Tampilkan postingan dengan label tontonan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tontonan. Tampilkan semua postingan

Lima Huruf Saja, BATAS

 
Satu lagi, film lokal yang menarik perhatian saya. Lumayan membuat penasaran. Sebuah film dengan tema kehidupan sosial masyarakat di daerah perbatasan. Selain tema yang baru, film ini juga menarik menurut saya karena dibintangi oleh pemain-pemain senior. Seperti Piet Pagau dan Jajang C. Noer. Tentu, tak perlu diragukan lagi kemampuan akting artis gaek ini.

Judul film ini hanya terdiri dari lima huruf. BATAS. Singkat saja. Tapi makna yang disuguhkan tak sesingkat kata itu saja. Batas yang dimaksud dalam film ini bukan hanya memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di perbatasan, tetapi juga menceritakan tentang bagaimana seorang manusia harus menghadapi masalah yang dihadapi dari lingkungan sekitar dan mencoba melewati batasan yang ada dalam dirinya sendiri.



Batas merupakan sebuah film layar lebar yang terinspirasi dari problematika dan dinamika kehidupan sosial masyarakat desa yang berada di wilayah Entikong, Kalimantan Barat. Entikong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Entikong memiliki jalur perbatasan darat dengan negara Malaysia khususnya Serawak sehingga jalur darat sering disebut jalur sutera karena bisa dilewati langsung oleh bus baik dari Indonesia maupun dari Malaysia tanpa harus menyebrangi sungai maupun laut.


Film yang disutradarai Rudi Sudjarwo ini bercerita mengenai seseorang yang berdiri diantara batas keraguan, dilema, dan juga antara keinginan pribadi dengan adaptasi di lingkungan yang baru. Sebuah film yang memperlihatkan bahwa batas tak hanya bermakna geografis, namun juga psikologis.

Marcella Zalianty, sang produser sekaligus memerankan tokoh Jaleswari, pemeran utama dalam film yang baru tayang sejak 19 Mei lalu. Berperan sebagai Jaleswari, perempuan yang tengah hamil muda diutus oleh perusahaannya dalam rangka menyelesaikan permasalahan program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan. Program pendidikan di wilayah perbatasan tak pernah berhasil. Setiap guru yang dikirimkan tak pernah bertahan lama. Terlalu banyak tekanan bagi kaum pendatang untuk bertahan di beranda depan negeri ini.

Saatnya Jaleswari membuktikan bahwa ia mampu merubah pendidikan anak negeri perbatasan tersebut. Ia tak gentar dengan perlakuan sekelompok orang yang tak senang dengan kedatangannya. Ia mesti melampaui batas keberaniannya. Ia bertekad membawa anak-anak perbatasan mendapatkan pendidikan layak agar mereka mampu menjalani hidup dengan lebih baik. Karena itu, dengan kepercayaan diri tinggi, Jaleswari menyatakan kesanggupan mengeksplorasi daerah perbatasan Kalimantan itu dan menjanjikan penyelesaian masalah dalam dua minggu.

Namun, permasalahan tak sesederhana dugaannya. Masyarakat lebih memilih jadi tenaga kerja yang dijanjikan akan meraih kekayaan oleh penjual jasa bernama Otig (Otig Pakis). Salah satu korbannya bernama Ubuh (Ardina Rasti), buruh migran Indonesia yang menjadi korban ketidakadilan dan melarikan diri dari negeri tetangga.

Otig adalah salah seorang penduduk negeri perbatasan yang tidak menyukai kehadirannya. Bermacam teror dihadapkan kepada Jaleswari untuk mengusirnya dari kampung tersebut. Namun, tekad Jaleswari semakin bulat. Tak akan meninggalkan kampung tersebut sebelum misinya selesai. Tak dipungkiri berbagai konflik selama di kampung Entikong juga membuat Jaleswari merasa terguncang.

Saat inilah kepala suku yang dipanggil 'Panglima' (Piet Pagau) membantu menuntun Jaleswari untuk  memahami 'Bahasa Hutan' agar ia lebih memahami lingkungan. Dan lebih tegar untuk terus berbuat banyak untuk penduduk Entikong. Di sini akting Piet Pagau sangat memukau. Kharisma ia sebagai 'Panglima' sangat menonjol. Dialeg daerah begitu kental.

Tak hanya Piet Pagau dan Jajang C. Noer (Nawara) , film ini juga menghadirkan Arifin Putra (Arif), Perwira Intelijen yang bertugas menjaga daerah perbatasan. Juga, pendatang baru Marcell Domit (Adeus) dan Alifyandra (Borneo). Adeus adalah satu-satunya guru pribumi yang sudah mulai putus asa untuk mendidik anak-anak kampung. Ia dihantui rasa takut karena terus-menerus menerima teror dari Otig. Maka, semangat itu kembali timbul setelah perjuangan yang dibuktikan oleh Jaleswari. Sementara, Borneo adalah salah seorang murid Adeus. Cucu dari Nawara dan 'Panglima'. Borneo adalah salah satu wajah yang berada di wilayah terdepan garis batas Indonesia.  Ia bercita-cita menjadi presiden dan bertekad akan membela negerinya dari ancaman apapun.

Dalam film produksi Keana Production ini, penonton akan diajak membuka mata terhadap konflik daerah perbatasan, salah satu hal yang jadi masalah nyata republik ini. Dengan disutradarai Rudi Soedjarwo, sineas yang dikenal kalau membuat film dengan sederhana, maka film ini layak diterima oleh seluruh kalangan penonton. Mudah untuk dipahami. Semoga menambah kecintaan generasi kita pada negeri. Meskipun harus melampui batas-batas hidup ini.***
-cast crew-

The Hole, Sederhana nan Berkelas

Saya sama sekali tak suka menonton film horror. Apalagi buatan Lokal. Film murahan (maaf..), demikian saya menilai. Dengan budget tak seberapa, mengandalkan hanya satu lokasi syuting saja (gedung tua, misalnya) dan menghadirkan para bintang seksi untuk menarik perhatian penonton. Tentu, penonton tertentu saja. Selain 'murahan' dari segi budget, film horror lokal juga 'murahan' dari segi ide. Mulai dari hantu keramas, hingga hantu kesurupan. Sudahlah hantu, kesurupan pula. Apa pula itu?? Benar-benar jauh dari logika.

Ah sudahlah, tak perlu dilanjutkan. Sekarang saya sedikit akan bercerita tentang film yang sudah saya tonton Sabtu (14/5) lalu. Menyesuaikan jadwal kedatangan kami (saya dan 'kakak') ke Cinema 21, hanya ada dua pilihan. The Hole (horror/barat) dan Purple Love (drama cinta/lokal). Hm.. yang satu horror, yang satu lagi cinta-cintaan. Setelah menimbang dan memperhatikan (cie..) akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada The Hole. Mudah-mudahan horror bikinan orang bule ini tak mengecewakan. Seat E/6 hari itu menjadi tempat duduk saya, di sebelahnya E/7 si 'kakak' (Apa pentingnya saya tulis ini ya? he..)

Check this out..!!



Genre            : Horror
Director         : Joe Dante
Script            : Mark L. Smith, Guillermo Del Toro
Producer       : Claudio Fäh, Michel Litvak, Vicki Sotheran, David Lancaster
Distributor     : Bold Films
Duration        : 98 minutes
   


Berpindah-pindah ke tempat baru bagi sebagian orang memang tak selalu menyenangkan. Apalagi perpindahan tersebut adalah perpindahan sebuah keluarga. Perlu waktu untuk berdamai dengan situasi yang baru bagi masing-masing anggota keluarga. Harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru. Semuanya terasa menjengkelkan.

Namun tak selamanya berpindah-pindah itu tak menyenangkan. Ada juga perpindahan yang mengantarkan kita ke sebuah petualangan baru, pun tak semua petualangan berakhir menyenangkan. Dane (Chris Massoglia) dan Lucas (Nathan Gambl) mau tak mau harus pasrah saat ibu mereka memboyong mereka untuk pindah dari New York ke sebuah kota kecil bernama Bensonville. Buat Dane, tak ada yang menarik dari kota kecil ini. Tapi, ada Julie Campbell (Haley Bennett), perempuan yang tinggal tepat di sebelah rumah baru mereka. Julie juga yang akan menjadi teman bertualang Dane dan Lucas untuk mengungkap misteri yang akan mereka temui di rumah baru.

Saat Dane, Lucas, dan Julie mencoba mencari kesenangan dengan menjelajahi rumah baru ini, mereka menemukan sebuah lubang! Lubang yang terkunci rapat ini sepertinya sengaja disembunyikan. Kalau saja mereka tak teliti, bisa jadi lubang di dasar rumah mereka ini memang tak pernah mereka temukan. Saat dibuka, lubang ini sudah mengundang sejuta misteri. Tak ada cara untuk mengetahui apa yang ada di dasar lubang gelap ini selain turun langsung dan sepertinya satu-satunya cara ini justru adalah cara yang paling mengerikan dari semua cara.

Untuk menelusuri misteri lubang ini, Dane, Lucas dan Julie telah mencoba berbagai cara. Mulai dari memasukkan benda-benda, berteriak sekuat tenaga seakan memanggil penghuni lubang tersebut. Tapi, semuanya lenyap. Benda yang dijatuhkan, suara yang diteriakkan, lenyap. Lenyap ditelan dalamnya lubang yang tak terkira itu. Akhirnya ada saja peristiwa yang memaksa Dane untuk masuk ke lubang itu. Waktu itu, Lucas diterkam dan diseret oleh pria misterius--yang akhirnya ketahuan bahwa itu adalah ayah mereka-- ke lubang tersebut. Seketika Lucas lenyap. Merasa dirinya bertanggung jawab atas keselamatan adiknya, Dane nekat meninggalkan Julie di ruang bawah tanah rumahnya dan secepat kilat ia masuk ke lubang tersebut.

Saat itulah Dane mengalahkan rasa takutnya. Di dalam lubang itulah ia mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan Lucas. Dane mesti mengalahkan kegarangan ayahnya yang sangat amat kejam. Sejak kecil Dane bersama adik dan ibunya telah ditinggal oleh ayahnya. Sosok Ayah Dane benar-benar misterius. Ukuran tubuh yang tak lazim--raksasa-- dan wajah yang mengerikan. Entah kenapa pula, ayah Dane selalu menghantui kemana pun mereka pindah dan menganiaya anaknya.Ya, Pertempuran ayah dan anak itu berakhir ketika Dane berhasil mengalahkan ayahnya. Selama ini Dane hanya memilih lari ketika dianiaya oleh ayahnya, tapi tidak untuk kali ini. Ia benar-benar menunjukkan bahwa tak ada yang ia takutkan lagi. Sekalipun harus melawan ayahnya. Itu semua ia lakukan untuk menyelamatkan Lucas dan bertanggung jawab atas keselamatan adiknya.Berhasilnya Dane mengalahkan rasa takutnya, maka ia berhasil pula keluar dari perangkap lubang misterius itu bersama adiknya, Lucas. Seketika itu pula, lubang itu tertutup. Lubang penuh misteri itu lenyap.

Tema film yang digarap Joe Dante ini memang cukup sederhana. Tak ada hantu yang mengerikan, tak ada pula kisah sadis yang berlebihan. Film horror nan berkelas. Drama keluarga, romantisme dan humor mampu menghibur sekaligus memberikan edukasi kepada penonton. Khususnya kepada kalangan anak-anak. Tak perlu menyimpan rasa takut berlebihan, setiap kita punya kesempatan untuk bertualang untuk mengobati rasa penasaran. Sang sutradara tahu bahwa kalangan anak-anak dan keluarga adalah pangsa pasar utama film ini, ia lebih memilih untuk menceritakan kisahnya dengan santai pada awal film, seperti kejenakaan Lucas yang sering menggoda Dane dan tetangga sebelah rumah. Setelahnya baru secara perlahan, Dante membangun intensitas cerita dan menghantarkan satu persatu ketegangannya dengan baik. Sound dan gambar sangat mendukung. Apalagi gambar ketika Dane terlempar jauh ke dalam lubang misterius ketika hendak menyelamatkan Lucas. Seolah membawa penonton juga ikut terlempar ke lubang yang entah berapa kedalamannya itu.

Yang jelas, alur kisah yang disuguhkan pada film ini cukup logis sehingga penonton pun bisa dengan mudah menerima fantasi sepanjang film ini. Akting dan dialog para pemain pun terkesan alami dan mampu dicerna oleh semua kalangan penonton, anak-anak hingga dewasa. Jadi, tak ada salahnya para orang tua untuk mengajak anak mereka untuk menonton The Hole. 

Selain berbagai kelebihan yang disuguhkan Dante pada film garapannya ini, tema The Hole memang bukanlah suatu yang baru. Mungkin banyak juga beberapa film hampir serupa. Hanya saja, ketika sebuah film tema sederhana digarap dengan hebat, maka hasilnya akan menjadi luar biasa.***

Demikian catatan saya tentang The Hole, film ini tak mengecewakan, menghibur dan membelajarkan. Selamat menonton.

Eh, Sinetron…

Untuk kali ini saya begitu tergila-gila untuk menonton sinetron. Ops, tunggu dulu. Tak sembarang sinetron yang saya tonton. Setelah muak dengan suguhan sinetron yang alangkah banyaknya di beberapa stasiun tv swasta di negeri ini, terutama R***, akhirnya saya menemukan juga salah satu sinetron yang menurut saya tak ada kelirunya apabila saya ikut menonton. (he.. kalimat yang bikin bingung).

Merujuk ke berbagai sinetron yang mereka (stasiun tv) tayangkan selama ini, menurut saya tak ada manfaatnya sedikitpun untuk ditonton. Yang ada hanyalah drama kelebayan dan berbagai alur cerita yang tak masuk di akal. Tak jarang mulut saya turut mengumpat ketika melihat adegan demi adegan dari sinetron yang mereka tayangkan. Daripada saya mengumpat, baiklah saya putuskan pada waktu tertentu saya tidak akan menyetel stasiun tv yang sudah ada dalam blacklist saya.

Nah, kali ini sinetron apakah yang tengah membuat saya tergila-gila? Ah, macam apa sajalah sinetron ini, sehingga membuat saya tergila-gila. Hm, tak lain dan tak bukan sinetron yang saya maksud adalah Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Menurut saya, inilah sinetron terbaik untuk saat ini. Itu kan menurut saya, tak tau pula saya bagaimana pendapat Anda. He..
Bagi saya yang awam tentang dunia perfilman, persinetronan, ataupun pertontonan, sinetron KCB cukup memberi arti dalam setiap episodenya. Baiklah, saya tidak akan berlama-lama mengomentari sinetron ini. Namun, di halaman ini saya akan coba menguraikan apa saja yang dapat dipetik dari setiap karakter dan akting tiap lakon di sinetron ini.

Pertama, Ustadz Azzam. Untuk selanjutnya, Azzam saja saya menyebutnya. Dari sosok Azzam saya jadi tahu bagaimana tanggung jawab seorang laki-laki di dalam keluarganya. Ia mampu memimpin keluarganya dan adik-adiknya tentunya. Azzam juga mempunyai kelapangan hati yang sangat ketika ia dihadapkan dengan masalah apapun. Ia tak pernah kelihatan begitu panik, hanya saja ada sedikir raut wajah lusuh, demikian saya menyebutnya.

Kedua, Anna yang diperankan Okky Setiana Dewi. Anna seorang putri kyai tersohor di negerinya menampilkan sosok perempuan solehah dan paham agama. Istri Azzam ini begitu taat beribadah. Tutur bahasa begitu lembut, bersikap sopan dan rajin membantu. Cantik dan berilmu, begitu saya menyimpulkannya.

Ketiga, Husna. Saya begitu tertarik dengan tokoh yang diperankan Meyda Safira ini. Penulis yang baik, perempuan berhati baik, dan berpenampilan menarik. Menurut saya, Husna memiliki penampilan yang melihatkan kesederhanaan. Tak ada yang mencolok. Husna bukanlah perempuan berpenampilan seperti Anna. Ia tak mengenakan gamis seperti yang biasanya dikenakan Anna. Hanya saja, Husna memakai kerudung lebar. Kerudung segiempat seperti kebanyakan orang memakai--termasuk saya--juga sering dikenakan Husna. Husna juga diceritakan sebagai seorang penulis. Semangat Husna untuk menulis berpengaruh sekali kepada saya. Sejak mengikuti sinetron ini saya jadi keranjingan menulis. Menulis apa saja. Mungkin sebagian menganggap tulisan saya banyak yang nggak mutu. He.. biarlah, yang penting saya menulis. Menulis untuk kepuasan batin.

Cukuplah tiga tokoh yang menurut saya tokoh utama itu saja yang saya paparkan. Masih ada, Ilyas, Sarah, Lia, Ustad Mujab, dan lainnya. Mereka tak saya bahas karena terlalu banyak dan jika ada yang membaca tentu akan merasa bosan. Masih menurut saya, kesemua dari tokoh yang ditampilkan di sinetron KCB memiliki karakter yang kuat dalam perannya masing-masing. Banyak pelajaran yang bisa dikutip. Mulai dari persaudaraan, percintaan, keluarga, dan dakwah. Tentu semuanya dari sudut pandang agama islam.

Terlepas dari semua kebaikan dari sinetron KCB yang saya sebutkan di atas, memang sinetron ini juga tak luput dari kekurangan. Saya tahu, banyak juga yang kontra dengan sinetron, pun film KCB. Banyak yang menganggap semuanya ditampilkan begitu berlebihan alias lebay. Bahkan beberapa teman saya berkomentar, “Mana ada orang bisa se-sabar itu? Berlebihan semuanya.” Demikian teman saya mengomentari beberapa peran dari tokoh KCB.

Mungkin ada benarnya komentar teman saya karena kadang-kadang saya pun merasakan hal yang sama. Tapi ada banyak juga bagian dari setiap adegan film dan sinetron itu yang dapat diraih manfaatnya. “Ambil saja yang baiknya, setidaknya kita bisa belajar agama dengan mudah dari sinetron ini,” saya menjawab komentar teman.
Tak ada yang salah ketika ada pro dan kontra terhadap apa pun yang dihadapkan kepada kita. Apalagi persoalan karya. Tak semua karya yang menurut si pembuat bertujuan baik dapat diterima serupa oleh orang yang menikmati karyanya. Begitu pula, ketika saya menyukai sinetron ini dan ada yang begitu jengah, biarlah. Mari kita memilih. Memilih berdasarkan kacamata masing-masing. Kacamata yang merekam dari sudut pandangnya masing-masing.***


*)catatan ini saya tulis ketika saya menginginkan sinetron KCB diputar lagi. Belum lama ini, KCB II telah ditayangkan tapi tak bertahan lama. Tak mencapai 50 episode. Saya tak tau pasti penyebabnya, prasangka saya mungkin karena ratingnya tidak bagus. Stasiun tv lebih mempertahankan sinetron yang memiliki rating bagus dengan menambah-nambahkan episode bahkan season hingga selusin. Ah, sudahlah…!!

Sedikit Catatan untuk Film "?"

Saya cukup menantikan film Hanung yang satu ini. Tertarik dengan tema yang diusung dari film ke-14 yang telah digarap sang sutradara. Kali ini Hanung hadir dengan mengusung tema toleransi beragama. Dalam salah satu surat kabar yang saya baca, Hanung mengatakan, "Saya sebagai orang islam jadi risih karena ada stigma bahwa agama islam itu agama yang berbahaya, tidak toleran dan teroris. Itu sebenarnya yang mau saya luruskan."

Berangkat dari inilah Hanung menghadirkan film yang berjudul "?" (baca: tanda tanya). Judul yang hanya membubuhkan satu tanda baca--tanda tanya-- cukup membuat saya bertanya-tanya, apa maksud Hanung memilih judul demikian? Di bawah judul "?", Hanung juga memberikan sebuah kalimat "Masih Pentingkah Kita Berbeda?" yang menjadi tagline dari film yang menghabiskan budget 5 milyar ini.

Kesempatan untuk menontonpun ada, hari Minggu (10/4) saya, kakak dan teman sama bekerja memanfaatkan waktu libur untuk menonton film yang baru rilis Sabtu kemarin di kota ini. "?" hanya ditayangkan di 21 (twenty one) Palembang Indah Mall (PIM), salah satu dari dua 21 di kota Palembang, 21 satu lagi bertempat di International Plasa (IP)--mall pertama di kota Pempek. Setiba di PIM kami langsung menuju 21 untuk beli tiket. Lumayan ramai, tapi tak terlalu. Entah film ini tak begitu menarik bagi penikmat film, entah karena saya sudah terlambat untuk menonton. Entahlah...

G16, nomor kursi saya. Tak lama setelah memasuki cinema 2, kira-kira 10 menit "?" dimulai.


Scene pertama dibuka dengan potret sebuah kota yang multikultural, berlokasi di Semarang dengan settingan Semarang 2010. Terpampang gapura bertuliskan 'Kota Baru'--nama kota itu. Gambar masjid, gereja dan wihara menunjukkan aktivitas masing-masing di lingkungan rumah ibadah yang berbeda. Ketika melihat scene di awal ini, langsung tertangkap bahwa tema yang akan diusung Hanung adalah toleransi beragama dan kehidupan sosial di antara masing-masing pemeluk agama tersebut.


Dikisahkan ada 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun (Henky Solaiman) memiliki sebuah restoran masakan Cina yang tidak halal. Namun sang pemilik terkenal sangat toleran dengan para pekerjanya yang kebanyakan dari kalangan muslim. Bahkan ia memisahkan seluruh alat masaknya untuk masakan yang halal dan tidak halal. "Yang pake ikat merah babi dan tidak pake ikat merah bukan babi," salah satu percakapan Tan dengan Ping Hen ketika mengajarkan anaknya mengelola restorannya.

Di keluarga lain, Soleh (Reza Rahardian) memiliki istri yang cantik dan taat beragama bernama Menuk (Revalina S. Temat) yang bekerja di restoran milik Tan Kat Sun. Canton Chinese Food nama restoran itu. Soleh adalah seorang suami dan bapak tanpa pekerjaan yang sedang berusaha keras agar menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Di ujung keputusasaannya, akhirnya Soleh bekerja sebagai Anggota Banser Ansori, salah satu Ormas Islam.

Sedangkan Rika (Endhita) seorang janda beranak satu yang harus dikucilkan keluarganya karena berpindah agama. Anak Rika bernama Abi (Baim), rajin mengaji. Sesuatu yang agak janggal memang ketika kita diperlihatkan dalam sebuah keluarga ibu mengantarkan anaknya mengaji, sementara anak mengaji ibunya ke gereja untuk beribadah juga. Dalam film ini diceritakan juga Rika menjalin hubungan dengan Surya (Agus Kuncoro) seorang pemuda tanpa pekerjaan tetap. Surya seorang muslim dan kerap kali ikut mengambil peran dalam drama perayaan paskah di gereja tempat Rika.

Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannnya dengan masalah perbedaan pandangan status, agama dan suku. Semuanya dipaparkan menarik dalam film berdurasi 100 menit ini. Penyanyi, Glenn Fredly juga turut meramaikan film bikinan suami Zascia Adya Mecca ini. Glen sebagai Doni berperan sebagai teman sesama jemaat di gereja tempat biasa Rika beribadah. Doni menaruh hati pada Rika, tapi di lain pihak Rika lebih memilih Surya sebagai pasangannya meski mereka berbeda keyakinan.

Konflik mengenai percintaan tak hanya pada Doni, Surya dan Rika. Menuk dulunya ternyata juga memiliki kisah dengan Ping Hen (Rio Dewanto) anak dari Tan si pemilik restoran. Perbedaan keyakinan membuat mereka tak menyatu. Rasa tak berbalas membuat Ping Hen menaruh dendam pada Soleh dan Hen juga tak menyukai Menuk bekerja di restoran ayahnya. Semata karena cemburu. Soleh juga menaruh dendam serupa kepada Ping Hen. Konflik memuncak ketika Hen mengambil alih restoran ayahnya yang sudah sakit-sakitan sejak lama. Jika biasanya Tan memberi jatah libur kepada karyawan muslimnya libur selama seminggu di waktu lebaran, tak demikian halnya Hen. Di hari kedua pada hari raya, Hen memutuskan untuk tetap membuka restorannya. Hal ini memicu Soleh dan rekannya di Banser Ansori mengamuk. Restoran Hen diserbu dan diamuk masa Ansori. Amarah Soleh pun tak terbendung yang akhirnya menerjang Tan.

Tak lama setelah penyerbuan Restoran, Tan meninggal. Diikuti juga dengan meninggalnya Soleh saat bertugas mengamankan perayaan Paskah di gereja. Soleh menyelamatkan jemaat dari serangan bom yang akhirnya merenggut nyawanya.

Ada satu adegan yang saya rasa terlalu dipaksakan. Hanung memunculkan Zaskia beserta anaknya (Sybil) pada adegan Surya bertamu kerumah ustad yang diperankan oleh David Chalik. Zaskia dalam cerita sebagai istri ustad, tak ada percakapan hanya selintas kemunculan Zaskia dan anaknya, beberapa detik saja. Menurut saya Hanung ingin pula mengeksiskan istri dan anaknya pada filmnya. (he...)

Di akhir cerita Hen mencoba kembali sadar dan membuat perubahan besar dalam hidupnya. Yakni, memeluk keyakinan baru. Restoran Canton Chinese Food pun menjelma menjadi Barokah Chinese Food. Sedangkan 'Kota Baru' pada gapura kota berganti nama menjadi 'Kota Soleh'.

Semuanya tersaji sederhana. Perbedaan begitu mengindahkan bukan mengacaukan. Film yang berangkat dari kisah-kisah nyata ini cukup mampu memunculkan decak kagum dari penonton. Tak sengaja saya mendengar tanggapan dari beberapa penonton di pintu Exit. Mereka berada di belakang saya, "Keren, keren, keren filmnya," kurang lebih begitu saya mendengar komentar mereka.

Terlepas dari pujian itu, karya Hanung banyak pula menuai pro dan kontra. Hal yang wajar karena tema yang diusung sangat sensitif. Tak ada yang mesti dipermasalahkan baik yang pro maupun kontra. Keduanya punya alasan yang kuat. Tapi, menurut saya Hanung mesti berhati-hati lagi ketika masih ingin terus membuat karya dengan tema serupa. Kritikan datang kepadanya bukan hanya kali ini saja, di beberapa film sebelumnya (Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah) Hanung telah menghadapi permasalahan yang sama.

Agaknya Hanung terjebak dalam tema yang ia usung. Ketika awalnya Hanung ingin menonjolkan kehidupan sosial dan toleransi beragama serta sisi humanisnya, malahan akhirnya Hanung terjebak pada ide pluralisme. Ide yang selama ini banyak ditentang banyak orang. Adegan penusukan pastur, kekerasan oleh banser Ansori (Soleh, khususnya), dan bom pada gereja bukannya meluruskan stigma masyarakat terhadap islam yang berbahaya, melainkan hal yang berbalik ditangkap oleh sebagian orang. Lebih lengkapnya silahkan baca beberapa protes terhadap film "?" pada link ini. Juga ini dan ini.

Dengan banyaknya kritikan yang diterima Hanung, semoga lebih banyak lagi film-film berkualitas lahir dari tangan pria keturunan Jawa-Cina ini. Sementara untuk penikmat film, ambil saja baiknya dan terus mempertembal iman agar bisa memilah baik pun buruk dari film yang disuguhkan.

Have a nice watch.. :))

nunggu cinema 2 'open'
jelang 17.15


@rukan panggung, 11th April 2011, jelang Maghrib