Judul : Stolen Innocence Kisah Nyata Pengantin Belia di Sekte Poligami
Penulis : Elissa Wall &Lisa Pulitzer
Penerbit : Dastan Books
Cetakan : I, September 2009
Jumlah Halmn : 384 Halaman
Harga : Rp 65.000,-
Kisah yang dituangkan dalam buku ini terlahir dari pemberontakan seorang mantan anggota sekte The Fundamentalist Church of Latter Day Saints_Gereja Fundamental Para Orang Suci Hari Akhir_(FLDS), yang dipaksa menikah di usia 14 tahun, Elissa Wall. FLDS yang terletak di Utah ini merupakan pecahan dari gereja Mormon. Kedua gereja ini pecah karena adanya perbedaan pendapat dalam hal poligami.
Sebagai anggota dari FLDS, Elissa dibesarkan dengan doktrin bahwa pernikahan haruslah terjadi karena wahyu dari Tuhan dan wahyu tersebut disampaikan melalui sang Nabi, yang dianggap sebagai utusan Tuhan di muka bumi.
Menurut ajaran sekte FLDS, seorang suami harus memiliki minimal empat istri untuk dapat masuk surga. Dilahirkan sebagai anggota dari sekte poligami, tidak membuat Elissa menyetujui ajaran sektenya. Elissa terus-menerus mempertanyakan ajaran sektenya yang tidak masuk akal, misalnya saja utusan Tuhan, yaitu sang Nabi yang dipanggil Paman Warren dapat memperistri wanita mana pun yang ia inginkan walaupun masih di bawah umur. Anak-anak dilarang bersekolah di sekolah umum. Dan sering kali, anak-anak perempuan dipaksa menikah saat mencapai usia remaja.
Beberapa ajaran demikian membuat Elissa memberontak. Terlalu banyak ajaran yang tidak masuk akal menurutnya yang mesti dilakukan di sektenya. Sejak kecil Elissa hidup bersama keluarga dan tiga ibu tirinya. Kakak dan adik laki-lakinya diusir dari rumah karena dinilai telah melanggar ajaran FLDS.
Tak hanya itu, dalam bukunya Elissa menguraikan jika seorang gadis mengutarakan pendapatnya, maka nikahkan ia. Setelah menikah, buat dia segera hamil. Setelah memiliki anak, maka dia kan patuh seumur hidup_hampir tidak mungkin bagi wanita FLDS untuk membawa anak-anak mereka jika memutuskan untuk pergi, dan tidak ada satu ibu pun yang tega meninggalkan anak mereka. Sayangnya, saat itu, Elissa terlalu muda dan buta untuk bisa menyadari kenyataan itu. Tapi untuknya_dan untuk sebagian besar wanita FLDS_ada sebuah jebakan tersembunyi di dalamnya.
Ketika melihat Elissa memiliki sifat pemberontak, Warren menikahkan Elissa yang saat itu masih berusia 14 tahun dengan sepupunya yang bernama Allen, berumur 19 tahun. Pernikahan itu dilangsungkan secara diam-diam karena Elissa masih di bawah umur. Hampir tiap malam, Elissa diperkosa oleh Allen atas nama kewajiban sebagai anggota jemaah yang baik. Banyak sekali penderitaan dan tekanan yang dialami Elissa, sang pengantin belia, yang harus ia lalui hari demi hari, malam demi malam. Tapi Elissa tidak tinggal diam, ia berjuang keras untuk mendapatkan kebebasannya sendiri, juga kebebasan rekan-rekannya sepenanggungan.
Dalam kisahnya ini, Elissa menjabarkan setiap kejadian berdasarkan ingatannya yang benar-benar terjadi. Meski tak semua yang terlibat dalam kisah ini dituliskan Elissa dengan nama sebenarnya, namun segala yang ia alami tak luput dalam ceritanya dan tetap disajikan secara gamblang. Deskripsinya mengenai sekte poligami yang diperkirakan memiliki anggota lebih dari 10 ribu orang ini, begitu mengejutkan dan perjuangan Elissa untuk meraih kebebasan dan keluar dari sekte tersebut sangat menakjubkan. Buku ini juga pantas dibaca oleh berbagai kalangan yang tertarik dengan masalah poligami. Kisah yang dipaparkan Lessie_panggilan akrab ibu Elissa terhadapnya, akan mengubah pandangan pembaca tentang daya juang dan keteguhan seorang wanita. ***
*)masih sebuah klipingan, ditulis di akhir 2010
Kisah Nyata Pengantin Belia, Elissa di Sekte Poligami
Posted by
tutihandriani
on Minggu, 10 April 2011
/
Labels:
buku,
elissa wall dan Lisa Pulitzer,
stolen innocence
/
Comments: (0)
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Beberapa waktu lalu, Penulis mewakili SKK Ganto dalam kegiatan yang diselenggarakan sebuah Lembaga Pers Mahasiswa salah satu universitas di luar Sumatera Barat. Kembali dari perjalanan tentu Laporan Pertanggungjawaban harus diserahkan. Tapi, salah satu bukti_tiket bus yang harus dilampirkan hilang.
Untuk itu, penulis mendatangi loket tempat pembelian tiket tersebut. Dengan santai petugas loket mengatakan, “Bayar saja administrasinya, terserah adek mau menulis kapan berangkatnya dan berapa jumlah ongkosnya.” Dari pernyataan petugas tadi, penulis pun bertanya, “Kenapa seperti itu Pak? Bukannya seharusnya Bapak yang menuliskan?” Si Petugas langsung menjawab, “Itu biasa dek, sudah terlalu sering orang-orang yang melakukan perjalanan, meminta tiket kosong di sini, agar mereka bisa membubuhkan berapa ongkos mereka nantinya, bahkan aparat sekalipun,” tambahnya.
Itulah sekelumit pengalaman penulis. Korupsi itu adalah hal yang biasa dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Masyarakat lelah mengikuti kejadian politik yang terjadi di negara ini dan telah bosan bertanya kenapa dan akhirnya menjadi masa bodoh. Betapa tidak, ketika para pemimpin sibuk memperkaya diri dengan fasilitas negara dan berebut kantor dengan segala kemudahannya, melakukan korupsi terhadap harta negara dan rakyat dengan nilai yang tidak terbayangkan apabila dihitung mulai dari angka satu sampai ke angka uang yang telah dikorupsinya. Begitu juga ketika peristiwa suap-menyuap antara aparat dan masyarakat di depan umum adalah hal biasa.
Di negara kita yang mayoritas Islam ini patut kita memperhatikan bahwa dalam Islam kita diajarkan untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Allah berfirman yang artinya: ”Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (Qs. al-Baqarah:188). Allah juga berfirman: ”Siapa saja yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya. Kemudian setiap orang menerima balasan setimpal atas segala yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara dzalim.” (Qs. Ali Imran: 161). Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ”Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulul (kecurangan).” (HR. Abu Dawud).
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Shalat dan korupsi. Sekilas keduanya tidak berhubungan sama sekali. Shalat adalah sebuah rutinitas ibadah bagi umat islam. Korupsi merupakan tindakan tercela. Namun, ada kesamaan diantara keduanya; dapat dilaksanakan secara berjamaah. Apabila shalat berjamaah pahalanya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri, apakah korupsi yang dilakukan secara berjamaah, dikerjakan bersama-sama, melibatkan banyak orang dengan kerugian negara yang banyak, juga dapat dikenai hal yang demikian; dosa yang berlipat-lipat?
Jika diperhatikan lebih jauh, setiap manusia sebenarnya memiliki sifat serakah, hanya ada yang berkembang dalam dirinya, dan ada terkalahkan oleh keimanannya. Kalau dibawa ke zaman sekarang, memang banyaknya orang yang korupsi menandakan keserakahan mengalahkan keimanan mereka, banyak dari mereka yang Islam, shalat juga, sudah haji pula, tapi kenapa bisa korupsi? Bukan kesalahan shalat dan hajinya, tapi bagaimana ibadah yang mereka lakukan tidak memberi manfaat pada mereka, karena mereka melakukannya juga tidak khusyu, tidak mencari pahala Allah, mengharap terhindar dari neraka Allah, mereka berhaji hanya untuk dipanggil pak haji, bu haji. Mereka shalat hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim. Tanpa merefleksikan ke dalam perilaku mereka sehari-hari. Akhirnya itulah yang terjadi, ibadah terus, tapi mencuri, merampok, korupsi, ya jalan terus.
Dulu, pada tahun 2002 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta mengadakan penelitian tentang Islam dan demokrasi. Penelitian ini dilakukan di 16 propinsi seluruh Indonesia dan mewawancarai langsung 2000 responden. Banyak temuan yang menarik dalam penelitian ini. Salah satunya adalah bahwa umat Islam di Indonesia semakin tinggi tingkat kesalehannya. Misalnya, adanya kecenderungan makin dominannya kelas santri.
Kecenderungan ini terlihat dari makin merebaknya kesalehan dalam masyarakat. Sayangnya, tingginya kesalehan ini dibarengi dengan semakin tinggi pula tingkat kecurigaan dan tidak tolerannya terhadap kelompok di luar Islam. Majalah Tempo yang memuat laporan penelitian itu merumuskan temuan itu dalam kalimat pendek yang cukup baik, “More Pious, Less Tolerant”. Artinya: kian saleh, kian enggan menoleh. Maksudnya “menoleh” kepada golongan-golongan yang berbeda agama.
Jika kita lihat sampai sekarang, fenomena ini masih juga terjadi. Kalau manusia kurang hati-hati tergelincirlah mereka. Mereka berfikir sanggup memerdekakan dirinya sendiri, mereka akan sanggup berjuang dengan setan dengan hawa. Padahal dengan tidak disadarinya mereka telah terpengaruh oleh setan, dan hawa nafsu. Bahkan kadang-kadang dirinya sendiri telah jadi setan dengan tidak disadarinya karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya, maka diputarnya, didalihnya, dibajui dengan baju agama.
Kadang-kadang orang yang lancar lidahnya untuk berpidato, tidak gugup untuk naik podium sanggup memegang pimpinan kumpulan dan orang banyak, padahal mereka menurutkan hawa nafsu. Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap “atas nama agama”, “demikian firman Allah”, demikian “titah Rasul” tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa. Padahal ayat dan hadits itu hanya mereka ambil sebagai penguat hawa mereka. Bukan hawa mereka yang mereka taklukkan kepada Al Quran dan Hadits.
Sesungguhnya shalat merupakan sarana pengendali terbaik untuk mencegah perbuatan menyimpang apabila seseorang melaksanakan dengan benar. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal. Begitu pula sebaliknya, semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya. Sebagaimana Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan.Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59).
Dari ayat di atas dapat kita maknai bahwa orang yang melakukan korupsi adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu akan memiliki harta yang banyak. Tanpa memperhatikan dari mana harta tersebut diperoleh. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang gila akan uang atau harta. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Qs. Al Adiyat:8 ”Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta shingga ia menjadi bakhil.
Maka di sini manusia dituntut untuk memerangi hawa nafsu mereka ketika mereka telah dihadapkan kepada kekuasaan dan jabatan. Karena ini nantinya akan mempengaruhi tindakan mereka selama berkuasa.
Memerangi Hawa Nafsu
Untuk mencegah korupsi ini, manusia dituntut bisa memerangi hawa nafsunya. Di dalam perjuangan melawan hawa nafsu, Hamka di dalam bukunya ‘Tasauf Modern’, membagi manusia menjadi 3 bagian; Yang kalah dirinya oleh hawa sampai ditahan dan diperbudak oleh hawa itu sendiri djadikannya Tuhan, perperangan antara keduanya berganti-ganti, kalang dan menang jatuh dan tegak, dan orang yang dapat mengalahkan hawanya.
Manusia golongan ketiga inilah yang mampu mengalahkan hawa nafsunya sehingga mereka yang memerintah hawa bukan hawa yang memerintah mereka. Tidak bisa hawa mengutak-atikkannya, mereka yang jadi raja, penguasa, dan mereka yang merdeka_tidak terpangaruh dan tidak diperbudak hawa. Rasulullah S.A.W bersabda: “Tidak seorang pun di antara kita yang tidak bersetan, saya sendiri pun ada juga bersetan tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya menghadapi setean saya itu sehingga dia saya kalahkan.” (HR. Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdurrahman As-Sulami).
Jika manusia tidak hati-hati dalam memerangi hawa nafsunya, maka akan membawa mereka ke jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebelum bertindak perlulah kita mengawasi atau memikirkan apakah yang akan kita lakukan merupakan perintah hawa atau perintah akal. Biasanya akal mempertahankan sesuatu yang pahit tetapi manis akibatnya, sedangkan nafsu mempertahankan sesuatu yang manis tapi pahit bekasnya. Itulah sebabnya, Rasulullah bersabda: “Diramaikan syurga dengan barang yang berat mengerjakan dan diramaikan neraka dengan syahwa.,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apabila segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan perintah akal, mudah-mudahan segala tindakan kecurangan tidak akan dilakukan. Ketika kita dihadapkan kepada sesuatu yang meragukan, menggiurkan, tertarik kepada sesuatu keinginan yang besar, maka lekaslah pertimbangkan. Ketika hawa membawa kita jauh berangan-angan, maka akal akan dibawa untuk mempertimbangkan. Tetap teguh kepada pedoman kita sebagaimana manusia dalam hidup. Yakni, Al Quran dan Hadits.***
*)masih klipingan opini, ditulis 2008 lalu
Untuk itu, penulis mendatangi loket tempat pembelian tiket tersebut. Dengan santai petugas loket mengatakan, “Bayar saja administrasinya, terserah adek mau menulis kapan berangkatnya dan berapa jumlah ongkosnya.” Dari pernyataan petugas tadi, penulis pun bertanya, “Kenapa seperti itu Pak? Bukannya seharusnya Bapak yang menuliskan?” Si Petugas langsung menjawab, “Itu biasa dek, sudah terlalu sering orang-orang yang melakukan perjalanan, meminta tiket kosong di sini, agar mereka bisa membubuhkan berapa ongkos mereka nantinya, bahkan aparat sekalipun,” tambahnya.
Itulah sekelumit pengalaman penulis. Korupsi itu adalah hal yang biasa dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Masyarakat lelah mengikuti kejadian politik yang terjadi di negara ini dan telah bosan bertanya kenapa dan akhirnya menjadi masa bodoh. Betapa tidak, ketika para pemimpin sibuk memperkaya diri dengan fasilitas negara dan berebut kantor dengan segala kemudahannya, melakukan korupsi terhadap harta negara dan rakyat dengan nilai yang tidak terbayangkan apabila dihitung mulai dari angka satu sampai ke angka uang yang telah dikorupsinya. Begitu juga ketika peristiwa suap-menyuap antara aparat dan masyarakat di depan umum adalah hal biasa.
Di negara kita yang mayoritas Islam ini patut kita memperhatikan bahwa dalam Islam kita diajarkan untuk mendapatkan sesuatu yang halal. Allah berfirman yang artinya: ”Janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil.” (Qs. al-Baqarah:188). Allah juga berfirman: ”Siapa saja yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya. Kemudian setiap orang menerima balasan setimpal atas segala yang telah dilakukannya dan mereka tidak diperlakukan secara dzalim.” (Qs. Ali Imran: 161). Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi: ”Siapa saja yang kami (negara) beri tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (upah/gaji), maka apa yang diambil selain dari (upah/gaji) itu adalah ghulul (kecurangan).” (HR. Abu Dawud).
Shalat Ya, Korupsi Ya!
Shalat dan korupsi. Sekilas keduanya tidak berhubungan sama sekali. Shalat adalah sebuah rutinitas ibadah bagi umat islam. Korupsi merupakan tindakan tercela. Namun, ada kesamaan diantara keduanya; dapat dilaksanakan secara berjamaah. Apabila shalat berjamaah pahalanya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri, apakah korupsi yang dilakukan secara berjamaah, dikerjakan bersama-sama, melibatkan banyak orang dengan kerugian negara yang banyak, juga dapat dikenai hal yang demikian; dosa yang berlipat-lipat?
Jika diperhatikan lebih jauh, setiap manusia sebenarnya memiliki sifat serakah, hanya ada yang berkembang dalam dirinya, dan ada terkalahkan oleh keimanannya. Kalau dibawa ke zaman sekarang, memang banyaknya orang yang korupsi menandakan keserakahan mengalahkan keimanan mereka, banyak dari mereka yang Islam, shalat juga, sudah haji pula, tapi kenapa bisa korupsi? Bukan kesalahan shalat dan hajinya, tapi bagaimana ibadah yang mereka lakukan tidak memberi manfaat pada mereka, karena mereka melakukannya juga tidak khusyu, tidak mencari pahala Allah, mengharap terhindar dari neraka Allah, mereka berhaji hanya untuk dipanggil pak haji, bu haji. Mereka shalat hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim. Tanpa merefleksikan ke dalam perilaku mereka sehari-hari. Akhirnya itulah yang terjadi, ibadah terus, tapi mencuri, merampok, korupsi, ya jalan terus.
Dulu, pada tahun 2002 Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Jakarta mengadakan penelitian tentang Islam dan demokrasi. Penelitian ini dilakukan di 16 propinsi seluruh Indonesia dan mewawancarai langsung 2000 responden. Banyak temuan yang menarik dalam penelitian ini. Salah satunya adalah bahwa umat Islam di Indonesia semakin tinggi tingkat kesalehannya. Misalnya, adanya kecenderungan makin dominannya kelas santri.
Kecenderungan ini terlihat dari makin merebaknya kesalehan dalam masyarakat. Sayangnya, tingginya kesalehan ini dibarengi dengan semakin tinggi pula tingkat kecurigaan dan tidak tolerannya terhadap kelompok di luar Islam. Majalah Tempo yang memuat laporan penelitian itu merumuskan temuan itu dalam kalimat pendek yang cukup baik, “More Pious, Less Tolerant”. Artinya: kian saleh, kian enggan menoleh. Maksudnya “menoleh” kepada golongan-golongan yang berbeda agama.
Jika kita lihat sampai sekarang, fenomena ini masih juga terjadi. Kalau manusia kurang hati-hati tergelincirlah mereka. Mereka berfikir sanggup memerdekakan dirinya sendiri, mereka akan sanggup berjuang dengan setan dengan hawa. Padahal dengan tidak disadarinya mereka telah terpengaruh oleh setan, dan hawa nafsu. Bahkan kadang-kadang dirinya sendiri telah jadi setan dengan tidak disadarinya karena yang diikutinya bukan perintah Tuhan yang tidak setuju dengan kehendak nafsunya, maka diputarnya, didalihnya, dibajui dengan baju agama.
Kadang-kadang orang yang lancar lidahnya untuk berpidato, tidak gugup untuk naik podium sanggup memegang pimpinan kumpulan dan orang banyak, padahal mereka menurutkan hawa nafsu. Apa saja tipuan yang dilakukannya kepada orang banyak, diberinya cap “atas nama agama”, “demikian firman Allah”, demikian “titah Rasul” tidak boleh dilanggar, siapa melanggar berdosa. Padahal ayat dan hadits itu hanya mereka ambil sebagai penguat hawa mereka. Bukan hawa mereka yang mereka taklukkan kepada Al Quran dan Hadits.
Sesungguhnya shalat merupakan sarana pengendali terbaik untuk mencegah perbuatan menyimpang apabila seseorang melaksanakan dengan benar. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal. Begitu pula sebaliknya, semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan kriminalnya. Sebagaimana Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat yang berujung kepada kesesatan.Firman Allah, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59).
Dari ayat di atas dapat kita maknai bahwa orang yang melakukan korupsi adalah mereka yang memperturutkan hawa nafsunya. Hawa nafsu akan memiliki harta yang banyak. Tanpa memperhatikan dari mana harta tersebut diperoleh. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang gila akan uang atau harta. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Qs. Al Adiyat:8 ”Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini ialah manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta shingga ia menjadi bakhil.
Maka di sini manusia dituntut untuk memerangi hawa nafsu mereka ketika mereka telah dihadapkan kepada kekuasaan dan jabatan. Karena ini nantinya akan mempengaruhi tindakan mereka selama berkuasa.
Memerangi Hawa Nafsu
Untuk mencegah korupsi ini, manusia dituntut bisa memerangi hawa nafsunya. Di dalam perjuangan melawan hawa nafsu, Hamka di dalam bukunya ‘Tasauf Modern’, membagi manusia menjadi 3 bagian; Yang kalah dirinya oleh hawa sampai ditahan dan diperbudak oleh hawa itu sendiri djadikannya Tuhan, perperangan antara keduanya berganti-ganti, kalang dan menang jatuh dan tegak, dan orang yang dapat mengalahkan hawanya.
Manusia golongan ketiga inilah yang mampu mengalahkan hawa nafsunya sehingga mereka yang memerintah hawa bukan hawa yang memerintah mereka. Tidak bisa hawa mengutak-atikkannya, mereka yang jadi raja, penguasa, dan mereka yang merdeka_tidak terpangaruh dan tidak diperbudak hawa. Rasulullah S.A.W bersabda: “Tidak seorang pun di antara kita yang tidak bersetan, saya sendiri pun ada juga bersetan tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya menghadapi setean saya itu sehingga dia saya kalahkan.” (HR. Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdurrahman As-Sulami).
Jika manusia tidak hati-hati dalam memerangi hawa nafsunya, maka akan membawa mereka ke jalan yang sesat. Oleh karena itu, sebelum bertindak perlulah kita mengawasi atau memikirkan apakah yang akan kita lakukan merupakan perintah hawa atau perintah akal. Biasanya akal mempertahankan sesuatu yang pahit tetapi manis akibatnya, sedangkan nafsu mempertahankan sesuatu yang manis tapi pahit bekasnya. Itulah sebabnya, Rasulullah bersabda: “Diramaikan syurga dengan barang yang berat mengerjakan dan diramaikan neraka dengan syahwa.,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apabila segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan perintah akal, mudah-mudahan segala tindakan kecurangan tidak akan dilakukan. Ketika kita dihadapkan kepada sesuatu yang meragukan, menggiurkan, tertarik kepada sesuatu keinginan yang besar, maka lekaslah pertimbangkan. Ketika hawa membawa kita jauh berangan-angan, maka akal akan dibawa untuk mempertimbangkan. Tetap teguh kepada pedoman kita sebagaimana manusia dalam hidup. Yakni, Al Quran dan Hadits.***
*)masih klipingan opini, ditulis 2008 lalu
Teknologi untuk Menyelaraskan Vibrasi
Judul : The Secret Behind The Secret--Seni Mengelola Vibrasi Hati
Halaman : 277 + xv
Penulis : Yudi Sudjana
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, KOMPAS Gramedia
Thn Terbit : Mei, 2009
Harga : Rp 64.800,-
Sejak kemunculan film dan buku The Secret oleh Rhonda Byrne yang fenomenal itu, banyak pula buku sejenis yang diterbitkan namun banyak pembacanya yang masih bingung dan bahkan tidak mencapai perubahan yang signifikan dalam hidupnya karena tidak adanya cara yang diberikan untuk mencapai perubahan itu.
Yudi Sujana, pendiri Suara Hati Foundation, seorang modern days spiritual messenger juga trainer transformasi diri, melalui The Secret behind The Secret menjawab tantangan itu dan memberikan How To atau cara mengaplikasikannya untuk kehidupan sehari-sehari yang tidak diajarkan dalam The Secret ataupun pendidikan formal lainnya. Pelopor manajemen vibrasi hati di Indoensia ini menuangkan caranya dalam bentuk latihan pikiran dan perasaan dan juga game vibrasi yang menyenangkan.
Dalam bukunya, Yudi membongkar rahasia untuk mencapai apa pun yang diinginkan atau untuk mengubah realita hidup. Namun, sebelum perubahan dari luar terlihat, diperlukan perubahan di dalam diri, perubahan pikiran dan perasaan, perubahaan gelombang energi atau vibrasi.
Penulis mengungkapkan semua yang ada di alam semesta adalah vibrasi atau gelombang energi. Semua benda padat adalah vibrasi. Benda padat memiliki vibrasi yang rendah dan pelan, karenanya tidak terlihat namun dirasakan. Sedangkan tubuh manusia memiliki sensor vibrasi melalui pancaindranya. Manusia sebagai makhluk cipaan tuhan yang paling sempurna memiliki vibrasi paling tinggi berupa pikiran dan perasan. Kita bisa tahu apakah sesauatu mempunyai vibrasi yang kuat atau tidak melalui sensor indra keenam, yaitu hati. Melalui pikiran dan perasaan inilah realita kita terbentuk.
Termuat dalam buku ini, seni mengelola vibrasi hati. Penulis lebih memfokuskan pada topik ini karena para pakar di bidang Fisika Quantum telah menyimpulkan bahwa hati itu seperti magnit, hati selalu menarik segalanya sesuai dengan apa yang dirasakan di hati,dan daya tarik magnit ini kekuatannya ribuan kali dibanding otak. Oleh karena itu, barang siapa yang trampil mengelola vibrasi hatinya dia akan mendapatkan segala kemudahan dan nikmatnya hidup,dan dia akan mengenal siapa jati dirinya dan barang siapa yang mengenal jati dirinya dia mengenal sang pencipta dan dia sadar bahwa Tuhan selalu membimbing dan berkomunikasi dengan manusia melalui hatinya setiap saat asalkan dia mendengarkan suara dari dalam hatinya.
Untuk mendapatkan hasil maksimal dari buku ini sebaiknya pembaca mendengarkan terlebih dahulu CD Relaksasi Alpha dari Sound Technology yang dilampirkan dalam buku ini. Teknologi Brainware yang terkandung di dalamnya akan membantu menenangkan otak dan masuk ke kondisi Alpha, kondisi yang sangat ideal untuk menyerap informasi dan meningkatkan kinerja otak. Tak ketinggalan penulis menjelaskan beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menggunakan CD Alpha Sound Technology di bagian akhir buku ini. Selamat membaca.***
*)masih sebuah klipingan, ditulis 2010 lalu
Halaman : 277 + xv
Penulis : Yudi Sudjana
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, KOMPAS Gramedia
Thn Terbit : Mei, 2009
Harga : Rp 64.800,-
Sejak kemunculan film dan buku The Secret oleh Rhonda Byrne yang fenomenal itu, banyak pula buku sejenis yang diterbitkan namun banyak pembacanya yang masih bingung dan bahkan tidak mencapai perubahan yang signifikan dalam hidupnya karena tidak adanya cara yang diberikan untuk mencapai perubahan itu.
Yudi Sujana, pendiri Suara Hati Foundation, seorang modern days spiritual messenger juga trainer transformasi diri, melalui The Secret behind The Secret menjawab tantangan itu dan memberikan How To atau cara mengaplikasikannya untuk kehidupan sehari-sehari yang tidak diajarkan dalam The Secret ataupun pendidikan formal lainnya. Pelopor manajemen vibrasi hati di Indoensia ini menuangkan caranya dalam bentuk latihan pikiran dan perasaan dan juga game vibrasi yang menyenangkan.
Dalam bukunya, Yudi membongkar rahasia untuk mencapai apa pun yang diinginkan atau untuk mengubah realita hidup. Namun, sebelum perubahan dari luar terlihat, diperlukan perubahan di dalam diri, perubahan pikiran dan perasaan, perubahaan gelombang energi atau vibrasi.
Penulis mengungkapkan semua yang ada di alam semesta adalah vibrasi atau gelombang energi. Semua benda padat adalah vibrasi. Benda padat memiliki vibrasi yang rendah dan pelan, karenanya tidak terlihat namun dirasakan. Sedangkan tubuh manusia memiliki sensor vibrasi melalui pancaindranya. Manusia sebagai makhluk cipaan tuhan yang paling sempurna memiliki vibrasi paling tinggi berupa pikiran dan perasan. Kita bisa tahu apakah sesauatu mempunyai vibrasi yang kuat atau tidak melalui sensor indra keenam, yaitu hati. Melalui pikiran dan perasaan inilah realita kita terbentuk.
Termuat dalam buku ini, seni mengelola vibrasi hati. Penulis lebih memfokuskan pada topik ini karena para pakar di bidang Fisika Quantum telah menyimpulkan bahwa hati itu seperti magnit, hati selalu menarik segalanya sesuai dengan apa yang dirasakan di hati,dan daya tarik magnit ini kekuatannya ribuan kali dibanding otak. Oleh karena itu, barang siapa yang trampil mengelola vibrasi hatinya dia akan mendapatkan segala kemudahan dan nikmatnya hidup,dan dia akan mengenal siapa jati dirinya dan barang siapa yang mengenal jati dirinya dia mengenal sang pencipta dan dia sadar bahwa Tuhan selalu membimbing dan berkomunikasi dengan manusia melalui hatinya setiap saat asalkan dia mendengarkan suara dari dalam hatinya.
Untuk mendapatkan hasil maksimal dari buku ini sebaiknya pembaca mendengarkan terlebih dahulu CD Relaksasi Alpha dari Sound Technology yang dilampirkan dalam buku ini. Teknologi Brainware yang terkandung di dalamnya akan membantu menenangkan otak dan masuk ke kondisi Alpha, kondisi yang sangat ideal untuk menyerap informasi dan meningkatkan kinerja otak. Tak ketinggalan penulis menjelaskan beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menggunakan CD Alpha Sound Technology di bagian akhir buku ini. Selamat membaca.***
*)masih sebuah klipingan, ditulis 2010 lalu
'Bertandang'
Bertandang. Satu kata ini cukup tidak mengenakkan di telinga saya. Sejak masa kecil hingga kini, kata bertandang memiliki konotasi negatif bagi saya. Bertandang menurut pemahaman saya adalah ketika seseorang yang bertamu ke rumah orang lain dalam waktu yang cukup lama. Seperempat, setengah, satu, bahkan berhari-hari.
Semasa kecil saya termasuk salah seorang anak yang suka bertamu ke rumah teman. Berbagai alasan yang membuat saya demikian. Pertama, rumah teman saya lebih bagus daripada rumah saya. Kedua, saya suka sekali berkumpul dengan teman-teman sebaya. Ketiga, saya juga senang sekali apabila bisa mengenal seisi rumah tempat saya bertandang. Keempat, kelima, keenam dan seterusnya banyak lagi alasan lain yang membuat saya tertarik untuk bertandang.
Mengapa bertandang memiliki makna negatif bagi saya? Hal ini pertama kali muncul ketika ayah saya menegur kebiasaan kurang baik saya ini. Kata ayah saya, anak perempuan tidak baik kalau sering sekali bertandang ke rumah orang lain. Masih kata ayah saya, anak perempuan itu harusnya menghuni rumahnya dan menjadikan rumahnya itu tempat yang nyaman baginya. Bagaimanapun keadaan rumahnya, anak perempuan harus bisa menjadikan rumahnya layaknya istana.
Sejak ayah saya memberikan pemahaman demikian, saya mulai berpikir. Ternyata ayah saya sama sekali tak menyukai anaknya bertandang ke rumah orang lain. Lambat laun saya menyadari, yah saya tak menyukai, bukan berarti membatasi pergaulan saya. Hanya saja, saya berasal dari negeri yang penuh dengan norma, sopan dan santun, lebih luasnya disebut negeri beradat. Kaum perempuan diperlakukan istimewa, garis keturunan dilimpahkan kepadanya, harta warisan diprioritas kepada mereka, banyak lagi hal lain yang membuat si perempuan begitu teristimewa di negeri saya itu. Karena itu pulalah ada aturan yang berlebih dibandingkan kaum laki-laki. Tak ada yang salah memang, Sang Pencipta pun menciptakan kaum hawa sebagai makhluk yang mulia. Itu salah satu bagian terkecil yang menurut saya termasuk kepada falsafah di negeri saya, "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah". Kalimat yang begitu agung. Sederhana disebutkan, namun terlalu rumit untuk diaplikasikan.
Kali ini, saya juga tidak hendak membahas tentang adat di negeri saya. Kembali ke persoalan bertandang. Kemarin, beberapa minggu lalu, akhir-akhir ini, salah seorang teman (kakak) sesama bekerja seringkali mengajak saya untuk menginap di rumahnya. Seingat saya, baru dua kali saya menerima tawarannya. Sisanya, saya tolak. Menolak dengan berbagai alasan yang membuat dia tidak tersinggung, tentunya.
Di rumah si'kakak' apa yang tidak ada? Ada semua. Berbagai fasilitas lengkap, rumah yang lumayan luas. Ya, si 'kakak' bersuamikan orang kaya. Bekerja di salah satu perusahaan minyak ternama di negeri ini, bahkan hingga luar negeri.
Apa yang ada di rumah si 'kakak' berbanding terbalik dengan fasilitas yang ada di mess. Di tempat ini, saya hanya menghabiskan malam pada ruang lebih kurang 4x3 meter. Sebuah televisi, sebatang baling-baling angin, sebentang kasur lumayan empuk, serta sebiji lemari tempat saya menyimpan seluruh 'properti'.
Tapi biarlah, biarlah saya tinggal di istana mungil--mess-- saya ini. Meski mungil dan apa adanya selama saya masih berkesempatan menghuni, seperti yang dikatakan ayah saya, akan saya jadikan istana. Istana yang membuat hati bahagia menghuninya.
Tidak juga saya akan menginap di rumah indah si 'kakak. Biarlah si pemilik saja yang menikmati istana mereka. Bukan berarti saya angkuh, bukan berarti saya tak menghargai kebaikannya, bukan berarti saya individualis. Melainkan saya masih memegang erat petuah ayah saya. Selama itu tidak darurat, selama itu tidak ada kepentingan, saya akan tinggal di istana saya sendiri.
Rasul kita, kalau saya tidak salah mengingat, juga mengingatkan umatnya. "Janganlah kamu bertandang ke rumah orang lain melebihi tiga hari," kurang lebih begitu isinya. Kenapa Rasul melarang kita? ya, karena bagaimanapun tuan rumah akan merasa terganggu dengan keberadaan si tamu.
Ya, demikian beberapa alasan saya menolak ajakan si 'kakak'. Setelah memilah manfaat dan mudarat, lebih banyak manfaatnya ketika saya memilih berdiam di 'istana' saya ini. Si 'kakak' baru saja berkeluarga, kini tengah hamil, di rumahnya ada suami dia. Tentunya suami si 'kakak' bukan muhrim saya. Di lain hal, rutinitas di pagi hari, tanggung jawab saya selama bekerja di kantor ini akan terbengkalai ketika harus mengingap di rumah si 'kakak'.***
==Messku, Istanaku==
*)Bertandang mungkin kata yang tidak baku dalam Bahasa Indonesia, saya juga kurang tahu. Selama ini, saya hanya mengenal istilah tandang pada laga sepak bola. Meski demikian, harap dimengerti saja. Saya hanya tertarik untuk memakai kata 'Bertandang'. :))
@rukan panggung, 07th Apr '11, 17:41--Kotak Backsound--
Ibu Guru
Tak pernah sebelumnya terfikir kalau saya akan menjadi seorang calon guru. Semasa sekolah, saya tergolong siswa bandel dan suka mempermainkan guru. Tapi apa daya, semua itu berbalik kepada saya sekarang. Mau tak mau, praktik lapangan di sekolah latihan harus diikuti.
Beberapa waktu sebelum saya dan teman-teman memulai praktik lapangan, salah seorang dosen yang memberikan pembekalan kepada kami, cukup mampu memberikan motivasi kepada seluruh mahasiswa yang hadir di ruangan waktu itu. Terutama saya. Ia memulai materi dengan deretan kata yang sangat berarti bagi saya; “Tanpa Guru Tak Akan Ada Profesi Lain”. Ungkapan yang cukup menyemangati saya untuk mencoba praktik di situasi yang sebenarnya. Tak seperti praktik yang saya lakukan selama ini di kampus.
Saya ditempatkan di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Padang ini. Banyak pengalaman yang sudah saya dapatkan dan akan saya jalani sampai praktik akan berakhir. Praktik di sekolah yang siswanya baru berumur belasan tahun cukup menuntut kesabaran saya. Kenapa tidak? Tingkah laku mereka sungguh amat beragam. Mulai dari yang suka menarik perhatian guru dan temannya, berkelahi dalam kelas, sampai kepada mereka yang terlibat cinta lokasi di kelas. Ini parah sekali, mereka tak peduli dengan guru yang tengah serius mengajar di depan kelas. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang mau patuh atau pun memiliki minat belajar. Di balik itu, juga ada yang sangat patuh dan menuruti apa yang diinstruksikan gurunya.
Kenapa kebanyakan peserta didik tidak memiliki minat belajar yang baik, tidak punya kesadaran dari diri sendiri untuk belajar? Tentu banyak faktornya. Guru, orang tua, lingkungan, dan perkembangan zaman. Hal ini berdampak pada etika mereka kepada guru. Banyak siswa yang kurang menghargai guru. Pernah saya ajak siswa di kelas menyadari arti seorang guru bagi mereka. Satu per satu mereka berpendapat. Semuanya, tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dan dihindari. ”Guru itu, adalah orang tua bagi saya,” dengan polos siswa di kelas saya waktu itu menjawab. Temannya yang lain menambahkan, karena itu saya harus patuh kepada guru. Di sini mereka mengerti akan arti keberadaan seorang guru. Tapi, kesadaran mereka hanya pada saat itu saja. Perubahan pun tak berlangsung lama.
Nah, sedikit berbagi pengalaman, sebagai seorang mahasiswa praktik kita harus mampu mendekatkan diri kepada siswa agar mereka bisa menghargai kita layaknya guru mereka di sekolah. Selain di kelas, kita bisa memanfaatkan di luar waktu mengajar untuk berkomunikasi lebih banyak dengan siswa. Semakin siswa merasa dekat_dalam batas yang wajar dengan guru, maka siswa merasa segan dan menghargai gurunya. Pada saat ini jugalah muncul motivasi siswa untuk belajar karena mereka telah terlanjur senang dengan gurunya. Seperti yang dikatakan John Lubbock, ”Hal yang penting bukanlah setiap anak harus diberi pelajaran, tetapi bahwa setiap anak seharusnya diberikan keinginan untuk belajar.”
Inilah saatnya. Salam dan semangat untuk semua teman saya yang sedang menjalani praktik lapangan di manapun.***
*) Ditulis awal 2009 lalu ketika mengikuti praktik mengajar di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kota Padang. Sebuah klipingan catatan kuliah saya. Kuliah yang mendidik saya seharusnya jadi guru. Tapi, realitanya hingga saat ini saya tak mengikuti alurnya.
Sembilan Belas Hari
Posted by
tutihandriani
on Selasa, 05 April 2011
/
Labels:
catatan,
sembilan belas hari
/
Comments: (0)
Sembilan belas hari dia menempuh perjalanan. Perjalanan untuk ibadah. Katanya, dia punya do'a khusus untuk kami-- saya dan dia. Saya hanya turut meng-Amin-kan. Tak lupa saya minta oleh-oleh dari perjalanannya. "Oleh-olehnya tak banyak, hanya mau kamu menjdi pribadi yang lebih baik dari sebelum perjalanan ini," saya meminta.
"Insyaallah," ia menjawab.
Sepulangnya ia, entah apalah yang akan terjadi. Baik, pun buruk mesti diterima. Karena Sang Maha yang berkehendak. Harapan saya, untuk kali ini janganlah dihadapkan kepada saya manusia yang berpura-pura. Atau manusia yang hanya menaruh rasa 'kasihan'.
Tepat di hari ke-8, dia pun berkabar:
04 April at 16:21
Assalamu'alaikum ***....Sekarang *** DI Hotel Madinah...Mumpung ada Internet Gratis...*** cuman mau kasih kabr....*** pulang tgl 15 ke************...*** kangen lama gak dengar suara ***...*** jaga kesehatanx ya disana jangan nakal...wassalam
04 April at 17:16
Wslm. wr.wb..
senang tak terkira ketika terima kabar..
bagaimana di sana? adakah sehat dan lancar ibadahnya..?
cepat pulang... :'(
Sejak delapan hari berlalu hingga sepuluh hari ke depan, semuanya bergerak melamban. Saya bak mengikuti jalannya keong. Keong yang beringsut-ingsut lamban sekali sementara sang Elang terus membubung tinggi.
@rukan panggung, 05th April 2011, 17:23
"Insyaallah," ia menjawab.
Sepulangnya ia, entah apalah yang akan terjadi. Baik, pun buruk mesti diterima. Karena Sang Maha yang berkehendak. Harapan saya, untuk kali ini janganlah dihadapkan kepada saya manusia yang berpura-pura. Atau manusia yang hanya menaruh rasa 'kasihan'.
Tepat di hari ke-8, dia pun berkabar:
04 April at 16:21
Assalamu'alaikum ***....Sekarang *** DI Hotel Madinah...Mumpung ada Internet Gratis...*** cuman mau kasih kabr....*** pulang tgl 15 ke************...*** kangen lama gak dengar suara ***...*** jaga kesehatanx ya disana jangan nakal...wassalam
04 April at 17:16
Wslm. wr.wb..
senang tak terkira ketika terima kabar..
bagaimana di sana? adakah sehat dan lancar ibadahnya..?
cepat pulang... :'(
Sejak delapan hari berlalu hingga sepuluh hari ke depan, semuanya bergerak melamban. Saya bak mengikuti jalannya keong. Keong yang beringsut-ingsut lamban sekali sementara sang Elang terus membubung tinggi.
@rukan panggung, 05th April 2011, 17:23
Telpon Mak Ida (II)
Hampir seminggu sudah Ais menerima telpon dari Mak Ida. Selama itu pula pikiran Ais tak tenang. Ais mulai memikirkan, apa yang harus ia lakukan. Andai saja, keberadaan Ais dengan ayahnya tak jauh seperti sekarang, tentu Ais akan mengajak ayahnya berbicara. Berbicara dari hati ke hati. Mengajak ayahnya untuk kembali membuka hati. Meski belum tentu ada penerimaan yang baik dari ayah Ais. Tapi, sedikitnya ada usaha nyata yang bisa dilakukan ais.
Tak lama larut dalam pikirannya, Ais mencari nama ayahnya pada phonebook. Luphly Pa. Ais hendak menelpon ayahnya. Tapi, ada keraguan di hati Ais. Ragu untuk menelpon. Ais begitu takut kalau-kalau ayahnya akan marah. Seperti dalam waktu sebelumnya, ayah Ais adalah sesosok yang agak temperamental. Mempunyai emosi yang tak stabil. Meledak-ledak. Gampang sekali tersinggung. Dan perkataan orang adalah salah satu musabab yang seringkali membuat ayah Ais tersinggung.
Ais kembali berpikir, "Bagaimana kalau nanti saya menelpon ayah, tiba-tiba ayah tak terima, ayah akan merasa digurui, saya bukanlah seorang yang pantas menggurui ayah," Ais kian larut dalam pikiran tak menentu. Ais mengira-ngira, seandainya ia menelpon ayah tiba-tiba keluarganya di rumah yang menjadi sasaran. Sasaran amarah ayah Ais karena beranggapan keluarga ais di rumah memberi tahu Ais perihal ayahnya yang tak lagi shalat. Suasana akan semakin runyam. Ada mudarat yang akan datang. Rumah ais tak akan lagi nyaman disebabkan kegaduhan karena kesalahan Ais.
Pikiran Ais membuntu. Handphone masih di genggaman Ais. Hanya tinggal menekan tombol berwarna hijau, panggil. Tapi, ibu jari ais terlalu berat. Ah, sudahlah. "Mungkin belum saatnya saya menelpon ayah," handphone tak lagi dalam genggaman Ais. Ia abaikan saja.
Ais kembali menerawang. Ia baringkan tubuhnya di atas kasur yang tak seempuk biasanya dirasai Ais. Mata ais tak bisa terpejam. Dari ujung ke ujung langit-langit kamar, muak sudah dipandangi Ais terus-menerus. Pandangan kosong. Terlalu banyak banyak yang melintas di pikiran Ais.
Terbayang-bayang pula di ingatan Ais, ketika ia, ibu, adik, kakak, tentu ayahnya juga bergegas menuju mushala ketika waktu shalat menjelang. Ayah ais bersiap, menyiapkan perangkat pengeras suara untuk mengumandangkan adzan. Menggelar tikar untuk jamaah. Sementara itu, ais, adik, kakak dan ibunya tengah berlomba-lomba ambil wuduk. Siapa cepat, dia yang akan mendapatkan shaf terdepan. Shaf yang dijanjikan Tuhan pahala lebih dibandingkan barisan di belakangnya. Selesai shalat berjamaah, sejenak keluarga ais duduk di mushala, tentunya hanya sekadar menjaga silaturahim dengan jamaah lainnya. Setelahnya, Ais dan keluarga akan kembali ke rumah. Tentu, dengan wajah baru. Wajah penuh semangat, wajah yang bersih setelah menghadap sang khalik. Terlalu indah, kalau dikenang.
Apakah moment itu sebentar saja? Semenjak ais tak lagi tinggal bersama keluarga di rumah, berhenti pulalah kebiasaan yang demikian? Ais bertanya-tanya. Malam kian larut, akhirnya mata Ais mengalah. Terpejam dalam keadaan hati yang tak tenang.
Esok pagi, Ais terbangun. Selesai shalat subuh, Ais terpaku duduk di atas sajadahnya. Memohon kepada Tuhan, untuk menunjukkan jalan keluar. Ais meminta agar ayahnya kembali diberi petunjuk ke jalan yang benar. Menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaanNya.
Sejak itu, setiap pekerjaan yang dilakukan Ais terasa begitu membosankan. Ais tak lagi fokus. Layaknya seseorang yang tengah berhadapan dengan hutang. Hutang yang mesti dibayarkan. Selama itu hutang belum terbayar, selama itu pula hati Ais tak tenang. Kali ini, hutang Ais adalah mengembalikan ayahnya yang dulu lagi. Ayah yang begitu taat beribadah.
Tak mau berlama-lama dihantui hutang, akhirnya di malam berikutnya Ais memutuskan untuk menelpon ayahnya. Luphly Pa, panggil. Dari ujung telepon, terdengar suara ayah Ais yang telah lama tak bersua dengannya.
Ayah: Assalamu'alaikum
Ais: Wa'alaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh
Ayah: Ais, apa kabar?
Ais: Alhamdulillah, sehat yah. Ayah bagaimana?
Ayah: Ayah sehat juga
Ais: Ayah udah shalat?
Ayah: Sudah
Ais: Apa benar, ayah sudah shalat?
Ayah: Benar. (terdengar suara ayah Ais yang tak serius, dan sedikit ada candaan)
Ais: Ais tak percaya, akhir-akhir ini Ais dengar ayah tak lagi shalat
Ais: Ini ibu, mau bicara (tiba-tiba ayah Ais mengalihkan telpon ke ibu Ais)
Ibu: Ada apa Ais? sudah shalat?
Ais: Sudah bu, Ais mau bicara sama ayah, kenapa telpon diberikan sama ibu?
tiba-tiba Ibu Ais diam, langsung mengembalikan telpon ke ayah Ais. Mungkin ibu Ais sedikit tersinggung karena merasa Ais tidak mengharapkan telpon darinya.
Ayah: Kenapa Ais?
Ais: Ais mau bicara sama ayah, Ais cuma ingin mengatakan kalau Ais sedih sekali sejak mendengar ayah tak lagi shalat. Kemana ayah yang dulu? Ais ingin ayah berubah lagi, ayah mengurusi mushala lagi, tak pernah meninggalkan shalat lagi. Sekarang sudah saatnya ayah fokus hanya untuk beribadah. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang harus kita syukuri, yah. (Pembicaraan Ais terkesan menggurui, ia mulai cemas. Tapi, hasrat untuk bicara dengan ayahnya menggebu-gebu. Di kedalaman hati, Ais berharap ayahnya tidak tersinggung).
Ayah: Ayah juga tidak tahu, kenapa ayah akhir-akhir ini terlalu berat hati untuk shalat. Ayah tidak mau memaksakan kalau bukan dari niat hati yang tulus untuk beribadah.
Ais: Ayah, itu ujian untuk ayah, kalau ayah ikut demikian berarti ayah sudah kalah. Kalah atas godaan setan. Ayah.... ayolah, shalat lagi. Ais merengek, layaknya anak kecil. Ayolah yah....
Tiba-tiba ayah Ais tertawa. "Kenapa anak ayah seperti anak kecil ya,?"
Ais hanya kembali merengek. Ia merengek hanya ingin agar ayahnya tak marah dan tak merasa digurui.
Tak mau lama-lama berbicara lewat telpon, takut ayahnya tersinggung, akhirnya Ais mengakhiri pembicaraan.
"Ayah, sudah dulu ya, Ais mau shalat. Pokoknya mulai besok Subuh ayah shalat. Biar Ais yang bangunkan ayah," ucap Ais tegas.
"Insyaallah,"
***
Subuh sudah lewat, Ais sibuk dengan rutinitasnya pagi itu. Sehingga melupakan janji membangunkan ayahnya shalat. Ketika berkemas hendak bekerja, Ais baru ingat, segera ia raih handphone yang ia abaikan dari tadi subuh. Tingga panggilan tak terjawab, Luphly Pa.
Hari itu benar-benar hari sibuk buat Ais, sehingga untuk mengangkat telpon pun ia tak sempat. Siangnya, ayah Ais menelpon lagi. Panggilan keempat, Ais baru mengangkat telpon ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ais. Alhamdulillah ayah sudah shalat sejak subuh tadi, ayah cuma mau mengabarkan Ais."
Tiba-tiba jantung Ais berdegup. Berdegup atas bahagia. "Alhamdulillah, untuk seterusnya ya, yah.. tak hanya sementara waktu ini," ucap Ais haru. Tak sengaja, bulir bening membasahi sudut mata Ais. Air mata bahagia.
"Iya, insyaallah ini untuk seterusnya, ayah Ais yang dulu telah kembali lagi. Ais jangan risau lagi ya, baik-baik di sana. Terimakasih nak, sudah mengingatkan ayah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.." klik. Telpon ditutup.
Ais menghela nafas, nafas panjang. Bahagia tak terkira, hanya itu yang dirasakannya. Ternyata, Tuhan begitu cepat mendengarkan permintaannya. Alhamdulillah ya Rabb.
Terimakasih Mak Ida, atas telponmu, kamu begitu menyayangi kami.
Note: lanjutan dari postingan saya sebelumnya, dengan judul serupa. Telpon Mak Ida (I)
***
@rukan panggung, 04th April 2011, 17:53..with inspirasi--Edcoustic backsound...
Tak lama larut dalam pikirannya, Ais mencari nama ayahnya pada phonebook. Luphly Pa. Ais hendak menelpon ayahnya. Tapi, ada keraguan di hati Ais. Ragu untuk menelpon. Ais begitu takut kalau-kalau ayahnya akan marah. Seperti dalam waktu sebelumnya, ayah Ais adalah sesosok yang agak temperamental. Mempunyai emosi yang tak stabil. Meledak-ledak. Gampang sekali tersinggung. Dan perkataan orang adalah salah satu musabab yang seringkali membuat ayah Ais tersinggung.
Ais kembali berpikir, "Bagaimana kalau nanti saya menelpon ayah, tiba-tiba ayah tak terima, ayah akan merasa digurui, saya bukanlah seorang yang pantas menggurui ayah," Ais kian larut dalam pikiran tak menentu. Ais mengira-ngira, seandainya ia menelpon ayah tiba-tiba keluarganya di rumah yang menjadi sasaran. Sasaran amarah ayah Ais karena beranggapan keluarga ais di rumah memberi tahu Ais perihal ayahnya yang tak lagi shalat. Suasana akan semakin runyam. Ada mudarat yang akan datang. Rumah ais tak akan lagi nyaman disebabkan kegaduhan karena kesalahan Ais.
Pikiran Ais membuntu. Handphone masih di genggaman Ais. Hanya tinggal menekan tombol berwarna hijau, panggil. Tapi, ibu jari ais terlalu berat. Ah, sudahlah. "Mungkin belum saatnya saya menelpon ayah," handphone tak lagi dalam genggaman Ais. Ia abaikan saja.
Ais kembali menerawang. Ia baringkan tubuhnya di atas kasur yang tak seempuk biasanya dirasai Ais. Mata ais tak bisa terpejam. Dari ujung ke ujung langit-langit kamar, muak sudah dipandangi Ais terus-menerus. Pandangan kosong. Terlalu banyak banyak yang melintas di pikiran Ais.
Terbayang-bayang pula di ingatan Ais, ketika ia, ibu, adik, kakak, tentu ayahnya juga bergegas menuju mushala ketika waktu shalat menjelang. Ayah ais bersiap, menyiapkan perangkat pengeras suara untuk mengumandangkan adzan. Menggelar tikar untuk jamaah. Sementara itu, ais, adik, kakak dan ibunya tengah berlomba-lomba ambil wuduk. Siapa cepat, dia yang akan mendapatkan shaf terdepan. Shaf yang dijanjikan Tuhan pahala lebih dibandingkan barisan di belakangnya. Selesai shalat berjamaah, sejenak keluarga ais duduk di mushala, tentunya hanya sekadar menjaga silaturahim dengan jamaah lainnya. Setelahnya, Ais dan keluarga akan kembali ke rumah. Tentu, dengan wajah baru. Wajah penuh semangat, wajah yang bersih setelah menghadap sang khalik. Terlalu indah, kalau dikenang.
Apakah moment itu sebentar saja? Semenjak ais tak lagi tinggal bersama keluarga di rumah, berhenti pulalah kebiasaan yang demikian? Ais bertanya-tanya. Malam kian larut, akhirnya mata Ais mengalah. Terpejam dalam keadaan hati yang tak tenang.
Esok pagi, Ais terbangun. Selesai shalat subuh, Ais terpaku duduk di atas sajadahnya. Memohon kepada Tuhan, untuk menunjukkan jalan keluar. Ais meminta agar ayahnya kembali diberi petunjuk ke jalan yang benar. Menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaanNya.
Sejak itu, setiap pekerjaan yang dilakukan Ais terasa begitu membosankan. Ais tak lagi fokus. Layaknya seseorang yang tengah berhadapan dengan hutang. Hutang yang mesti dibayarkan. Selama itu hutang belum terbayar, selama itu pula hati Ais tak tenang. Kali ini, hutang Ais adalah mengembalikan ayahnya yang dulu lagi. Ayah yang begitu taat beribadah.
Tak mau berlama-lama dihantui hutang, akhirnya di malam berikutnya Ais memutuskan untuk menelpon ayahnya. Luphly Pa, panggil. Dari ujung telepon, terdengar suara ayah Ais yang telah lama tak bersua dengannya.
Ayah: Assalamu'alaikum
Ais: Wa'alaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh
Ayah: Ais, apa kabar?
Ais: Alhamdulillah, sehat yah. Ayah bagaimana?
Ayah: Ayah sehat juga
Ais: Ayah udah shalat?
Ayah: Sudah
Ais: Apa benar, ayah sudah shalat?
Ayah: Benar. (terdengar suara ayah Ais yang tak serius, dan sedikit ada candaan)
Ais: Ais tak percaya, akhir-akhir ini Ais dengar ayah tak lagi shalat
Ais: Ini ibu, mau bicara (tiba-tiba ayah Ais mengalihkan telpon ke ibu Ais)
Ibu: Ada apa Ais? sudah shalat?
Ais: Sudah bu, Ais mau bicara sama ayah, kenapa telpon diberikan sama ibu?
tiba-tiba Ibu Ais diam, langsung mengembalikan telpon ke ayah Ais. Mungkin ibu Ais sedikit tersinggung karena merasa Ais tidak mengharapkan telpon darinya.
Ayah: Kenapa Ais?
Ais: Ais mau bicara sama ayah, Ais cuma ingin mengatakan kalau Ais sedih sekali sejak mendengar ayah tak lagi shalat. Kemana ayah yang dulu? Ais ingin ayah berubah lagi, ayah mengurusi mushala lagi, tak pernah meninggalkan shalat lagi. Sekarang sudah saatnya ayah fokus hanya untuk beribadah. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang harus kita syukuri, yah. (Pembicaraan Ais terkesan menggurui, ia mulai cemas. Tapi, hasrat untuk bicara dengan ayahnya menggebu-gebu. Di kedalaman hati, Ais berharap ayahnya tidak tersinggung).
Ayah: Ayah juga tidak tahu, kenapa ayah akhir-akhir ini terlalu berat hati untuk shalat. Ayah tidak mau memaksakan kalau bukan dari niat hati yang tulus untuk beribadah.
Ais: Ayah, itu ujian untuk ayah, kalau ayah ikut demikian berarti ayah sudah kalah. Kalah atas godaan setan. Ayah.... ayolah, shalat lagi. Ais merengek, layaknya anak kecil. Ayolah yah....
Tiba-tiba ayah Ais tertawa. "Kenapa anak ayah seperti anak kecil ya,?"
Ais hanya kembali merengek. Ia merengek hanya ingin agar ayahnya tak marah dan tak merasa digurui.
Tak mau lama-lama berbicara lewat telpon, takut ayahnya tersinggung, akhirnya Ais mengakhiri pembicaraan.
"Ayah, sudah dulu ya, Ais mau shalat. Pokoknya mulai besok Subuh ayah shalat. Biar Ais yang bangunkan ayah," ucap Ais tegas.
"Insyaallah,"
***
Subuh sudah lewat, Ais sibuk dengan rutinitasnya pagi itu. Sehingga melupakan janji membangunkan ayahnya shalat. Ketika berkemas hendak bekerja, Ais baru ingat, segera ia raih handphone yang ia abaikan dari tadi subuh. Tingga panggilan tak terjawab, Luphly Pa.
Hari itu benar-benar hari sibuk buat Ais, sehingga untuk mengangkat telpon pun ia tak sempat. Siangnya, ayah Ais menelpon lagi. Panggilan keempat, Ais baru mengangkat telpon ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ais. Alhamdulillah ayah sudah shalat sejak subuh tadi, ayah cuma mau mengabarkan Ais."
Tiba-tiba jantung Ais berdegup. Berdegup atas bahagia. "Alhamdulillah, untuk seterusnya ya, yah.. tak hanya sementara waktu ini," ucap Ais haru. Tak sengaja, bulir bening membasahi sudut mata Ais. Air mata bahagia.
"Iya, insyaallah ini untuk seterusnya, ayah Ais yang dulu telah kembali lagi. Ais jangan risau lagi ya, baik-baik di sana. Terimakasih nak, sudah mengingatkan ayah, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam.." klik. Telpon ditutup.
Ais menghela nafas, nafas panjang. Bahagia tak terkira, hanya itu yang dirasakannya. Ternyata, Tuhan begitu cepat mendengarkan permintaannya. Alhamdulillah ya Rabb.
Terimakasih Mak Ida, atas telponmu, kamu begitu menyayangi kami.
Note: lanjutan dari postingan saya sebelumnya, dengan judul serupa. Telpon Mak Ida (I)
***
@rukan panggung, 04th April 2011, 17:53..with inspirasi--Edcoustic backsound...






