100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien


Judul : Panduan Pakar untuk Menyelesaikan Segala Urusan dengan Cepat 100 Cara Membuat Hidup Lebih Efisien
Penulis : Samantha Ettus
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 2009
Jumlah Halaman : 415 halaman + xi
Harga : Rp 65.000,-

Dapatkah kita memenangi lomba mengalahkan waktu? Ketika meminta tubuh agar bisa tidur atau ketika berupaya melakukan tugas yang sudah dijadwalkan, kita sering mendapati diri kita berada di pihak yang kalah dalam pertempuran dalam melawan waktu. Sebagai seorang yang selalu tertarik pada segala hal, kecuali duduk manis, Samantha Ettus, Penulis buku ini selalu berupaya meraih kehidupan yang lebih efisien. untuk meraih hal itu, ia melibatkan sejumlah pakar terkemuka di negeri ini untuk menyusun semua serangan guna memerangi waktu yang hilang dan sikap yang tidak efisien.

Samantha Ettus adalah pencipta seri buku laris The Experts' Guide to 100 Things Everyone Should Know How to Do; The Experts' Guide to Life at Home, dan The Experts' Guide the Baby Years. Ia juga wartawan di udara untuk New York 3600.

Buku ini adalah kumpulan bab dari 100 pakar terkemuka dunia dalam bidang psikologi, budaya pop, kecantikan, makanan, asmara, keuangan, rumah, pekerjaan, dan permainan. Ke-100 pakar ini mewakili orang-orang yang paling berpengalaman dan berdaya cipta di dunia. Setiap pakar menulis babnya sendiri secara khusus untuk buku ini, berbagai bakat, sudut pandang, dan keahlian masing-masing dengan seefisien mungkin.

Sangat lengkap penjelasan yang dituangkan masing-masing pakar dalam buku ini. Dimulai dari Neil Strauss, seniman pemikat wanita paling terkemuka di dunia, menceritakan rahasianya tentang cara meninggalkan kesan pertama yang baik. Jika nasihatnya membuahkan hasil bagi pembaca, mungkin pembaca akan memerlukan saran tentang cara merencanakan pesta pernikahan dengan cepat. tidak perlu khawatir, perencana pesta pernikahan istimewa dari Vegas, Tory L. Cooper, membeberkan caranya. Jika inspirasi yang sedang dicari, Samantha memanfaatkan pikiran Richard Bolles, pengarang buku laris What Color Is Your Parachute? untuk membantu menemukan panggilan hidup. Jika persoalannya cara memulai usaha, Sir Richard Branson dalam tulisannya menceritakan cara mendapatkan pinjaman tanpa tertunda-tunda. Apa lagi? Pindah rumah? pakar real estate Barbara Corcoran menuliskan cara menjual rumah dalam rekor waktu tercepat, dan perencana pesta favorit Oprah, Colin Cowie, akan membantu pembaca memeriahkan pesta jamuan makan malam yang akan diselenggarakan.

Buku ini juga disusun Samantha seefisien mungkin. Ia befikir mungkin pembaca tidak punya banyak waktu, maka ia meyusun buku ini berdasarkan beberapa kategori. Rumah, mulai dari mencuci piring hingga menemukan barang hilang. Pekerjaan, mulai dari membuat komputer bekerja lebih cepat hingga mencapai sasaran kerja. Tubuh, mulai dari olahraga lari hingga cara berpakaian agar terlihat lebih langsing. Cinta, mulai dari menjalin hubungan istimewa hingga berusaha hamil. Perasaan Gembira, mulai dari berupaya memiliki suasana hati yang menyenangkan hingga mendapatkan teman. Perjalanan, ulai dari mengemas pakaian hingga menjelajahi kota baru. Buku ini ditutup dengan kategori Masa Depan, mulai dari peduli lingkungan hingga membangun kekayaan. melalui pembagian kategori ini, Samantha mampu mengajak pembaca secara efisien untuk menemukan topik yang paling diperlukannya.

Setelah membaca buku ini, dalam lomba melawan waktu, pembaca tak lagi sendirian. buku ini sarat dengan saran yang jenaka, memukau, dan sangat cerdas, buku ini juga akan mengajari pembaca berbagai cara untuk meniti kehidupan dengan lebih efisien, sehingga pembaca punya lebih banyak waktu untuk menikmatinya.***

*)salah satu klipingan tulisan, mencoba merensensi buku, kira-kira tahun lalu...

Pemimpin Teladan


Pemimpin tentu merupakan suatu jabatan yang diidam-idamkan oleh seseorang. Karena ketika kita sudah menjadi pemimpin berarti orang yang berada di lingkungan kita telah melimpahkan kepercayaannya kepada kita. Dan kita pun harus menjaga kepercayaan itu. Sekarang, bagaimanakah cara seorang pemimpin mengemban tugasnya? Karena pemimpin bukanlah suatu jabatan yang sembarangan, nanti kita akan mempertanggungjawabkannya.

Dale Carnegie_trainer terkemuka berpendapat: “Hanya ada satu cara di muka bumi ini untuk membuat orang lain melakukan sesuatu. Pernahkah kamu memikirkan itu? Ya, hanya satu cara, yakni membuat orang itu sendiri ingin melakukannya.” Tak ada orang yang senang merasa bahwa dia dipaksa membeli atau disuruh melakukan sesuatu. Kita lebih suka merasa kita membeli karena keinginan sendiri. Kita senang jika ditanyai tentang keinginan, impian, dan pikiran kita. Itulah, yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin. Maka, jangan mengelola terlalu detail.

Dalam sebuah organisasi, ikatan dan lembaga lainnya, seorang pemimpin harus mampu mengelola anggotanya. Pun, anggota mereka mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Apabila seorang pemimpin tidak mampu mengarahkan tujuan anggota akan terjadi kesenjangan tujuan. Yang nantinya pun tujuan organisasi tak akan tercapai. Diperlukan keselarasan tujuan di sini Goal Congruence.

Banyak cara yang dapat diterapkan oleh seorang pemimpin dalam menjalani tugasnya. Seorang pemimpin yang baik mereka bukanlah membuat keputusan, tapi mendengarkan usulan dari bawahannya. Di sinilah diperlukan gaya kepemimpinan yang demokratis. Maka perlu ditanamkan prinsip: Dengarkanlah! Maka kamu akan didengarkan.

Tak jarang terjadi perbedaan pendapat dalam organisasi. Yang apabila dibiarkan saja nanti akan berlarut-larut dan menjadi pertengkaran pahit. Di sini dibutuhkan peran semua anggota untuk menyelesaikannya terutama bagi pemimpin. Biasanya hal ini terjadi karena sikap tidak mau menerima perbedaan. Maka banyak jalan yang dapat ditempuh. Cobalah untuk menyambut sebuah perbedaan, pertanyakan naluri kita, carilah kesamaan, gunakan kesamaan itu untuk menyatakan pendapat kita, cobalah untuk jujur, dan endapkan dulu. Baru segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Di sini pemimpin dituntut untuk menengahi, bukan turut emosi dengan persoalan yang muncul. Karena sering kita temui pemimpin lebih sulit mengendalikan emosinya. Tidak mungkin bisa mencarikan solusi.

Tak hanya itu, jangan segan untuk memuji anggota ketika mereka mampu memberikan usulan dan solusi yang sangat baik pada waktu terjadi perbedaan pendapat. Tidak hanya ketika mereka memberikan solusi pada saat muncul persoalan. Juga pujian atas semua tindakan positif yang telah mereka perbuat. Karena penghargaan yang berarti akan mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik lagi.

Layaknya manusia, seorang pemimpin tentu tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Maka, pada saat pemimpin salah atau khilaf cobalah untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Jangan ragu atau malu untuk mengungkapkan penyesalan. Berjanjilah untuk memperbaiki diri dan mencoba untuk menebus kesalahan. Karena orang bodoh mana pun bisa membela kesalahannya. Dan sebagian besar orang bodoh memang melakukannya. Tetapi seseorang akan ditinggikan diantara yang lain dan akan merasa mulia dan tinggi jika dia mengakui kesalahannya sendiri. Pada saat inilah seorang pemimpin bisa dijadikan tauladan oleh anggotanya. ***

*)disalin dari klipingan tulisan saya beberapa tahun lalu, beriringan dengan impian untuk menjadi pemimpin.. :)

Sajadah Setia

Kemarin, saya sibuk membolak-balik buku agenda. Sejenak, mata saya terjurus pada suatu halaman, ada kutipan: "Carilah di atas sajadah, jawaban atas persoalan apapun yang kita hadapi." Seingat saya, kutipan tersebut saya ambil dari harian Republika Jumat, Agustus 2008 lalu.

Saya baca-baca berulang kutipan tersebut, terus mencoba memaknai. Seketika itu pula, mata saya terjurus pada sajadah setia saya yang tengah tergantung pada gantungan pakaian. Saya pandangi dari ujung ke ujung. Agak lusuh. Tak terasa, lebih kurang  telah 15 tahun saya ditemani sehelai sajadah ini. Kian hari, ia kian lusuh. Tapi saya tak mau menggantinya dengan yang lain. Ini sajadah terlalu setia kepada saya. Lima belas tahun itu, jika dikalikan entah sudah berapa kali dia menemani saya. Teman untuk beribadah, teman untuk menghamba, teman untuk mencurahkan segala perasaan dan teman untuk memohon kepada Sang Khalik.

Suatu kali, tepatnya di hari raya Idul Adha 1431 H, saya dengan teman bersiap menuju masjid untuk menunaikan ibadah Shalat 'ied. Ketika berkemas, menyiapkan perlengkapan ibadah kami masing-masing, tiba-tiba teman saya berkata, "Itu sajadah sudah lusuh, gantilah lagi dengan yang baru."

Sejenak saya terhenti. Memandangi sajadah setia itu. Ia, kamu memang benar-benar sudah agak lusuh, benang-benang di pinggiranmu sudah mulai lepas, warnamu tak lagi secerah dulu, tepat dipijakan kedua telapak kakiku bulu beludrumu sudah tak ada lagi, tipis. Dalam hati saya bercengkrama dengan sajadah berwarna biru muda itu.

Mengapa saya terlalu mencintainya? Ya, kemana pun selama ini saya pergi, jauh pun dekat, lama pun sebentar, saya tak lupa membawanya. Dia terus bersama saya. Kalau saja nanti saya membeli sajadah baru, tentu dia akan terabaikan. Mungkin hanya akan disimpan rapih dalam lemari. Ah, terlalu kasihan.. meninggalkan dia hanya karena dia sudah lusuh, dan saya sudah mempunyai yang baru.

Sajadah bergambar dua masjid di tempat sujudnya itu juga menyimpan kenangan manis bersama saya. Bukanlah sajadah yang saya beli dengan uang saya sendiri. Bukan pula hadiah dari orang tua yang ingin anaknya selalu taat beribadah. Tapi, sajadah itu adalah hadiah dari perayaan Khatam Alqur'an saya di salah satu Taman Pendidikan Alqur'an. Bersama sajadah itu, saya juga menerima Tafsir Alqur'an beserta Pashmina Hitam yang cantik. Perayaan itu, tepat pada libur kenaikan kelas saya menuju kelas empat sekolah dasar. Sejak itulah, saya mulai akrab dengan dia.

Rasa-rasanya, tak mungkin saya menggantinya dengan yang baru. Terlalu nyaman saya bersamanya. Cukuplah dia saya cuci sekali dalam sebulan, dan memberi secukupnya wewangian. Biarlah terlihat sedikit lusuh, tapi saya sangat nyaman bersamanya. Biarlah dia yang menjadi saksi. Saksi penghambaan saya kepada Sang Khalik. Juga, saksi yang paling tahu setiap persoalan yang saya hadapi. Bersama dia juga saya menemukan jawabannya. Dan, sesekali saya tidur di atas Sajadah setia itu. Tidur yang indah tentunya, bersama dia.

***

@rukan panggung, 01st April 2011--17.47, with Kenny G backsound

Pernik Edcoustic

Kali ini, Egie yang bicara


Dikasih merchandise--pin Edfriends-- sama panitia

 Gedung Aula Pascasarjana Unsri

 Salah satu stand yang banyak dikunjungi


Terimakasih Kang Aden, sudah membubuhkan tandatangan

Ketemu Ayu' Ena, dari M. Enim


 Mug cantik Edcoustic

 Nada dan Wahid, ikon Akhwat dan Ikhwan LD Nadwah Unsri

 Foto Bareng Edcoustic

 Bonus, datang sendiri..ya, foto sendiri bareng Edcoustic

Sehari Bersama Edcoustic

Palembang, 27 Maret 2011. Ada Konser pada hari itu. Beralamat di Jl. Padang Selasa, bertempat di Aula Pascasarjana Universitas Sriwijaya (Unsri). Jangan mengira pada konser ini akan ada kerumunan penonton yang akan jingkrak-jingkrak selama konser belangsung. Kenapa? Ya, konser kali ini adalah konser nasyid yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus Nadwah Unsri, bukan konser group band yang tengah digandrungi kebanyakan anak muda zaman sekarang. Konser adalah salah satu rangkaian acara dalam rangka 1 Dasawarsa LD Nadwah Unsri. Adapun rangkaian acara yang lain berupa, Bedah Buku Fiqh Remaja, Seminar Muslimah, Nadwah Generation to Generation (G2G) dan Jalan Sehat. Nadwah sendiri mengusung tema '10 tahun menebar dakwah demi mempererat ukhuwah untuk nadwah yang semakin dekat dan semakin bermanfaat karena 'nadwah lebih dari sahabat'.

Sebelum konser dimulai, panitia memanjakan Edfriends--sahabat Edcoustic--dengan menyediakan sesi jumpa fans dan foto bareng Edcoustic. Pada sesi ini Edfriends diberi kesempatan untuk bertanya kepada group nasyid yang 'simple' ini. Simple dari segi jumlah anggota. Kenapa tidak, group nasyid yang sudah terkenal kian-kemari ini hanya digawangi dua orang saja. Egie--gitaris dan Aden--vocalis. Dalam kesempatan itu mereka banyak bercerita. Mulai dari sejarah, album, dan segala seluk-beluk tentang Edcoustic.

Kali ini Aden lebih banyak bercerita dibanding Egie. Mungkin selera humor dan bakat entertaint lebih kepada Aden--penilaian saya. Nama dari group nasyid yang mengusung genre pop religi ini juga tergolong simple. Nama Edcoustic hanyalah sebuah singkatan dari Egie dan Deden berAcoustic. Setiap lagu yang disenandungkan hanya diiringi irama acoustic yang telah diolah oleh jemari piawai seorang Egie. Dua pria yang dua-duanya sudah menikah ini dipertemukan pada kegiatan kemahasiswaan di Masjid Salman yang bertempat di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Soal nama, sebelumnya kata Aden, group ini bernama Muhamad Ibrahim Isa Yusuf (MIIY). Tapi MIIY tak sebanding dengan anggota Edcoustic sendiri. Nama yang diambil dari 4 nama nabi tersebut tak bertahan lama. Setelah hijrah ke nama Edcoustic, hingga kini nama itu bertahan seiring dengan kesuksesan group ini. Suasana jumpa Edfriends lumayan seru. Karena Aden yang mengaku mewarisi bakat seni dari bibinya ini mampu mengundang gelak tawa penonton. Ayah dari tiga anak ini juga menceritakan bahwa Edcoustic juga pernah dihujat karena dinilai telah merusak khasanah lagu-lagu nasyid yang sebenarnya. Banyak juga yang keliru menginterpretasikan lagu-lagu gubahan Aden dan Egie.

Pada kesempatan ini, Aden juga berbagi tips dan trik kepada penonton bagaimana menjadi pengarang lagu yang sukses. "Buat lagu sesederhana mungkin, biar orang tidak terlalu pusing menerjemahkan apa yang kita tulis," jelas pria yang juga biasa dipanggil oleh temannya 'Ki Boden' ini. Tak hanya itu, Aden juga menyebutkan kalau Edcoustic tak terlalu sering mengeluarkan album karena biasanya yang bertahan adalah grup yang jarang mengeluarkan album. Mereka ingin menjaga eksistensi, bertahan dengan tetap berkarya. Layaknya Alm. Chrisye yang menjadi inspirasi Aden. Terakhir, group Nasyid yang pernah ditonton hanya 2 orang penonton ini meluncurkan single 'Jalan Masih Panjang' pada 3 Agustus 2010 lau. Single ini mengambil tema motivasi bagi siapapun yang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, agar terus menatap masa depan dan menjadikan kegagalan tersebut sebagai pemicu semangat untuk meraih kesuksesan.

Temu Edfriends dengan Edcoustic tak berlangsung lama, lebih kurang dua jam. Di penghujung acara, Edcoustic menghadiahkan penonton dengan 3 lagu yang dimedley. Jalan Masih Panjang, Sebiru Hari Ini, dan Menjadi Diriku. Medley yang sungguh membuat tak sabar menanti ba'da Zuhur.

Saat-saat yang dinantipun tiba, apalagi kalau bukan penampilan Edcoustic. Tapi, penonton mesti bersabar dulu, sebelum penampilan Edcoustic konser dibuka oleh group nasyid Unsri, Belisario. Group yang terdiri dari enam pria 'subur' (Aden yang bilang) ini, membawakan lagu mendiang Chrisye yang bertajuk Ketika Tangan dan Kaki Berkata, dilanjutkan dengan lagu 'Bunda' ciptaan Melly Goeslaw. Konser dipandu oleh MC; Feri--Ketua Asosiasi Nasyid Nusantara dan Ike yang sebelumnya juga memandu temu Edfriends. Feri sepertinya sudah biasa membawakan acara. Ia mampu mengimbangi guyonan Aden. Edcoustic pun beraksi. Lagu pembuka, Nantikanku Dibatas Waktu. Lagu fenomenal ini sungguh memikat hati penonton. Ide lagu ini berawal dari kisah salah seorang sahabat Aden. Menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang belum bisa membalas cinta pasangannya. Disebabkan ingin menjaga hati dan tak mau menyalahi ajaran agama.

Lagu kedua, Sebiru Hari Ini. menceritakan pengalaman pribadi Aden yang berpisah dengan salah seorang sahabatnya yang pergi bekerja. Lirik Sebiru Hari Ini begitu sederhana, tapi dalam makna. Setiap kita mungkin pernah mengalami perpisahan dengan sahabat. Lagu ini menurut saya cukup menjadi penyemangat ketika kita tengah dirundung rindu akan sesosok sahabat yang telah jauh--pengalaman saya.

Setelah lagu kedua, konser diselingi oleh sambutan Pembantu Rektor (PR) III Unsri, Prof. Anis Sagaf, saya cukup terkesan dengan beliau. Mengenakan gamis dan peci putih, Prof. ini menyampaikan rasa terimakasih atas jerih payah panitia untuk mendatangkan Edcoustic. Next, lagu ketiga, Pertengkaran Kecil. Kali ini, Edcoustic berkolaborasi dengan Belisario. Aden diapit 3 laki-laki di sisi kanan dan 3 nya lagi di sisi kiri. Di tengah-tengah 6 pria 'subur' Aden terlihat kecil. Hi... Lagu Pertengkaran Kecil semakin indah didengar karena penyanyi asli berpadu dengan group vocal Belisario yang juga tak kalah bagus.

Mengenang bencana gempa dan tsunami Jepang beberapa waktu lalu, Edcoustic menyanyikan lagu campur berbahasa Jepang, Kamisama--yang berarti Ya Tuhanku. Lagu keempat ini diiringi dengan aksi penggalangan dana oleh panitia dengan mengedarkan kotak sumbangan kepada penonton. Aden juga menyebutkan, Edcoustic juga telah menciptakan lagu berjudul 'Ganbatte' khusus untuk korban bencana gempa dan tsunami Jepang.

Kepiawaian Aden menciptakan lagu juga dilirik oleh Melly Goeslaw, sehingga lahirlah karya yang dilabeli Melly dan Aden 'Ketika Cinta Bertasbih'. Tak lupa, Aden juga menyanyikan lagu KCB pada konser ini. Tak sengaja saya mendengar salah seorang penonton nyeletuk,  "Bagusan Aden yang nyanyi ya, daripada ****.." Dalam hati, sayapun meng-iyakan.

Edcoustic begitu kreatif selama penampilan mereka pada konser. Setelah berkolaborasi dengan Belisario, selanjutnya Aden memanggil salah seorang penonton yang mau berduet dengannya. Kali ini, penonton yang berani dan beruntung itu bernama Fajrin. Berpenampilan ala anak gaul, anak muda asal Plaju ini mengenakan celana kecil ke bawah, kaos hitam bergaris-garis putih, diluarnya ditimpali semi jas berwarna coklat. Ternyata tak keliru anggapan saya selama ini. Edcoustic tak hanya digandrungi oleh para 'akhwat' dan 'ikhwan' saja. Anak muda seperti Fajrin pun begitu menyukai. Termasuk saya.. hihi

Tak terasa, MC--Feri, telah memberi aba-aba bahwa konser akan segera berakhir. Teriakan kecewa penonton pun tak terbendungkan. Lima lagu saja, tak cukup 'memuaskan' mereka. Kembali, Aden dan Egie menyuguhkan medley 3 lagu yang sebelumnya juga dinyanyikan pada sesi temu Edfriends.Jalan Masih Panjang, Pertengkaran Kecil, Menjadi Diriku, dilagukan menjadi satu.

Pamungkas, lagu paling fenomenal Edcoustic itu pun diperdengarkan oleh Aden kepada penonton. Ya, Muhasabah Cinta. Lagu yang sudah terkenal sampai ke negeri jiran ini, membuat penonton semakin hanyut akan keindahan lirik dan kedalaman maknanya. Tak lain, Muhasabah Cinta adalah lagu yang diciptakan Aden terinspirasi dari perjalanannya ke rumah sakit. Melihat orang yang tengah sakit, membuat ia menyadari betapa indahnya nikmat sehat itu. Lagu Muhasabah Cinta pada awalnya dipersiapkan oleh Aden untuk soundtrack film Ayat-Ayat Cinta. Namun, apa boleh buat keberuntungan belum berpihak pada Aden. Terlepas dari itu, Muhasabah Cinta memang patut dielu-elukan pecinta Edcoustic dikisahkan banyak sekali yang menjadikan Muhasabah Cinta sebagai obat di kala sakit. Aden membaur ke tengah-tengah penonton, mengajak seisi aula bernyanyi bersama. Jadilah, seisi aula pascasarjana di lantai dua itu ber'Muhasabah Cinta'.

Berakhir lagu Muhasabah Cinta, berakhir pulalah konser yang menyamankan hati itu. Di ujung katanya, Aden berucap lebih kurang begini: "Terimakasih kepada sahabat, dan kami mohon maaf apabila ada khilaf. Kami bukanlah sesosok sempurna layaknya nabi Muhammad, melainkan ingin berperliku seperti beliau," Setuju, saya benar-benar setuju dengan kalimat pamungkas yang keluar dari mulut Aden.
***

Note:
Lewat  tulisan ini, saya berterimakasih kepada:
Edcoustic: untuk lagu-lagu yang indah
Panitia: untuk jerih payah mendatangkan Edcoustic ke Palembang
Syarif: untuk telah memperkenalkan Edcoustic kepada saya


@rukan panggung, Rabu 30th March 2011--4:36AM waktu si kompi.

Selamat, Dik..

26 maret adalah tanggal yang khusus untukmu, dik. di tanggal ini kamu dilahirkan ke dunia dari rahim seorang mama paling juara sedunia. di tiap tanggal ini pula umurmu bertambah, dik. di tiap tanggal ini pula jatah hidupmu di dunia ini berkurang.
alhamdulillah, syukur, hanya itu seharusnya yang kita lakukan, dik. bukan kita mensyukuri kekurangan jatahmu untuk menghuni dunia ini, dik. tapi bersyukur atas nikmat dan kesempatan yang sudah diberi Allah hingga di angka 22 ini.

dik, satu tahun lalu kk masih sempat mengucap selamat kepadamu, tepat pada pukul pergantian tanggal. kk masih sempat mencium pipi kanan dan kirimu. satu tahun yang lalu pula, kita masih sempat berbagi bahagia dengan saudara-saudara kita di rumah kedua kita yang menyimpan segudang cerita itu.

tapi di tahun ini semuanya sudah berbeda. tak ada lagi ucapan di pergantian tanggal itu. tak ada pula kecupan di kanan dan kiri pipimu itu. kita sudah tidak lagi berdekatan, melain berjauhan. dipisahkan oleh jarak, dipisahkan oleh kesibukan, dan dipisahkan oleh tujuan hidup masing-masing.

meski kita terpisah oleh jarak, banyak kenangan yang kk simpan rapi di hati ini, dik. kk belajar banyak darimu, dik. belajar atas kesetiaan, kerendahhatian, kesabaran, persaudaraan, dan masih banyak lagi, dik. terlalu banyak hal 'gila' yang telah kita lalui. suka, pun duka. terimakasih, dik.

sengaja tak ada telpon di malam pergantian tanggal dik. kk tahu ada orang yang lebih pantas untuk mengucapkan selamat untuk yang pertama kalinya kepadamu dik. kk tak mau menghilangkan kesempatan dia. tak ada pula sebuah bingkisan hadiah untukmu, dik.hanya do'a yang bisa dikirimkan, hanya tulisan ini yang bisa kk sampaikan.
segala yang terbaik kk do'akan untukmu, dik. Semoga kita nanti bertemu untuk mengobati hati yang begitu merindu.

***

hanya sebentuk ucapan selamat berulang tahun kepada salah seorang adikku. Allah menghadiahkan dia kepadaku ketika hati ini dirundung sepi. Dia yang melengkapi.



@rukan panggung, 26th March '11 (06.39) on shiny saturday.

Telpon Mak Ida (I)

Setelah penat dari rutinitas pekerjaannya dari Senin hingga Sabtu, hari Minggu merupakan hari yang cukup dinantikan oleh Ais. Tapi, hari Minggu bukanlah suatu hari yang spesial bagi Ais. Karena di hari itu ia tak ada melakukan rutinitas yang begitu berarti atau layaknya anak muda yang begitu menantikan akhir pekan. Jika Senin hingga Sabtu rutinitas Ais adalah 'ngantor' tapi hari Minggu adalah hari yang membebaskan bagi Ais. Bebas bukan berarti Ais senang, kadangkala rasa jenuh itu pun ada. Untuk menghilangkan kejenuhan karena tak ada rutinitas, Ais menyibukkan diri dengan beragam aktivitas di rumah saja. Bersih-bersih, menonton, dan membaca, kadang ada pula sedikit olahraga.

Satu lagi yang membuat akhir pekan Ais agak berbeda dari hari biasa adalah acap kali Ais menerima telpon dari sanak saudara dan keluarga di kampung halamannya. Maklum, Ais merantau kurang lebih sejak enam bulan lalu. Di suatu Minggu, cukup banyak yang menelpon Ais, mulai dari orang tua, kakak, adik, dan abang Ais. Tak hanya itu, Ais juga menerima telpon dari tetangga dan adik perempuan dari Ayah Ais. Keduanya sudah dianggap Ais sebagai orangtuanya sendiri. Kenapa tidak? Dua perempuan paruh baya itu begitu perhatian kepada Ais, sering kali Ais dinasihati dan banyak lagi cerita-cerita menarik seputar kampung Ais. Cerita yang begitu menghibur dan mampu mengobat rindu Ais akan kampung halamannya, walaupun hanya untuk sejenak. Dua perempuan itu Ais memanggilanya Mak Ida dan Mak Iyet.

Suatu siang di hari Minggu, Ais tengah asyik membaca novel yang baru saja ia beli. Mak Ida memanggil. Dengan berat hati Ais mengabaikan panggilan Mak Ida. "Kalau aku terima telpon dari Mak Ida, pasti panjang ceritanya," Ais membatin. Panggilan Mak Ida diabaikan Ais. Ia lanjutkan bacaannya, tapi sejak ada telpon dari Mak Ida Ais tak lagi fokus membaca. Sudahlah, biarkkan saja, kata Ais dan melanjutkan bacaannya. Ternyata Mak Ida kembali memanggil. Dua kali, tiga kali hingga panggilan keempat. Maafkan aku Mak Ida, aku telah berdosa kepadamu, mengabaikan telponmu demi kesenangannku. Agaknya Mak Ida sudah putus asa, dan tak ada panggilan lagi.

Ashar menjelang, Ais menutup novelnya sejenak untuk tunaikan kewajibannya. Setelahnya, Ais kembali membaringkan tubuhnya di kasur yang akhir-akhir ini begitu akrab dengannya. Baru saja Ais membuka novel, kembali telepon genggamnya berdering. Tapi kali ini bukan telepon dari Mak Ida, melainkan Mak Iyet. "Ya sudah, tak baik aku abaikan panggilan Mak Iyet. Cukup aku berdosa kepada Mak Ida saja," Ais kemudian menerima panggilan Mak Iyet.

"Assalamua'alaikum"
"Wa'alaikumsalam..."
"Apa kabar Mak?"
"Alhamdulillah sehat, Ais bagaimana?"
"Alhamdulillah sehat juga Mak, lagi dimana Mak?"
"Amak lagi di Mushala, o ya ini Amak (ibu Ais) mau ngomong, Amak ambil wudhu dulu ya, amak belum shalat"
"Iya Mak"

Pembicaraan Ais dilanjutkan dengan orangtua perempuannya, Ais memanggil ibunya 'Amak'.
"Halo Ais"
"Iya Mak, Amak lagi di mushala ya?"
"Iya, Amak baru saja sembahyang Ashar, di sini rame, ada Mak Ida juga"
"Oh, rame ya Mak? Ais jadi rindu juga shalat di mushala"
"Kata Mak Ida tadi dia telepon Ais, tapi nggak diangkat, kenapa?"
Ais bingung, mau jawab apa. Apakah dia harus berbohong atau jawab apa adanya. Dengan alasan agar Mak Ida tak tersinggung, Ais berbohong. "Ia, tadi waktu Mak Ida nelpon Ais lagi di luar, hp ketinggalan di kamar," jawab Ais.
"Iya, Mak Ida bilang mungkin Ais lagi tidur," jawab Ibu Ais.'
"Ndak mak, Ais ndak tidur.." Ais menjawab dengan perasaan bersalah. Ais sungguh merasa berdosa sudah mengabaikan orangtua yang begitu memperhatikannya. Ketika dibohongi Ais pun, Mak Ida masih menaruh prasangka baik pada Ais.
"Kalau begitu, Ais ngomong sama Mak Ida ya?" Ibu Ais meminta.
"Iya mak"

Dari kejauhan terdengar suara khas dari Mak Ida. Suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Layaknya sayang seorang ibu kepada anak kandungnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum, nak"
"Wa'alaikumsalam, Mak Ida," jawab Ais dengan nada suara bersalah.
"Apa kabar nak? Adakah sehat-sehat saja?"
"Alhamdulillah sehat, Mak Ida ada sehat?
"Alhamdulillah kami di rumah masih sehat dan beraktivitas seperti biasa. Udah makan nak?" suara Mak ida begitu menyentuh.
"Udah tadi siang.. Mak Ida lagi di mushala ya?
"Iya, seperti biasa selesai shalat duduk-duduk dulu di mushala sambil cerita-cerita. Termasuk menceritakan Ais," ujar mak Ida.
"He...," Ais nyengir.

Tiba-tiba nada suara mak Ida mulai serius. Seakan ada pembicaraan penting yang akan ia sampaikan. Ais pun penasaran. Perlahan-lahan mak Ida membuka pembicaraan. Ia bertanya kepada Ais.
"Ais, akhir-akhir ini ada telponan sama ayah?"
"Sering mak Ida, ayah sering telpon Ais, kenapa ya mak?"
"Begini Ais, ayah Ais sudah tak ada lagi shalat, cobalah Ais ngomong sama ayah minta dia untuk shalat," jawab mak Ida.
Mendengar penjelasan mak Ida, jantung Ais langsung berdegup. "Ayahku yang dulu kembali lagi, Ya Allah kenapa Engkau lengah dari ayahku? Apakah Engkau tak lagi sayang kepada ayahku?" Ais menyesal dalam hati.

"Terimakasih mak Ida sudah kasih tau Ais". Ais juga menceritakan kepada mak Ida, akhir-akhir ini setiap kali Ais telponan dengan ayahnya dan menanyakan apakah ayahnya sudah salat atau belum, ayah Ais hanya menjawab dengan enteng 'sudah'. Berarti prasangka Ais selama ini tak keliru. Ayah Ais tak lagi menunaikan kewajibannya kepada Sang Khalik.

"Setiap kali nelpon, Ais tanya ke ayah sedang berada dimana, kata ayah sedang di lepau rendah, mak Ida," kata Ais lagi ke mak Ida.
Mendengar ucapan Ais, mak Ida mencoba menyemangati Ais untuk kembali mengingatkan ayahnya.
"Cobalah Ais ngomong sama ayah, mak Ida yakin, kalau Ais bicara sama ayah, ayah Ais pasti dengarkan."
"Ia, tapi Ais takut ayah tersinggung, mak Ida kan tau sendiri ayah bagaimana?"
Mendengar Ais mengeluh, mak Ida tak henti-hentinya menyemangati Ais. "Percayalah nak, tak akan ada orangtua yang akan marah ketika anaknya membicarakan kebaikan, berpandai-pandai saja Ais ngomong sama ayah ya." Demikian pesan mak Ida. Dalam hati Ais kembali menyesali diri. Begitu baiknya mak Ida kenapa aku malah mengabaikan telponnya tadi siang?

"Udah dulu ya nak, lain kali mak Ida telpon lagi, jangan lupa shalat, makan dan jaga diri ya..!"
"Insyaallah mak,"
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalaam.." klik.

***

Usai menerima telpon dari ketiga 'amak'nya, Ais melamun. Masih terngiang di telinga Ais kabar yang disampaikan mak Ida. Ais kebingungan, ta tahu mau berbuat apa. Penuh tanya dari kedalaman hati Ais. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat? Ayah begitu jauh dariku. Ingin sekali aku menjumpai ayah. Bicara dari hati ke hati. Mana ayahku yang selalu ke mushala? Mana ayahku yang selalu mengumandangkan Azan dari corong musala sehingga lantunan azan yang indah bergema ke seantero kampungku? Mana ayahku yang selama ini rajin beribadah?

Ais kalut. Ia mengumpat Tuhannya. "Ya Allah, Engkau begitu tak menyayangi ayahku dan keluargaku. Engkau belokkan dia dari jalan-Mu. Kenapa engkau tak pelihara langkah ayahku? Kenapa Engkau tunjukkan ini ketika aku sudah jauh dari ayahku?"---be continue---

***


*)rukan panggung, 25th March 4:39 AM