekat dan semakin bermanfaat karena 'nadwah lebih dari sahabat'.

Sebelum konser dimulai, panitia memanjakan Edfriends--sahabat Edcoustic--dengan menyediakan sesi jumpa fans dan foto bareng Edcoustic. Pada sesi ini Edfriends diberi kesempatan untuk bertanya kepada group nasyid yang 'simple' ini. Simple dari segi jumlah anggota. Kenapa tidak, group nasyid yang sudah terkenal kian-kemari ini hanya digawangi dua orang saja. Egie--gitaris dan Aden--vocalis. Dalam kesempatan itu mereka banyak bercerita. Mulai dari sejarah, album, dan segala seluk-beluk tentang Edcoustic.

Kali ini Aden lebih banyak bercerita dibanding Egie. Mungkin selera humor dan bakat entertaint lebih kepada Aden--penilaian saya. Nama dari group nasyid yang mengusung genre pop religi ini juga tergolong simple. Nama Edcoustic hanyalah sebuah singkatan dari Egie dan Deden berAcoustic. Setiap lagu yang disenandungkan hanya diiringi irama acoustic yang telah diolah oleh jemari piawai seorang Egie. Dua pria yang dua-duanya sudah menikah ini dipertemukan pada kegiatan kemahasiswaan di Masjid Salman yang bertempat di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Soal nama, sebelumnya kata Aden, group ini bernama Muhamad Ibrahim Isa Yusuf (MIIY). Tapi MIIY tak sebanding dengan anggota Edcoustic sendiri. Nama yang diambil dari 4 nama nabi tersebut tak bertahan lama. Setelah hijrah ke nama Edcoustic, hingga kini nama itu bertahan seiring dengan kesuksesan group ini. Suasana jumpa Edfriends lumayan seru. Karena Aden yang mengaku mewarisi bakat seni dari bibinya ini mampu mengundang gelak tawa penonton. Ayah dari tiga anak ini juga menceritakan bahwa Edcoustic juga pernah dihujat karena dinilai telah merusak khasanah lagu-lagu nasyid yang sebenarnya. Banyak juga yang keliru menginterpretasikan lagu-lagu gubahan Aden dan Egie.

Pada kesempatan ini, Aden juga berbagi tips dan trik kepada penonton bagaimana menjadi pengarang lagu yang sukses. "Buat lagu sesederhana mungkin, biar orang tidak terlalu pusing menerjemahkan apa yang kita tulis," jelas pria yang juga biasa dipanggil oleh temannya 'Ki Boden' ini. Tak hanya itu, Aden juga menyebutkan kalau Edcoustic tak terlalu sering mengeluarkan album karena biasanya yang bertahan adalah grup yang jarang mengeluarkan album. Mereka ingin menjaga eksistensi, bertahan dengan tetap berkarya. Layaknya Alm. Chrisye yang menjadi inspirasi Aden. Terakhir, group Nasyid yang pernah ditonton hanya 2 orang penonton ini meluncurkan single 'Jalan Masih Panjang' pada 3 Agustus 2010 lau. Single ini mengambil tema motivasi bagi siapapun yang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, agar terus menatap masa depan dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai pemicu semangat untuk meraih kesuksesan.

Temu Edfriends dengan Edcoustic tak berlangsung lama, lebih kurang dua jam. Di penghujung acara, Edcoustic menghadiahkan penonton dengan 3 lagu yang dimedley. Jalan Masih Panjang, Sebiru Hari Ini, dan Menjadi Diriku. Medley yang sungguh membuat tak sabar menanti ba'da Zuhur.

Saat-saat yang dinantipun tiba, apalagi kalau bukan penampilan Edcoustic. Tapi, penonton mesti bersabar dulu, sebelum penampilan Edcoustic konser dibuka oleh group nasyid Unsri, Belisario. Group yang terdiri dari enam pria 'subur' (Aden yang bilang) ini, membawakan lagu mendiang Chrisye yang bertajuk Ketika Tangan dan Kaki Berkata, dilanjutkan dengan lagu 'Bunda' ciptaan Melly Goeslaw. Konser dipandu oleh MC; Feri--Ketua Asosiasi Nasyid Nusantara dan Ike yang sebelumnya juga memandu temu Edfriends. Feri sepertinya sudah biasa membawakan acara. Ia mampu mengimbangi guyonan Aden. Edcoustic pun beraksi. Lagu pembuka, Nantikanku Dibatas Waktu. Lagu fenomenal ini sungguh memikat hati penonton. Ide lagu ini berawal dari kisah salah seorang sahabat Aden. Menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang belum bisa membalas cinta pasangannya. Disebabkan ingin menjaga hati dan tak mau menyalahi ajaran agama.

Lagu kedua, Sebiru Hari Ini. menceritakan pengalaman pribadi Aden yang berpisah dengan salah seorang sahabatnya yang pergi bekerja. Lirik Sebiru Hari Ini begitu sederhana, tapi dalam makna. Setiap kita mungkin pernah mengalami perpisahan dengan sahabat. Lagu ini menurut saya cukup menjadi penyemangat ketika kita tengah dirundung rindu akan sesosok sahabat yang telah jauh--pengalaman saya.

Setelah lagu kedua, konser diselingi oleh sambutan Pembantu Rektor (PR) III Unsri, Prof. Anis Sagaf, saya cukup terkesan dengan beliau. Mengenakan gamis dan peci putih, Prof. ini menyampaikan rasa terimakasih atas jerih payah panitia untuk mendatangkan Edcoustic. Next, lagu ketiga, Pertengkaran Kecil. Kali ini, Edcoustic berkolaborasi dengan Belisario. Aden diapit 3 laki-laki di sisi kanan dan 3 nya lagi di sisi kiri. Di tengah-tengah 6 pria 'subur' Aden terlihat kecil. Hi... Lagu Pertengkaran Kecil semakin indah didengar karena penyanyi asli berpadu dengan group vocal Belisario yang juga tak kalah bagus.

Mengenang bencana gempa dan tsunami Jepang beberapa waktu lalu, Edcoustic menyanyikan lagu campur berbahasa Jepang, Kamisama--yang berarti Ya Tuhanku. Lagu keempat ini diiringi dengan aksi penggalangan dana oleh panitia dengan mengedarkan kotak sumbangan kepada penonton. Aden juga menyebutkan, Edcoustic juga telah menciptakan lagu berjudul 'Ganbatte' khusus untuk korban bencana gempa dan tsunami Jepang.

Kepiawaian Aden menciptakan lagu juga dilirik oleh Melly Goeslaw, sehingga lahirlah karya yang dilabeli Melly dan Aden 'Ketika Cinta Bertasbih'. Tak lupa, Aden juga menyanyikan lagu KCB pada konser ini. Tak sengaja saya mendengar salah seorang penonton nyeletuk,  "Bagusan Aden yang nyanyi ya, daripada ****.." Dalam hati, sayapun meng-iyakan.

Edcoustic begitu kreatif selama penampilan mereka pada konser. Setelah berkolaborasi dengan Belisario, selanjutnya Aden memanggil salah seorang penonton yang mau berduet dengannya. Kali ini, penonton yang berani dan beruntung itu bernama Fajrin. Berpenampilan ala anak gaul, anak muda asal Plaju ini mengenakan celana kecil ke bawah, kaos hitam bergaris-garis putih, diluarnya ditimpali semi jas berwarna coklat. Ternyata tak keliru anggapan saya selama ini. Edcoustic tak hanya digandrungi oleh para 'akhwat' dan 'ikhwan' saja. Anak muda seperti Fajrin pun begitu menyukai. Termasuk saya.. hihi

Tak terasa, MC--Feri, telah memberi aba-aba bahwa konser akan segera berakhir. Teriakan kecewa penonton pun tak terbendungkan. Lima lagu saja, tak cukup 'memuaskan' mereka. Kembali, Aden dan Egie menyuguhkan medley 3 lagu yang sebelumnya juga dinyanyikan pada sesi temu Edfriends.Jalan Masih Panjang, Pertengkaran Kecil, Menjadi Diriku, dilagukan menjadi satu.

Pamungkas, lagu paling fenomenal Edcoustic itu pun diperdengarkan oleh Aden kepada penonton. Ya, Muhasabah Cinta. Lagu yang sudah terkenal sampai ke negeri jiran ini, membuat penonton semakin hanyut akan keindahan lirik dan kedalaman maknanya. Tak lain, Muhasabah Cinta adalah lagu yang diciptakan Aden terinspirasi dari perjalanannya ke rumah sakit. Melihat orang yang tengah sakit, membuat ia menyadari betapa indahnya nikmat sehat itu. Lagu Muhasabah Cinta pada awalnya dipersiapkan oleh Aden untuk soundtrack film Ayat-Ayat Cinta. Namun, apa boleh buat keberuntungan belum berpihak pada Aden. Terlepas dari itu, Muhasabah Cinta memang patut dielu-elukan pecinta Edcoustic dikisahkan banyak sekali yang menjadikan Muhasabah Cinta sebagai obat di kala sakit. Aden membaur ke tengah-tengah penonton, mengajak seisi aula bernyanyi bersama. Jadilah, seisi aula pascasarjana di lantai dua itu ber'Muhasabah Cinta'.

Berakhir lagu Muhasabah Cinta, berakhir pulalah konser yang menyamankan hati itu. Di ujung katanya, Aden berucap lebih kurang begini: "Terimakasih kepada sahabat, dan kami mohon maaf apabila ada khilaf. Kami bukanlah sesosok sempurna layaknya nabi Muhammad, melainkan ingin berperliku seperti beliau," Setuju, saya benar-benar setuju dengan kalimat pamungkas yang keluar dari mulut Aden.
***

Note:
Lewat  tulisan ini, saya berterimakasih kepada:
Edcoustic: untuk lagu-lagu yang indah
Panitia: untuk jerih payah mendatangkan Edcoustic ke Palembang
Syarif: untuk telah memperkenalkan Edcoustic kepada saya


@rukan panggung, Rabu 30th March 2011--4:36AM waktu si kompi.