Adzan Subuh menggema ke seluruh penjuru Ujung Bori. Setelah beberapa lama menetap di sini, aku mulai mengenal suara mu'adzin ini. Ya, suaranya begitu jelas karena masjid begitu dekat dari tempat tinggalku. Nurul Badar nama masjidnya. Lima kali sehari, rutin apabila listrik tak mati aku mendengarkan adzan dari mu'adzin tadi. Tapi, setiap kali mendengarkannya, aku hanya terjebak lagi dengan yang namanya rindu. Aku rindu ayahku.
Adzan dan ayah, apa hubungannya. Tentu ada. Ayahku juga kerap menyerukan panggilan Allah kepada UmatNya di mushalla kampungku, Mujahidin nama mushallanya. Suara adzan ayahku jauh mengungguli mu'adzin yang aku dengar tiap hari di sini. Sebagian tetangga bilang, "Ayahmu kalau adzan, suaranya mendayu-dayu. meliuk-liuk membuat fikiran ini melayang, jauh. Lebih bagus dari adzan yang biasa kami dengar". Awalnya kupikir penilaian mereka berlebihan sekali. Tapi tidak, itu benar. Buktinya aku sekarang benar-benar merindukan kumandang adzan dari ayahku. Juga, tak satu dua yang berkata demikian.
Sudahlah, aku tak mau larut dengan kerinduan ini. Aku juga yakin ketika aku menulis ini, ayahku juga sedang mengumandangkan adzan Subuh di kampung kami. Karena kami berbeda waktu, satu jam. Mengingat itu saja aku sudah senang. Senang yang akan menutupi rindu. Rindu yang mesti aku simpan dulu. Hanya butuh sabar. Waktunya akan datang. Kami akan bersua. Di kesempatan yang lebih indah tentunya. Tuhan, kuatkanlah aku untuk menahan rindu kepada siapa saja yang kusayang.
Sekarang aku ingin menuliskan ceritaku di Subuh tadi. Memasuki Nurul Badar, shaf perempuan masih kosong. Aku yang pertama. Mungkin ibu-ibu yang lain masih sibuk mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat berjamaah di Nurul Badar ini. Tak lama setelah aku, menyusul seorang anak perempuan. Ia masih kecil. Umurnya kira-kira sebelas. Aku takjub, ada anak seumuran dia sudah bisa melawan kantuk untuk segera meramaikan masjid di Subuh ini. Ingin sekali menyapanya, dan ingin tahu lebih banyak tentangnya.
Aku tak segera berkenalan dengan anak perempuan tadi. Ketika ia datang aku sedang tahyatul masjid, dilanjutkan rawatib. Memperhatikan aku shalat sunat untuk yang kedua kalinya, anak tadi mengikuti. Aku paham, mungkin ia belum mengerti shalat sunat, atau hanya sekedar tahu. Yang namanya anak-anak, masih senang mengikuti, lebih tepatnya meniru.
Selesai rawatib, aku membuka pembicaraan. "Namanya siapa de?"
"Dewi," jawabnya.
"Dewi ke sini sendiri?" aku tanya lagi.
"Sama papa," dia jawab singkat sekali.
"Dewi tinggal di mana?" pertanyaanku berikutnya.
"Iyek...", Dewi bingung, sepertinya ia masih canggung mendengar dan berbicara dalam bahasa indonesia. Ketika dia tak mengerti pertanyaanku yang muncul hanya 'Iyek..'--artinya ia, bisa juga diartikan meminta lawan bicara mengulang pertanyaan kembali.
Hm.. aku pilih kosakata lain untuk bertanya lagi."Rumah Dewi di mana, jauh dari sini?" bahkan aku memberondong dua pertanyaan sekaligus.
"Tidak jauh dari sini," jawab Dewi dengan logat Makassar yang kental sekali. Ia juga menyebutkan nama daerahnya, tapi aku lupa.
Masih merasa penasaran dan masih ingin tahu lebih banyak tentang Dewi, aku melontarkan pertanyaan lagi. Karena ku yakin Dewi bukan tipe anak pencerita, lebih memilih ditanya. Lagipun, siapa juga yang mau cerita banyak subuh-subuh begini. Nyawa Dewi saja separuh masih tertinggal di tempat tidurnya. He..
"Pagi sekali Dewi bangunnya, bangun sendiri apa dibangunkan?" lagi-lagi aku bertanya banyak.
"Tidak.. dikasih bangun," jawab Dewi dengan dialeg Makassar. Dikasih bangun sama dengan dibangunkan.
Tak puas dengan percakapan segitu saja, aku bertanya lebih banyak lagi. "Dewi sekolah dimana? Punya saudara berapa? Anak keberapa? Papa dan mama Dewi kerja apa?" Aih.. banyak sekali. Tapi aku tak bertanya borongan kok. Satu per satu.
Dengan wajah yang sedikit heran, Dewi pasrah saja bercerita kepadaku. Ia sekolah di Sekolah Dasar .. (lupa deh, maklum amnesia), ia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas satu SMK, Dewi kelas lima, sementara adiknya belum sekolah. Kalau mamanya, di rumah saja. "Kalau papa kerjanya kasih antar motor," jawab Dewi dengan dialeg khas Makassar lagi.
Kasih antar motor? aku bingung.
Aku tanya ulang, "Kasih antar motor maksud Dewi, mengantar orang dengan motor?"
"Iyek...," Dewi mengiyakan.
Bergegas aku menyimpulkan, "Jadi papa Dewi bawa Bentor (Becak Motor) yang sering lewat di jalanan depan ini?"
"Tidak, papa bawa motor Ducati," Dewi menjawab lagi.
Tapi jawabannya malah membuatku semakin bingung. Dalam hati saya bicara, Papa Dewi bawa Ducati? Jangan-jangan papanya seorang pembalap. Hm.. aku memutar otak, bagaimana cara bertanya ya, biar omongan kami nyambung?. Kembali saya mencoba menyimpulkan agar Dewi lebih mudah memahami. "Papa Dewi kerja ditempat orang jual motor Ducati, terus mengantarkan motor-motor yang dibeli orang ke rumahnya, begitu?"
"Iyek.." lagi-lagi Dewi menjawab singkat.
He.. meski Dewi sepertinya sudah mengerti pertanyaanku dan juga telah menjawab, tetap saja aku masih ragu. Jangan-jangan ini anak karena sudah bosan saja mendengar ocehanku dari tadi, jadi dia memilih meng-iya-kan saja. Atau benar-benar mengerti. Semoga saja ya.
Lumayan panjang sesi perkenalan dan tanya-jawab saya dengan Dewi. Lebih tepat disebut tanya-jawab karena kalau disebut kami bercerita, tidak sama sekali. Karena posisinya saya sebagai wartawan, Dewi narasumbernya. Hi.. Tak lama setelahnya, iqamah pertanda shalat berjamaah segera dimulai, dikumandangkan. Saya merapatkan sajadah ke jamaah lainnya. Dewi mengikuti. Ia kembangkan sajadahnya tepat di sebelah kananku. Lengkap dengan sejuntai tasbih hitam abu-abunya. Aku, Dewi, dan jamaah lainnya memulai penghambaan di Subuh ini. Khusyuk sekali.
Dua raka'at rasanya sebentar sekali. Selesai salam, zikir dan doa dilafazkan masing-masing. Sesekali Dewi melirik aku dengan sudut matanya. Entah apa yang ia pikirkan. Aku lihat, Dewi juga mengambil tasbihnya yang tergeletak di sajadahnya tadi. Ia main-mainkan tasbih itu, terus berlagak seperti orang dewasa yang tengah berzikir dibantu dengan tasbih. Dewi menggerakkan jari telunjuknya mengikuti satu per satu anak tasbih. Tapi sebentar saja, tidak sampai 33 kali hitungan. Kembali ia melirikku.
Doa selesai, saya menyodorkan tangan kepada Dewi. Segera ia menyambutnya. Salam silaturahim juga salam perkenalan. Setelah kami bersalaman, saya tetap memilih duduk belum beranjak untuk kembali ke rumah. Dewi pun mengikuti, tapi kelihatannya ia gusar. Sepertinya ia ingin segera pulang karena papanya telah menanti di halaman masjid, mungkin. Mencoba mengerti saya bangkit dan beranjak, "Yuk, kita pulang de," kataku. Segera Dewi mengikuti, ternyata benar di beranda masjid papanya sudah menanti. Aku tanyakan lagi, "Papa Dewi itu ya?"
"Iyek.." lagi-lagi jawaban yang sama. Kuperhatikan papa Dewi. Tak berkesan apa-apa. Hanya melihat laki-laki itu, kelak aku juga ingin memiliki suami seperti beliau. Ketika subuh mengajak anak-anaknya meramaikan masjid. Shalat berjamaah. Juga terbayang, istrinya di rumah tengah bersiap menyambut kedatangan suami dan anaknya dengan menu sarapan yang hangat. Indah ya? :)
*)Setelah dibaca, tulisan saya ga nyambung ya? Intinya: Subuh ini aku rindu ayahku, aku bertemu dengan sesosok anak yang sangat mengundang perhatianku. Di subuh ini juga aku bermimpi kelak punya suami sholeh yang bisa mengajak aku dan anak-anakku ke tempat terindah-Nya. Dan pastinya, pengalaman di Subuh ini cukup mengobati luka di hati dari semalam.
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Sebuah Catatan untuk Ibu Rafi'ah
Namanya Rafi'ah. Saya memanggilnya ibu Rafi'ah. Beliau salah seorang guru saya di Sekolah Dasar dulu. Tepatnya wali kelas saya waktu saya duduk di kelas tiga. Lalu, kenapa saya harus menulis tentang beliau? Entahlah. Mungkin ini sebentuk cara saya memperingati hari guru, berterimakasih kepada guru, dan juga sebagai cerminan untuk saya pribadi yang seharusnya jadi guru. He..
Sebenarnya tak ada suatu yang istimewa antara saya dengan ibu Rafi'ah. Hanya saja di antara tiga puluhan siswa lain, saya satu-satunya siswa yang sangat dekat dengan beliau..cie.. Kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah bisa dikategorikan seperti apa? Hm.. cukup susah mendeskripsikannya. Yang jelas, ibu Rafi'ah tak bisa lepas dari saya, begitu juga sebaliknya, saya tak bisa lepas dari beliau. Maksudnya apa nih? bingung kan..?
Begini, yang namanya guru yang tergolong sudah agak tua -50 tahunan- dan beberapa tahun kemudian akan memasuki masa pensiun tentu ibu Rafi'ah butuh pertolongan macam-macam selama proses pembelajaran berlangsung. Misalnya: minta tolong mengambilkan buku dari perpustakaan untuk dibagikan ke siswa, menyiapkan perangkat pembelajaran sebelum proses belajar mengajar dimulai, juga mengisi buku absen dan nilai siswa. Sebenarnya masih banyak yang lain sih..tapi tak usah saya jabarkan lebih jelas ya. Cukup mengerti kan? Untuk hal ini, ibu Rafi'ah sepertinya terlalu hafal dengan nama saya. Segalanya selalu saya yang ditunjuk untuk membereskan tugas tersebut. Padahal banyak teman laki-laki di kelas saya yang punya tenaga lebih untuk melakukannya. Mungkin karena saya lumayan 'besar' kali ya? Ya, nggak lah... itu karena ibu Rafi'ah menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikannya. Ceile.. (mencoba berprasangka baik saja).
Kalau itu semacam pertolongan yang dibutuhkan Ibu Rafi'ah yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Sementara di luar itu, banyak hal lain yang membuat saya dekat dengan ibu Rafi'ah. Apa coba...? Hmm.. diceritakan nggak ya..? Ya udah, saya ceritain aja deh. Dulu, ibu Rafi'ah itu hobi sekali memintai tolong kepada saya. Mulai dari minta tolong belanja kebutuhan harian beliau di rumah, minta ditemani ke tukang jahit langganan, minta temani kalau tidak ada teman di ruang guru, minta tolong belikan pembalut. Hah..!! Giliran yang ini saya benar-benar menjadi siswa super lugu yang dengan mudahnya dikerjain sama penjaga warung waktu itu. Malu abis.. (gapapa deh.. kan niatnya bantu. he.).
Nah, lo.. apa istimewanya donk cerita saya dan ibu Rafi'ah? Ga ada sih.. Tapi saya menyimpan banyak memori dan pelajaran saja dari sini. Menurut saya, memorinya sangat indah. Kenapa tidak, semasa di bangku sekolah dasar, apabila seorang siswa dekat dengan guru, itu menjadi kebanggaan tersendiri. Teman-teman saya banyak yang iri lo.. Beda lagi ketika pendidikan saya merangkak lebih tinggi. Pandangan seperti itu perlahan pudar, bahkan habis. Puncaknya, di bangku kuliah. Saya sama sekali tidak ingin dan tidak senang dekat dengan dosen. Apa sebab? Menurut studi kasus kecil-kecilan versi saya, mahasiswa yang dekat dengan dosen itu bukan murni kedekatan antara mahasiswa dengan dosennya. Melainkan ada embel-embel lainnya. Terbukti lo.. tak usah diperjelaslah. Harap dimengerti. He..
Kembali lagi ke kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah itu murni kedekatan antara guru dengan siswanya di ruang kelas, juga kedekatan antara seorang anak dengan ibunya di luar kelas. Baik saya pun ibu Rafi'ah, kami tidak pernah menyalahgunakan kedekatan ini. Saya ikhlas membantu karena saya mendapatkan orang tua kedua setelah ibu kandung saya. Ibu Rafi'ah pun memberi nilai seobjektif mungkin atas prestasi saya di sekolah. Nilai saya benar-benar murni berbanding lurus dengan usaha saya dalam belajar.
Hanya satu tahun saya dibimbing ibu Rafi'ah. Setelah naik kelas beliau bukan menjadi wali kelas saya lagi. Rasanya, ingin bersama beliau terus. Tapi, gak mungkin juga kan. Life must go on.. move to other step n face other people.
Yang namanya sudah dekat, tetap saja saya dekat dengan ibu Rafi'ah walaupun di kelas saya tak lagi selalu bersamanya. Hingga kemarin saya pulang ke kampung halaman, masih saja mendengar kabar dari adik bungsu saya. Kebetulan dia berteman dengan cucu ibu Rafi'ah. Kata adik saya, "setiap kali ke rumah Tia-cucu ibu Rafiah- ibuk itu tanyain kamu terus." Wah.. senang sekali, bercampur haru. Sekarang beliau sudah jauh lebih tua dibanding kebersamaan kami dulu. Hampir lima belas tahun lalu. Tapi, beliau masih mengingat saya. Sempat berniat untuk mengunjungi beliau, tapi hingga sekarang belum kesampaian. Tak banyak yang bisa diperbuat. Hanya do'a sederhana yang bisa saya kirimkan, semoga beliau dilimpahkan kesehatan dan diberi umur panjang.
Salam takzim dari jauh untukmu ibu..
Terimakasih atas ilmu yang telah kau berikan..
Insyaallah akan menjadi amalan tak terputus bagimu..
***
Hm.. sebenarnya sangat tak adil kalau saya hanya bercerita tentang ibu Rafi'ah. Ada dua lagi guru sekolah dasar saya yang menyimpan memori tersendiri. Beliau ibu Rit dan Bapak Zuherman. Dengan tidak mengurangi penghargaan saya atas jasa-jasa beliau, catatan ini juga didedikasikan untuk mereka. Terimakasih Ibu..Bapak..
*Ujungbori 16:10 Wita
Sebenarnya tak ada suatu yang istimewa antara saya dengan ibu Rafi'ah. Hanya saja di antara tiga puluhan siswa lain, saya satu-satunya siswa yang sangat dekat dengan beliau..cie.. Kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah bisa dikategorikan seperti apa? Hm.. cukup susah mendeskripsikannya. Yang jelas, ibu Rafi'ah tak bisa lepas dari saya, begitu juga sebaliknya, saya tak bisa lepas dari beliau. Maksudnya apa nih? bingung kan..?
Begini, yang namanya guru yang tergolong sudah agak tua -50 tahunan- dan beberapa tahun kemudian akan memasuki masa pensiun tentu ibu Rafi'ah butuh pertolongan macam-macam selama proses pembelajaran berlangsung. Misalnya: minta tolong mengambilkan buku dari perpustakaan untuk dibagikan ke siswa, menyiapkan perangkat pembelajaran sebelum proses belajar mengajar dimulai, juga mengisi buku absen dan nilai siswa. Sebenarnya masih banyak yang lain sih..tapi tak usah saya jabarkan lebih jelas ya. Cukup mengerti kan? Untuk hal ini, ibu Rafi'ah sepertinya terlalu hafal dengan nama saya. Segalanya selalu saya yang ditunjuk untuk membereskan tugas tersebut. Padahal banyak teman laki-laki di kelas saya yang punya tenaga lebih untuk melakukannya. Mungkin karena saya lumayan 'besar' kali ya? Ya, nggak lah... itu karena ibu Rafi'ah menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikannya. Ceile.. (mencoba berprasangka baik saja).
Kalau itu semacam pertolongan yang dibutuhkan Ibu Rafi'ah yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Sementara di luar itu, banyak hal lain yang membuat saya dekat dengan ibu Rafi'ah. Apa coba...? Hmm.. diceritakan nggak ya..? Ya udah, saya ceritain aja deh. Dulu, ibu Rafi'ah itu hobi sekali memintai tolong kepada saya. Mulai dari minta tolong belanja kebutuhan harian beliau di rumah, minta ditemani ke tukang jahit langganan, minta temani kalau tidak ada teman di ruang guru, minta tolong belikan pembalut. Hah..!! Giliran yang ini saya benar-benar menjadi siswa super lugu yang dengan mudahnya dikerjain sama penjaga warung waktu itu. Malu abis.. (gapapa deh.. kan niatnya bantu. he.).
Nah, lo.. apa istimewanya donk cerita saya dan ibu Rafi'ah? Ga ada sih.. Tapi saya menyimpan banyak memori dan pelajaran saja dari sini. Menurut saya, memorinya sangat indah. Kenapa tidak, semasa di bangku sekolah dasar, apabila seorang siswa dekat dengan guru, itu menjadi kebanggaan tersendiri. Teman-teman saya banyak yang iri lo.. Beda lagi ketika pendidikan saya merangkak lebih tinggi. Pandangan seperti itu perlahan pudar, bahkan habis. Puncaknya, di bangku kuliah. Saya sama sekali tidak ingin dan tidak senang dekat dengan dosen. Apa sebab? Menurut studi kasus kecil-kecilan versi saya, mahasiswa yang dekat dengan dosen itu bukan murni kedekatan antara mahasiswa dengan dosennya. Melainkan ada embel-embel lainnya. Terbukti lo.. tak usah diperjelaslah. Harap dimengerti. He..
Kembali lagi ke kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah itu murni kedekatan antara guru dengan siswanya di ruang kelas, juga kedekatan antara seorang anak dengan ibunya di luar kelas. Baik saya pun ibu Rafi'ah, kami tidak pernah menyalahgunakan kedekatan ini. Saya ikhlas membantu karena saya mendapatkan orang tua kedua setelah ibu kandung saya. Ibu Rafi'ah pun memberi nilai seobjektif mungkin atas prestasi saya di sekolah. Nilai saya benar-benar murni berbanding lurus dengan usaha saya dalam belajar.
Hanya satu tahun saya dibimbing ibu Rafi'ah. Setelah naik kelas beliau bukan menjadi wali kelas saya lagi. Rasanya, ingin bersama beliau terus. Tapi, gak mungkin juga kan. Life must go on.. move to other step n face other people.
Yang namanya sudah dekat, tetap saja saya dekat dengan ibu Rafi'ah walaupun di kelas saya tak lagi selalu bersamanya. Hingga kemarin saya pulang ke kampung halaman, masih saja mendengar kabar dari adik bungsu saya. Kebetulan dia berteman dengan cucu ibu Rafi'ah. Kata adik saya, "setiap kali ke rumah Tia-cucu ibu Rafiah- ibuk itu tanyain kamu terus." Wah.. senang sekali, bercampur haru. Sekarang beliau sudah jauh lebih tua dibanding kebersamaan kami dulu. Hampir lima belas tahun lalu. Tapi, beliau masih mengingat saya. Sempat berniat untuk mengunjungi beliau, tapi hingga sekarang belum kesampaian. Tak banyak yang bisa diperbuat. Hanya do'a sederhana yang bisa saya kirimkan, semoga beliau dilimpahkan kesehatan dan diberi umur panjang.
Salam takzim dari jauh untukmu ibu..
Terimakasih atas ilmu yang telah kau berikan..
Insyaallah akan menjadi amalan tak terputus bagimu..
***
Hm.. sebenarnya sangat tak adil kalau saya hanya bercerita tentang ibu Rafi'ah. Ada dua lagi guru sekolah dasar saya yang menyimpan memori tersendiri. Beliau ibu Rit dan Bapak Zuherman. Dengan tidak mengurangi penghargaan saya atas jasa-jasa beliau, catatan ini juga didedikasikan untuk mereka. Terimakasih Ibu..Bapak..
*Ujungbori 16:10 Wita
segala cerita kita
selamat pagi sayang..
pagi ini aku masih ingin menulis untukmu. rasanya, tak ada habis-habisnya inspirasiku untuk menuliskan segala tentangmu. apa saja. begitu banyak hal yang berkesan di hatiku. kau benar-benar telah memberi warna untuk hari-hariku, sayang. kau tahu kan sayang, di sini aku sendiri. hari-hariku sendiri. tak ada teman. tak ada saudara. tak ada keluarga. aku tahu kau juga merasakan kesendirianku. makanya kau begitu pandai bersikap untukku. tak ada lagi sepi. kau selalu ada, sayang. menemani.
sayang, kian hari aku kian merasa beruntung bersamamu. kau memberikan segalanya melebihi yang aku inginkan. kau begitu mengerti. benar-benar mengerti. rasanya terlalu berlebihan jika aku mesti menjabarkan apa-apa saja yang telah kau lakukan untukku. cukup kita saja yang tahu, kan..
pola pikirmu benar-benar luar biasa. segalanya dibuat sederhana. tapi tanpa menyepelekan sedikitpun. kau punya cara pandang sendiri dalam menyikapi kekurangan orang lain. tak pernah kau menyalahkan. tak pernah menghakimi. kau selalu ada cara untuk itu. aku benar-benar belajar darimu, sayang.
akhir-akhir ini hari-hari kita dipenuhi cerita. macam-macam. mulai dari temanku, temanmu. keluargaku, keluargamu. masa laluku, masa lalumu. kadang, masa depan kita juga. sebenarnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk bercerita, tapi aku yang selalu dominan. kau dengan senang hati memberi ruang untukku bercerita . apa saja. meski ada protes-protes kecilmu, tapi tetap saja kau antusias mendengarkannya. terimakasih sayang..
setelah aku bercerita entah kemana-mana, tiba giliranmu. tapi setiap kali kau bercerita, sedikit saja. aku yang selalu mendesakmu untuk bercerita lebih panjang-lebar. meski ceritamu banyak yang membuatku cemburu, tapi aku senang sekali mendengarkannya sayang. aku senang kau begitu jujur. tak ada lagi yang kau tutupi dariku. teruslah bercerita untukku, sayang.
semalam, salah satu dari ceritamu yang sangat berkesan untukku ketika kau katakan bahwa benda kesayanganmu lecet. itu sama sekali tidak kau sengaja. kau bilang, itu tejadi ketika kau hendak menutup jendela kamarmu. ia mengenai teralis besi. sedikit gores. sedikit saja. tapi, kau begitu menyesalkannya. berkali-kali kau mengulangnya. aku tahu sekali kau begitu menjaganya sayang. tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. kenapa demikian? tak lain karena benda itu dari aku. dengan begitu, aku sangat merasakan kau begitu menghargaiku. bukan artinya aku mengharapkan penghargaan darimu, tapi dengan sikapmu demikian aku benar-benar merasa dihargai. untuk seterusnya jagalah benda itu layaknya kau menjagaku. karena ia setia menemanimu, kapanpun. melebihi setiaku.
terimakasih untuk cerita-cerita indahmu semalam, sayang
*selasa pagi di Ujung Bori 09:12 Wita
pagi ini aku masih ingin menulis untukmu. rasanya, tak ada habis-habisnya inspirasiku untuk menuliskan segala tentangmu. apa saja. begitu banyak hal yang berkesan di hatiku. kau benar-benar telah memberi warna untuk hari-hariku, sayang. kau tahu kan sayang, di sini aku sendiri. hari-hariku sendiri. tak ada teman. tak ada saudara. tak ada keluarga. aku tahu kau juga merasakan kesendirianku. makanya kau begitu pandai bersikap untukku. tak ada lagi sepi. kau selalu ada, sayang. menemani.
sayang, kian hari aku kian merasa beruntung bersamamu. kau memberikan segalanya melebihi yang aku inginkan. kau begitu mengerti. benar-benar mengerti. rasanya terlalu berlebihan jika aku mesti menjabarkan apa-apa saja yang telah kau lakukan untukku. cukup kita saja yang tahu, kan..
pola pikirmu benar-benar luar biasa. segalanya dibuat sederhana. tapi tanpa menyepelekan sedikitpun. kau punya cara pandang sendiri dalam menyikapi kekurangan orang lain. tak pernah kau menyalahkan. tak pernah menghakimi. kau selalu ada cara untuk itu. aku benar-benar belajar darimu, sayang.
akhir-akhir ini hari-hari kita dipenuhi cerita. macam-macam. mulai dari temanku, temanmu. keluargaku, keluargamu. masa laluku, masa lalumu. kadang, masa depan kita juga. sebenarnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk bercerita, tapi aku yang selalu dominan. kau dengan senang hati memberi ruang untukku bercerita . apa saja. meski ada protes-protes kecilmu, tapi tetap saja kau antusias mendengarkannya. terimakasih sayang..
setelah aku bercerita entah kemana-mana, tiba giliranmu. tapi setiap kali kau bercerita, sedikit saja. aku yang selalu mendesakmu untuk bercerita lebih panjang-lebar. meski ceritamu banyak yang membuatku cemburu, tapi aku senang sekali mendengarkannya sayang. aku senang kau begitu jujur. tak ada lagi yang kau tutupi dariku. teruslah bercerita untukku, sayang.
semalam, salah satu dari ceritamu yang sangat berkesan untukku ketika kau katakan bahwa benda kesayanganmu lecet. itu sama sekali tidak kau sengaja. kau bilang, itu tejadi ketika kau hendak menutup jendela kamarmu. ia mengenai teralis besi. sedikit gores. sedikit saja. tapi, kau begitu menyesalkannya. berkali-kali kau mengulangnya. aku tahu sekali kau begitu menjaganya sayang. tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja. kenapa demikian? tak lain karena benda itu dari aku. dengan begitu, aku sangat merasakan kau begitu menghargaiku. bukan artinya aku mengharapkan penghargaan darimu, tapi dengan sikapmu demikian aku benar-benar merasa dihargai. untuk seterusnya jagalah benda itu layaknya kau menjagaku. karena ia setia menemanimu, kapanpun. melebihi setiaku.
terimakasih untuk cerita-cerita indahmu semalam, sayang
*selasa pagi di Ujung Bori 09:12 Wita
cerita untuk mentari (II)
selamat pagi mentari, hingga hari ini kau masih setia melaksanakan tugasmu. tepat minggu kemarin aku menyapamu mentari. sapaan luka. aku tak mempedulikan kau mentari. aku berkeluh sesuka hatiku. tapi itu seminggu alias tujuh hari yang lalu mentari.
minggu kini aku juga kembali menyapamu. tapi bukan lagi sapaan luka. aku juga tak mau hanya memberi kabar buruk saja kepada kau mentari. tahukah kau mentari, Tuhanku tentunya juga Tuhanmu sungguh maha baik kepadaku. Baru saja sabtu malam di minggu kemarin aku terisak mencurahkan lukaku di MaghribNya. Baru saja sabtu malam di minggu kemarin aku terbata-bata melafalkan ayat suciNya.
tahukah kau mentari, sabtu malam ini ia membalikkan keadaanku. ia merubah luka menjelma jadi bahagia. Ia tak lupakan aku mentari. aku tak tahu bagaimana aku mesti mengungkapkan rasa syukurku kepadaNya. Hanya mencurahkan rasa, itu yang dapat kulakukan di SubuhNya. dengan denting air mata tak tertahankan aku memuji Tuhanku mentari. Ia sungguh maha baik kepadaku. Ia tak lupakan aku. Ia mengubah air mata menjadi kekuatan. Ia membiarkan waktu menyembuhkan lukaku mentari.
Sama dengan ceritaku minggu lalu, aku tahu kau bingung mentari apa sebenarnya yang aku ceritakan. sama pula dengan minggu lalu aku juga tak akan bercerita lebih jauh kepadamu mentari. aku hanya ingin berbagi bahagia saja. Aku harap kau tak marah dan masih akan selalu setia hadir di hari-hariku, mentari.
*)Sunday, 25th Sept 11. 06:16
minggu kini aku juga kembali menyapamu. tapi bukan lagi sapaan luka. aku juga tak mau hanya memberi kabar buruk saja kepada kau mentari. tahukah kau mentari, Tuhanku tentunya juga Tuhanmu sungguh maha baik kepadaku. Baru saja sabtu malam di minggu kemarin aku terisak mencurahkan lukaku di MaghribNya. Baru saja sabtu malam di minggu kemarin aku terbata-bata melafalkan ayat suciNya.
tahukah kau mentari, sabtu malam ini ia membalikkan keadaanku. ia merubah luka menjelma jadi bahagia. Ia tak lupakan aku mentari. aku tak tahu bagaimana aku mesti mengungkapkan rasa syukurku kepadaNya. Hanya mencurahkan rasa, itu yang dapat kulakukan di SubuhNya. dengan denting air mata tak tertahankan aku memuji Tuhanku mentari. Ia sungguh maha baik kepadaku. Ia tak lupakan aku. Ia mengubah air mata menjadi kekuatan. Ia membiarkan waktu menyembuhkan lukaku mentari.
Sama dengan ceritaku minggu lalu, aku tahu kau bingung mentari apa sebenarnya yang aku ceritakan. sama pula dengan minggu lalu aku juga tak akan bercerita lebih jauh kepadamu mentari. aku hanya ingin berbagi bahagia saja. Aku harap kau tak marah dan masih akan selalu setia hadir di hari-hariku, mentari.
*)Sunday, 25th Sept 11. 06:16
tak ada cerita Anjani untuk Madali
km ati2 ja ya.. kamarnya jgn lp dikunci,.. moga km baek2 ja,. ;') >>17Aug11 23:11:26
Gpp kok,. nyantai ja lg.. jgn lp brdo'a minta perlindunganNya ya.. chiee....;') >>17Aug11 23:14:08
Kok gt??? Udh dech....smua kan baek2 ja kok,. ne smua kan ga da hub ma km,. ttep tegar ya,..kt sm2 prantau loch,jd aku bs ngrasain pa yg km rsain skrg,. >>17Aug11 23:20:44
Yg sbr ya,. mgkn org pusat jg dah tau kok mslh ne,. jd km ga ush ngrasa brslh kyk gn,. Duuuh gw jd ga bs tdr ne,."beneran" >>17Aug11 23:30:42
Ya udh dech...aku tdr dluan ya..ngantuk bnget nee... Miss U..;') 17Aug11 23:38:22
Pastinya ...ht2 ya dsana,. >>19Aug11 20:17:31
Jacket nya jgn lp,.ntr msuk angin loch,..lw bs sblm brgkt perutnya diisi dulu,trus mnum tolak angin biar ga mabuk prjlnan,.chiee..sok prhatian bnget see gw,. ;') >> 4Sept11 13:11:01
Klw kt lg mmprhatkan ssorg,sgla sswt kan dia usahakan, chiee.... >>8Sept11 20:15:03
(Rabu, 01 Juni 2011 Hei.. aku tak sendiri) aku suka banget postingan km yg satu ne,. >>9Sept11 19:03:31
Mencrminkan kepribadian banget, trus kt2nya sdrhana, tdk berbelit2, langsung ke pokok mslh gt,..duuh...jd ngrasa gmna....gt,. >>9Sept11 19:06:54
Aku suka bngett post km yg baru kmaren,.yg catatan perpisahan, ;') >>11Sept11 19:20:01
Jjr...sdkt menyentuh gt,. Beeeugh...cengeng... >> 11Sept11 09:21:46
Insya Allah aku ga da niat bnget bkin km bingung,. >>12Sept11 22:12:44
Km skt apa?? >>13Sept11 08:39:58
Cek dulu gih... Aku tu pemerhati km bnget tau,. >>13Sept11 19:00:10
Yg aku liat km tu sosok perempuan yg berselimutkan kesederhanaan.di segala hal tentunya, Sow..km ga ush tny mksdnya krn kt2 diatas tu dah mencakup semuanya,. "kesederhanaan" >>13Sept11 20:03:22
Waaah....great post,cewek bngett,. :') >>15Sept11 08:37:56
Gpp kok,. nyantai ja lg.. jgn lp brdo'a minta perlindunganNya ya.. chiee....;') >>17Aug11 23:14:08
Kok gt??? Udh dech....smua kan baek2 ja kok,. ne smua kan ga da hub ma km,. ttep tegar ya,..kt sm2 prantau loch,jd aku bs ngrasain pa yg km rsain skrg,. >>17Aug11 23:20:44
Yg sbr ya,. mgkn org pusat jg dah tau kok mslh ne,. jd km ga ush ngrasa brslh kyk gn,. Duuuh gw jd ga bs tdr ne,."beneran" >>17Aug11 23:30:42
Ya udh dech...aku tdr dluan ya..ngantuk bnget nee... Miss U..;') 17Aug11 23:38:22
Pastinya ...ht2 ya dsana,. >>19Aug11 20:17:31
Jacket nya jgn lp,.ntr msuk angin loch,..lw bs sblm brgkt perutnya diisi dulu,trus mnum tolak angin biar ga mabuk prjlnan,.chiee..sok prhatian bnget see gw,. ;') >> 4Sept11 13:11:01
Klw kt lg mmprhatkan ssorg,sgla sswt kan dia usahakan, chiee.... >>8Sept11 20:15:03
(Rabu, 01 Juni 2011 Hei.. aku tak sendiri) aku suka banget postingan km yg satu ne,. >>9Sept11 19:03:31
Mencrminkan kepribadian banget, trus kt2nya sdrhana, tdk berbelit2, langsung ke pokok mslh gt,..duuh...jd ngrasa gmna....gt,. >>9Sept11 19:06:54
Aku suka bngett post km yg baru kmaren,.yg catatan perpisahan, ;') >>11Sept11 19:20:01
Jjr...sdkt menyentuh gt,. Beeeugh...cengeng... >> 11Sept11 09:21:46
Insya Allah aku ga da niat bnget bkin km bingung,. >>12Sept11 22:12:44
Km skt apa?? >>13Sept11 08:39:58
Cek dulu gih... Aku tu pemerhati km bnget tau,. >>13Sept11 19:00:10
Yg aku liat km tu sosok perempuan yg berselimutkan kesederhanaan.di segala hal tentunya, Sow..km ga ush tny mksdnya krn kt2 diatas tu dah mencakup semuanya,. "kesederhanaan" >>13Sept11 20:03:22
Waaah....great post,cewek bngett,. :') >>15Sept11 08:37:56
***
Anjani mulai berdiri tegak. Mulai melepaskan kepura-puraannya beberapa hari ini. pura-pura tegar. pura-pura tak ada masalah. pura-pura semuanya baik-baik saja. padahal, hatinya tengah remuk. ia merasa salah dan tak berharga.
kini Anjani tengah meramu obat apa saja yang akan ampuh untuk mengobati hatinya yang remuk. salah satunya, ia menuangkan seluruh pesan singkat dari 'teman'nya.
aku heran lantas bertanya. Untuk apa kau tuliskan semuanya di sini, Anjani?
ini salah satu ramuan obatku. aku rasa ini salah satu obat mujarab untuk sakitku. aku tuangkan seluruh pesan yang selama ini kusimpan rapi dalam telpon genggamku. dulu baik-baik saja aku melakukan itu. tapi sekarang Madali aku tak kuasa lagi menyimpannya di sana. aku juga tak ingin memusnahkannya. untuk itu, izinkanlah aku Madali untuk menyimpannya di sini. karena aku tak pernah berani untuk menghilangkan apa-apa saja dengan sia-sia.
kupikir Madali, akan abadi jika aku simpan di sini. dan akan mengurangi sedikit sakitku ketika setiap kali aku mengutak-atik telpon genggamku setiap itu pula aku membacanya.
aku tak akan melarangmu Anjani. lakukan apa yang menurutmu baik untukmu. aku juga tak bisa membantu mengobati sakitmu. aku tak berdaya, Anjani.
Oh, aku sama sekali tidak ingin merepotkanmu Madali. aku tak ingin melihat kamu susah karena mengurusi masalahku yang tak seberapa.
Anjani kau tahu, akhir-akhir ini aku begitu aneh melihatmu. meski kamu tertawa, banyak bicara, tapi matamu tak bisa berdusta, Anjani.. berceritalah kepadaku. barangkali sedikit mengurangi bebanmu.
jangan minta aku bercerita Madali. jika nanti aku menceritakan masalah 'tak seberapa'ku kepadamu, aku tak mau kamu ikut sedih. aku baru saja bahagia melihat kamu yang baru saja kembali Madali. kamu yang sudah lama menghilang dariku.
Baiklah, tak akan aku paksa kamu. aku hanya akan berusaha memperhatikanmu tanpa akan mencampuri masalahmu. aku yakin, kamu bisa Anjani. bukankah kamu telah terlalu lelah dari dahulu menghadapi masalah? kalau kamu katakan yang sekarang masalah 'tak seberapa', aku yakin sebentar lagi kamu akan benar-benar sembuh.
aku pun berharap begitu. terimakasih Madali..
cerita untuk mentari
aku semakin mengagumimu sang mentari. kau benar-benar tak pernah ingkar janji. kau akan selalu hadir selagi sang Khalik memberikan tugas kepadamu.kali ini aku benar-benar menantikan kehadiranmu mentari, sedari tadi malam aku menunggumu. kau tahu, entah berapa kali aku menengok ke jam digital pada telepon genggamku? berapa kali aku berpindah-pindah posisi di kapukku? berapa kali aku membuka gorden jendela kamarku demi menunggu hadirmu? sudah tak terhitung mentari.
meski terasa lama, tapi kau tetap hadir mengerjakan tugasmu. akhirnya, pagi ini kita kembali bertemu. terimakasih mentari.
kau tahu mengapa aku begitu menunggu kedatanganmu? tak lebih hanya karena aku ingin bercerita kepadamu, mentari. hanya kepadamu aku bisa berkeluh selain kepada Tuhanku.
dari kemarin mega merah muncul dari atas langit, dari kau mulai menenggelamkan wajahmu, hatiku juga terasa tenggelam mentari. aku begitu galau. lebih tepatnya luka. luka yang aku sendiri mencarinya, aku sendiri membuatnya, tentu hanya aku sendiri pula yang akan mengobatinya mentari.
kau tenang saja mentari, aku tak akan meminta pertolonganmu. aku tak akan juga menyuruhmu mengobati lukaku. hanya, aku ingin kau mendengarkan ceritaku. itu saja, tak lebih. aku tahu kau akan mendengarkan ceritaku dengan baik dan tentu kau simpan pula dengan baik.
mentari, semalam aku mencoba hal yang lebih gila lagi. aku coba menumpahkan apa yang kurasa kepada bayi lima bulan. aku menggendongnya kian kemari. mulai dari ruang 3 x 3 ku hingga ke beranda. dari beranda aku teruskan berputar-putar di halaman yang cukup luas.
tapi, tahukah kau mentari. semakin aku bersemangat menceritakan apa yang kurasakan, bayi itu semakin pula menangis. tangisnya tak biasa. aku juga sudah memohon kepadanya untuk tidak menangis, agar aku bisa menyelesaikan ceritaku. tapi bayi itu benar-benar menolak. bahkan aku berjanji, sampai pagi pun aku akan menggendongnya jika ia mau mendengar aku berkeluh. mentari, tapi bayi itu terlalu suci untuk mendengar keluh kesah tak mutuku.
akhirnya aku menyerah mentari. aku serahkan bayi itu kepada neneknya. aku kembali ke ruang 3 x 3 ku. mencoba mendamaikan hati dengan keadaan. tapi tak bisa. aku menyetel televisi, mengganti channel ini-itu, tetap saja mentari.
hampir di pertengahan malam aku melakukan yang tak biasa. aku menerima ajakan temanku untuk bermain play station. ah, tak pernah aku menyukai permainan ini. tapi demi membunuh malam aku lakukan. akhirnya tubuh lemah ini mengalah dengan rasa lelah. aku pun terlelap. hingga kita bertemu pagi ini mentari.
kurasa cukup ceritaku. tak perlu aku utarakan apa yang terjadi sebenarnya. aku hanya ingin kau tahu bahwa aku terluka. itu saja. terimakasih mentari, aku harap kau tak pernah bosan mendengar keluh-kesahku.
*18thSept'11, 06:33
meski terasa lama, tapi kau tetap hadir mengerjakan tugasmu. akhirnya, pagi ini kita kembali bertemu. terimakasih mentari.
kau tahu mengapa aku begitu menunggu kedatanganmu? tak lebih hanya karena aku ingin bercerita kepadamu, mentari. hanya kepadamu aku bisa berkeluh selain kepada Tuhanku.
dari kemarin mega merah muncul dari atas langit, dari kau mulai menenggelamkan wajahmu, hatiku juga terasa tenggelam mentari. aku begitu galau. lebih tepatnya luka. luka yang aku sendiri mencarinya, aku sendiri membuatnya, tentu hanya aku sendiri pula yang akan mengobatinya mentari.
kau tenang saja mentari, aku tak akan meminta pertolonganmu. aku tak akan juga menyuruhmu mengobati lukaku. hanya, aku ingin kau mendengarkan ceritaku. itu saja, tak lebih. aku tahu kau akan mendengarkan ceritaku dengan baik dan tentu kau simpan pula dengan baik.
mentari, semalam aku mencoba hal yang lebih gila lagi. aku coba menumpahkan apa yang kurasa kepada bayi lima bulan. aku menggendongnya kian kemari. mulai dari ruang 3 x 3 ku hingga ke beranda. dari beranda aku teruskan berputar-putar di halaman yang cukup luas.
tapi, tahukah kau mentari. semakin aku bersemangat menceritakan apa yang kurasakan, bayi itu semakin pula menangis. tangisnya tak biasa. aku juga sudah memohon kepadanya untuk tidak menangis, agar aku bisa menyelesaikan ceritaku. tapi bayi itu benar-benar menolak. bahkan aku berjanji, sampai pagi pun aku akan menggendongnya jika ia mau mendengar aku berkeluh. mentari, tapi bayi itu terlalu suci untuk mendengar keluh kesah tak mutuku.
akhirnya aku menyerah mentari. aku serahkan bayi itu kepada neneknya. aku kembali ke ruang 3 x 3 ku. mencoba mendamaikan hati dengan keadaan. tapi tak bisa. aku menyetel televisi, mengganti channel ini-itu, tetap saja mentari.
hampir di pertengahan malam aku melakukan yang tak biasa. aku menerima ajakan temanku untuk bermain play station. ah, tak pernah aku menyukai permainan ini. tapi demi membunuh malam aku lakukan. akhirnya tubuh lemah ini mengalah dengan rasa lelah. aku pun terlelap. hingga kita bertemu pagi ini mentari.
kurasa cukup ceritaku. tak perlu aku utarakan apa yang terjadi sebenarnya. aku hanya ingin kau tahu bahwa aku terluka. itu saja. terimakasih mentari, aku harap kau tak pernah bosan mendengar keluh-kesahku.
*18thSept'11, 06:33
ibuk
seminggu sudah ibuk di sini. dengan tujuan mengantar dan menemani anak mengasuh dua cucu. hari ini ibuk hendak balik ke kampung halaman. tapi tak ada sedikitpun penghargaan dari sang menantu. ibuk hanya ingin sekadar berjalan melihat-lihat kota ini. kota yang sangat terkenal dengan landmark jembatannya. siang kemarin sang menantu menjanjikan untuk mengajak ibuk jalan-jalan. tapi, hingga matahari terbenam tak kunjung jua ada perjalanan itu. ibuk pun bertanya-tanya. tapi, ibuk sangatlah mafhum sang menantu sangatlah sibuk. pun sibuknya tak menentu. pun kemarin adalah hari libur bukan hari kerja.
entah apa yang ada di pikiran sang menantu. telah sedemikian baiknya ibuk, sedemikian sabarnya ibuk, sedemikian mengertinya ibuk, tapi ia tak memandang sedikitpun. ibuk telah bersusah payah membantu mengasuh anaknya tanpa pandang waktu tanpa pandang letih. sang menantu tetap saja sibuk mengutak-atik suatu hal yang tak perlu pada kendaraannya.
sang istri, yang tak lain anak ibuk tak kuasa berbuat apa-apa. kata-kata pasrah pun terlontar dari mulutnya. "ia tak pernah menghargai ibukku, orangnya sungguh lain." kalimat seperti itu akhirnya menguap karena kecewa yang tak terbendung.
di sisi lain dua perempuan muda semenjak kedatangan ibuk merasakan sekali bahwa ibuk adalah sosok ibuk yang sangat ramah, baik dan perhatian. termasuk kepada dua perempuan muda itu. mereka berdua sering sekali merasa iba melihat ibuk yang selalu sibuk mengurus dua cucunya. mencuci, memasak, itu tak lain karena kasih sayang ibuk kepada anaknya. tak jarang juga ibuk memberi perhatian lebih kepada dua perempuan muda itu. "sudah makan nak? ndak istirahat dulu." kata-kata ibuk sungguh menjadi penawar rindu yang masih melekat kepada orangtua masing-masing dua perempuan muda itu.
kemarin dua perempuan turut risau karena hari ini ibuk akan kembali ke kampungnya. mereka risau tak hanya karena kepulangan ibuk, juga sikap menantu ibuk yang tak mau tahu. sempat muncul keinginan mereka untuk mengajak ibuk jalan-jalan di kota ini. singgah ke pusat perbelanjaan dan membelikan oleh-oleh khas daerah ini untuk buah tangan ibuk untuk balik nanti. tapi, niat itu urung. ibuk merasa keberatan. keberatan bukan karena ajakan dua perempuan muda itu. ibuk masih saja merasa tak enak hati jika ia pergi dengan dua perempuan muda. ibuk merasa tak menghargai sang menantu.
ah... aku semakin mengagumi ibuk. perasaannya begitu halus. hatinya begitu mulia. meski ia tak menerima hal yang sama.
entah apa yang ada di pikiran sang menantu. telah sedemikian baiknya ibuk, sedemikian sabarnya ibuk, sedemikian mengertinya ibuk, tapi ia tak memandang sedikitpun. ibuk telah bersusah payah membantu mengasuh anaknya tanpa pandang waktu tanpa pandang letih. sang menantu tetap saja sibuk mengutak-atik suatu hal yang tak perlu pada kendaraannya.
sang istri, yang tak lain anak ibuk tak kuasa berbuat apa-apa. kata-kata pasrah pun terlontar dari mulutnya. "ia tak pernah menghargai ibukku, orangnya sungguh lain." kalimat seperti itu akhirnya menguap karena kecewa yang tak terbendung.
di sisi lain dua perempuan muda semenjak kedatangan ibuk merasakan sekali bahwa ibuk adalah sosok ibuk yang sangat ramah, baik dan perhatian. termasuk kepada dua perempuan muda itu. mereka berdua sering sekali merasa iba melihat ibuk yang selalu sibuk mengurus dua cucunya. mencuci, memasak, itu tak lain karena kasih sayang ibuk kepada anaknya. tak jarang juga ibuk memberi perhatian lebih kepada dua perempuan muda itu. "sudah makan nak? ndak istirahat dulu." kata-kata ibuk sungguh menjadi penawar rindu yang masih melekat kepada orangtua masing-masing dua perempuan muda itu.
kemarin dua perempuan turut risau karena hari ini ibuk akan kembali ke kampungnya. mereka risau tak hanya karena kepulangan ibuk, juga sikap menantu ibuk yang tak mau tahu. sempat muncul keinginan mereka untuk mengajak ibuk jalan-jalan di kota ini. singgah ke pusat perbelanjaan dan membelikan oleh-oleh khas daerah ini untuk buah tangan ibuk untuk balik nanti. tapi, niat itu urung. ibuk merasa keberatan. keberatan bukan karena ajakan dua perempuan muda itu. ibuk masih saja merasa tak enak hati jika ia pergi dengan dua perempuan muda. ibuk merasa tak menghargai sang menantu.
ah... aku semakin mengagumi ibuk. perasaannya begitu halus. hatinya begitu mulia. meski ia tak menerima hal yang sama.
Perempuan dan Ayam Jantan Berkawan di Subuh Tadi
![]() |
| --kaki merapi dari jendela belakang tingkat dua-- f/brother inlaw |
Hingga ke suara kokok ayam jantan pun membuat Subuh di hari Minggu begitu berbeda. Kokok-an ayam jantan di halaman rumah begitu nyaring. Tak henti-hentinya ia berkokok. Sahut-menyahut dengan ayam jantan yang berada di sisi utara, timur dan selatan, tetangga beberapa rumah.
Kukuruyuk...k, begitu nyaring, begitu panjang. Di halaman.
Kukuruyuk...k, agak nyaring, agak tersendat seperti ayam yang tertelan karet gelang. Di timur.
Kukuruyuk...k, sayup-sayup, seketika lenyap. Di utara dan selatan, bergantian.
Mereka berkokok tak mau mendahului adzan Subuh. Setelah adzan telah bersahut-sahutan dari berbagai penjuru, barulah mereka bersahut-sahutan pula. Seolah memperpanjang lidah muadzin yang sudah sedari tadi mengumandangkan seruanNya dari Meunasah.
Seorang perempuan berusaha bangun dari tidurnya yang nyenyak. Tidur yang baru saja pulas setelah ia baru tertidur dua jam yang lalu. Kebiasaannya bangun di sepertiga malam untuk berkehendak apa saja, membuat ia terjebak dalam pikiran panjang. Setelah memohon kepada Sang Khalik yang sepengetahuannya turun ke bumi untuk memperdengarkan permohonan hambaNya di sepertiga malam, mata si perempuan tak lantas terpejam. Ada-ada saja yang ia pikirkan. Mulai dari A hingga Z, andai saja masih ada alfabet setelah itu mungkin masih ada saja yang ia pikirkan. Alhasil, dua jam saja waktu perempuan tadi untuk terlelap.
Mata masih setengah terbuka, mulai menggerak-gerakkan jari-jemari, duduk di kapuk yang begitu empuk, tangannya sibuk meraih kerudung dari penggantung pakaian, pintu kamar di buka, menerabas ke kamar mandi. Berwudu'. Dinginnya air menyapu wajah dan membasahi pori-pori, begitu nikmat rasa itu bagi si perempuan tadi.
Si ayam jantan tak henti-hentinya berkokok Begitu juga rekan sejawatnya di halaman tetangga tiga rumah. Mereka tak berhenti bertugas karena belum ada juga yang bangkit dari kapuknya. Kukuruyuk.... sahut-menyahut, tak henti. Hingga sang fajar mulai muncul dari ufuk timur.
Sementara setelah si perempuan tadi selesai menghambakan dirinya di Subuh Minggu ini, ia begitu tergoda dengan kapuk yang begitu empuk. Masih terduduk di atas sajadah setianya, ia menoleh si kapuk. "Ayo, tidur kembali masih terlalu pagi, hari ini kan libur, ayo....!!" si kapuk begitu menggoda.
Perempuan tadi bangkit. Melipat mukena dan sajadah setianya. Menoleh lagi ke si kapuk, "Ah tidak, perempuan itu tidak baik tidur setelah subuh," si perempuan membalas godaan si kapuk sembari memencongkan bibirnya bermaksud meledek godaan si kapuk.
Ia raih kembali kerudungnya. Kerudung yang agak lebar dan panjang. Sengaja memilih kerudung yang demikian agar dingin yang lumayan menusuk tulang tak begitu terasa ketika kepalanya dan separuh badan diselimuti kerudung lebar. Si perempuan beranjak keluar, duduk di beranda rumah. Ada pemandangan yang tak biasa. Lima belas merpati tengah berpesta di halaman rumah, tepat di depan beranda tempat si perempuan duduk. Ia perhatikan satu per satu burung yang dikata orang paling setia itu. Semuanya didominasi bulu putih hanya saja beberapa dari mereka berparuh hitam, coklat, dan abu-abu. Merpati-merpati itu tengah berebut sisa makanan dari bungkusan nasi si penghuni rumah. Kaki-kaki mungil merah muda mereka berlarian, kadang-kadang saling menelikung untuk mendapatkan beberapa butir nasi. Kini, merpati itu tak lagi berjumlah lima belas, tujuh belas sudah. Dua kawannya baru saja tiba, mungkin mereka tertinggal atau baru saja juga mengais rejeki di halaman rumah yang lain.
Si ayam jantan masih saja berkokok dan bersahut-sahutan dengan teman sejawatnya. Masih belum ada yang bangkit dari pembaringan. Mungkin saja mereka telah lelah berkokok hingga kehausan, tapi tugas mereka belum selesai. Belum juga ada yang bangun. Belum juga ada yang menyaingi mereka dan merpati tadi untuk mengasis rejeki.
Merpati dan ayam jantan, ada juga beberapa burung pipit beterbangan di halaman. Si burung pipit memilih bertengger di arm penghubung bucket dengan controller pada alat berat yang terparkir di halaman rumah, Excavator. Si burung pipit memandangi dari ketinggian, teman sama spesies dengannya tengah berjuang untuk mendapatkan butir-butir nasi sisa makan si penghuni rumah. Dari ketinggian itu, si burung pipit juga memperhatikan si perempuan berkerudung lebar tadi. "Asyik sekali ia melamun, apa yang ia pikirkan?"
Perempuan tadi melirik satu per satu pada makhluk yang telah sibuk di subuh hari itu. Merpati, burung pipit, dan ayam jantan yang masih saja sibuk berkokok. Si perempuan mulai terganggu dengan kokokan si ayam jantan. Ia membatin, saya sudah bangun dari tadi janganlah berisik juga, biarkanlah saya merasakan indahnya pagi ini tanpa lagi mendengar lengkingan suaramu yang tak lagi merdu layaknya yang saya dengar setelah adzan subuh tadi. Memekakkan telinga, si perempuan mulai mengumpat.
Di tengah kesibukan makhluk-makhluk tadi mengais rejeki, perempuan tadi meraih telepon genggamnya. Menelpon salah seorang kawan yang pasti sudah bangun sejak subuh tadi. Ia begitu mengetahui kawannya yang satu ini selalu memulai aktivitasnya di Subuh hari, Violin namanya. Jempolnya mengutak-atik telpon genggam yang akhir-akhir ini mulai berulah. Violin, memanggil...
"Hallo, Assalamu'alaikum," salam Violin agak parau mungkin karena masih terlalu pagi untuk menjawab telpon.
"Wa'alaikumsalam, Vio sudah shalat dan sedang apa?" perempuan tadi memberikan pertanyaan beruntun.
"Sudah, baru saja selesai. Ais sudah shalat?
"Sudah juga, kira-kira setengah jam lalu."
"Subuh lebih duluan di sana ya.." Vio menyadari jarak ia dan Ais lumayan jauh, menempuh kurang lebih 20 jam perjalanan via bus.
"Iya, hanya beda beberapa menit dari ibu kota negara," Ais menimpali.
*bla..bla..bla..bla..*
Percakapan perempuan tadi dengan kawannya itu begitu seru, sepertinya. Sehingga ia mengacuhkan kawan-kawannya yang menemaninya duduk di beranda tadi. Merpati, Ayam jantan dan si burung pipit belum juga menyudahi kesibukan mereka.
Si perempuan juga tidak mau kalah, selesai melepas selaksa rindu pada kawannya tadi, ia kembali meraih telpon genggamnya yang ditaruh di kursi kosong di sebelahnya. Kali ini ia menelpon kedua orang tua nun jauh di kampung halaman. Ibu jarinya kembali menari-nari di atas key pad telpon genggam itu. Luphly Pa, memanggil..
"Assalamu'alaikum," suara pria paruh baya dari ujung telpon.
Perempuan tadi kembali mendengar suara parau dari kejauhan. Memang, masih terlalu pagi di kampung halamannya.
"Wa'alaikumsalam.., sudah bangun pa, papa sudah shalat?" si perempuan menyuguhkan pertanyaan serupa dengan pertanyaan beruntunnya kepada Violin tadi. Kenangannya tiba di kampung halaman. Kampung yang berada di kaki gunung merapi. Apabila Subuh hari, dinginnya cuaca begitu menusuk tulang. Brr... dingin minta ampun. Hanya yang benar-benar memiliki kebulatan hati yang bisa bangun di subuh hari untuk menunaikan kewajiban kepada Yang Maha Pemberi Rejeki.
"Sudah nak, papa baru saja kembali dari mushalla. Nih, amak juga baru pulang."
Si Perempuan mulai merasakan pilunya pagi ini. Andai saja ia tak berjarak dari tanah kelahirannya itu, tentu ia juga turut meramaikan subuh yang dingin itu. Ketika suara azan dari Inyiak berkumandang, ia bergegas bangkit dari kapuk, dan menuruni anak tangga dari tingkat dua rumahnya. Berlarian menuju mushala merasakan air 'es' yang mengucur dari tedmond, penyimpan air mushala. Brr.. kali ini si perempuan tadi benar-benar merasai dingin itu.
"Apa kabar Ais, sehat-sehat sajakah?" tidak lagi suara papa, melainkan Amak.
Oh, amak yang membuat perempuan tadi semakin merasakan dinginnya pagi ini.
*Bla, bla, bla......*
Percakapan kedua orang tua dan anak perempuannya yang berada jauh di negeri orang. Entah apa yang mereka bicarakan. Hanya saja si burung pipit yang masih bertengger di ketinggian tadi sesekali melirik perempuan itu tengah tertunduk dan sesekali mengusap matanya.
Matahari mulai memperlihatkan wajahnya. Cerah. Si perempuan mulai bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan beranda. Memulai aktivitas di Minggu yang membebaskan. Kokokan ayam jantan tak terdengar lagi, entah kapan berakhirnya, si perempuan tak menyadarinya. Merpati mulai berhamburan seiring dengan langkah perempuan tadi. Mungkin mereka sudah kenyang, sudah mendapat rejeki, mengalahkan penghuni rumah yang mulai terseok-seok keluar dari kamarnya untuk mencuci muka, pun mandi. Si burung pipit juga sudah meninggalkan arm yang dari tadi ia hinggapi. Terbang menikmati Minggu pagi yang begitu membebaskan.
![]() |
| --mega merah di penghujung senja, masih dari jendela belakang tingkat dua--f/broher inlaw |
Telpon Mak Ida (II)
Hampir seminggu sudah Ais menerima telpon dari Mak Ida. Selama itu pula pikiran Ais tak tenang. Ais mulai memikirkan, apa yang harus ia lakukan. Andai saja, keberadaan Ais dengan ayahnya tak jauh seperti sekarang, tentu Ais akan mengajak ayahnya berbicara. Berbicara dari hati ke hati. Mengajak ayahnya untuk kembali membuka hati. Meski belum tentu ada penerimaan yang baik dari ayah Ais. Tapi, sedikitnya ada usaha nyata yang bisa dilakukan ais.
Tak lama larut dalam pikirannya, Ais mencari nama ayahnya pada phonebook. Luphly Pa. Ais hendak menelpon ayahnya. Tapi, ada keraguan di hati Ais. Ragu untuk menelpon. Ais begitu takut kalau-kalau ayahnya akan marah. Seperti dalam waktu sebelumnya, ayah Ais adalah sesosok yang agak temperamental. Mempunyai emosi yang tak stabil. Meledak-ledak. Gampang sekali tersinggung. Dan perkataan orang adalah salah satu musabab yang seringkali membuat ayah Ais tersinggung.
Ais kembali berpikir, "Bagaimana kalau nanti saya menelpon ayah, tiba-tiba ayah tak terima, ayah akan merasa digurui, saya bukanlah seorang yang pantas menggurui ayah," Ais kian larut dalam pikiran tak menentu. Ais mengira-ngira, seandainya ia menelpon ayah tiba-tiba keluarganya di rumah yang menjadi sasaran. Sasaran amarah ayah Ais karena beranggapan keluarga ais di rumah memberi tahu Ais perihal ayahnya yang tak lagi shalat. Suasana akan semakin runyam. Ada mudarat yang akan datang. Rumah ais tak akan lagi nyaman disebabkan kegaduhan karena kesalahan Ais.
Pikiran Ais membuntu. Handphone masih di genggaman Ais. Hanya tinggal menekan tombol berwarna hijau, panggil. Tapi, ibu jari ais terlalu berat. Ah, sudahlah. "Mungkin belum saatnya saya menelpon ayah," handphone tak lagi dalam genggaman Ais. Ia abaikan saja.
Ais kembali menerawang. Ia baringkan tubuhnya di atas kasur yang tak seempuk biasanya dirasai Ais. Mata ais tak bisa terpejam. Dari ujung ke ujung langit-langit kamar, muak sudah dipandangi Ais terus-menerus. Pandangan kosong. Terlalu banyak banyak yang melintas di pikiran Ais.
Terbayang-bayang pula di ingatan Ais, ketika ia, ibu, adik, kakak, tentu ayahnya juga bergegas menuju mushala ketika waktu shalat menjelang. Ayah ais bersiap, menyiapkan perangkat pengeras suara untuk mengumandangkan adzan. Menggelar tikar untuk jamaah. Sementara itu, ais, adik, kakak dan ibunya tengah berlomba-lomba ambil wuduk. Siapa cepat, dia yang akan mendapatkan shaf terdepan. Shaf yang dijanjikan Tuhan pahala lebih dibandingkan barisan di belakangnya. Selesai shalat berjamaah, sejenak keluarga ais duduk di mushala, tentunya hanya sekadar menjaga silaturahim dengan jamaah lainnya. Setelahnya, Ais dan keluarga akan kembali ke rumah. Tentu, dengan wajah baru. Wajah penuh semangat, wajah yang bersih setelah menghadap sang khalik. Terlalu indah, kalau dikenang.
Apakah moment itu sebentar saja? Semenjak ais tak lagi tinggal bersama keluarga di rumah, berhenti pulalah kebiasaan yang demikian? Ais bertanya-tanya. Malam kian larut, akhirnya mata Ais mengalah. Terpejam dalam keadaan hati yang tak tenang.
Esok pagi, Ais terbangun. Selesai shalat subuh, Ais terpaku duduk di atas sajadahnya. Memohon kepada Tuhan, untuk menunjukkan jalan keluar. Ais meminta agar ayahnya kembali diberi petunjuk ke jalan yang benar. Menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaanNya.
Sejak itu, setiap pekerjaan yang dilakukan Ais terasa begitu membosankan. Ais tak lagi fokus. Layaknya seseorang yang tengah berhadapan dengan hutang. Hutang yang mesti dibayarkan. Selama itu hutang belum terbayar, selama itu pula hati Ais tak tenang. Kali ini, hutang Ais adalah mengembalikan ayahnya yang dulu lagi. Ayah yang begitu taat beribadah.
Tak mau berlama-lama dihantui hutang, akhirnya di malam berikutnya Ais memutuskan untuk menelpon ayahnya. Luphly Pa, panggil. Dari ujung telepon, terdengar suara ayah Ais yang telah lama tak bersua dengannya.
Ayah: Assalamu'alaikum
Ais: Wa'alaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh
Ayah: Ais, apa kabar?
Ais: Alhamdulillah, sehat yah. Ayah bagaimana?
Ayah: Ayah sehat juga
Ais: Ayah udah shalat?
Ayah: Sudah
Ais: Apa benar, ayah sudah shalat?
Ayah: Benar. (terdengar suara ayah Ais yang tak serius, dan sedikit ada candaan)
Ais: Ais tak percaya, akhir-akhir ini Ais dengar ayah tak lagi shalat
Ais: Ini ibu, mau bicara (tiba-tiba ayah Ais mengalihkan telpon ke ibu Ais)
Ibu: Ada apa Ais? sudah shalat?
Ais: Sudah bu, Ais mau bicara sama ayah, kenapa telpon diberikan sama ibu?
tiba-tiba Ibu Ais diam, langsung mengembalikan telpon ke ayah Ais. Mungkin ibu Ais sedikit tersinggung karena merasa Ais tidak mengharapkan telpon darinya.
Ayah: Kenapa Ais?
Ais: Ais mau bicara sama ayah, Ais cuma ingin mengatakan kalau Ais sedih sekali sejak mendengar ayah tak lagi shalat. Kemana ayah yang dulu? Ais ingin ayah berubah lagi, ayah mengurusi mushala lagi, tak pernah meninggalkan shalat lagi. Sekarang sudah saatnya ayah fokus hanya untuk beribadah. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang harus kita syukuri, yah. (Pembicaraan Ais terkesan menggurui, ia mulai cemas. Tapi, hasrat untuk bicara dengan ayahnya menggebu-gebu. Di kedalaman hati, Ais berharap ayahnya tidak tersinggung).
Ayah: Ayah juga tidak tahu, kenapa ayah akhir-akhir ini terlalu berat hati untuk shalat. Ayah tidak mau memaksakan kalau bukan dari niat hati yang tulus untuk beribadah.
Ais: Ayah, itu ujian untuk ayah, kalau ayah ikut demikian berarti ayah sudah kalah. Kalah atas godaan setan. Ayah.... ayolah, shalat lagi. Ais merengek, layaknya anak kecil. Ayolah yah....
Tiba-tiba ayah Ais tertawa. "Kenapa anak ayah seperti anak kecil ya,?"
Ais hanya kembali merengek. Ia merengek hanya ingin agar ayahnya tak marah dan tak merasa digurui.
Tak mau lama-lama berbicara lewat telpon, takut ayahnya tersinggung, akhirnya Ais mengakhiri pembicaraan.
"Ayah, sudah dulu ya, Ais mau shalat. Pokoknya mulai besok Subuh ayah shalat. Biar Ais yang bangunkan ayah," ucap Ais tegas.
"Insyaallah,"
***
Subuh sudah lewat, Ais sibuk dengan rutinitasnya pagi itu. Sehingga melupakan janji membangunkan ayahnya shalat. Ketika berkemas hendak bekerja, Ais baru ingat, segera ia raih handphone yang ia abaikan dari tadi subuh. Tingga panggilan tak terjawab, Luphly Pa.
Hari itu benar-benar hari sibuk buat Ais, sehingga untuk mengangkat telpon pun ia tak sempat. Siangnya, ayah Ais menelpon lagi. Panggilan keempat, Ais baru mengangkat telpon ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ais. Alhamdulillah ayah sudah shalat sejak subuh tadi, ayah cuma mau mengabarkan Ais."
Tiba-tiba jantung Ais berdegup. Berdegup atas bahagia. "Alhamdulillah, untuk seterusnya ya, yah.. tak hanya sementara waktu ini," ucap Ais haru. Tak sengaja, bulir bening membasahi sudut mata Ais. Air mata bahagia.
"Iya, insyaallah ini untuk seterusnya, ayah Ais yang dulu telah kembali lagi. Ais jangan risau lagi ya, baik-baik di sana. Terimakasih nak, sudah mengingatkan ayah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.." klik. Telpon ditutup.
Ais menghela nafas, nafas panjang. Bahagia tak terkira, hanya itu yang dirasakannya. Ternyata, Tuhan begitu cepat mendengarkan permintaannya. Alhamdulillah ya Rabb.
Terimakasih Mak Ida, atas telponmu, kamu begitu menyayangi kami.
Note: lanjutan dari postingan saya sebelumnya, dengan judul serupa. Telpon Mak Ida (I)
***
@rukan panggung, 04th April 2011, 17:53..with inspirasi--Edcoustic backsound...
Tak lama larut dalam pikirannya, Ais mencari nama ayahnya pada phonebook. Luphly Pa. Ais hendak menelpon ayahnya. Tapi, ada keraguan di hati Ais. Ragu untuk menelpon. Ais begitu takut kalau-kalau ayahnya akan marah. Seperti dalam waktu sebelumnya, ayah Ais adalah sesosok yang agak temperamental. Mempunyai emosi yang tak stabil. Meledak-ledak. Gampang sekali tersinggung. Dan perkataan orang adalah salah satu musabab yang seringkali membuat ayah Ais tersinggung.
Ais kembali berpikir, "Bagaimana kalau nanti saya menelpon ayah, tiba-tiba ayah tak terima, ayah akan merasa digurui, saya bukanlah seorang yang pantas menggurui ayah," Ais kian larut dalam pikiran tak menentu. Ais mengira-ngira, seandainya ia menelpon ayah tiba-tiba keluarganya di rumah yang menjadi sasaran. Sasaran amarah ayah Ais karena beranggapan keluarga ais di rumah memberi tahu Ais perihal ayahnya yang tak lagi shalat. Suasana akan semakin runyam. Ada mudarat yang akan datang. Rumah ais tak akan lagi nyaman disebabkan kegaduhan karena kesalahan Ais.
Pikiran Ais membuntu. Handphone masih di genggaman Ais. Hanya tinggal menekan tombol berwarna hijau, panggil. Tapi, ibu jari ais terlalu berat. Ah, sudahlah. "Mungkin belum saatnya saya menelpon ayah," handphone tak lagi dalam genggaman Ais. Ia abaikan saja.
Ais kembali menerawang. Ia baringkan tubuhnya di atas kasur yang tak seempuk biasanya dirasai Ais. Mata ais tak bisa terpejam. Dari ujung ke ujung langit-langit kamar, muak sudah dipandangi Ais terus-menerus. Pandangan kosong. Terlalu banyak banyak yang melintas di pikiran Ais.
Terbayang-bayang pula di ingatan Ais, ketika ia, ibu, adik, kakak, tentu ayahnya juga bergegas menuju mushala ketika waktu shalat menjelang. Ayah ais bersiap, menyiapkan perangkat pengeras suara untuk mengumandangkan adzan. Menggelar tikar untuk jamaah. Sementara itu, ais, adik, kakak dan ibunya tengah berlomba-lomba ambil wuduk. Siapa cepat, dia yang akan mendapatkan shaf terdepan. Shaf yang dijanjikan Tuhan pahala lebih dibandingkan barisan di belakangnya. Selesai shalat berjamaah, sejenak keluarga ais duduk di mushala, tentunya hanya sekadar menjaga silaturahim dengan jamaah lainnya. Setelahnya, Ais dan keluarga akan kembali ke rumah. Tentu, dengan wajah baru. Wajah penuh semangat, wajah yang bersih setelah menghadap sang khalik. Terlalu indah, kalau dikenang.
Apakah moment itu sebentar saja? Semenjak ais tak lagi tinggal bersama keluarga di rumah, berhenti pulalah kebiasaan yang demikian? Ais bertanya-tanya. Malam kian larut, akhirnya mata Ais mengalah. Terpejam dalam keadaan hati yang tak tenang.
Esok pagi, Ais terbangun. Selesai shalat subuh, Ais terpaku duduk di atas sajadahnya. Memohon kepada Tuhan, untuk menunjukkan jalan keluar. Ais meminta agar ayahnya kembali diberi petunjuk ke jalan yang benar. Menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaanNya.
Sejak itu, setiap pekerjaan yang dilakukan Ais terasa begitu membosankan. Ais tak lagi fokus. Layaknya seseorang yang tengah berhadapan dengan hutang. Hutang yang mesti dibayarkan. Selama itu hutang belum terbayar, selama itu pula hati Ais tak tenang. Kali ini, hutang Ais adalah mengembalikan ayahnya yang dulu lagi. Ayah yang begitu taat beribadah.
Tak mau berlama-lama dihantui hutang, akhirnya di malam berikutnya Ais memutuskan untuk menelpon ayahnya. Luphly Pa, panggil. Dari ujung telepon, terdengar suara ayah Ais yang telah lama tak bersua dengannya.
Ayah: Assalamu'alaikum
Ais: Wa'alaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh
Ayah: Ais, apa kabar?
Ais: Alhamdulillah, sehat yah. Ayah bagaimana?
Ayah: Ayah sehat juga
Ais: Ayah udah shalat?
Ayah: Sudah
Ais: Apa benar, ayah sudah shalat?
Ayah: Benar. (terdengar suara ayah Ais yang tak serius, dan sedikit ada candaan)
Ais: Ais tak percaya, akhir-akhir ini Ais dengar ayah tak lagi shalat
Ais: Ini ibu, mau bicara (tiba-tiba ayah Ais mengalihkan telpon ke ibu Ais)
Ibu: Ada apa Ais? sudah shalat?
Ais: Sudah bu, Ais mau bicara sama ayah, kenapa telpon diberikan sama ibu?
tiba-tiba Ibu Ais diam, langsung mengembalikan telpon ke ayah Ais. Mungkin ibu Ais sedikit tersinggung karena merasa Ais tidak mengharapkan telpon darinya.
Ayah: Kenapa Ais?
Ais: Ais mau bicara sama ayah, Ais cuma ingin mengatakan kalau Ais sedih sekali sejak mendengar ayah tak lagi shalat. Kemana ayah yang dulu? Ais ingin ayah berubah lagi, ayah mengurusi mushala lagi, tak pernah meninggalkan shalat lagi. Sekarang sudah saatnya ayah fokus hanya untuk beribadah. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang harus kita syukuri, yah. (Pembicaraan Ais terkesan menggurui, ia mulai cemas. Tapi, hasrat untuk bicara dengan ayahnya menggebu-gebu. Di kedalaman hati, Ais berharap ayahnya tidak tersinggung).
Ayah: Ayah juga tidak tahu, kenapa ayah akhir-akhir ini terlalu berat hati untuk shalat. Ayah tidak mau memaksakan kalau bukan dari niat hati yang tulus untuk beribadah.
Ais: Ayah, itu ujian untuk ayah, kalau ayah ikut demikian berarti ayah sudah kalah. Kalah atas godaan setan. Ayah.... ayolah, shalat lagi. Ais merengek, layaknya anak kecil. Ayolah yah....
Tiba-tiba ayah Ais tertawa. "Kenapa anak ayah seperti anak kecil ya,?"
Ais hanya kembali merengek. Ia merengek hanya ingin agar ayahnya tak marah dan tak merasa digurui.
Tak mau lama-lama berbicara lewat telpon, takut ayahnya tersinggung, akhirnya Ais mengakhiri pembicaraan.
"Ayah, sudah dulu ya, Ais mau shalat. Pokoknya mulai besok Subuh ayah shalat. Biar Ais yang bangunkan ayah," ucap Ais tegas.
"Insyaallah,"
***
Subuh sudah lewat, Ais sibuk dengan rutinitasnya pagi itu. Sehingga melupakan janji membangunkan ayahnya shalat. Ketika berkemas hendak bekerja, Ais baru ingat, segera ia raih handphone yang ia abaikan dari tadi subuh. Tingga panggilan tak terjawab, Luphly Pa.
Hari itu benar-benar hari sibuk buat Ais, sehingga untuk mengangkat telpon pun ia tak sempat. Siangnya, ayah Ais menelpon lagi. Panggilan keempat, Ais baru mengangkat telpon ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ais. Alhamdulillah ayah sudah shalat sejak subuh tadi, ayah cuma mau mengabarkan Ais."
Tiba-tiba jantung Ais berdegup. Berdegup atas bahagia. "Alhamdulillah, untuk seterusnya ya, yah.. tak hanya sementara waktu ini," ucap Ais haru. Tak sengaja, bulir bening membasahi sudut mata Ais. Air mata bahagia.
"Iya, insyaallah ini untuk seterusnya, ayah Ais yang dulu telah kembali lagi. Ais jangan risau lagi ya, baik-baik di sana. Terimakasih nak, sudah mengingatkan ayah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.." klik. Telpon ditutup.
Ais menghela nafas, nafas panjang. Bahagia tak terkira, hanya itu yang dirasakannya. Ternyata, Tuhan begitu cepat mendengarkan permintaannya. Alhamdulillah ya Rabb.
Terimakasih Mak Ida, atas telponmu, kamu begitu menyayangi kami.
Note: lanjutan dari postingan saya sebelumnya, dengan judul serupa. Telpon Mak Ida (I)
***
@rukan panggung, 04th April 2011, 17:53..with inspirasi--Edcoustic backsound...
Telpon Mak Ida (I)
Setelah penat dari rutinitas pekerjaannya dari Senin hingga Sabtu, hari Minggu merupakan hari yang cukup dinantikan oleh Ais. Tapi, hari Minggu bukanlah suatu hari yang spesial bagi Ais. Karena di hari itu ia tak ada melakukan rutinitas yang begitu berarti atau layaknya anak muda yang begitu menantikan akhir pekan. Jika Senin hingga Sabtu rutinitas Ais adalah 'ngantor' tapi hari Minggu adalah hari yang membebaskan bagi Ais. Bebas bukan berarti Ais senang, kadangkala rasa jenuh itu pun ada. Untuk menghilangkan kejenuhan karena tak ada rutinitas, Ais menyibukkan diri dengan beragam aktivitas di rumah saja. Bersih-bersih, menonton, dan membaca, kadang ada pula sedikit olahraga.
Satu lagi yang membuat akhir pekan Ais agak berbeda dari hari biasa adalah acap kali Ais menerima telpon dari sanak saudara dan keluarga di kampung halamannya. Maklum, Ais merantau kurang lebih sejak enam bulan lalu. Di suatu Minggu, cukup banyak yang menelpon Ais, mulai dari orang tua, kakak, adik, dan abang Ais. Tak hanya itu, Ais juga menerima telpon dari tetangga dan adik perempuan dari Ayah Ais. Keduanya sudah dianggap Ais sebagai orangtuanya sendiri. Kenapa tidak? Dua perempuan paruh baya itu begitu perhatian kepada Ais, sering kali Ais dinasihati dan banyak lagi cerita-cerita menarik seputar kampung Ais. Cerita yang begitu menghibur dan mampu mengobat rindu Ais akan kampung halamannya, walaupun hanya untuk sejenak. Dua perempuan itu Ais memanggilanya Mak Ida dan Mak Iyet.
Suatu siang di hari Minggu, Ais tengah asyik membaca novel yang baru saja ia beli. Mak Ida memanggil. Dengan berat hati Ais mengabaikan panggilan Mak Ida. "Kalau aku terima telpon dari Mak Ida, pasti panjang ceritanya," Ais membatin. Panggilan Mak Ida diabaikan Ais. Ia lanjutkan bacaannya, tapi sejak ada telpon dari Mak Ida Ais tak lagi fokus membaca. Sudahlah, biarkkan saja, kata Ais dan melanjutkan bacaannya. Ternyata Mak Ida kembali memanggil. Dua kali, tiga kali hingga panggilan keempat. Maafkan aku Mak Ida, aku telah berdosa kepadamu, mengabaikan telponmu demi kesenangannku. Agaknya Mak Ida sudah putus asa, dan tak ada panggilan lagi.
Ashar menjelang, Ais menutup novelnya sejenak untuk tunaikan kewajibannya. Setelahnya, Ais kembali membaringkan tubuhnya di kasur yang akhir-akhir ini begitu akrab dengannya. Baru saja Ais membuka novel, kembali telepon genggamnya berdering. Tapi kali ini bukan telepon dari Mak Ida, melainkan Mak Iyet. "Ya sudah, tak baik aku abaikan panggilan Mak Iyet. Cukup aku berdosa kepada Mak Ida saja," Ais kemudian menerima panggilan Mak Iyet.
"Assalamua'alaikum"
"Wa'alaikumsalam..."
"Apa kabar Mak?"
"Alhamdulillah sehat, Ais bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat juga Mak, lagi dimana Mak?"
"Amak lagi di Mushala, o ya ini Amak (ibu Ais) mau ngomong, Amak ambil wudhu dulu ya, amak belum shalat"
"Iya Mak"
Pembicaraan Ais dilanjutkan dengan orangtua perempuannya, Ais memanggil ibunya 'Amak'.
"Halo Ais"
"Iya Mak, Amak lagi di mushala ya?"
"Iya, Amak baru saja sembahyang Ashar, di sini rame, ada Mak Ida juga"
"Oh, rame ya Mak? Ais jadi rindu juga shalat di mushala"
"Kata Mak Ida tadi dia telepon Ais, tapi nggak diangkat, kenapa?"
Ais bingung, mau jawab apa. Apakah dia harus berbohong atau jawab apa adanya. Dengan alasan agar Mak Ida tak tersinggung, Ais berbohong. "Ia, tadi waktu Mak Ida nelpon Ais lagi di luar, hp ketinggalan di kamar," jawab Ais.
"Iya, Mak Ida bilang mungkin Ais lagi tidur," jawab Ibu Ais.'
"Ndak mak, Ais ndak tidur.." Ais menjawab dengan perasaan bersalah. Ais sungguh merasa berdosa sudah mengabaikan orangtua yang begitu memperhatikannya. Ketika dibohongi Ais pun, Mak Ida masih menaruh prasangka baik pada Ais.
"Kalau begitu, Ais ngomong sama Mak Ida ya?" Ibu Ais meminta.
"Iya mak"
Dari kejauhan terdengar suara khas dari Mak Ida. Suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Layaknya sayang seorang ibu kepada anak kandungnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum, nak"
"Wa'alaikumsalam, Mak Ida," jawab Ais dengan nada suara bersalah.
"Apa kabar nak? Adakah sehat-sehat saja?"
"Alhamdulillah sehat, Mak Ida ada sehat?
"Alhamdulillah kami di rumah masih sehat dan beraktivitas seperti biasa. Udah makan nak?" suara Mak ida begitu menyentuh.
"Udah tadi siang.. Mak Ida lagi di mushala ya?
"Iya, seperti biasa selesai shalat duduk-duduk dulu di mushala sambil cerita-cerita. Termasuk menceritakan Ais," ujar mak Ida.
"He...," Ais nyengir.
Tiba-tiba nada suara mak Ida mulai serius. Seakan ada pembicaraan penting yang akan ia sampaikan. Ais pun penasaran. Perlahan-lahan mak Ida membuka pembicaraan. Ia bertanya kepada Ais.
"Ais, akhir-akhir ini ada telponan sama ayah?"
"Sering mak Ida, ayah sering telpon Ais, kenapa ya mak?"
"Begini Ais, ayah Ais sudah tak ada lagi shalat, cobalah Ais ngomong sama ayah minta dia untuk shalat," jawab mak Ida.
Mendengar penjelasan mak Ida, jantung Ais langsung berdegup. "Ayahku yang dulu kembali lagi, Ya Allah kenapa Engkau lengah dari ayahku? Apakah Engkau tak lagi sayang kepada ayahku?" Ais menyesal dalam hati.
"Terimakasih mak Ida sudah kasih tau Ais". Ais juga menceritakan kepada mak Ida, akhir-akhir ini setiap kali Ais telponan dengan ayahnya dan menanyakan apakah ayahnya sudah salat atau belum, ayah Ais hanya menjawab dengan enteng 'sudah'. Berarti prasangka Ais selama ini tak keliru. Ayah Ais tak lagi menunaikan kewajibannya kepada Sang Khalik.
"Setiap kali nelpon, Ais tanya ke ayah sedang berada dimana, kata ayah sedang di lepau rendah, mak Ida," kata Ais lagi ke mak Ida.
Mendengar ucapan Ais, mak Ida mencoba menyemangati Ais untuk kembali mengingatkan ayahnya.
"Cobalah Ais ngomong sama ayah, mak Ida yakin, kalau Ais bicara sama ayah, ayah Ais pasti dengarkan."
"Ia, tapi Ais takut ayah tersinggung, mak Ida kan tau sendiri ayah bagaimana?"
Mendengar Ais mengeluh, mak Ida tak henti-hentinya menyemangati Ais. "Percayalah nak, tak akan ada orangtua yang akan marah ketika anaknya membicarakan kebaikan, berpandai-pandai saja Ais ngomong sama ayah ya." Demikian pesan mak Ida. Dalam hati Ais kembali menyesali diri. Begitu baiknya mak Ida kenapa aku malah mengabaikan telponnya tadi siang?
"Udah dulu ya nak, lain kali mak Ida telpon lagi, jangan lupa shalat, makan dan jaga diri ya..!"
"Insyaallah mak,"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalaam.." klik.
***
Usai menerima telpon dari ketiga 'amak'nya, Ais melamun. Masih terngiang di telinga Ais kabar yang disampaikan mak Ida. Ais kebingungan, ta tahu mau berbuat apa. Penuh tanya dari kedalaman hati Ais. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat? Ayah begitu jauh dariku. Ingin sekali aku menjumpai ayah. Bicara dari hati ke hati. Mana ayahku yang selalu ke mushala? Mana ayahku yang selalu mengumandangkan Azan dari corong musala sehingga lantunan azan yang indah bergema ke seantero kampungku? Mana ayahku yang selama ini rajin beribadah?
Ais kalut. Ia mengumpat Tuhannya. "Ya Allah, Engkau begitu tak menyayangi ayahku dan keluargaku. Engkau belokkan dia dari jalan-Mu. Kenapa engkau tak pelihara langkah ayahku? Kenapa Engkau tunjukkan ini ketika aku sudah jauh dari ayahku?"---be continue---
***
*)rukan panggung, 25th March 4:39 AM
Satu lagi yang membuat akhir pekan Ais agak berbeda dari hari biasa adalah acap kali Ais menerima telpon dari sanak saudara dan keluarga di kampung halamannya. Maklum, Ais merantau kurang lebih sejak enam bulan lalu. Di suatu Minggu, cukup banyak yang menelpon Ais, mulai dari orang tua, kakak, adik, dan abang Ais. Tak hanya itu, Ais juga menerima telpon dari tetangga dan adik perempuan dari Ayah Ais. Keduanya sudah dianggap Ais sebagai orangtuanya sendiri. Kenapa tidak? Dua perempuan paruh baya itu begitu perhatian kepada Ais, sering kali Ais dinasihati dan banyak lagi cerita-cerita menarik seputar kampung Ais. Cerita yang begitu menghibur dan mampu mengobat rindu Ais akan kampung halamannya, walaupun hanya untuk sejenak. Dua perempuan itu Ais memanggilanya Mak Ida dan Mak Iyet.
Suatu siang di hari Minggu, Ais tengah asyik membaca novel yang baru saja ia beli. Mak Ida memanggil. Dengan berat hati Ais mengabaikan panggilan Mak Ida. "Kalau aku terima telpon dari Mak Ida, pasti panjang ceritanya," Ais membatin. Panggilan Mak Ida diabaikan Ais. Ia lanjutkan bacaannya, tapi sejak ada telpon dari Mak Ida Ais tak lagi fokus membaca. Sudahlah, biarkkan saja, kata Ais dan melanjutkan bacaannya. Ternyata Mak Ida kembali memanggil. Dua kali, tiga kali hingga panggilan keempat. Maafkan aku Mak Ida, aku telah berdosa kepadamu, mengabaikan telponmu demi kesenangannku. Agaknya Mak Ida sudah putus asa, dan tak ada panggilan lagi.
Ashar menjelang, Ais menutup novelnya sejenak untuk tunaikan kewajibannya. Setelahnya, Ais kembali membaringkan tubuhnya di kasur yang akhir-akhir ini begitu akrab dengannya. Baru saja Ais membuka novel, kembali telepon genggamnya berdering. Tapi kali ini bukan telepon dari Mak Ida, melainkan Mak Iyet. "Ya sudah, tak baik aku abaikan panggilan Mak Iyet. Cukup aku berdosa kepada Mak Ida saja," Ais kemudian menerima panggilan Mak Iyet.
"Assalamua'alaikum"
"Wa'alaikumsalam..."
"Apa kabar Mak?"
"Alhamdulillah sehat, Ais bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat juga Mak, lagi dimana Mak?"
"Amak lagi di Mushala, o ya ini Amak (ibu Ais) mau ngomong, Amak ambil wudhu dulu ya, amak belum shalat"
"Iya Mak"
Pembicaraan Ais dilanjutkan dengan orangtua perempuannya, Ais memanggil ibunya 'Amak'.
"Halo Ais"
"Iya Mak, Amak lagi di mushala ya?"
"Iya, Amak baru saja sembahyang Ashar, di sini rame, ada Mak Ida juga"
"Oh, rame ya Mak? Ais jadi rindu juga shalat di mushala"
"Kata Mak Ida tadi dia telepon Ais, tapi nggak diangkat, kenapa?"
Ais bingung, mau jawab apa. Apakah dia harus berbohong atau jawab apa adanya. Dengan alasan agar Mak Ida tak tersinggung, Ais berbohong. "Ia, tadi waktu Mak Ida nelpon Ais lagi di luar, hp ketinggalan di kamar," jawab Ais.
"Iya, Mak Ida bilang mungkin Ais lagi tidur," jawab Ibu Ais.'
"Ndak mak, Ais ndak tidur.." Ais menjawab dengan perasaan bersalah. Ais sungguh merasa berdosa sudah mengabaikan orangtua yang begitu memperhatikannya. Ketika dibohongi Ais pun, Mak Ida masih menaruh prasangka baik pada Ais.
"Kalau begitu, Ais ngomong sama Mak Ida ya?" Ibu Ais meminta.
"Iya mak"
Dari kejauhan terdengar suara khas dari Mak Ida. Suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Layaknya sayang seorang ibu kepada anak kandungnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum, nak"
"Wa'alaikumsalam, Mak Ida," jawab Ais dengan nada suara bersalah.
"Apa kabar nak? Adakah sehat-sehat saja?"
"Alhamdulillah sehat, Mak Ida ada sehat?
"Alhamdulillah kami di rumah masih sehat dan beraktivitas seperti biasa. Udah makan nak?" suara Mak ida begitu menyentuh.
"Udah tadi siang.. Mak Ida lagi di mushala ya?
"Iya, seperti biasa selesai shalat duduk-duduk dulu di mushala sambil cerita-cerita. Termasuk menceritakan Ais," ujar mak Ida.
"He...," Ais nyengir.
Tiba-tiba nada suara mak Ida mulai serius. Seakan ada pembicaraan penting yang akan ia sampaikan. Ais pun penasaran. Perlahan-lahan mak Ida membuka pembicaraan. Ia bertanya kepada Ais.
"Ais, akhir-akhir ini ada telponan sama ayah?"
"Sering mak Ida, ayah sering telpon Ais, kenapa ya mak?"
"Begini Ais, ayah Ais sudah tak ada lagi shalat, cobalah Ais ngomong sama ayah minta dia untuk shalat," jawab mak Ida.
Mendengar penjelasan mak Ida, jantung Ais langsung berdegup. "Ayahku yang dulu kembali lagi, Ya Allah kenapa Engkau lengah dari ayahku? Apakah Engkau tak lagi sayang kepada ayahku?" Ais menyesal dalam hati.
"Terimakasih mak Ida sudah kasih tau Ais". Ais juga menceritakan kepada mak Ida, akhir-akhir ini setiap kali Ais telponan dengan ayahnya dan menanyakan apakah ayahnya sudah salat atau belum, ayah Ais hanya menjawab dengan enteng 'sudah'. Berarti prasangka Ais selama ini tak keliru. Ayah Ais tak lagi menunaikan kewajibannya kepada Sang Khalik.
"Setiap kali nelpon, Ais tanya ke ayah sedang berada dimana, kata ayah sedang di lepau rendah, mak Ida," kata Ais lagi ke mak Ida.
Mendengar ucapan Ais, mak Ida mencoba menyemangati Ais untuk kembali mengingatkan ayahnya.
"Cobalah Ais ngomong sama ayah, mak Ida yakin, kalau Ais bicara sama ayah, ayah Ais pasti dengarkan."
"Ia, tapi Ais takut ayah tersinggung, mak Ida kan tau sendiri ayah bagaimana?"
Mendengar Ais mengeluh, mak Ida tak henti-hentinya menyemangati Ais. "Percayalah nak, tak akan ada orangtua yang akan marah ketika anaknya membicarakan kebaikan, berpandai-pandai saja Ais ngomong sama ayah ya." Demikian pesan mak Ida. Dalam hati Ais kembali menyesali diri. Begitu baiknya mak Ida kenapa aku malah mengabaikan telponnya tadi siang?
"Udah dulu ya nak, lain kali mak Ida telpon lagi, jangan lupa shalat, makan dan jaga diri ya..!"
"Insyaallah mak,"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalaam.." klik.
***
Usai menerima telpon dari ketiga 'amak'nya, Ais melamun. Masih terngiang di telinga Ais kabar yang disampaikan mak Ida. Ais kebingungan, ta tahu mau berbuat apa. Penuh tanya dari kedalaman hati Ais. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat? Ayah begitu jauh dariku. Ingin sekali aku menjumpai ayah. Bicara dari hati ke hati. Mana ayahku yang selalu ke mushala? Mana ayahku yang selalu mengumandangkan Azan dari corong musala sehingga lantunan azan yang indah bergema ke seantero kampungku? Mana ayahku yang selama ini rajin beribadah?
Ais kalut. Ia mengumpat Tuhannya. "Ya Allah, Engkau begitu tak menyayangi ayahku dan keluargaku. Engkau belokkan dia dari jalan-Mu. Kenapa engkau tak pelihara langkah ayahku? Kenapa Engkau tunjukkan ini ketika aku sudah jauh dari ayahku?"---be continue---
***
*)rukan panggung, 25th March 4:39 AM
Si Bapak Tukang Gorengan dan Minggu yang Membebaskan
Posted by
tutihandriani
on Sabtu, 19 Maret 2011
/
Labels:
cerita,
si bapak tukang gorengan
/
Comments: (0)
Seperti biasa, hari Minggu adalah hari ngebabu. Biasanya aku menamakan Sunday is Ngebabu’s day. Rutinitas yang dilakukan layaknya rutinitas para kaum ibu rumah tangga. Mulai dari mencuci, nyetrika, belanja, bersih-bersih, dan memasak.
Minggu kali ini agak berbeda. Sepanjang perjalanan kami dari mess menuju pasar dan pulang lagi ke mess ada beberapa yang menarik perhatian kami. Di sepanjang jalan, teman saya sibuk memperhatikan rumah-rumah yang berjejer di kiri dan kanan jalan. Satu rumah menarik perhatian kami, rumah berwarna pink pastel dan abu-abu. Simpel dan indah, demikian temanku menilai. Akupun meng-iyakan.
"Andai saja, kantor kita dekat dengan kampung..!" temanku berandai.
"Iya ya," aku mengulas. Insyaallah, aku akan punya rumah indah nantinya, dalam hati aku bermimpi.
Sesampainya di tempat kami berbelanja, tengah asyik memilih ini-itu untuk bahan memasak, aku dan teman tiba-tiba kaget. Terdengar suara perempuan teriak-teriak dengan bahasa daerahnya -- bahasa Palembang, tentu kami tak mengerti. Akupun bertanya kepada Ayu' (kakak perempuan) warung tempat belanja, "Mereka kenapa Yu'?"
Ayu' warung mengatakan mereka lagi bertengkar, ia juga kurang mengetahui apa sebab pertengkarannya. "Sudah biasa begitu," katanya.
Temanku ikut berkomentar, "Masih pagi sudah ribut. Dasar..!!"
"Iya, kasihan saja. Hari mereka diawali dengan keributan, ditambah lagi berteriak-teriak sambil menggendong anak bayi. Kasihan bayinya," kataku.
Selesai berbelanja, kami pulang. Kemudian singgah di persimpangan. Di sana ada Bapak yang jual gorengan. Kami mampir, tentu untuk membeli.
"Pak, gorengan... ," ujarku dengan arti meminta si Bapak ambilkan gorengan.
Si Bapak diam.
Kuulangi lagi, mungkin si Bapak kurang dengar karena suara kompor gas yang sedang menyala ditambah lagi mobil yang lalu-lalang melintas di jalan raya. "Pak, gorengan.. yang di kuali belum matang ya?" tanyaku.
Si Bapak kembali acuh.
"Pak, Pak, Bapak, kami mau beli gorengan," aku mengulangi berkali-kali dan lebih mendekat kepada si Bapak yang sedang asyik mengaduk gorengannya.
Si Bapak baru sadar, kalau ada kami di sampingnya. "Maaf, .. " jawab si Bapak.
Aku dan temanku saling melirik, bingung. Kami duduk di bangku yang telah disediakan di tempat si Bapak menjual gorengan. Menunggu gorengannya matang karena kami terlalu pagi. Mungkin kami pelanggan pertama yang membeli dagangan si Bapak.
"Aku ngelamun," kata Bapak itu.
"Kenapa pak, ingat kampung ya," tanya temanku.
"Iya," jawab si Bapak singkat.
Karena penasaran, aku bangkit dari tempat duduk dan betanya lebih lanjut sama si Bapak. "Bapak asal mana, Jawa?" aku sok tahu.
"Iya, Bandung."
"Tinggal di sini dimana, pak?"
"Daerah Bukit, Bukit Kecil," jawab si Bapak yang mencelupkan gorengan ke kualinya.
"O,,," aku melongo.
Setelah gorengannya matang, dan membungkus gorengan pesanan kami, si Bapak tiba-tiba menceritakan kalau iya sedang teringat keluarganya di rumah, terutama anak perempuannya. "Anakku perempuan, tak mau sekolah, sudah dikasih modal dan motor, tapi malah dia tak mau sekolah lagi. Pusing aku, dia perempuan jadi apa dia nantinya?"
Sayang, si Bapak baru bercerita ketika kami telah mau beranjak pergi. Temanku pun sudah menarik tanganku untuk pulang.
Di akhir percakapan aku hanya mengatakan, "Jangan melamun lagi ya pak, nanti kompornya meledak," kataku asal, berniat si Bapak tertawa mendengar candaanku.
"Iya," jawab si Bapak singkat.
Kami berlalu, meninggalkan si Bapak tukang gorengan. Di perjalanan yang kira-kira 300 meter menuju mess, kami teringat si Bapak.
"Kasian Bapak itu ya," kataku.
"Iya, jauh-jauh merantau dan begitu susahnya cari uang, si anak tak mengerti keadaan," jawab temanku
Aku menambahkan, "bagaimanapun setiap orangtua pasti menginginkan anaknya berhasil, lebih baik dari mereka, tentunya."
"Benar, apalagi dia perempuan, kalau tidak sekolah, mau ngapain lagi?" temanku semakin serius.
Kami pun sampai di mess, lanjut memasak dan melupakan si Bapak tukang gorengan. Sembari memasak kami sarapan dengan gorengan yang dibeli dari si Bapak. Enaknya. Aku kembali ingat nasib si Bapak tukang gorengan. Apakah dia masih saja melamun, kalau saja dia masih melamun, bahaya juga. Kalau-kalau nanti ada orang berniat jahat. Semoga si Bapak tukang gorengan baik-baik saja, dan anaknya kembali sadar.
***
rukan panggung, 10:43 di Minggu yang 'membebaskan'
Let's Start to Merantoa (Merantau)
Hari ini Alhamdulillah aku terima gaji. Gaji yang mungkin menurut Sarjana lain bukanlah sebanding dengan background pendidikanku. Tapi aku tak masalah, inilah pilihan. Ketika aku memilih aku sudah siap terima konsekuensi apa pun yang aku terima. Alhamdulillah, dengan gaji apa adanya aku tak lagi menggantungkan kebutuhanku pada kedua orang tuaku. Alhamdulillah, aku menyisakan sedikit gajiku untuk orangtuaku atau pun membantu biaya pendidikan adikku. Alhamdulillah, aku sisakan gajiku cukup untuk kebutuhan bulananku saja, sisanya kukirim pulang. Ini adalah kiriman ke-empat sepanjang episode merantauku. Aalhamdulillah aku merasa pendapatanku jauh mencukupi kebutuhanku. Alhamdulillahirabbil'alamin.
Seorang teman sesama bekerjaku bilang, tak usah kirim dulu pulang, penuhi kebutuhan kamu dulu, aku hanya merespon dengan senyum palsu. Aku membatin, kenapa aku mesti jauh-jauh mencari uang ke negeri orang kalau aku tak mengabdikan jerih payahku untuk keluargaku. Dari awal, kebulatan tekadku merantau hanya untuk mencari uang, mencari uang bukan untuk kesenanganku, melainkan untuk keluargaku. Aku hanya ingin mengabdi kepada kedua orang tuaku.Tak ada yang dapat aku perbuat untuk membalas jasa orangtuaku melainkan dengan cara ini.
Aku lepaskan keinginanku untuk menjadi jurnalis. Jurnalis menurutku adalah profesi yang begitu mulia. Kenapa tidak, melalui Jurnalis masyarakat mampu menyerap informasi. Jurnalis itu ibarat ilmu berjalan. Awalnya aku sudah memulai bekerja di salah satu biro lembaga kantor berita nasional di provinsiku. Meski baru berstatus calon pewarta, aku senang. Senang menjalani rutinitas. Tapi ada daya, aku merasa apa guna aku menjalani pekerjaan yang aku senangi sementara aku belum bisa berbuat apa-apa untuk orangtuaku. Kian kemari liputan, wawancara sana-sini, cukup menguras energi dan materi. Keuanganku mulai menipis. Selama bekerja aku mengandalkan uang beasiswa skripsiku. Alhamdulillah, judul skripsiku lolos untuk menerima beasiswa. I-MHere namanya. Uang sebesar lima juta aku kantongi, sejumlah sekian terlalu banyak untuk kebutuhanku selama menulis skripsi. Hingga gelar Sarjana Pendidikan mengekor di belakang namaku, uang itu masih banyak tersisa. Namun, lama-kelamaan uang itu mulai habis. Mau minta kepada orangtua, gengsiku terlalu tinggi. Cukup aku menggantungkan kebutuhanku kepada mereka selama di bangku kuliah saja. Sekarang saatnya aku mandiri.
Baru seminggu aku menikmati pekerjaan sebagai calon pewarta, tiba-tiba ada tawaran yang menggiurkan dari sebuah organisasi/LSM yang cukup menarik perhatianku. Di sana para Jurnalis Independen, jurnalis yang mengikuti kode etik jurnalistik. Tapi, aku bukan ditawari untuk menjadi jurnalis, melainkan untuk menjadi staf. gaji per bulan mereka tawarkan, aku 'nggak neko-neko'. langsung aku terima tawaran itu, aku pun bersiap untuk terbang ke Semarang untuk mengikuti pelatihan Keuangan. Yes, aku jalan-jalan lagi.
Aku memilih untuk resign dari pekerjaan pertamaku. Apa sebab? Apalagi kalau bukan uang. Aku mesti banting stir untuk memenuhi kebutuhanku dan ambisiku untuk membantu orangtua begitu menggebu-gebu. Aku korbankan kesenanganku atas pekerjaanku. Kenapa tidak, bekerja menjadi seorang jurnalis salah satu impianku. Hanya seminggu aku lakoni, terlalu banyak manfaat dan pengalaman yang aku dapatkan. Berita-beritaku cukup mendapat pujian dari para redakturku. Hingga, ketika aku memilih resign, melalui seniorku yang juga bekerja di sana sempat mereka berniat untuk menempatkan aku di posisi redaktur. Tentu butuh proses. Terlepas benar atau tidak dari yang mereka bicarakan, sedikit aku bangga, ternyata pengalaman singkatku di sana tak sia-sia. Alhamdulillah pekerjaanku mereka hargai.
Lepas dari kesibukan sebagai calon pewarta, aku sibuk dengan beragam program di LSM tempat aku bekerja. Di posisi admin n finance staff di LSM tersebut. Selama bekerja disini, aku banyak bertemu orang-orang hebat. Tokoh-tokoh jurnalistik. Begitu mudah aku berinteraksi dengan mereka. Ya, aku menyenangi pekerjaan ini, aku berkumpul dengan orang-orang hebat. Orang-orang berkarakter. Diskusi dan banyak pelajaran aku dapatkan selama bekerja. Tapi, kembali ke masalah sebelumnya, aku masih saja belum bisa berbuat banyak untuk orang tua dan keluargaku. Bekerja di LSM yang menggantungkan kelangsungan lembaganya dari donatur, tak membuat aku bisa bertahan. Aku mulai putar arah, kemana aku akan berpindah. Cukup pekerjaan sebelumnya jadi pijakan untukku melangkah lebih jauh dan lebih baik, Insyaallah.
Akhirnya aku memutuskan untuk merantau dan bekerja di sebuah perusahaan. Sekarang aku berada di sini. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sewa atau jual alat berat. Nah, di sini cita-cita merantauku berawal. Sedari mau selesai kuliah aku sudah punya ancang-ancang untuk merantau. Melalui salah seorang teman di situs pertemanan dengan enteng aku meminta dicarikan pekerjaan. ternyata itu teman serius, dia selalu mengupdate info mengenai pekerjaan di daerahnya, Palangkaraya. Kalimantan, hm.. salah satu pulau yang ingin aku kunjungi. Setelah meeyakinkan diriku bahwa dia adalah seorang teman yang baik dan benar-benar berniat untuk membantu, akhirnya aku pulang kampung, membulatkan tekad untuk menjemput izin dari kedua orangtuaku. Tapi semua di luar rencana, kedua orangtuaku menolak mentah-mentah inginku. Mengapa terlalu jauh merantau nak, di negeri kita pun kamu bisa mendapat pekerjaan. Aku pun jawab, terlalu lama dan butuh waktu untuk mendapatkan pekerjaan di sini Mak, Ma. Aku ingin segera bekerja. Ingin membantu biaya pendidikan adik-adik. Aku punya 3 adik perempuan. Aku ingin mereka semua sekolah yang tinggi. Aku tak mau mereka menjadi perempuan yang miskin ilmu. Karena aku yakin tingkat pendidikan seseorang mampu merubah cara berfikir mereka. Bukannya aku menyangsikan kemampuan orangtuaku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan adik-adikku, tapi aku tak ingin orangtuaku terus banting tulang bahkan membuat hutang untuk memenuhi kebutuhan adik-adikku.
==Masih kental di ingatanku percakapan antara aku dengan emakku. Kira-kita setengah tahun jelang wisudaku, emakku berkeluh. Segeralah selesaikan kuliahmu, nak. Emak sudah tidak sanggup lagi menguliahkanmu, emak sudah berhutang ke orang lain. Selesai kuliah, segera kamu bekerja dan mudah-mudahan kamu bisa membayar utang emak. Ucap emakku, lirih. Sewaktu itu, aku tengah makan siang, berdua saja dengan emak. Mendengar keluhan emak, aku tercekat, kerongkonganku menyempit, nasi beserta lauk yang awalnya begitu enak terasa tiba-tiba enggan melalui tenggorokanku. Air mata menggenang di sudut bola mataku. Kupalingkan wajahku. Setelahnya, aku hanya menjawab, iya mak. Singkat saja. Segera kusudahi makan enak itu. Sudahlah, itu cukup menjadi penyemangatku untuk segera menyelesaikan kuliahku waktu itu. Selama empat tahun, Alhamdulillah cukup untukku menimba ilmu di perguruan tinggi yang kucinta itu.==
Kembali ke keinginan merantauku. Mendengar alasanku demikian, orangtuaku tenggelam dalam keheningan. Mereka sejenak terdiam. Air mataku pun tak terbendung lagi. Izinkahlah aku Mak, Pa, untuk pergi merantau untuk meraih impianku. Impian yang tak lain tak bukan adalah berbakti kepada kalian, orangtuaku. Bulir Bening kembali tumpah dari mataku. Ternyata, air mataku tak mampu meluluhkan pendirian kedua orangtuaku.
Ayahku pun buka suara. Tak ada cerita merantau jauh-jauh nak. Kalau kamu hendak merantau, jangan terlalu jauh. Cukup di dua pulau saja, Sumatera dan Jawa. Kalau memang begitu teguhnya keinginanmu untuk merantau. Kami bukan karena apa-apa. coba pikirkan, apa kata orang nanti, anak gadis dilepas begitu saja ke negeri orang yang sejauh itu, tanpa ada sanak keluarga di sana. Selain itu, andai kata nanti kamu sakit, atau kami di rumah yang sakit, bagaimana kita hendak bersua. Negeri itu terlalu jauh nak.
Mendengar alasan mereka aku pun tak mampu lagi meminta. Aku terdiam, dengan air mata yang masih juga belum terbendung. Setelah pembicaraan itu, aku meninggalkan orang tuaku. Pergi untuk tidur, namun mata ini tak kunjung terpejam. Aku ingat akan kebaikan hati seorang teman nun jauh di sana. Dia begitu berbaik hati mencarikan pekerjaan untukku. Dia sudah menyiapkan pekerjaan untukku, bekerja di sebuah media tapi aku bukan ditempatkan sebagai jurnalis melainkan sebagai staff. Temanku itupun punya alasan kenapa aku tidak ditempatkan di posisi jurnalis, karena katanya dia tahu aku perempuan, cukup beresiko kalau turun ke lapangan untuk mencari berita. Baiknya dia. Tapi, pikiranku ini terlalu positif. Orang-orang disekitarku mengkhawatirkan kebaikan dia.
Mereka beralasan, tak usah percaya kepada dia. Siapa yang tahu maksudnya nanti seperti apa. Nanti malahan aku terjebak oleh rayuannya. Banyak yang berprasangka demikian. Tapi tidak dengan prasangkaku. Aku sudah mempelajarinya, melalui profilnya di halaman pertemanan itu, dan selama percakapanku dengan dia, tak ada yang melenceng menurutku. Bahkan, hingga soal tempat tinggalku di sanapun dia pikirkan. Menurut dia, nanti aku di sana tinggal di rumah sewa yang lingkungannya aman. Karena, aku perempuan, alasan dia lagi. Baiknya dia.
Sejak penolakan permintaanku terhadap kedua orangtuaku untuk merantau, aku mesti berfikir lebih jauh. Apa yang mesti aku perbuat. Apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha untuk tidak membenci orangtuaku, karena aku tau mereka masih cukup trauma dengan pengalaman kakak sulungku yang meninggal di negeri rantau. Kejadian ini terlalu memukul perasaan keluarga kami, termasuk kakak perempuan keduaku, yang memilih bungkam semenjak aku punya ancang-ancang untuk merantau ke negeri Kalimantan. Dia tak pernah mau membahas, dan tak mau tau dengan rencanaku itu. Dibalik diamnya itu, aku mulai mengerti, mereka semua sungguh menyayangiku, sungguh mengkhawatirkanku.
Temanku nun jauh di sana pun menelponku. dari ujung telpon dia bertanya, bagaimana, jadi ke sini? tanya dia. Aku terdiam. Kenapa, tidak dapat izin? Aku mengiyakan. Aku tak mampu meyakinkan orangtuaku, Aku tak mengantongi izin dari mereka. Temanku pun diam. Lalu dia bertanya lagi. Bagaimana caranya agar orangtuamu beri izin? Aku menyerah, jawabku. Cobalah sekali lagi kamu bicara kepada orangtuamu, kalau mereka tidak izin jua, bagaimana kalau aku ngomong langsung dengan orangtuamu, mudah-mudahan mereka mengerti. Aku tersenyum, senyum yang tentunya tak dia lihat. Baiklah, nanti aku coba lagi. Namun usahaku tetap saja sia-sia, orangtuaku semakin keras untuk melarang keinginanku. Aku tak patah arang, aku telpon kakak laki-laki yang satu-satunya aku miliki. Aku minta izin untuk pergi merantau, aku pinjam uangnya untuk berangkat dan sedikit simpanan untuk biaya awalku di sana. Kakak laki-lakiku dari ujung telepon memberi izin, mungkin dia cukup mengerti dengan alasanku dan sedikit mempercayaiku. Tapi, izin saja tidak cukup, kakakku tak punya uang untuk dipinjami kepada aku. Dia mengatakan, bahwa dia hidup pas-pasan dengan gaji seadanya, jadi tak ada yang bisa dia usahakan.
Aku sudahi pembicaraan via telpon itu, akupun kembali termangu. Ya sudah, berarti memang belum takdirku untuk merantau, belum jalanku untuk menunjukkan kepada orangtuaku bahwa aku benar-benar ingin mengadu nasib di negeri orang. Kembali, temanku nun jauh di sana menelpon. dia menanyakan apakah aku sudah diberi izin. Aku menjawab tidak akan ada izin dari orangtuaku. Ya sudah, tak usah pikirkan lagi, kataku kepadanya. Temanku pun membalas dengan mengatakan kalau begitu, apabila kamu sudah dapat izin, jangan lupa kabari aku, akan aku bantu. Ridho Allah juga ridho orangtua, katanya menasihatiku. Semoga kamu sukses dan segera dapat pekerjaan katanya kepadaku lagi.
Begitu baik kamu teman, terbanglah terus Sang Elang Hitam. Sukses selalu untukmu. :)
rukan panggung, 07 March 2011, 4.22 PM
Seorang teman sesama bekerjaku bilang, tak usah kirim dulu pulang, penuhi kebutuhan kamu dulu, aku hanya merespon dengan senyum palsu. Aku membatin, kenapa aku mesti jauh-jauh mencari uang ke negeri orang kalau aku tak mengabdikan jerih payahku untuk keluargaku. Dari awal, kebulatan tekadku merantau hanya untuk mencari uang, mencari uang bukan untuk kesenanganku, melainkan untuk keluargaku. Aku hanya ingin mengabdi kepada kedua orang tuaku.Tak ada yang dapat aku perbuat untuk membalas jasa orangtuaku melainkan dengan cara ini.
Aku lepaskan keinginanku untuk menjadi jurnalis. Jurnalis menurutku adalah profesi yang begitu mulia. Kenapa tidak, melalui Jurnalis masyarakat mampu menyerap informasi. Jurnalis itu ibarat ilmu berjalan. Awalnya aku sudah memulai bekerja di salah satu biro lembaga kantor berita nasional di provinsiku. Meski baru berstatus calon pewarta, aku senang. Senang menjalani rutinitas. Tapi ada daya, aku merasa apa guna aku menjalani pekerjaan yang aku senangi sementara aku belum bisa berbuat apa-apa untuk orangtuaku. Kian kemari liputan, wawancara sana-sini, cukup menguras energi dan materi. Keuanganku mulai menipis. Selama bekerja aku mengandalkan uang beasiswa skripsiku. Alhamdulillah, judul skripsiku lolos untuk menerima beasiswa. I-MHere namanya. Uang sebesar lima juta aku kantongi, sejumlah sekian terlalu banyak untuk kebutuhanku selama menulis skripsi. Hingga gelar Sarjana Pendidikan mengekor di belakang namaku, uang itu masih banyak tersisa. Namun, lama-kelamaan uang itu mulai habis. Mau minta kepada orangtua, gengsiku terlalu tinggi. Cukup aku menggantungkan kebutuhanku kepada mereka selama di bangku kuliah saja. Sekarang saatnya aku mandiri.
Baru seminggu aku menikmati pekerjaan sebagai calon pewarta, tiba-tiba ada tawaran yang menggiurkan dari sebuah organisasi/LSM yang cukup menarik perhatianku. Di sana para Jurnalis Independen, jurnalis yang mengikuti kode etik jurnalistik. Tapi, aku bukan ditawari untuk menjadi jurnalis, melainkan untuk menjadi staf. gaji per bulan mereka tawarkan, aku 'nggak neko-neko'. langsung aku terima tawaran itu, aku pun bersiap untuk terbang ke Semarang untuk mengikuti pelatihan Keuangan. Yes, aku jalan-jalan lagi.
Aku memilih untuk resign dari pekerjaan pertamaku. Apa sebab? Apalagi kalau bukan uang. Aku mesti banting stir untuk memenuhi kebutuhanku dan ambisiku untuk membantu orangtua begitu menggebu-gebu. Aku korbankan kesenanganku atas pekerjaanku. Kenapa tidak, bekerja menjadi seorang jurnalis salah satu impianku. Hanya seminggu aku lakoni, terlalu banyak manfaat dan pengalaman yang aku dapatkan. Berita-beritaku cukup mendapat pujian dari para redakturku. Hingga, ketika aku memilih resign, melalui seniorku yang juga bekerja di sana sempat mereka berniat untuk menempatkan aku di posisi redaktur. Tentu butuh proses. Terlepas benar atau tidak dari yang mereka bicarakan, sedikit aku bangga, ternyata pengalaman singkatku di sana tak sia-sia. Alhamdulillah pekerjaanku mereka hargai.
Lepas dari kesibukan sebagai calon pewarta, aku sibuk dengan beragam program di LSM tempat aku bekerja. Di posisi admin n finance staff di LSM tersebut. Selama bekerja disini, aku banyak bertemu orang-orang hebat. Tokoh-tokoh jurnalistik. Begitu mudah aku berinteraksi dengan mereka. Ya, aku menyenangi pekerjaan ini, aku berkumpul dengan orang-orang hebat. Orang-orang berkarakter. Diskusi dan banyak pelajaran aku dapatkan selama bekerja. Tapi, kembali ke masalah sebelumnya, aku masih saja belum bisa berbuat banyak untuk orang tua dan keluargaku. Bekerja di LSM yang menggantungkan kelangsungan lembaganya dari donatur, tak membuat aku bisa bertahan. Aku mulai putar arah, kemana aku akan berpindah. Cukup pekerjaan sebelumnya jadi pijakan untukku melangkah lebih jauh dan lebih baik, Insyaallah.
"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelahlah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang"--Imam Syafii
Akhirnya aku memutuskan untuk merantau dan bekerja di sebuah perusahaan. Sekarang aku berada di sini. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sewa atau jual alat berat. Nah, di sini cita-cita merantauku berawal. Sedari mau selesai kuliah aku sudah punya ancang-ancang untuk merantau. Melalui salah seorang teman di situs pertemanan dengan enteng aku meminta dicarikan pekerjaan. ternyata itu teman serius, dia selalu mengupdate info mengenai pekerjaan di daerahnya, Palangkaraya. Kalimantan, hm.. salah satu pulau yang ingin aku kunjungi. Setelah meeyakinkan diriku bahwa dia adalah seorang teman yang baik dan benar-benar berniat untuk membantu, akhirnya aku pulang kampung, membulatkan tekad untuk menjemput izin dari kedua orangtuaku. Tapi semua di luar rencana, kedua orangtuaku menolak mentah-mentah inginku. Mengapa terlalu jauh merantau nak, di negeri kita pun kamu bisa mendapat pekerjaan. Aku pun jawab, terlalu lama dan butuh waktu untuk mendapatkan pekerjaan di sini Mak, Ma. Aku ingin segera bekerja. Ingin membantu biaya pendidikan adik-adik. Aku punya 3 adik perempuan. Aku ingin mereka semua sekolah yang tinggi. Aku tak mau mereka menjadi perempuan yang miskin ilmu. Karena aku yakin tingkat pendidikan seseorang mampu merubah cara berfikir mereka. Bukannya aku menyangsikan kemampuan orangtuaku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan adik-adikku, tapi aku tak ingin orangtuaku terus banting tulang bahkan membuat hutang untuk memenuhi kebutuhan adik-adikku.
==Masih kental di ingatanku percakapan antara aku dengan emakku. Kira-kita setengah tahun jelang wisudaku, emakku berkeluh. Segeralah selesaikan kuliahmu, nak. Emak sudah tidak sanggup lagi menguliahkanmu, emak sudah berhutang ke orang lain. Selesai kuliah, segera kamu bekerja dan mudah-mudahan kamu bisa membayar utang emak. Ucap emakku, lirih. Sewaktu itu, aku tengah makan siang, berdua saja dengan emak. Mendengar keluhan emak, aku tercekat, kerongkonganku menyempit, nasi beserta lauk yang awalnya begitu enak terasa tiba-tiba enggan melalui tenggorokanku. Air mata menggenang di sudut bola mataku. Kupalingkan wajahku. Setelahnya, aku hanya menjawab, iya mak. Singkat saja. Segera kusudahi makan enak itu. Sudahlah, itu cukup menjadi penyemangatku untuk segera menyelesaikan kuliahku waktu itu. Selama empat tahun, Alhamdulillah cukup untukku menimba ilmu di perguruan tinggi yang kucinta itu.==
Kembali ke keinginan merantauku. Mendengar alasanku demikian, orangtuaku tenggelam dalam keheningan. Mereka sejenak terdiam. Air mataku pun tak terbendung lagi. Izinkahlah aku Mak, Pa, untuk pergi merantau untuk meraih impianku. Impian yang tak lain tak bukan adalah berbakti kepada kalian, orangtuaku. Bulir Bening kembali tumpah dari mataku. Ternyata, air mataku tak mampu meluluhkan pendirian kedua orangtuaku.
Ayahku pun buka suara. Tak ada cerita merantau jauh-jauh nak. Kalau kamu hendak merantau, jangan terlalu jauh. Cukup di dua pulau saja, Sumatera dan Jawa. Kalau memang begitu teguhnya keinginanmu untuk merantau. Kami bukan karena apa-apa. coba pikirkan, apa kata orang nanti, anak gadis dilepas begitu saja ke negeri orang yang sejauh itu, tanpa ada sanak keluarga di sana. Selain itu, andai kata nanti kamu sakit, atau kami di rumah yang sakit, bagaimana kita hendak bersua. Negeri itu terlalu jauh nak.
Mendengar alasan mereka aku pun tak mampu lagi meminta. Aku terdiam, dengan air mata yang masih juga belum terbendung. Setelah pembicaraan itu, aku meninggalkan orang tuaku. Pergi untuk tidur, namun mata ini tak kunjung terpejam. Aku ingat akan kebaikan hati seorang teman nun jauh di sana. Dia begitu berbaik hati mencarikan pekerjaan untukku. Dia sudah menyiapkan pekerjaan untukku, bekerja di sebuah media tapi aku bukan ditempatkan sebagai jurnalis melainkan sebagai staff. Temanku itupun punya alasan kenapa aku tidak ditempatkan di posisi jurnalis, karena katanya dia tahu aku perempuan, cukup beresiko kalau turun ke lapangan untuk mencari berita. Baiknya dia. Tapi, pikiranku ini terlalu positif. Orang-orang disekitarku mengkhawatirkan kebaikan dia.
Mereka beralasan, tak usah percaya kepada dia. Siapa yang tahu maksudnya nanti seperti apa. Nanti malahan aku terjebak oleh rayuannya. Banyak yang berprasangka demikian. Tapi tidak dengan prasangkaku. Aku sudah mempelajarinya, melalui profilnya di halaman pertemanan itu, dan selama percakapanku dengan dia, tak ada yang melenceng menurutku. Bahkan, hingga soal tempat tinggalku di sanapun dia pikirkan. Menurut dia, nanti aku di sana tinggal di rumah sewa yang lingkungannya aman. Karena, aku perempuan, alasan dia lagi. Baiknya dia.
Sejak penolakan permintaanku terhadap kedua orangtuaku untuk merantau, aku mesti berfikir lebih jauh. Apa yang mesti aku perbuat. Apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha untuk tidak membenci orangtuaku, karena aku tau mereka masih cukup trauma dengan pengalaman kakak sulungku yang meninggal di negeri rantau. Kejadian ini terlalu memukul perasaan keluarga kami, termasuk kakak perempuan keduaku, yang memilih bungkam semenjak aku punya ancang-ancang untuk merantau ke negeri Kalimantan. Dia tak pernah mau membahas, dan tak mau tau dengan rencanaku itu. Dibalik diamnya itu, aku mulai mengerti, mereka semua sungguh menyayangiku, sungguh mengkhawatirkanku.
Temanku nun jauh di sana pun menelponku. dari ujung telpon dia bertanya, bagaimana, jadi ke sini? tanya dia. Aku terdiam. Kenapa, tidak dapat izin? Aku mengiyakan. Aku tak mampu meyakinkan orangtuaku, Aku tak mengantongi izin dari mereka. Temanku pun diam. Lalu dia bertanya lagi. Bagaimana caranya agar orangtuamu beri izin? Aku menyerah, jawabku. Cobalah sekali lagi kamu bicara kepada orangtuamu, kalau mereka tidak izin jua, bagaimana kalau aku ngomong langsung dengan orangtuamu, mudah-mudahan mereka mengerti. Aku tersenyum, senyum yang tentunya tak dia lihat. Baiklah, nanti aku coba lagi. Namun usahaku tetap saja sia-sia, orangtuaku semakin keras untuk melarang keinginanku. Aku tak patah arang, aku telpon kakak laki-laki yang satu-satunya aku miliki. Aku minta izin untuk pergi merantau, aku pinjam uangnya untuk berangkat dan sedikit simpanan untuk biaya awalku di sana. Kakak laki-lakiku dari ujung telepon memberi izin, mungkin dia cukup mengerti dengan alasanku dan sedikit mempercayaiku. Tapi, izin saja tidak cukup, kakakku tak punya uang untuk dipinjami kepada aku. Dia mengatakan, bahwa dia hidup pas-pasan dengan gaji seadanya, jadi tak ada yang bisa dia usahakan.
Aku sudahi pembicaraan via telpon itu, akupun kembali termangu. Ya sudah, berarti memang belum takdirku untuk merantau, belum jalanku untuk menunjukkan kepada orangtuaku bahwa aku benar-benar ingin mengadu nasib di negeri orang. Kembali, temanku nun jauh di sana menelpon. dia menanyakan apakah aku sudah diberi izin. Aku menjawab tidak akan ada izin dari orangtuaku. Ya sudah, tak usah pikirkan lagi, kataku kepadanya. Temanku pun membalas dengan mengatakan kalau begitu, apabila kamu sudah dapat izin, jangan lupa kabari aku, akan aku bantu. Ridho Allah juga ridho orangtua, katanya menasihatiku. Semoga kamu sukses dan segera dapat pekerjaan katanya kepadaku lagi.
Begitu baik kamu teman, terbanglah terus Sang Elang Hitam. Sukses selalu untukmu. :)
rukan panggung, 07 March 2011, 4.22 PM







