ibuku berusaha untuk tidak menolak apa saja kemauanku. agar aku tak kecewa tentunya
aku rasa ibumu juga begitu. tidak akan membiarkanmu berkecil hati atas apapun
kali ini, aku dan kamu sama-sama memiliki kehendak
ingin saling menghargai dan menyanggupi kemauan masing-masing
tapi apa yang terjadi?
tetap saja aku atau kamu melanggarnya
itikad baik untuk memperbaiki,
masih jauh
yang ada benturan pendapat
benturan kehendak
benturan prinsip
agak memaksakan
tapi percayalah
ini sekedar bumbu
menjadi aneka citarasa
kita saja yang belum cukup mampu memaknainya
let it! enjoy! make it better
lalu kenapa aku menghubungkan 'ini' dengan ibuku ibumu?
alasan pasti aku juga tidak tahu
tentu diantaranya memiliki kesamaan, menurutku
butuh TULUS
ikhlas menabur
tak berharap balikan
selalu terjaga
selamanya
begitulah hendaknya,
kita
Torpidity
hidup, tak hidup
bersuara, tak terdengar
bicara, tak bersuara
merasa tanpa hati
#Zombie
alangkah malunya
untuk apa dipertahankan
takut berhenti
lebih baik
membuat nyaman
tanpa perasaan
#Munafik
biarkan saja
terus
lalui
sampai 'mati'
#Forced
bersuara, tak terdengar
bicara, tak bersuara
merasa tanpa hati
#Zombie
alangkah malunya
untuk apa dipertahankan
takut berhenti
lebih baik
membuat nyaman
tanpa perasaan
#Munafik
biarkan saja
terus
lalui
sampai 'mati'
#Forced
Banyak Jalan Satu Tujuan
Pada akhirnya skenario apa pun yang telah kita tuliskan tidak akan selalu berjalan semestinya.
Suatu ketika ia akan sama dengan yang telah kita rencanakan.
Suatu ketika ia akan berputar arah menjauhi rencana yang kita tetapkan.
Ini hanya persoalan penerimaan.
Apabila ia sesuai dengan rencana, terima dengan syukur.
Apabilai ia tak sama dengan rencana, terima juga dengan syukur.
Nah, syukur seperti apa?
Ketika pikiran ini mampu diduasisikan ia akan mampu mencerna dua syukur itu.
Ia juga akan bijak.
Mengiring kita ke tujuan yang terasa kian dekat.
Kali ini, sejauh ini perjalanan kita,
memang terasa di luar jalur.
Kadang kita tidak konsisten dengan skenario yang kita tuliskan.
Tak ada salahnya, bukan.
Karena semua berproses mengikuti alur masing-masing.
Mari berjalan.
Jalan yang tak sama.
Liku-liku.
Lurus.
Banyak jalan.
Satu tujuan.
Bahagia.
Suatu ketika ia akan sama dengan yang telah kita rencanakan.
Suatu ketika ia akan berputar arah menjauhi rencana yang kita tetapkan.
Ini hanya persoalan penerimaan.
Apabila ia sesuai dengan rencana, terima dengan syukur.
Apabilai ia tak sama dengan rencana, terima juga dengan syukur.
Nah, syukur seperti apa?
Ketika pikiran ini mampu diduasisikan ia akan mampu mencerna dua syukur itu.
Ia juga akan bijak.
Mengiring kita ke tujuan yang terasa kian dekat.
Kali ini, sejauh ini perjalanan kita,
memang terasa di luar jalur.
Kadang kita tidak konsisten dengan skenario yang kita tuliskan.
Tak ada salahnya, bukan.
Karena semua berproses mengikuti alur masing-masing.
Mari berjalan.
Jalan yang tak sama.
Liku-liku.
Lurus.
Banyak jalan.
Satu tujuan.
Bahagia.
untuk ibu dan lelaki (ku)
#tuntutan
Tuhan, haruskah MENYERAH?
Bukannya terlalu angkuh untuk merasa BISA melakukan SEMUA ini
Tapi hanya mencoba berTANGGUNG JAWAB atas PILIHAN
pilihan HIDUP
pilihan CINTA
pilihan PEKERJAAN
semuanya mengandung RESIKO
BESAR sekali
#tuntutan
Surat untuk Sahabat
sahabatku..
izinkan aku menuliskan surat ini untukmu, percakapan kita tadi sore aku merasa sungguh aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. mohon maaf, aku terlalu egois menilaimu.
jikalau saja kita tak berjarak, ingin sekali aku ada di hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. tapi, di halaman ini aku juga merasa tidak bisa dan tidak perlu untuk menjelaskan apapun. aku hanya ingin kamu mengerti aku, makhluk Tuhan yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.
sahabat,
jika kamu berpikir aku buruk, aku tak seburuk itu
jika kamu berpikir aku baik, aku juga tak sebaik itu
kepada siapapun di dunia ini, sungguh aku tidak berharap aku dianggap apa-apa
aku hanya memasrahkan kepada Tuhan untuk menilaiku
jika kamu mendengar apapun dari orang lain tentangku, jangan cepat membuat kesimpulan. sebaliknya, aku pun begitu. sesungguhnya banyak 'hal' yang aku dengar tentangmu, tapi aku berusaha untuk tidak akan menghakimimu. karena aku tau, kamu memang lebih dari aku. lebih tebal imanmu, lebih mantap agamamu. aku hanya berusaha yakin kamu tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. untuk itu, mohon jangan kamu menghakimiku. aku tak seburuk itu. sungguh.
aku juga sangat menyesal telah berusaha jujur untuk memberi penilaian untukmu. pun itu atas permintaanmu. aku benar-benar bodoh, ternyata penilaianku hanya menjadi boomerang bagiku. tak seharusnya aku menilai kamu, tak seharusnya aku menyampaikan apa yang aku rasakan. karena itu semua hanya membuatmu sedih dan kecewa. tak ada kepantasan sedikitpun bagiku untuk menilaimu. hanya Tuhan semata-mata yang berhak untuk menilai umatNya.
sahabat, sudahlah. aku akan melupakan semuanya. aku tidak akan marah, tidak kecewa dan tetap akan menganggap kamu sebagai sahabatku. terimakasih kamu telah mengingatkanku, terimakasih kamu telah menyayangiku karena Allah. sebaliknya, aku juga menyayangimu karena Allah.
izinkan aku menuliskan surat ini untukmu, percakapan kita tadi sore aku merasa sungguh aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. mohon maaf, aku terlalu egois menilaimu.
jikalau saja kita tak berjarak, ingin sekali aku ada di hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. tapi, di halaman ini aku juga merasa tidak bisa dan tidak perlu untuk menjelaskan apapun. aku hanya ingin kamu mengerti aku, makhluk Tuhan yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.
sahabat,
jika kamu berpikir aku buruk, aku tak seburuk itu
jika kamu berpikir aku baik, aku juga tak sebaik itu
kepada siapapun di dunia ini, sungguh aku tidak berharap aku dianggap apa-apa
aku hanya memasrahkan kepada Tuhan untuk menilaiku
jika kamu mendengar apapun dari orang lain tentangku, jangan cepat membuat kesimpulan. sebaliknya, aku pun begitu. sesungguhnya banyak 'hal' yang aku dengar tentangmu, tapi aku berusaha untuk tidak akan menghakimimu. karena aku tau, kamu memang lebih dari aku. lebih tebal imanmu, lebih mantap agamamu. aku hanya berusaha yakin kamu tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. untuk itu, mohon jangan kamu menghakimiku. aku tak seburuk itu. sungguh.
aku juga sangat menyesal telah berusaha jujur untuk memberi penilaian untukmu. pun itu atas permintaanmu. aku benar-benar bodoh, ternyata penilaianku hanya menjadi boomerang bagiku. tak seharusnya aku menilai kamu, tak seharusnya aku menyampaikan apa yang aku rasakan. karena itu semua hanya membuatmu sedih dan kecewa. tak ada kepantasan sedikitpun bagiku untuk menilaimu. hanya Tuhan semata-mata yang berhak untuk menilai umatNya.
sahabat, sudahlah. aku akan melupakan semuanya. aku tidak akan marah, tidak kecewa dan tetap akan menganggap kamu sebagai sahabatku. terimakasih kamu telah mengingatkanku, terimakasih kamu telah menyayangiku karena Allah. sebaliknya, aku juga menyayangimu karena Allah.




