Anjani, bangkitlah..

Anjani, setelah sekian lama aku tak mengunjungimu, hari ini aku sengaja meluangkan waktuku untuk bertemu denganmu. Walaupun telah lama kita berpisah, kamu percaya tidak aku tau segala hal tentangmu. Apa saja yang kamu alami, apa saja yang kamu lakukan dan apa saja yang telah kamu lupakan.

Baiklah Anjani, sekarang dengarkan aku. Jangan kamu menyela sedikitpun. Dengarkan saja.

Aku benci kamu. Kamu lemah. Kamu tidak menghargai diri kamu sendiri. Bagaimana pula orang lain akan menghargai kamu. Kamu berlebihan. Segalanya kamu lebih-lebihkan. Kemana kamu yang dulu? Merasa cukup. Sederhana dalam segala hal. Selalu damai bersama keadaan. Seperti apapun sulitnya, kamu berusaha untuk membuat hidupmu nyaman. Sekarang kamu banyak menuntut. Menuntut orang disekitarmu untuk berubah. Mengikuti apa maumu. Sementara kamu sendiri tidak mau berubah. Apa mau kamu? Ada apa dengan kamu, Anjani? Kenapa begini?

Anjani,
Kalau kamu mencinta, jangan terlalu berlebihan. Kamu harus ingat, tak selamanya harapmu akan mendekap. Tak selamanya inginmu akan tercapai.

Kalau kamu dirundung sedih, jangan terlalu larut. Kamu harus ingat, air mata bukan alasan untuk memperbaiki keadaan. Air mata hanya melemahkan.

Kalau kamu merindu, tolong kau tahankan. Rindu adalah hal yang wajar. Setiap kali berjarak kamu pasti merindu. Yang berdekatan saja bisa saling rindu. Apalagi kamu. Kamu tau kan, kenapa kamu bisa menyimpan rindu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang memilih? Jadi apalagi yang harus kamu sesali? Terima saja. Simpan saja rindumu sampai waktu itu benar-benar berpihak kepadamu. Sabar, itu saja obatnya.

Kalau kamu kesepian, tak perlu kamu memberitahu siapapun. Rasakan saja. Nikmati saja. Bukankah kamu dulu punya banyak cara untuk mennghilangkan kesepianmu? Apa kamu tidak lagi suka membaca? Nonton bola, berita, apa saja. Menulis, menuliskan apa saja. Apa hobimu itu sudah menghilang, kemana dia? Janganlah kau merasa punya senjata karena kesendirianmu, kamu menjadi merasa kesepian. Jangan. Aku yakin, kamu bisa melewatinya. Bukan sekarang saja kamu kesepian bukan?

Anjani, aku tahu banyak sekali yang kamu rasakan. Semuanya hanya membuatmu semakin terpuruk. Memilih berlarut-larut dalam kesedihan. Apa guna, Anjani? Bangkitlah. Lebih bijak dalam menjalani hidup. Lebih dewasa dalam bersikap. Tidak ada yang akan lebih peduli kepadamu selain kamu sendiri. Tidak ada yang akan lebih memahami keinginanmu selain kamu sendiri. Jangan terlalu banyak berharap. Jangan menyusahkan orang lain. Cobalah untuk selalu membuat orang-orang disekitarmu senang berada di dekatmu. Bahagiakan lah orang-orang yang kamu sayangi dengan menunjukkan kebahagiaanmu sendiri. Terakhir, aku ingatkan kamu kembali, kamu tak pernah sendiri. Selalu ada Dia bersamamu. Dia sangat amatlah dekat denganmu. Tuhanmu.

Salam,

Madali


 
 

hanya Engkau yang pantas

Tuhan,
memang tak ada kepantasan bagiku memohon kepada siapapun
tiada yang bisa mengerti selain Engkau
tiada yang paham kecuali Engkau

tak seharusnya aku mengeluh kepada siapapun
tak sebaiknya aku meminta kepada makhlukMu
hanya Engkau yang pantas

Tuhan,
di siang ini aku merasa sendiri
ku sampaikan doa penuh harap;
Engkau masih mendekapku
Engkau masih bersamaku
tak ada kasih sayang abadi
kecuali dari Engkau

jadikan aku makhlukMu yang bertawakal
tidak larut dalam kesedihan
tidak lemah karena air mata
Ya Allah Ya Qawiyy
Engkau yang Maha Kuat dan menguatkan
wahai Sang pembolak-balik hati
kuatkanlah hati ini

Amin Allahumma Amin

Angka berJarak

Kita berjarak 1.664 km. Kita berbeda waktu 1 jam. Kalau ingin bertemu, kita mesti menempuh 3 pulau, Apabila hendak saling melepas rindu kita butuh rupiah kira-kira sebanyak 3 juta. Setiap kali mau bercengkrama, saling mendengar suara, kita butuh pulsa. Entah berapa, mungkin 5 ratusan ribu untuk kita berdua tiap bulannya. Apalagi? Masih banyak.

Ah, itu hanya angka. Meski angka selalu ditakdirkan untuk dihitung, tapi untuk kondisi ini tak perlulah kita menghitung. Tak ada guna. Bukankah ia apabila sudah habis dapat dicari lagi. Yang perlu hanyalah bagaimana angka itu mencipta bahagia. Bahagia karena apa? Karena kita telah membuatnya menjadi tak biasa. Luar biasa, tepatnya. Dengan cinta berbiaya tinggi kita telah memuliakan hubunga kita.

Tak banyak yang bisa melakukan. Tak banyak pula yang bisa bertahan. Mari kita buktikan. Bahwa cinta kita patut diperjuangkan. Patut pula melakukan pengorbanan. Tak ada alasan lain, selain karena kita memang benar-benar ingin menjaganya. Membuat dia berharga.

Bukan berarti pula kita mengagung-agungkan angka yang telah kita keluarkan. Tapi berusaha berlaku semampu kita. Tak ada kondisi untuk memaksakan. Kecuali kerelaan. Satu sama lain. Saling memberi dan menerima. Saling berkorban dan dikorbankan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia. Akan tiba waktunya memetik buah dari pengorbanan yang sama-sama telah kita tanamkan. Tak akan ada orang lain yang akan memetiknya, melainkan kita. Kita yang telah bersusah payah menanamnya, merawatnya, tentu kita pula yang pantas untuk memetiknya. Bersabarlah..


Salam berjarak, Ujung Bori 17th dec 11.

Hati-hati, Jangan Menyakiti

Cinta sejati tak pernah menyakiti. Apabila sempat menyakiti  pada akhirnya kita akan merasakan sakit yang lebih sakit lagi. Memang, apa yang telah kita lakukan pastinya akan berbalas. Belajarlah untuk hati-hati dalam bertindak. Tengok ke kiri ke kanan, depan dan belakang. Adakah yang akan tersakiti.

Jangan sampai. Jangan sampai menyakiti orang lain. Apalagi dia adalah orang yang sangat kita sayangi. Ketika menentukan pilihan, cobalah berpikir lebih jauh. Sekasib apapun waktunya, jangan tergesa dalam memutuskan. Apa pun alasannya, belum tentu alasan kita bisa diterima dengan baik oleh orang-orang disekitar kita.

Apalagi orang yang kita sayangi. Ia akan berpikir lebih dibanding orang biasa di sekitar kita. Prioritaskanlah untuk memikirkan perasaannya. Meskipun dalam kondisi bak makan buah simalakama. Sekali lagi berhati-hatilah. Jika tak hati-hati dan kita salah dalam memilih, ia akan merasa dikorbankan. Disakiti dan benci. Itu semua hanya karena satu alasan, sayang. Ia benar-benar menyayangi kita.

Tak patut kita balik membenci dia. Tak patut pula menyalahkan sikapnya yang seolah berlebihan. Karena sepantasnya demikian. Bukankah kita telah menempatkan ia sebagai orang yang kita sayangi. Kita juga telah menjadikan ia sebagai seseorang yang begitu berarti dalam hidup ini. Jadi, sudah sepantasnya pula ia menginginkan yang lebih. Tak ingin diabaikan atas pilihan kita terhadap yang lain.

Dalam situasi seperti ini, sepertinya tidak ada lagi yang dapat dilakukan selalin meminta maaf, menyesali perbuatan, dan berjanji untuk berubah. Terlepas dari ada pentingnya atau tidak untuk melakukan ini, mungkin cukup melegakan bagi kita yang telah terlanjur berbuat salah. Hanya berharap ketulusan hati si pemberi maaf. Bukan memaafkan dengan pura-pura dengan alasan tak ingin memperpanjang masalah. Sikap seperti ini lebih menyakitkan lagi. Secara tidak langsung, ketika orang yang kita sayangi berlaku seperti ini, sebaliknya ia telah menyakiti kita. Jauh lebih sakit. Dibalik kealpaan kita dalam menentukan sikap yang tentunya tidak dibuat-buat. Pantaskah kita menerima balasan seperti ini? []

*ujung bori dalam hujan yang tak henti.  

Adzan Subuh, Ayah, dan Dewi

Adzan Subuh menggema ke seluruh penjuru Ujung Bori. Setelah beberapa lama menetap di sini, aku mulai mengenal suara mu'adzin ini. Ya, suaranya begitu jelas karena masjid begitu dekat dari tempat tinggalku. Nurul Badar nama masjidnya. Lima kali sehari, rutin apabila listrik tak mati aku mendengarkan adzan dari mu'adzin tadi. Tapi, setiap kali mendengarkannya, aku hanya terjebak lagi dengan yang namanya rindu. Aku rindu ayahku.

Adzan dan ayah, apa hubungannya. Tentu ada. Ayahku juga kerap menyerukan panggilan Allah kepada UmatNya di mushalla kampungku, Mujahidin nama mushallanya. Suara adzan ayahku jauh mengungguli mu'adzin yang aku dengar tiap hari di sini. Sebagian tetangga bilang, "Ayahmu kalau adzan, suaranya mendayu-dayu. meliuk-liuk membuat fikiran ini melayang, jauh. Lebih bagus dari adzan yang biasa kami dengar". Awalnya kupikir penilaian mereka berlebihan sekali. Tapi tidak, itu benar. Buktinya aku sekarang benar-benar merindukan kumandang adzan dari ayahku. Juga, tak satu dua yang berkata demikian.

Sudahlah, aku tak mau larut dengan kerinduan ini. Aku juga yakin ketika aku menulis ini, ayahku juga sedang mengumandangkan adzan Subuh di kampung kami. Karena kami berbeda waktu, satu jam. Mengingat itu saja aku sudah senang. Senang yang akan menutupi rindu. Rindu yang mesti aku simpan dulu. Hanya butuh sabar. Waktunya akan datang. Kami akan bersua. Di kesempatan yang lebih indah tentunya. Tuhan, kuatkanlah aku untuk menahan rindu kepada siapa saja yang kusayang.

Sekarang aku ingin menuliskan ceritaku di Subuh tadi. Memasuki Nurul Badar, shaf perempuan masih kosong. Aku yang pertama. Mungkin ibu-ibu yang lain masih sibuk mempersiapkan diri untuk menunaikan shalat berjamaah di Nurul Badar ini. Tak lama setelah aku, menyusul seorang anak perempuan. Ia masih kecil. Umurnya kira-kira sebelas. Aku takjub, ada anak seumuran dia sudah bisa melawan kantuk untuk segera meramaikan masjid di Subuh ini. Ingin sekali menyapanya, dan ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Aku tak segera berkenalan dengan anak perempuan tadi. Ketika ia datang aku sedang tahyatul masjid, dilanjutkan rawatib. Memperhatikan aku shalat sunat untuk yang kedua kalinya, anak tadi mengikuti. Aku paham, mungkin ia belum mengerti shalat sunat, atau hanya sekedar tahu. Yang namanya anak-anak, masih senang mengikuti, lebih tepatnya meniru.

Selesai rawatib, aku membuka pembicaraan. "Namanya siapa de?"
"Dewi," jawabnya.
"Dewi ke sini sendiri?" aku tanya lagi.
"Sama papa," dia jawab singkat sekali.
"Dewi tinggal di mana?" pertanyaanku berikutnya.
"Iyek...", Dewi bingung, sepertinya ia masih canggung mendengar dan berbicara dalam bahasa indonesia. Ketika dia tak mengerti pertanyaanku yang muncul hanya 'Iyek..'--artinya ia, bisa juga diartikan meminta lawan bicara mengulang pertanyaan kembali.
Hm.. aku pilih kosakata lain untuk bertanya lagi."Rumah Dewi di mana, jauh dari sini?" bahkan aku memberondong dua pertanyaan sekaligus.
"Tidak jauh dari sini," jawab Dewi dengan logat Makassar yang kental sekali. Ia juga menyebutkan nama daerahnya, tapi aku lupa.
Masih merasa penasaran dan masih ingin tahu lebih banyak tentang Dewi, aku melontarkan pertanyaan lagi. Karena ku yakin Dewi bukan tipe anak pencerita, lebih memilih ditanya. Lagipun, siapa juga yang mau cerita banyak subuh-subuh begini. Nyawa Dewi saja separuh masih tertinggal di tempat tidurnya. He..

"Pagi sekali Dewi bangunnya, bangun sendiri apa dibangunkan?" lagi-lagi aku bertanya banyak.
"Tidak.. dikasih bangun," jawab Dewi dengan dialeg Makassar. Dikasih bangun sama dengan dibangunkan.

Tak puas dengan percakapan segitu saja, aku bertanya lebih banyak lagi. "Dewi sekolah dimana? Punya saudara berapa? Anak keberapa? Papa dan mama Dewi kerja apa?" Aih.. banyak sekali. Tapi aku tak bertanya borongan kok. Satu per satu.
Dengan wajah yang sedikit heran, Dewi pasrah saja bercerita kepadaku. Ia sekolah di Sekolah Dasar .. (lupa deh, maklum amnesia), ia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya kelas satu SMK, Dewi kelas lima, sementara adiknya belum sekolah. Kalau mamanya, di rumah saja. "Kalau papa kerjanya kasih antar motor," jawab Dewi dengan dialeg khas Makassar lagi.

Kasih antar motor? aku bingung.
Aku tanya ulang, "Kasih antar motor maksud Dewi, mengantar orang dengan motor?"
"Iyek...," Dewi mengiyakan.
Bergegas aku menyimpulkan, "Jadi papa Dewi bawa Bentor (Becak Motor) yang sering lewat di jalanan depan ini?"
"Tidak, papa bawa motor Ducati," Dewi menjawab lagi.
Tapi jawabannya malah membuatku semakin bingung. Dalam hati saya bicara, Papa Dewi bawa Ducati? Jangan-jangan papanya seorang pembalap. Hm.. aku memutar otak, bagaimana cara bertanya ya, biar omongan kami nyambung?. Kembali saya mencoba menyimpulkan agar Dewi lebih mudah memahami. "Papa Dewi kerja ditempat orang jual motor Ducati, terus mengantarkan motor-motor yang dibeli orang ke rumahnya, begitu?"
"Iyek.." lagi-lagi Dewi menjawab singkat.
He.. meski Dewi sepertinya sudah mengerti pertanyaanku dan juga telah menjawab, tetap saja aku masih ragu. Jangan-jangan ini anak karena sudah bosan saja mendengar ocehanku dari tadi, jadi dia memilih meng-iya-kan saja. Atau benar-benar mengerti. Semoga saja ya.

Lumayan panjang sesi perkenalan dan tanya-jawab saya dengan Dewi. Lebih tepat disebut tanya-jawab karena kalau disebut kami bercerita, tidak sama sekali. Karena posisinya saya sebagai wartawan, Dewi narasumbernya. Hi.. Tak lama setelahnya, iqamah pertanda shalat berjamaah segera dimulai, dikumandangkan. Saya merapatkan sajadah ke jamaah lainnya. Dewi mengikuti. Ia kembangkan sajadahnya tepat di sebelah kananku. Lengkap dengan sejuntai tasbih hitam abu-abunya. Aku, Dewi, dan jamaah lainnya memulai penghambaan di Subuh ini. Khusyuk sekali.

Dua raka'at rasanya sebentar sekali. Selesai salam, zikir dan doa dilafazkan masing-masing. Sesekali Dewi melirik aku dengan sudut matanya. Entah apa yang ia pikirkan. Aku lihat, Dewi juga mengambil tasbihnya yang tergeletak di sajadahnya tadi. Ia main-mainkan tasbih itu, terus berlagak seperti orang dewasa yang tengah berzikir dibantu dengan tasbih. Dewi menggerakkan jari telunjuknya mengikuti satu per satu anak tasbih. Tapi sebentar saja, tidak sampai 33 kali hitungan. Kembali ia melirikku.

Doa selesai, saya menyodorkan tangan kepada Dewi. Segera ia menyambutnya. Salam silaturahim juga salam perkenalan. Setelah kami bersalaman, saya tetap memilih duduk belum beranjak untuk kembali ke rumah. Dewi pun mengikuti, tapi kelihatannya ia gusar. Sepertinya ia ingin segera pulang karena papanya telah menanti di halaman masjid, mungkin. Mencoba mengerti saya bangkit dan beranjak, "Yuk, kita pulang de," kataku. Segera Dewi mengikuti, ternyata benar di beranda masjid papanya sudah menanti. Aku tanyakan lagi, "Papa Dewi itu ya?"
"Iyek.." lagi-lagi jawaban yang sama. Kuperhatikan papa Dewi. Tak berkesan apa-apa. Hanya melihat laki-laki itu, kelak aku juga ingin memiliki suami seperti beliau. Ketika subuh mengajak anak-anaknya meramaikan masjid. Shalat berjamaah. Juga terbayang, istrinya di rumah tengah bersiap menyambut kedatangan suami dan anaknya dengan menu sarapan yang hangat. Indah ya? :)

*)Setelah dibaca, tulisan saya ga nyambung ya? Intinya: Subuh ini aku rindu ayahku, aku bertemu dengan sesosok anak yang sangat mengundang perhatianku. Di subuh ini juga aku bermimpi kelak punya suami sholeh yang bisa mengajak aku dan anak-anakku ke tempat terindah-Nya. Dan pastinya, pengalaman di Subuh ini cukup mengobati luka di hati dari semalam.

Rabbi, kembalilah..

Rabbi. Aku rindu. Aku merasa sendiri. Aku rindu masa kita dahulu. Kenapa sekarang aku merasa ditinggalkan. Benar-benar aku merasa sendiri. Kembalilah. Izinkan aku menjemputMu dengan mengingat segala kenangan indahku bersamaMu.

Dulu, kau selalu membangunkan aku di SubuhMu. Di awal waktu. Aku tak tertinggal dari HambaMu yang lain yang juga bergegas menghadapMu di Subuh itu. Setelah SubuhMu aku berkesempatan menikmati indahnya pagiMu. Merasakan sejukNya udara pagiMu. Memerhatikan makhluk-makhluk lainMu berebutan mengais rezeki di halaman rumah. Menunggu mentari yang perlahan mulai menampakkan diri. Indah.

Tak hanya itu, Rabbi. Kenangan kita terus belanjut. Kali ini, kenangan di waktu DhuhaMu. Di waktu ini aku benar-benar seperti manusia fakir. Meminta. Aku minta jika rezekiku masih tinggi di atas langit, turunkanlah. Jika ia terpuruk di dasar bumi, bangkitkanlah. Jika ia jauh, dekatkanlah. Jika terdapat di dalamnya haram, halalkanlah. Dan memohon Engkau memberikan apa-apa yang Kau berikan kepada aku seperti yang Engkau berikan kepada hambaMu yang Sholeh. Rabb, aku benar-benar mengemis kepadaMu. Tapi tak sedikitpun aku malu. Karena aku tahu, hanya Engkau satu-satunya tempat meminta. Karena Engkau pula Maha Pemberi.

Setelah DhuhaMu, Engkau gerakkan langkah kakiku untuk bersegera mencari rezeki. Rezeki halal, penuh berkah. Begitu hendaknya. Kau jaga aku selama aku bekerja. Kau tuntun aku untuk tidak melakukan hal-hal keliru. Kau begitu baik. Selalu ada. Tak ada alasan sedikitpun untuk aku ingkar kepadaMu. Untuk melupakanMu. Terutama di lima waktuMu.

Rabbi, aku masih ingin terus mengingat. Kali ini aku akan mengingat senja. Senja yang begitu indah. Ketika mega merah mulai mengambang di angkasa. Aku suka senja. Karena di waktu senja akan ada istri-iistri yang tengah menunggu suaminya pulang dari mencari rezeki. Akan ada ibu yang harap-harap cemas menunggu sang buah hati kembali ke rumah. Akan ada seorang gadis yang mempersiapkan diri untuk menunggu malam. Ya, senja waktunya kembali ke peraduan.

Ketika mega merahmu menjelang, setelahnya MagribMu akan datang. Ya, begitulah waktu. Ia terus bekerja. Tak pernah ingkar. Ia akan mengantarkan siapa saja dari satu masa ke masa lain. Ia tak pernah mundur. Terus maju. Tibalah saatnya aku kembali menghamba kepadaMu. Magrib punya sensasi sendiri untukku, Rabbi. Setelah Magrib akan ada waktu lebih untuk dekat denganMu. Sebelum IsyaMu datang, akan ada lafalan ayat-ayatMu. Huruf demi huruf. Bait demi bait. Hingga beberapa halaman. Setiap kali melafalkan ayatMu, hati ini bergetar. Benar kata ustadz di ceramah Subuh tadi, katanya, "Alquran itu apabila dijatuhkan ke gunung, maka hancur lebur lah gunung itu. Maka barangsiapa yang tak bergetar sedikitpun hatinya ketika mendengar atau membaca ayat suci Alquran, maka ia bukanlah tergolong orang beriman". Luar biasa ayat-ayatMu, Rabbi.

Sebentar saja, waktu berselang. Isya pun datang. Ya, Isya shalat fardhu terakhir di lima urutan waktu dalam sehari menurutku.Tak boleh ditunda. Belum tentu kita akan menjelang Subuh di esoknya. Ia harus disegerakan. Ketika Isya telah sudah ditunaikan, hati ini akan tenteram. Tubuh ini telah siap untuk diistirahatkan. Aku akan membunuh malam. Tapi, aku masih ingin bersamaMu. Dzikir yang tak terlafazkan, hanya dalam hati, tak putus-putus hingga mata ini benar-benar terpejam. Damai sekali. Aku pun terlelap. Tentu bersamaMu yang telah menghantarkanku ke tidur yang lelap.

Aku kira setelah aku terlelap, Kau akan pergi. Ternyata tidak, Kau masih bersamaku. Di sepertiga malamMu, Kau datang lagi. Kau belai aku. Kau bangunkan aku. Sama sekali aku tak marah. Aku senang. Dengan mata setengah terbuka, aku terseok-seok beranjak mensucikan diri. Kembali aku menghadapMu. Rabbi, tak ada kesempatan melebihi di sepertiga malam ini. Ya, ini waktunya aku berkeluh kepadaMu. Mengeluhkan apa saja. Meminta apa saja. Tak sedikitpun aku malu ketika air mata ini tumpah di hadapanMu. Aku merasa Kau benar-benar dekat denganku. Benar-benar mendengarkan. Kau turun ke permukaan bumi untuk mendengarkanku.

Ya, begitulah kenanganku bersamaMu. Setiap hari bergulir seperti itu. Kadang ada kejutan-kejutan kecil yang aku terima dariMu. Bahkan surprise luar biasa kadang Kau hadirkan juga untukKu. Sangat indah. Dengan cara ini aku ingin kembali menjemputMu. Mungkin aku telah terlalu jauh meninggalkanMu. Mungkin pula Kau murka kepadaku, dan memilih untuk meninggalkanku. Pantas, aku merasa sendiri. Rabbi, kembalilah. Aku masih ingin bersamaMu. Aku masih ingin Kau menjaga aku. Hingga akhir hayatku. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku pun akan selalu mengingatMu. Terus menghambakan diri ini hanya kepadaMu. Lindungilah aku. Sayangi aku dan orang-orang yang aku sayangi. Jaga mereka, ingatkanlah mereka jika mereka lupa. Agar kelak aku bersama dengan orang-orang yang aku sayangi berhak mendapatkan SyurgaMu. Amin.***

*Ujung Bori-Subuh jelang pagi
 

Sebuah Catatan untuk Ibu Rafi'ah

Namanya Rafi'ah. Saya memanggilnya ibu Rafi'ah. Beliau salah seorang guru saya di Sekolah Dasar dulu. Tepatnya wali kelas saya waktu saya duduk di kelas tiga. Lalu, kenapa saya harus menulis tentang beliau? Entahlah. Mungkin ini sebentuk cara saya memperingati hari guru, berterimakasih kepada guru, dan  juga sebagai cerminan untuk saya pribadi yang seharusnya jadi guru. He..

Sebenarnya tak ada suatu yang istimewa antara saya dengan ibu Rafi'ah. Hanya saja di antara tiga puluhan siswa lain, saya satu-satunya siswa yang sangat dekat dengan beliau..cie.. Kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah bisa dikategorikan seperti apa? Hm.. cukup susah mendeskripsikannya. Yang jelas, ibu Rafi'ah tak bisa lepas dari saya, begitu juga sebaliknya, saya tak bisa lepas dari beliau. Maksudnya apa nih? bingung kan..?

Begini, yang namanya guru yang tergolong sudah agak tua -50 tahunan- dan beberapa tahun kemudian akan memasuki masa pensiun tentu ibu Rafi'ah butuh pertolongan macam-macam selama proses pembelajaran berlangsung. Misalnya: minta tolong mengambilkan buku dari perpustakaan untuk dibagikan ke siswa, menyiapkan perangkat pembelajaran sebelum proses belajar mengajar dimulai, juga mengisi buku absen dan nilai siswa. Sebenarnya masih banyak yang lain sih..tapi tak usah saya jabarkan lebih jelas ya. Cukup mengerti kan? Untuk hal ini, ibu Rafi'ah sepertinya terlalu hafal dengan nama saya. Segalanya selalu saya yang ditunjuk untuk membereskan tugas tersebut. Padahal banyak teman laki-laki di kelas saya yang punya tenaga lebih untuk melakukannya. Mungkin karena saya lumayan 'besar' kali ya? Ya, nggak lah... itu karena ibu Rafi'ah menaruh kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikannya. Ceile.. (mencoba berprasangka baik saja).

Kalau itu semacam pertolongan yang dibutuhkan Ibu Rafi'ah yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Sementara di luar itu, banyak hal lain yang membuat saya dekat dengan ibu Rafi'ah. Apa coba...? Hmm.. diceritakan nggak ya..? Ya udah, saya ceritain aja deh. Dulu, ibu Rafi'ah itu hobi sekali memintai tolong kepada saya. Mulai dari minta tolong belanja kebutuhan harian beliau di rumah, minta ditemani ke tukang jahit langganan, minta temani kalau tidak ada teman di ruang guru, minta tolong belikan pembalut. Hah..!! Giliran yang ini saya benar-benar menjadi siswa super lugu yang dengan mudahnya dikerjain sama penjaga warung waktu itu. Malu abis.. (gapapa deh.. kan niatnya bantu. he.).

Nah, lo.. apa istimewanya donk cerita saya dan ibu Rafi'ah? Ga ada sih.. Tapi saya menyimpan banyak memori dan pelajaran saja dari sini. Menurut saya, memorinya sangat indah. Kenapa tidak, semasa di bangku sekolah dasar, apabila seorang siswa dekat dengan guru, itu menjadi kebanggaan tersendiri. Teman-teman saya banyak yang iri lo.. Beda lagi ketika pendidikan saya merangkak lebih tinggi. Pandangan seperti itu perlahan pudar, bahkan habis. Puncaknya, di bangku kuliah. Saya sama sekali tidak ingin dan tidak senang dekat dengan dosen. Apa sebab? Menurut studi kasus kecil-kecilan versi saya, mahasiswa yang dekat dengan dosen itu bukan murni kedekatan antara mahasiswa dengan dosennya. Melainkan ada embel-embel lainnya. Terbukti lo.. tak usah diperjelaslah. Harap dimengerti. He..

Kembali lagi ke kedekatan saya dengan ibu Rafi'ah itu murni kedekatan antara guru dengan siswanya di ruang kelas, juga kedekatan antara seorang anak dengan ibunya di luar kelas. Baik saya pun ibu Rafi'ah, kami tidak pernah menyalahgunakan kedekatan ini. Saya ikhlas membantu karena saya mendapatkan orang tua kedua setelah ibu kandung saya. Ibu Rafi'ah pun memberi nilai seobjektif mungkin atas prestasi saya di sekolah. Nilai saya benar-benar murni berbanding lurus dengan usaha saya dalam belajar.

Hanya satu tahun saya dibimbing ibu Rafi'ah. Setelah naik kelas beliau bukan menjadi wali kelas saya lagi. Rasanya, ingin bersama beliau terus. Tapi, gak mungkin juga kan. Life must go on.. move to other step n face other people. 

Yang namanya sudah dekat, tetap saja saya dekat dengan ibu Rafi'ah walaupun di kelas saya tak lagi selalu bersamanya. Hingga kemarin saya pulang ke kampung halaman, masih saja mendengar kabar dari adik bungsu saya. Kebetulan dia berteman dengan cucu ibu Rafi'ah. Kata adik saya, "setiap kali ke rumah Tia-cucu ibu Rafiah- ibuk itu tanyain kamu terus." Wah.. senang sekali, bercampur haru. Sekarang beliau sudah jauh lebih tua dibanding kebersamaan kami dulu. Hampir lima belas tahun lalu. Tapi, beliau masih mengingat saya. Sempat berniat untuk mengunjungi beliau, tapi hingga sekarang belum kesampaian. Tak banyak yang bisa diperbuat. Hanya do'a sederhana yang bisa saya kirimkan, semoga beliau dilimpahkan kesehatan dan diberi umur panjang.

Salam takzim dari jauh untukmu ibu..
Terimakasih atas ilmu yang telah kau berikan..
Insyaallah akan menjadi amalan tak terputus bagimu..

***
Hm.. sebenarnya sangat tak adil kalau saya hanya bercerita tentang ibu Rafi'ah. Ada dua lagi guru sekolah dasar saya yang menyimpan memori tersendiri. Beliau ibu Rit dan Bapak Zuherman. Dengan tidak mengurangi penghargaan saya atas jasa-jasa beliau, catatan ini juga didedikasikan untuk mereka. Terimakasih Ibu..Bapak..

*Ujungbori 16:10 Wita