Pada akhirnya skenario apa pun yang telah kita tuliskan tidak akan selalu berjalan semestinya.
Suatu ketika ia akan sama dengan yang telah kita rencanakan.
Suatu ketika ia akan berputar arah menjauhi rencana yang kita tetapkan.
Ini hanya persoalan penerimaan.
Apabila ia sesuai dengan rencana, terima dengan syukur.
Apabilai ia tak sama dengan rencana, terima juga dengan syukur.
Nah, syukur seperti apa?
Ketika pikiran ini mampu diduasisikan ia akan mampu mencerna dua syukur itu.
Ia juga akan bijak.
Mengiring kita ke tujuan yang terasa kian dekat.
Kali ini, sejauh ini perjalanan kita,
memang terasa di luar jalur.
Kadang kita tidak konsisten dengan skenario yang kita tuliskan.
Tak ada salahnya, bukan.
Karena semua berproses mengikuti alur masing-masing.
Mari berjalan.
Jalan yang tak sama.
Liku-liku.
Lurus.
Banyak jalan.
Satu tujuan.
Bahagia.
untuk ibu dan lelaki (ku)
#tuntutan
Tuhan, haruskah MENYERAH?
Bukannya terlalu angkuh untuk merasa BISA melakukan SEMUA ini
Tapi hanya mencoba berTANGGUNG JAWAB atas PILIHAN
pilihan HIDUP
pilihan CINTA
pilihan PEKERJAAN
semuanya mengandung RESIKO
BESAR sekali
#tuntutan
Surat untuk Sahabat
sahabatku..
izinkan aku menuliskan surat ini untukmu, percakapan kita tadi sore aku merasa sungguh aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. mohon maaf, aku terlalu egois menilaimu.
jikalau saja kita tak berjarak, ingin sekali aku ada di hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. tapi, di halaman ini aku juga merasa tidak bisa dan tidak perlu untuk menjelaskan apapun. aku hanya ingin kamu mengerti aku, makhluk Tuhan yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.
sahabat,
jika kamu berpikir aku buruk, aku tak seburuk itu
jika kamu berpikir aku baik, aku juga tak sebaik itu
kepada siapapun di dunia ini, sungguh aku tidak berharap aku dianggap apa-apa
aku hanya memasrahkan kepada Tuhan untuk menilaiku
jika kamu mendengar apapun dari orang lain tentangku, jangan cepat membuat kesimpulan. sebaliknya, aku pun begitu. sesungguhnya banyak 'hal' yang aku dengar tentangmu, tapi aku berusaha untuk tidak akan menghakimimu. karena aku tau, kamu memang lebih dari aku. lebih tebal imanmu, lebih mantap agamamu. aku hanya berusaha yakin kamu tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. untuk itu, mohon jangan kamu menghakimiku. aku tak seburuk itu. sungguh.
aku juga sangat menyesal telah berusaha jujur untuk memberi penilaian untukmu. pun itu atas permintaanmu. aku benar-benar bodoh, ternyata penilaianku hanya menjadi boomerang bagiku. tak seharusnya aku menilai kamu, tak seharusnya aku menyampaikan apa yang aku rasakan. karena itu semua hanya membuatmu sedih dan kecewa. tak ada kepantasan sedikitpun bagiku untuk menilaimu. hanya Tuhan semata-mata yang berhak untuk menilai umatNya.
sahabat, sudahlah. aku akan melupakan semuanya. aku tidak akan marah, tidak kecewa dan tetap akan menganggap kamu sebagai sahabatku. terimakasih kamu telah mengingatkanku, terimakasih kamu telah menyayangiku karena Allah. sebaliknya, aku juga menyayangimu karena Allah.
izinkan aku menuliskan surat ini untukmu, percakapan kita tadi sore aku merasa sungguh aku tidak diberi kesempatan untuk berbicara. mohon maaf, aku terlalu egois menilaimu.
jikalau saja kita tak berjarak, ingin sekali aku ada di hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. tapi, di halaman ini aku juga merasa tidak bisa dan tidak perlu untuk menjelaskan apapun. aku hanya ingin kamu mengerti aku, makhluk Tuhan yang tak pernah lepas dari khilaf dan dosa.
sahabat,
jika kamu berpikir aku buruk, aku tak seburuk itu
jika kamu berpikir aku baik, aku juga tak sebaik itu
kepada siapapun di dunia ini, sungguh aku tidak berharap aku dianggap apa-apa
aku hanya memasrahkan kepada Tuhan untuk menilaiku
jika kamu mendengar apapun dari orang lain tentangku, jangan cepat membuat kesimpulan. sebaliknya, aku pun begitu. sesungguhnya banyak 'hal' yang aku dengar tentangmu, tapi aku berusaha untuk tidak akan menghakimimu. karena aku tau, kamu memang lebih dari aku. lebih tebal imanmu, lebih mantap agamamu. aku hanya berusaha yakin kamu tidak seburuk yang dipikirkan orang lain. untuk itu, mohon jangan kamu menghakimiku. aku tak seburuk itu. sungguh.
aku juga sangat menyesal telah berusaha jujur untuk memberi penilaian untukmu. pun itu atas permintaanmu. aku benar-benar bodoh, ternyata penilaianku hanya menjadi boomerang bagiku. tak seharusnya aku menilai kamu, tak seharusnya aku menyampaikan apa yang aku rasakan. karena itu semua hanya membuatmu sedih dan kecewa. tak ada kepantasan sedikitpun bagiku untuk menilaimu. hanya Tuhan semata-mata yang berhak untuk menilai umatNya.
sahabat, sudahlah. aku akan melupakan semuanya. aku tidak akan marah, tidak kecewa dan tetap akan menganggap kamu sebagai sahabatku. terimakasih kamu telah mengingatkanku, terimakasih kamu telah menyayangiku karena Allah. sebaliknya, aku juga menyayangimu karena Allah.
Anjani, bangkitlah..
Anjani, setelah sekian lama aku tak mengunjungimu, hari ini aku sengaja meluangkan waktuku untuk bertemu denganmu. Walaupun telah lama kita berpisah, kamu percaya tidak aku tau segala hal tentangmu. Apa saja yang kamu alami, apa saja yang kamu lakukan dan apa saja yang telah kamu lupakan.
Baiklah Anjani, sekarang dengarkan aku. Jangan kamu menyela sedikitpun. Dengarkan saja.
Aku benci kamu. Kamu lemah. Kamu tidak menghargai diri kamu sendiri. Bagaimana pula orang lain akan menghargai kamu. Kamu berlebihan. Segalanya kamu lebih-lebihkan. Kemana kamu yang dulu? Merasa cukup. Sederhana dalam segala hal. Selalu damai bersama keadaan. Seperti apapun sulitnya, kamu berusaha untuk membuat hidupmu nyaman. Sekarang kamu banyak menuntut. Menuntut orang disekitarmu untuk berubah. Mengikuti apa maumu. Sementara kamu sendiri tidak mau berubah. Apa mau kamu? Ada apa dengan kamu, Anjani? Kenapa begini?
Anjani,
Kalau kamu mencinta, jangan terlalu berlebihan. Kamu harus ingat, tak selamanya harapmu akan mendekap. Tak selamanya inginmu akan tercapai.
Kalau kamu dirundung sedih, jangan terlalu larut. Kamu harus ingat, air mata bukan alasan untuk memperbaiki keadaan. Air mata hanya melemahkan.
Kalau kamu merindu, tolong kau tahankan. Rindu adalah hal yang wajar. Setiap kali berjarak kamu pasti merindu. Yang berdekatan saja bisa saling rindu. Apalagi kamu. Kamu tau kan, kenapa kamu bisa menyimpan rindu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang memilih? Jadi apalagi yang harus kamu sesali? Terima saja. Simpan saja rindumu sampai waktu itu benar-benar berpihak kepadamu. Sabar, itu saja obatnya.
Kalau kamu kesepian, tak perlu kamu memberitahu siapapun. Rasakan saja. Nikmati saja. Bukankah kamu dulu punya banyak cara untuk mennghilangkan kesepianmu? Apa kamu tidak lagi suka membaca? Nonton bola, berita, apa saja. Menulis, menuliskan apa saja. Apa hobimu itu sudah menghilang, kemana dia? Janganlah kau merasa punya senjata karena kesendirianmu, kamu menjadi merasa kesepian. Jangan. Aku yakin, kamu bisa melewatinya. Bukan sekarang saja kamu kesepian bukan?
Anjani, aku tahu banyak sekali yang kamu rasakan. Semuanya hanya membuatmu semakin terpuruk. Memilih berlarut-larut dalam kesedihan. Apa guna, Anjani? Bangkitlah. Lebih bijak dalam menjalani hidup. Lebih dewasa dalam bersikap. Tidak ada yang akan lebih peduli kepadamu selain kamu sendiri. Tidak ada yang akan lebih memahami keinginanmu selain kamu sendiri. Jangan terlalu banyak berharap. Jangan menyusahkan orang lain. Cobalah untuk selalu membuat orang-orang disekitarmu senang berada di dekatmu. Bahagiakan lah orang-orang yang kamu sayangi dengan menunjukkan kebahagiaanmu sendiri. Terakhir, aku ingatkan kamu kembali, kamu tak pernah sendiri. Selalu ada Dia bersamamu. Dia sangat amatlah dekat denganmu. Tuhanmu.
Salam,
Madali
Baiklah Anjani, sekarang dengarkan aku. Jangan kamu menyela sedikitpun. Dengarkan saja.
Aku benci kamu. Kamu lemah. Kamu tidak menghargai diri kamu sendiri. Bagaimana pula orang lain akan menghargai kamu. Kamu berlebihan. Segalanya kamu lebih-lebihkan. Kemana kamu yang dulu? Merasa cukup. Sederhana dalam segala hal. Selalu damai bersama keadaan. Seperti apapun sulitnya, kamu berusaha untuk membuat hidupmu nyaman. Sekarang kamu banyak menuntut. Menuntut orang disekitarmu untuk berubah. Mengikuti apa maumu. Sementara kamu sendiri tidak mau berubah. Apa mau kamu? Ada apa dengan kamu, Anjani? Kenapa begini?
Anjani,
Kalau kamu mencinta, jangan terlalu berlebihan. Kamu harus ingat, tak selamanya harapmu akan mendekap. Tak selamanya inginmu akan tercapai.
Kalau kamu dirundung sedih, jangan terlalu larut. Kamu harus ingat, air mata bukan alasan untuk memperbaiki keadaan. Air mata hanya melemahkan.
Kalau kamu merindu, tolong kau tahankan. Rindu adalah hal yang wajar. Setiap kali berjarak kamu pasti merindu. Yang berdekatan saja bisa saling rindu. Apalagi kamu. Kamu tau kan, kenapa kamu bisa menyimpan rindu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang memilih? Jadi apalagi yang harus kamu sesali? Terima saja. Simpan saja rindumu sampai waktu itu benar-benar berpihak kepadamu. Sabar, itu saja obatnya.
Kalau kamu kesepian, tak perlu kamu memberitahu siapapun. Rasakan saja. Nikmati saja. Bukankah kamu dulu punya banyak cara untuk mennghilangkan kesepianmu? Apa kamu tidak lagi suka membaca? Nonton bola, berita, apa saja. Menulis, menuliskan apa saja. Apa hobimu itu sudah menghilang, kemana dia? Janganlah kau merasa punya senjata karena kesendirianmu, kamu menjadi merasa kesepian. Jangan. Aku yakin, kamu bisa melewatinya. Bukan sekarang saja kamu kesepian bukan?
Anjani, aku tahu banyak sekali yang kamu rasakan. Semuanya hanya membuatmu semakin terpuruk. Memilih berlarut-larut dalam kesedihan. Apa guna, Anjani? Bangkitlah. Lebih bijak dalam menjalani hidup. Lebih dewasa dalam bersikap. Tidak ada yang akan lebih peduli kepadamu selain kamu sendiri. Tidak ada yang akan lebih memahami keinginanmu selain kamu sendiri. Jangan terlalu banyak berharap. Jangan menyusahkan orang lain. Cobalah untuk selalu membuat orang-orang disekitarmu senang berada di dekatmu. Bahagiakan lah orang-orang yang kamu sayangi dengan menunjukkan kebahagiaanmu sendiri. Terakhir, aku ingatkan kamu kembali, kamu tak pernah sendiri. Selalu ada Dia bersamamu. Dia sangat amatlah dekat denganmu. Tuhanmu.
Salam,
Madali
hanya Engkau yang pantas
Tuhan,
memang tak ada kepantasan bagiku memohon kepada siapapun
tiada yang bisa mengerti selain Engkau
tiada yang paham kecuali Engkau
tak seharusnya aku mengeluh kepada siapapun
tak sebaiknya aku meminta kepada makhlukMu
hanya Engkau yang pantas
Tuhan,
di siang ini aku merasa sendiri
ku sampaikan doa penuh harap;
Engkau masih mendekapku
Engkau masih bersamaku
tak ada kasih sayang abadi
kecuali dari Engkau
jadikan aku makhlukMu yang bertawakal
tidak larut dalam kesedihan
tidak lemah karena air mata
Ya Allah Ya Qawiyy
Engkau yang Maha Kuat dan menguatkan
wahai Sang pembolak-balik hati
kuatkanlah hati ini
Amin Allahumma Amin
memang tak ada kepantasan bagiku memohon kepada siapapun
tiada yang bisa mengerti selain Engkau
tiada yang paham kecuali Engkau
tak seharusnya aku mengeluh kepada siapapun
tak sebaiknya aku meminta kepada makhlukMu
hanya Engkau yang pantas
Tuhan,
di siang ini aku merasa sendiri
ku sampaikan doa penuh harap;
Engkau masih mendekapku
Engkau masih bersamaku
tak ada kasih sayang abadi
kecuali dari Engkau
jadikan aku makhlukMu yang bertawakal
tidak larut dalam kesedihan
tidak lemah karena air mata
Ya Allah Ya Qawiyy
Engkau yang Maha Kuat dan menguatkan
wahai Sang pembolak-balik hati
kuatkanlah hati ini
Amin Allahumma Amin
Angka berJarak
Kita berjarak 1.664 km. Kita berbeda waktu 1 jam. Kalau ingin bertemu, kita mesti menempuh 3 pulau, Apabila hendak saling melepas rindu kita butuh rupiah kira-kira sebanyak 3 juta. Setiap kali mau bercengkrama, saling mendengar suara, kita butuh pulsa. Entah berapa, mungkin 5 ratusan ribu untuk kita berdua tiap bulannya. Apalagi? Masih banyak.
Ah, itu hanya angka. Meski angka selalu ditakdirkan untuk dihitung, tapi untuk kondisi ini tak perlulah kita menghitung. Tak ada guna. Bukankah ia apabila sudah habis dapat dicari lagi. Yang perlu hanyalah bagaimana angka itu mencipta bahagia. Bahagia karena apa? Karena kita telah membuatnya menjadi tak biasa. Luar biasa, tepatnya. Dengan cinta berbiaya tinggi kita telah memuliakan hubunga kita.
Tak banyak yang bisa melakukan. Tak banyak pula yang bisa bertahan. Mari kita buktikan. Bahwa cinta kita patut diperjuangkan. Patut pula melakukan pengorbanan. Tak ada alasan lain, selain karena kita memang benar-benar ingin menjaganya. Membuat dia berharga.
Bukan berarti pula kita mengagung-agungkan angka yang telah kita keluarkan. Tapi berusaha berlaku semampu kita. Tak ada kondisi untuk memaksakan. Kecuali kerelaan. Satu sama lain. Saling memberi dan menerima. Saling berkorban dan dikorbankan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia. Akan tiba waktunya memetik buah dari pengorbanan yang sama-sama telah kita tanamkan. Tak akan ada orang lain yang akan memetiknya, melainkan kita. Kita yang telah bersusah payah menanamnya, merawatnya, tentu kita pula yang pantas untuk memetiknya. Bersabarlah..
Salam berjarak, Ujung Bori 17th dec 11.
Ah, itu hanya angka. Meski angka selalu ditakdirkan untuk dihitung, tapi untuk kondisi ini tak perlulah kita menghitung. Tak ada guna. Bukankah ia apabila sudah habis dapat dicari lagi. Yang perlu hanyalah bagaimana angka itu mencipta bahagia. Bahagia karena apa? Karena kita telah membuatnya menjadi tak biasa. Luar biasa, tepatnya. Dengan cinta berbiaya tinggi kita telah memuliakan hubunga kita.
Tak banyak yang bisa melakukan. Tak banyak pula yang bisa bertahan. Mari kita buktikan. Bahwa cinta kita patut diperjuangkan. Patut pula melakukan pengorbanan. Tak ada alasan lain, selain karena kita memang benar-benar ingin menjaganya. Membuat dia berharga.
Bukan berarti pula kita mengagung-agungkan angka yang telah kita keluarkan. Tapi berusaha berlaku semampu kita. Tak ada kondisi untuk memaksakan. Kecuali kerelaan. Satu sama lain. Saling memberi dan menerima. Saling berkorban dan dikorbankan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia. Akan tiba waktunya memetik buah dari pengorbanan yang sama-sama telah kita tanamkan. Tak akan ada orang lain yang akan memetiknya, melainkan kita. Kita yang telah bersusah payah menanamnya, merawatnya, tentu kita pula yang pantas untuk memetiknya. Bersabarlah..
Salam berjarak, Ujung Bori 17th dec 11.
![]() |





