Dari Lhok Nga, Hafalan Shalat Delisa

  Judul         : Hafalan Shalat Delisa
  Pengarang : Tere Liye
  Cetakan    : XIII, Februari 2011
  Halaman   : vi + 270 hal
  Penerbit    : Republika
  Harga       : Rp 46.000,-


Hafalan Shalat Delisa bukanlah novel terbitan terbaru. Kali kedua saya membacanya. Pertama membaca, kira-kira empat tahun lalu. Membaca untuk kedua kalinya sama sekali tidak membosankan. Malah semakin mengharu-biru.

Salah seorang kakak sama bekerja, saya tulari untuk membaca novel ini. "Ingin punya anak seperti Delisa," komentarnya ketika membaca buku ini. Kebetulan ia tengah hamil lima bulan.

Satu lagi, teman yang tak hobi membaca secara mengejutkan meminjam buku saya. Ia butuh hampir seminggu untuk menamatkan buku yang tebalnya tak seberapa ini.  "Ini buku pertama yang saya baca hingga selesai," katanya.

Berikut ulasan tentang novel yang ditulis oleh Tere Liye. Sebuah nama pena berbahasa India yang berarti; untukmu. Lewat tulisan yang lembut, sederhana, dan jujur ini, saya tak menyangka bahwa penulis adalah laki-laki. Berawal dari tontonannya di televisi yang menampilkan anak-anak Aceh yang kakinya terpaksa diamputasi setelah bencana tsunami, Tere Liye bersumpah untuk menulis sebuah kisah yang menyakitkan itu. 

Hafalan Shalat Delisa, Novel berkisah dramatis diawali dengan kisah romantis. Sebuah keluarga romantis. Saya memiliki makna tersendiri ketika sebuah keluarga dikatakan romantis. Tak ada pertengkaran, tak ada kegaduhan, tak ada siasat untuk saling menelikung dalam sebuah persaudaraan. Pun itu ada, sekali-sekali hanya sekadar bumbu penyedap ketika keluarga itu diselimuti sepi. Sepi karena pekerjaan kepala keluarga (Abi Usman) yang membuat mereka hanya bisa bertemu triwulanan. Abi Usman bekerja di sebuah kapal tanker minyak yang berkelana dari satu negara ke negara lainnya. Sebagai pengobat rindu itu, percakapan melalui satelit telepon  setiap ba'da subuh di awal pekan menjadi sungguh berarti. Setiap kali telpon berdering di Senin Subuh, Ummi Salamah orang pertama yang akan menerima telpon tersebut. Kemudian diikuti empat anak perempuannya.  Si sulung Fatimah, si kembar Aisyah-Zahra dan si bungsu Delisa. Keempat anak perempuan ini benar-benar anak solehah. Rajin ibadah dan belajar. Semua itu tak terlepas dari didikan Ummi Salamah yang begitu tegas dan kuat agama.

Tere Liye menuliskan kisah yang sangat sederhana dengan latar belakang bencana tsunami enam tahun yang lalu dengan settingan kampung Lhok Nga, Banda Aceh. Dengan tokoh utama Delisa, seorang gadis kecil berusia enam tahun, novel ini menceritakan kisah tentang dunia  kanak-kanak.

Berawal dari kebiasaan di keluarga Umi Salamah, setiap anak akan dihadiahi kalung ketika mereka telah hafal bacaan shalat dengan sempurna. Seperti halnya Fatimah, Aisyah dan Zahra, Delisa juga dijanjikan kalung oleh Ummi Salamah. Menjelang ujian praktik bacaan shalat di sekolahnya, Delisa diajak Umi Salamah memilih kalung di toko Koh Acan. Koh Acan, China tulen adalah tempat langganan Ummi Salamah untuk membeli hadiah untuk putri-putrinya sejak zamannya Fatimah dulu. Koh Acan juga begitu baik kepada umi Salamah, "Kalau untuk untuk hadiah hafalan shalat ini, Ummi Salamah bayar separuh saja, haiya!" kata pria 100% konghucu ini. .

Sejak umi Salamah mengantongi kalung itu, Delisa semakin bersemangat untuk terus menghafal bacaan shalatnya hingga sempurna. Ditambah lagi, kalungnya berbeda dengan kakak-kakak sebelumnya. Delisa dihadiahi Koh Acan liontin dengan abjad D. D untuk Delisa. Riang sekali Delisa setiap kali mengeja D untuk Delisa, D untuk Delisa.. Sehingga mengundang kecemburuan Aisyah, kakaknya yang selalu usil kepadanya. 

Meski kalung telah dikantongi Umi Salamah, Delisa mesti bersabar dulu untuk bisa segera mengenakannya, melihat pun Delisa tak diizinkan Ummi. Oleh karena itu, Delisa gigih sekali mengulang-ulang bacaannya yang sering kali terbolak-balik. Bacaan ruku' dan sujud yang hampir serupa membuat Delisa kebingungan.

Hari uji untuk bacaan shalat Delisa dan teman-temannya di Madrasah Ibtidaiyah pun tiba. Hari Minggu, 26 Desember 2004. Delisa bangun dengan semangat, shalat subuh dengan semangat, berangkat ke sekolah dengan semangat. Janji kalung itu membuatnya sumringah. Selepas shalat subuh, Delisa sempat memaksa Ummi untuk memperlihatkan kalung tersebut, Ummi dengan tegas menolak lagi.

"Alisa Delisa," ibu guru Nur memanggil nama Delisa. Delisa bergerak maju ke depan kelas untuk mempraktikkan bacaan shalatnya, bacaan yang sempurna tentunya. Selesai bertakbiratul Ihram; persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. Persis di sana, lantai laut retak seketika. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian itu mencuat. Mengirimkan pertanda kelam-menakutkan.

Di tengah bumi diguncang gempa, Delisa lancar benar menghafal bacaan shalatnya. Sampai saat Delisa akan melanjutkan ke bacaan sujud tiba-tiba tubuhnya terseret air besar sekali. Ya, hari itu tsunami terjadi. Memporakporandakan Lok Nga hingga tak tersisa. Menelan banyak korban yang sampai kini tidak dapat diketahui jumlah pastinya.

Aceh bersedih, Indonesia bersedih. Berita bencana tsunami di Aceh itu pun mendunia. Seorang gadis kecil berumur enam tahun, Delisa kehilangan banyak hal; ummi dan kakak-kakaknya, serta sebelah kakinya. Meskipun telah kehilangan segalanya, itu tidak membuat Delisa hancur. Hanya satu yang membuatnya sedih, karena kehilangan hafalan shalatnya. Sesuatu yang mungkin tidak akan menjadi prioritas bagi sebagian besar dari kita pada umur enam tahun ketika kehilangan semuanya. Sejak kejadian itu pula Delisa benar-benar lupa akan bacaan shalatnya.

Pada akhir novel diceritakan penyebab hafalan shalat Delisa yang hilang. Karena sebelum bencana tsunami terjadi, ia menghafal bacaan shalat tersebut karena iming-iming hadiah, bukan karena ikhlas karena Allah. Ketika ia menyadari hal itu dan menyatakan tidak menginginkan hadiah kalung tersebut, bacaan shalat itu seolah-olah bicara padanya.

Akhirnya Delisa bisa menyempurnakan shalatnya. Pada saat itulah Allah memberikan hadiah besar padanya. Ia menemukan jasad (tulang belulang) Ummi-nya yang selama ini hilang akibat tsunami dalam keadaan memegang kalung yang akan dihadiahkan padanya itu. Ya, Delisa amat tegar, tetap semangat apapun kondisinya, bisa menerima kehilangan akan orang-orang yang dicintainya dengan sederhana. Sungguh, dari Delisa kita bisa belajar banyak hal tentang makna hidup. Bahwa hidup memang sungguh sederhana, belajar tentang rasa ikhlas dan tulus hati, senantiasa bersyukur dan terus memperbaiki diri.

Begitulah ketegaran dan keikhlasan seorang anak berumur enam tahun yang kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya. Sebuah pelajaran yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan oleh kita. Kisah yang sangat menyentuh dan membuka hati. Membuat siapa saja yang membacanya terharu kemudian tanpa sadar meneteskan air mata. Seolah hanyut dalam ceritanya. Ada beberapa bagian dimana penulis memberi catatan kaki tentang doanya untuk Delisa, mengungkapkan kecemburuannya tentang gadis cilik itu. Sungguh membuat hati terenyuh.***






*)saya benar-benar cemburu dengan Delisa, ia punya kisah sungguh penuh makna ketika belajar menyempurnakan bacaan shalatnya. Sementara, saya tak ada apa-apanya. Hanya ada sedikit hal lucu, ketika saya menaruh buku tuntunan shalat lengkap pada sajadah ketika belajar shalat. Melirik ke arah buku untuk menirukan gerakan dan mengintip bacaan shalat.

 

Boleh Idola tapi Jangan Menggila

Akhirnya Justin Bieber menginjakkan kaki di Jakarta, Jumat (22/3) lalu. Kedatangannya penuh histeria, terutama bagi penggemarnya yang disebut 'Beliebers' ini. Apa benar yang ada pada diri justin bieber? Di usianya yang masih belia, baru 17 tahun, ia sudah berprestasi. Bukan sembarang prestasi. Prestasi mendunia. Jika kita bandingkan dengan 'Artis Youtube' keluaran lokal, tentu belum apa-apa dibanding Bieber. Sebut saja, Shinta-Jojo, Bona 'Gayus Tambunan', Soaludin 'Udin Sedunia' dan yang teranyar Briptu Norman Camaru. Mereka semua juga telah menghentak se-isi Indonesia, tapi sayang mereka tak begitu menggaung ke seantero dunia.

Justin bieber telah menunjukkan eksistensinya melalui konser bertajuk 'My World Tour'. Telah hampir seluruh belahan dunia ia datangi untuk unjuk aksi panggung, termasuk Indonesia. Dan di seluruh kesempatan itu pula ia mampu membuat penggemarnya di luar kendali. Tangis, tawa, dan teriak. semuanya berpadu. Sejauh perhatian saya, ada seorang remaja di Israel memakai gaun layaknya seorang pengantin perempuan dan mengusung board bertuliskan, Justin, marry me!! hah, apa-apaan ini?

Pada salah satu acara televisi, terlihat para Anak Baru Gede (ABG) sangat histeris ketika akan menyambut kedatangan Bieber di Jakar. Bahkan ada yang mau bunuh diri jika keinginannya untuk bertemu justin tidak kesampaian. Ada lagi yang mengumpat promotor pengundang Justin dikarenakan mereka tak kebagian tiket untuk menyaksikan konser secara langsung. Ada juga yang ketipu oleh calo. Bertempat di Sentul International Convention Centre, promotor hanya menyediakan 10.000 tiket. Tiket dijual online, pada penjualan pertama, 6000 tiket ludes terjual via online. Hanya menghabiskan waktu 2 jam. Gila...!!

Membludaknya penggemar Justin membuat banyak yang tak kebagian tiket. Di salah satu tayangan televisi diperlihatkan sekelompok remaja yang meluapkan emosinya. Sumpah serapah pun tak dapat dielakkan, *^%&$###@&*. Mereka mengaku telah puasa belanja selama sebulan demi mengantongi tiket nonton justin. ada pula yang berani membohongi orang tua demi bisa bertemu sang idola. Memang, tak tanggung-tanggung pengorbanan mereka. Harga tiket jutaan tak jadi masalah. pada akhirnya mereka yang tak kebagian menonton pun terjebak oleh ulah calo yang meraup keuntungan dari acara ini.

Belum lagi dari situs youtube, saya melihat beberapa anak ABG bahkan anak kecil berteriak-teriak, mengamuk, menentang orang tua karena keinginannya bertemu Justin juga tak terpenuhi. Ah, sungguh menggila mereka ini.

Menurut saya luapan emosi remaja tanggung yang mayoritas perempuan itu adalah sesuatu yang kurang wajar. Bukan bermaksud mencela perbuatan mereka, hanya saja ada banyak cara lain untuk mengungkapkan kekaguman kepada sang idola. tak mesti menguntit, mengikuti style, hingga melakukan hal-hal yang tak logis.

Segala bentuk ketidakwajaran sikap mereka ini tentu tak terlepas dari didikan orang tua masing-masing. Ada orang tua yang terlalu memberikan kebebasan kepada anaknya untuk mengekspresikan diri terhadap sang idola,  ada juga yang terlalu mengekang. Dua-duanya ada tak baiknya. Jika mereka terlalu diberi kebebasan, para remaja yang masih membutuhkan perhatian ini akan terjebak, kehilangan identitas diri. Apabila terlalu dikekang, mereka akan menentang orang tua. Berbagai cara pun mereka tempuh untuk mengikuti kehendak.

Kata Psikolog Tika Bisono dalam suatu situs internet, hal ini merupakan fase yang dialami oleh sebagian besar para remaja, sebagai orang tua suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, itulah tahapan yang dilalui yang ada pada diri remaja dan ketika umur mereka bertambah perilaku tersebut berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambah kedewasaannya.

Ya, persoalan remaja memang agak sedikir rumit (sok tau..he..). Bukanlah perkara mudah untuk mendidik mereka di tengah lajunya arus globalisasi sekarang ini. Butuh berbagai pendekatan untuk mereka. Menurut saya, yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada mereka (remaja) dari segala sisi. Orang tua perlu menjelaskan bahwa perbuatan 'menggila' kepada idola bukanlah suatu prilaku yang baik. Setiap anak yang demikian akan kehilangan identitas diri, senantiasa mengikuti segala tingkah dan gaya sang idola. Nah, bukankah lebih baik kita percaya pada diri sendiri? dan bukankah kita harus bisa mengeksplorasi potensi diri sendiri untuk berkarya?

Selain itu, dari sudut pandang agama (islam), remaja yang demikian yang cenderung mengidolakan penyanyi, aktris, aktor yang bergaya hidup tidak islami (apalagi dari manca negara yang jelas-jelas sangat berbeda gaya hidupnya dan kebanyakan mempunyai perilaku yang jauh dari budaya timur). Apabila remaja tersebut terpengaruh dengan kebiasaan demikian tentu sangatlah bertentangan dengan ajaran agama dan budaya kita. Alangkah lebih baiknya mengidolakan tokoh-tokoh yang bisa menjadi panutan dan teladan semisal ulama, ilmuwan, para pahlawan pembela bangsa, dan seniman yang islami.

Disamping mengidolakan tokoh yang pantas diidolakan, alangkah lebih baik pula kita mengidolakan diri sendiri. Maksudnya bukan meyakini diri sendiri sebagai orang hebat, melainkan mengidolakan diri sendiri dengan yakin atas kemampuan yang dimiliki dan terus menggali segala potensi yang ada. Dengan kebiasaan seperti ini remaja akan terbentengi dari fenomena, arus atau trend yang terus berkembang seiring berkembangnya zaman.

Membentengi diri dari fenomena atau trend yang tengah berlangsung bukan berarti membuat remaja kurang pergaulan alias kuper. Tak ada salahnya mereka sekadar mengikuti--bukan berlebihan,  agar tidak ketinggalan informasi. Tidak semua pula idola memberikan dampak negatif terhadap sikap remaja. Kembali ke justin biebier, para remaja bisa saja mengambil yang baiknya. Kegigihan biebier untuk terus berlatih dan menjaga eksistensi dirinya juga patut ditiru. Salah satunya, melalui lagu Never Say Never-nya, ia mengajarkan agar kita jangan pernah mengatakan tidak. Teruslah berusaha.. Nah, ada bagusnya juga bukan. yang ini, tak apa ditiru. Justin tak apa dijadikan inspirasi untuk terus berbuat mewujudkan mimpi kita, jangan mudah menyerah.

So, ikuti baiknya, tinggalkan buruknya. Tak perlu meraung-raung karena tak bisa ikut menonton.Dan tak perlu memaksakan diri agar bisa bertemu si Justin,bukan..? Having fun.. ***

*)postingannya telat kali ya? udah nggak update lagi. si Justin entah sudah kemana pula, nih tulisan baru muncul.. whatever lah. kali-kali aja ada guna.
rukan panggung, 26th apr 2011. sepasang headset menempel di telinga.. salah satu pada playlist, Never Say Never -- Justin Biebier.

Bumi Sriwijaya Part II

 

Medio Oktober 2010, kali kedua menginjakkan kaki di negeri mpek2. Kali pertama, pada mei 2008, masih menyandang status mahasiswa. Yang ini status berganti menjadi karyawan. Seorang teman, meluangkan waktu untuk jalan-jalan. Jalan-jalan kilat, dikira hanya sementara untuk kali kedua ini, karena tugas awalnya hanya menggantikan karyawan cuti di kantor cabang Palembang, ternyata hingga detik ini saya 'dipaksa' untuk terus bersahabat dengan Bumi Sriwijaya ini. Indah, Pahit.. kisahnya. 




Eh, Sinetron…

Untuk kali ini saya begitu tergila-gila untuk menonton sinetron. Ops, tunggu dulu. Tak sembarang sinetron yang saya tonton. Setelah muak dengan suguhan sinetron yang alangkah banyaknya di beberapa stasiun tv swasta di negeri ini, terutama R***, akhirnya saya menemukan juga salah satu sinetron yang menurut saya tak ada kelirunya apabila saya ikut menonton. (he.. kalimat yang bikin bingung).

Merujuk ke berbagai sinetron yang mereka (stasiun tv) tayangkan selama ini, menurut saya tak ada manfaatnya sedikitpun untuk ditonton. Yang ada hanyalah drama kelebayan dan berbagai alur cerita yang tak masuk di akal. Tak jarang mulut saya turut mengumpat ketika melihat adegan demi adegan dari sinetron yang mereka tayangkan. Daripada saya mengumpat, baiklah saya putuskan pada waktu tertentu saya tidak akan menyetel stasiun tv yang sudah ada dalam blacklist saya.

Nah, kali ini sinetron apakah yang tengah membuat saya tergila-gila? Ah, macam apa sajalah sinetron ini, sehingga membuat saya tergila-gila. Hm, tak lain dan tak bukan sinetron yang saya maksud adalah Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Menurut saya, inilah sinetron terbaik untuk saat ini. Itu kan menurut saya, tak tau pula saya bagaimana pendapat Anda. He..
Bagi saya yang awam tentang dunia perfilman, persinetronan, ataupun pertontonan, sinetron KCB cukup memberi arti dalam setiap episodenya. Baiklah, saya tidak akan berlama-lama mengomentari sinetron ini. Namun, di halaman ini saya akan coba menguraikan apa saja yang dapat dipetik dari setiap karakter dan akting tiap lakon di sinetron ini.

Pertama, Ustadz Azzam. Untuk selanjutnya, Azzam saja saya menyebutnya. Dari sosok Azzam saya jadi tahu bagaimana tanggung jawab seorang laki-laki di dalam keluarganya. Ia mampu memimpin keluarganya dan adik-adiknya tentunya. Azzam juga mempunyai kelapangan hati yang sangat ketika ia dihadapkan dengan masalah apapun. Ia tak pernah kelihatan begitu panik, hanya saja ada sedikir raut wajah lusuh, demikian saya menyebutnya.

Kedua, Anna yang diperankan Okky Setiana Dewi. Anna seorang putri kyai tersohor di negerinya menampilkan sosok perempuan solehah dan paham agama. Istri Azzam ini begitu taat beribadah. Tutur bahasa begitu lembut, bersikap sopan dan rajin membantu. Cantik dan berilmu, begitu saya menyimpulkannya.

Ketiga, Husna. Saya begitu tertarik dengan tokoh yang diperankan Meyda Safira ini. Penulis yang baik, perempuan berhati baik, dan berpenampilan menarik. Menurut saya, Husna memiliki penampilan yang melihatkan kesederhanaan. Tak ada yang mencolok. Husna bukanlah perempuan berpenampilan seperti Anna. Ia tak mengenakan gamis seperti yang biasanya dikenakan Anna. Hanya saja, Husna memakai kerudung lebar. Kerudung segiempat seperti kebanyakan orang memakai--termasuk saya--juga sering dikenakan Husna. Husna juga diceritakan sebagai seorang penulis. Semangat Husna untuk menulis berpengaruh sekali kepada saya. Sejak mengikuti sinetron ini saya jadi keranjingan menulis. Menulis apa saja. Mungkin sebagian menganggap tulisan saya banyak yang nggak mutu. He.. biarlah, yang penting saya menulis. Menulis untuk kepuasan batin.

Cukuplah tiga tokoh yang menurut saya tokoh utama itu saja yang saya paparkan. Masih ada, Ilyas, Sarah, Lia, Ustad Mujab, dan lainnya. Mereka tak saya bahas karena terlalu banyak dan jika ada yang membaca tentu akan merasa bosan. Masih menurut saya, kesemua dari tokoh yang ditampilkan di sinetron KCB memiliki karakter yang kuat dalam perannya masing-masing. Banyak pelajaran yang bisa dikutip. Mulai dari persaudaraan, percintaan, keluarga, dan dakwah. Tentu semuanya dari sudut pandang agama islam.

Terlepas dari semua kebaikan dari sinetron KCB yang saya sebutkan di atas, memang sinetron ini juga tak luput dari kekurangan. Saya tahu, banyak juga yang kontra dengan sinetron, pun film KCB. Banyak yang menganggap semuanya ditampilkan begitu berlebihan alias lebay. Bahkan beberapa teman saya berkomentar, “Mana ada orang bisa se-sabar itu? Berlebihan semuanya.” Demikian teman saya mengomentari beberapa peran dari tokoh KCB.

Mungkin ada benarnya komentar teman saya karena kadang-kadang saya pun merasakan hal yang sama. Tapi ada banyak juga bagian dari setiap adegan film dan sinetron itu yang dapat diraih manfaatnya. “Ambil saja yang baiknya, setidaknya kita bisa belajar agama dengan mudah dari sinetron ini,” saya menjawab komentar teman.
Tak ada yang salah ketika ada pro dan kontra terhadap apa pun yang dihadapkan kepada kita. Apalagi persoalan karya. Tak semua karya yang menurut si pembuat bertujuan baik dapat diterima serupa oleh orang yang menikmati karyanya. Begitu pula, ketika saya menyukai sinetron ini dan ada yang begitu jengah, biarlah. Mari kita memilih. Memilih berdasarkan kacamata masing-masing. Kacamata yang merekam dari sudut pandangnya masing-masing.***


*)catatan ini saya tulis ketika saya menginginkan sinetron KCB diputar lagi. Belum lama ini, KCB II telah ditayangkan tapi tak bertahan lama. Tak mencapai 50 episode. Saya tak tau pasti penyebabnya, prasangka saya mungkin karena ratingnya tidak bagus. Stasiun tv lebih mempertahankan sinetron yang memiliki rating bagus dengan menambah-nambahkan episode bahkan season hingga selusin. Ah, sudahlah…!!

Hari Rohana Kudus tanpa Kartini

Memperingati 21 April dengan Hari Kartini sepertinya kita hanya akan mengakui bahwa yang punya sejarah hanyalah orang Jawa. Bukan bermaksud mendiskreditkan sosok Kartini, saya hanya merasa tidak adil saja apabila ada hari spesial yang dikhususkan untuk Kartini.  Terlepas dari Kartini, kita punya sesosok perempuan yang mempunyai perjuangan nyata melebihi perjuangan Kartini, yaitu Rohana Kudus. Begitu banyak kiprahnya semasa hidup yang membuat kaum hawa bangga.

Mengapa saya merasa perlakuan tersebut tidak adil? Ya, karena Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Sama halnya bahkan lebih dari Kartini, Rohana telah berbuat banyak untuk kaum perempuan di negerinya semasa itu. Tak hanya di bidang pendidikan, jurnalistik, politik, bahkan meningkatkan kualitas perekonomian kaum perempuan pun telah ia lakoni. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa ada diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena yang harus dilawan.

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884  dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972. Terlahir dari sepasang orang tua yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan Kiam. Rohana Kudus juga memiliki hubungan keluarga dengan Perdana Menteri Indonesia pertama, Soetan Sjahrir. Selain itu, ia juga bibi atau 'mak tuo' dari penyair terkenal Chairil Anwar dan ia juga sepupu dari H. Agus Salim.

Berbekal kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Pada usia 24 tahun setelah menikah dengan Abdul Kudus yang waktu itu berprofesi sebagai notaris, Rohana pulang ke kampung halamannya. Pada 11 Februai 1911 ia mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan bermana 'Sekolah Kerajinan Amai Setia'. Di sekolah ini ia mengajarkan anak didiknya mulai dari mengelola keuangan, baca-tulis, budi pekerti, pendidikan agama, bahkan Bahasa Belanda.

Perjuangan Rohana tak serta-merta mulus begitu saja, banyak tantangan yang ia hadapi. Pergerakannya berbenturan dengan kehidupan sosial yang biasanya berlaku di ranah minang. Meski ia harus berhadapan dengan para pemuka adatdan pihak lain yang menentangnya, hal ini tak membuat Rohana mundur, melainkan ia semakin kuat dan yakin dengan apa yang tengah diperjuangkannya hingga meraih kesuksesan.

Kesuksesan Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama. Pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang anak didiknya yang telah diajarkan hingga pintar telah menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya dan dukungan seluruh keluarga. Beberapa kali persidangan,  tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun Rohana menolak tawaran tersebut karena ia berniat pindah ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi Rohana mendirikan sekolah dengan nama 'Rohana School'. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Rohana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapa pun. Rohana School sangat terkenal, muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi tapi juga dari daerah lain. Di Bukittinggi  Rohana juga memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina.

Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga piawai berwirausaha. Dari sekolah kerajinannya, ia dengan mudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda. Kerjasama untuk pengadaan peralatan dan kebutuhan sekolahnya hingga memasarkan hasil kerajinan anak didiknya ke Eropa. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau. Ditambah lagi, Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.

Kiprah Rohana membuat banyak petinggi Belanda kagum. Kagum akan wawasannya yang luas dan fasih berbahasa Kompeni. Kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.

Perjuangan Rohana tak sampai disitu saja. Pada tanggal 10 Juli 1912 ia mendirikan Surat Kabar Perempuan Pertama di Indonesia, 'Sunting Melayu' namanya. Pendirian surat kabar ini berawal dari keinginan Rohana untuk membagi cerita tentang perjuangannya memajukan pendidikan kaum perempuan dan juga tak lepas dari kebiasaannya menulis. Sunting Melayu digawangi kaum perempuan, Pemimpin Redaksi, Redaktur hingga Penulisnya adalah perempuan.

Masih dalam pergulatan tulis-menulis, Rohana juga aktif turut serta dalam dunia politik. Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera.

Demikian Rohana Kudus menghabiskan 88 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang menjadi kebanggan kaum hawa yang ia perjuangkan. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tahun 2008 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.***



Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. Namun dengan bijak Rohana menjelaskan:

"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan."

Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.--wikipedia

*)Tulisan yang tak seberapa ini saya rangkum dari sedikit sumber, teruntuk teman-teman perempuan saya yang sekarang mulai berkutat di dunia jurnalistik (sebelumnya baru menjadi wartawan kurcaci di media kampus masing-masing): Septri Lediana, Meidella Syahni, Sonya Winanda, Adek Risma Dedees, Anies Zenevieva, dan Ivo Yasmine. Semoga terlahir 'Sunting Melayu' jilid II dari tangan dan pikiran cerdas nan kreatif kalian.. he


========

@rukan panggung, 21 Apr 2011--tanggal ini juga bertepatan dengan ulang tahun (Alm.) kakak sulung saya yang semasa hidupnya telah menjadi pahlawan bagi adik-adiknya. Do'aku selalu untukmu.. uni.

Perempuan dan Ayam Jantan Berkawan di Subuh Tadi

--kaki merapi dari jendela belakang tingkat dua-- f/brother inlaw
Subuh di hari Minggu. Subuh yang lain. Subuh yang tak menuntut hati untuk mulai mengerayangi hari ini dengan berbagai pekerjaan. Subuh di Minggu ini begitu Subuh yang membebaskan, Subuh yang mengindahkan, Subuh yang memilukan, juga.

Hingga ke suara kokok ayam jantan pun membuat Subuh di hari Minggu begitu berbeda. Kokok-an ayam jantan di halaman rumah begitu nyaring. Tak henti-hentinya ia berkokok. Sahut-menyahut dengan ayam jantan yang berada di sisi utara, timur dan selatan, tetangga beberapa rumah.
Kukuruyuk...k, begitu nyaring, begitu panjang. Di halaman.
Kukuruyuk...k, agak nyaring, agak tersendat seperti ayam yang tertelan karet gelang. Di timur.
Kukuruyuk...k, sayup-sayup, seketika lenyap. Di utara dan selatan, bergantian.

Mereka berkokok tak mau mendahului adzan Subuh. Setelah adzan telah bersahut-sahutan dari berbagai penjuru, barulah mereka bersahut-sahutan pula. Seolah memperpanjang lidah muadzin yang sudah sedari tadi mengumandangkan seruanNya dari Meunasah.

Seorang perempuan berusaha bangun dari tidurnya yang nyenyak. Tidur yang baru saja pulas setelah ia baru tertidur dua jam yang lalu. Kebiasaannya bangun di sepertiga malam untuk berkehendak apa saja, membuat ia terjebak dalam pikiran panjang. Setelah memohon kepada Sang Khalik yang sepengetahuannya turun ke bumi untuk memperdengarkan permohonan hambaNya di sepertiga malam, mata si perempuan tak lantas terpejam. Ada-ada saja yang ia pikirkan. Mulai dari A hingga Z, andai saja masih ada alfabet setelah itu mungkin masih ada saja yang ia pikirkan. Alhasil, dua jam saja waktu perempuan tadi untuk terlelap.

Mata masih setengah terbuka, mulai menggerak-gerakkan jari-jemari, duduk di kapuk yang begitu empuk, tangannya sibuk meraih kerudung dari penggantung pakaian, pintu kamar di buka, menerabas ke kamar mandi. Berwudu'. Dinginnya air menyapu wajah dan membasahi pori-pori, begitu nikmat rasa itu bagi si perempuan tadi.

Si ayam jantan tak henti-hentinya berkokok Begitu juga rekan sejawatnya di halaman tetangga tiga rumah. Mereka tak berhenti bertugas karena belum ada juga yang bangkit dari kapuknya. Kukuruyuk.... sahut-menyahut, tak henti. Hingga sang fajar mulai muncul dari ufuk timur.

Sementara setelah si perempuan tadi selesai menghambakan dirinya di Subuh Minggu ini, ia begitu tergoda dengan kapuk yang begitu empuk. Masih terduduk di atas sajadah setianya, ia menoleh si kapuk. "Ayo, tidur kembali masih terlalu pagi, hari ini kan libur, ayo....!!" si kapuk begitu menggoda.

Perempuan tadi bangkit. Melipat mukena dan sajadah setianya. Menoleh lagi ke si kapuk, "Ah tidak, perempuan itu tidak baik tidur setelah subuh," si perempuan membalas godaan si kapuk sembari memencongkan bibirnya bermaksud meledek godaan si kapuk.

Ia raih kembali kerudungnya. Kerudung yang agak lebar dan panjang. Sengaja memilih kerudung yang demikian agar dingin yang lumayan menusuk tulang tak begitu terasa ketika kepalanya dan separuh badan diselimuti kerudung lebar. Si perempuan beranjak keluar, duduk di beranda rumah. Ada pemandangan yang tak biasa. Lima belas merpati tengah berpesta di halaman rumah, tepat di depan beranda tempat si perempuan duduk. Ia perhatikan satu per satu burung yang dikata orang paling setia itu. Semuanya didominasi bulu putih hanya saja beberapa dari mereka berparuh hitam, coklat, dan abu-abu. Merpati-merpati itu tengah berebut sisa makanan dari bungkusan nasi si penghuni rumah. Kaki-kaki mungil merah muda mereka berlarian, kadang-kadang saling menelikung untuk mendapatkan beberapa butir nasi. Kini, merpati itu tak lagi berjumlah lima belas, tujuh belas sudah. Dua kawannya baru saja tiba, mungkin mereka tertinggal atau baru saja juga mengais rejeki di halaman rumah yang lain.

Si ayam jantan masih saja berkokok dan bersahut-sahutan dengan teman sejawatnya. Masih belum ada yang bangkit dari pembaringan. Mungkin saja mereka telah lelah berkokok hingga kehausan, tapi tugas mereka belum selesai. Belum juga ada yang bangun. Belum juga ada yang menyaingi mereka dan merpati tadi untuk mengasis rejeki.

Merpati dan ayam jantan, ada juga beberapa burung pipit beterbangan di halaman. Si burung pipit memilih bertengger di arm penghubung bucket dengan controller pada alat berat yang terparkir di halaman rumah, Excavator. Si burung pipit memandangi dari ketinggian, teman sama spesies dengannya tengah berjuang untuk mendapatkan butir-butir nasi sisa makan si penghuni rumah. Dari ketinggian itu, si burung pipit juga memperhatikan si perempuan berkerudung lebar tadi. "Asyik sekali ia melamun, apa yang ia pikirkan?"

Perempuan tadi melirik satu per satu pada makhluk yang telah sibuk di subuh hari itu. Merpati, burung pipit, dan ayam jantan yang masih saja sibuk berkokok. Si perempuan mulai terganggu dengan kokokan si ayam jantan. Ia membatin, saya sudah bangun dari tadi janganlah berisik juga, biarkanlah saya merasakan indahnya pagi ini tanpa lagi mendengar lengkingan suaramu yang tak lagi merdu layaknya yang saya dengar setelah adzan subuh tadi. Memekakkan telinga, si perempuan mulai mengumpat.

Di tengah kesibukan makhluk-makhluk tadi mengais rejeki, perempuan tadi meraih telepon genggamnya. Menelpon salah seorang kawan yang pasti sudah bangun sejak subuh tadi. Ia begitu mengetahui kawannya yang satu ini selalu memulai aktivitasnya di Subuh hari, Violin namanya.  Jempolnya mengutak-atik telpon genggam yang akhir-akhir ini mulai berulah. Violin, memanggil...

"Hallo, Assalamu'alaikum," salam Violin agak parau mungkin karena masih terlalu pagi untuk menjawab telpon.
"Wa'alaikumsalam, Vio sudah shalat dan sedang apa?" perempuan tadi memberikan pertanyaan beruntun.
"Sudah, baru saja selesai. Ais sudah shalat?
"Sudah juga, kira-kira setengah jam lalu."
"Subuh lebih duluan di sana ya.." Vio menyadari jarak ia dan Ais lumayan jauh, menempuh kurang lebih 20 jam perjalanan via bus.
"Iya, hanya beda beberapa menit dari ibu kota negara," Ais menimpali.

*bla..bla..bla..bla..*

Percakapan perempuan tadi dengan kawannya itu begitu seru, sepertinya. Sehingga ia mengacuhkan kawan-kawannya yang menemaninya duduk di beranda tadi. Merpati, Ayam jantan dan si burung pipit belum juga menyudahi kesibukan mereka.

Si perempuan juga tidak mau kalah, selesai melepas selaksa rindu pada kawannya tadi, ia kembali meraih telpon genggamnya yang ditaruh di kursi kosong di sebelahnya. Kali ini ia menelpon kedua orang tua nun jauh di kampung halaman. Ibu jarinya kembali menari-nari di atas key pad telpon genggam itu. Luphly Pa, memanggil..
"Assalamu'alaikum," suara pria paruh baya dari ujung telpon.
Perempuan tadi kembali mendengar suara parau dari kejauhan. Memang, masih terlalu pagi di kampung halamannya.
"Wa'alaikumsalam.., sudah bangun pa, papa sudah shalat?" si perempuan menyuguhkan pertanyaan serupa dengan pertanyaan beruntunnya kepada Violin tadi. Kenangannya tiba di kampung halaman. Kampung yang berada di kaki gunung merapi. Apabila Subuh hari, dinginnya cuaca begitu menusuk tulang. Brr... dingin minta ampun. Hanya yang benar-benar memiliki kebulatan hati yang bisa bangun di subuh hari untuk menunaikan kewajiban kepada Yang Maha Pemberi Rejeki.
"Sudah nak, papa baru saja kembali dari mushalla. Nih, amak juga baru pulang."
Si Perempuan mulai merasakan pilunya pagi ini. Andai saja ia tak berjarak dari tanah kelahirannya itu, tentu ia juga turut meramaikan subuh yang dingin itu. Ketika suara azan dari Inyiak berkumandang, ia bergegas bangkit dari kapuk, dan menuruni anak tangga dari tingkat dua rumahnya. Berlarian menuju mushala merasakan air 'es' yang mengucur dari tedmond, penyimpan air mushala. Brr.. kali ini si perempuan tadi benar-benar merasai dingin itu.
"Apa kabar Ais, sehat-sehat sajakah?" tidak lagi suara papa, melainkan Amak.
Oh, amak yang membuat perempuan tadi semakin merasakan dinginnya pagi ini.

*Bla, bla, bla......*

Percakapan kedua orang tua dan anak perempuannya yang berada jauh di negeri orang. Entah apa yang mereka bicarakan. Hanya saja si burung pipit yang masih bertengger di ketinggian tadi sesekali melirik perempuan itu tengah tertunduk dan sesekali mengusap matanya.

Matahari mulai memperlihatkan wajahnya. Cerah. Si perempuan mulai bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan beranda. Memulai aktivitas di Minggu yang membebaskan. Kokokan ayam jantan tak terdengar lagi, entah kapan berakhirnya, si perempuan tak menyadarinya. Merpati mulai berhamburan seiring dengan langkah perempuan tadi. Mungkin mereka sudah kenyang, sudah mendapat rejeki, mengalahkan penghuni rumah yang mulai terseok-seok keluar dari kamarnya untuk mencuci muka, pun mandi. Si burung pipit juga sudah meninggalkan arm yang dari tadi ia hinggapi. Terbang menikmati Minggu pagi yang begitu membebaskan.


--mega merah di penghujung senja, masih dari jendela belakang tingkat dua--f/broher inlaw
 @rukan panggung, 17th April 2011, 7:56 AM

Sedikit Catatan untuk Film "?"

Saya cukup menantikan film Hanung yang satu ini. Tertarik dengan tema yang diusung dari film ke-14 yang telah digarap sang sutradara. Kali ini Hanung hadir dengan mengusung tema toleransi beragama. Dalam salah satu surat kabar yang saya baca, Hanung mengatakan, "Saya sebagai orang islam jadi risih karena ada stigma bahwa agama islam itu agama yang berbahaya, tidak toleran dan teroris. Itu sebenarnya yang mau saya luruskan."

Berangkat dari inilah Hanung menghadirkan film yang berjudul "?" (baca: tanda tanya). Judul yang hanya membubuhkan satu tanda baca--tanda tanya-- cukup membuat saya bertanya-tanya, apa maksud Hanung memilih judul demikian? Di bawah judul "?", Hanung juga memberikan sebuah kalimat "Masih Pentingkah Kita Berbeda?" yang menjadi tagline dari film yang menghabiskan budget 5 milyar ini.

Kesempatan untuk menontonpun ada, hari Minggu (10/4) saya, kakak dan teman sama bekerja memanfaatkan waktu libur untuk menonton film yang baru rilis Sabtu kemarin di kota ini. "?" hanya ditayangkan di 21 (twenty one) Palembang Indah Mall (PIM), salah satu dari dua 21 di kota Palembang, 21 satu lagi bertempat di International Plasa (IP)--mall pertama di kota Pempek. Setiba di PIM kami langsung menuju 21 untuk beli tiket. Lumayan ramai, tapi tak terlalu. Entah film ini tak begitu menarik bagi penikmat film, entah karena saya sudah terlambat untuk menonton. Entahlah...

G16, nomor kursi saya. Tak lama setelah memasuki cinema 2, kira-kira 10 menit "?" dimulai.


Scene pertama dibuka dengan potret sebuah kota yang multikultural, berlokasi di Semarang dengan settingan Semarang 2010. Terpampang gapura bertuliskan 'Kota Baru'--nama kota itu. Gambar masjid, gereja dan wihara menunjukkan aktivitas masing-masing di lingkungan rumah ibadah yang berbeda. Ketika melihat scene di awal ini, langsung tertangkap bahwa tema yang akan diusung Hanung adalah toleransi beragama dan kehidupan sosial di antara masing-masing pemeluk agama tersebut.


Dikisahkan ada 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun (Henky Solaiman) memiliki sebuah restoran masakan Cina yang tidak halal. Namun sang pemilik terkenal sangat toleran dengan para pekerjanya yang kebanyakan dari kalangan muslim. Bahkan ia memisahkan seluruh alat masaknya untuk masakan yang halal dan tidak halal. "Yang pake ikat merah babi dan tidak pake ikat merah bukan babi," salah satu percakapan Tan dengan Ping Hen ketika mengajarkan anaknya mengelola restorannya.

Di keluarga lain, Soleh (Reza Rahardian) memiliki istri yang cantik dan taat beragama bernama Menuk (Revalina S. Temat) yang bekerja di restoran milik Tan Kat Sun. Canton Chinese Food nama restoran itu. Soleh adalah seorang suami dan bapak tanpa pekerjaan yang sedang berusaha keras agar menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Di ujung keputusasaannya, akhirnya Soleh bekerja sebagai Anggota Banser Ansori, salah satu Ormas Islam.

Sedangkan Rika (Endhita) seorang janda beranak satu yang harus dikucilkan keluarganya karena berpindah agama. Anak Rika bernama Abi (Baim), rajin mengaji. Sesuatu yang agak janggal memang ketika kita diperlihatkan dalam sebuah keluarga ibu mengantarkan anaknya mengaji, sementara anak mengaji ibunya ke gereja untuk beribadah juga. Dalam film ini diceritakan juga Rika menjalin hubungan dengan Surya (Agus Kuncoro) seorang pemuda tanpa pekerjaan tetap. Surya seorang muslim dan kerap kali ikut mengambil peran dalam drama perayaan paskah di gereja tempat Rika.

Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannnya dengan masalah perbedaan pandangan status, agama dan suku. Semuanya dipaparkan menarik dalam film berdurasi 100 menit ini. Penyanyi, Glenn Fredly juga turut meramaikan film bikinan suami Zascia Adya Mecca ini. Glen sebagai Doni berperan sebagai teman sesama jemaat di gereja tempat biasa Rika beribadah. Doni menaruh hati pada Rika, tapi di lain pihak Rika lebih memilih Surya sebagai pasangannya meski mereka berbeda keyakinan.

Konflik mengenai percintaan tak hanya pada Doni, Surya dan Rika. Menuk dulunya ternyata juga memiliki kisah dengan Ping Hen (Rio Dewanto) anak dari Tan si pemilik restoran. Perbedaan keyakinan membuat mereka tak menyatu. Rasa tak berbalas membuat Ping Hen menaruh dendam pada Soleh dan Hen juga tak menyukai Menuk bekerja di restoran ayahnya. Semata karena cemburu. Soleh juga menaruh dendam serupa kepada Ping Hen. Konflik memuncak ketika Hen mengambil alih restoran ayahnya yang sudah sakit-sakitan sejak lama. Jika biasanya Tan memberi jatah libur kepada karyawan muslimnya libur selama seminggu di waktu lebaran, tak demikian halnya Hen. Di hari kedua pada hari raya, Hen memutuskan untuk tetap membuka restorannya. Hal ini memicu Soleh dan rekannya di Banser Ansori mengamuk. Restoran Hen diserbu dan diamuk masa Ansori. Amarah Soleh pun tak terbendung yang akhirnya menerjang Tan.

Tak lama setelah penyerbuan Restoran, Tan meninggal. Diikuti juga dengan meninggalnya Soleh saat bertugas mengamankan perayaan Paskah di gereja. Soleh menyelamatkan jemaat dari serangan bom yang akhirnya merenggut nyawanya.

Ada satu adegan yang saya rasa terlalu dipaksakan. Hanung memunculkan Zaskia beserta anaknya (Sybil) pada adegan Surya bertamu kerumah ustad yang diperankan oleh David Chalik. Zaskia dalam cerita sebagai istri ustad, tak ada percakapan hanya selintas kemunculan Zaskia dan anaknya, beberapa detik saja. Menurut saya Hanung ingin pula mengeksiskan istri dan anaknya pada filmnya. (he...)

Di akhir cerita Hen mencoba kembali sadar dan membuat perubahan besar dalam hidupnya. Yakni, memeluk keyakinan baru. Restoran Canton Chinese Food pun menjelma menjadi Barokah Chinese Food. Sedangkan 'Kota Baru' pada gapura kota berganti nama menjadi 'Kota Soleh'.

Semuanya tersaji sederhana. Perbedaan begitu mengindahkan bukan mengacaukan. Film yang berangkat dari kisah-kisah nyata ini cukup mampu memunculkan decak kagum dari penonton. Tak sengaja saya mendengar tanggapan dari beberapa penonton di pintu Exit. Mereka berada di belakang saya, "Keren, keren, keren filmnya," kurang lebih begitu saya mendengar komentar mereka.

Terlepas dari pujian itu, karya Hanung banyak pula menuai pro dan kontra. Hal yang wajar karena tema yang diusung sangat sensitif. Tak ada yang mesti dipermasalahkan baik yang pro maupun kontra. Keduanya punya alasan yang kuat. Tapi, menurut saya Hanung mesti berhati-hati lagi ketika masih ingin terus membuat karya dengan tema serupa. Kritikan datang kepadanya bukan hanya kali ini saja, di beberapa film sebelumnya (Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah) Hanung telah menghadapi permasalahan yang sama.

Agaknya Hanung terjebak dalam tema yang ia usung. Ketika awalnya Hanung ingin menonjolkan kehidupan sosial dan toleransi beragama serta sisi humanisnya, malahan akhirnya Hanung terjebak pada ide pluralisme. Ide yang selama ini banyak ditentang banyak orang. Adegan penusukan pastur, kekerasan oleh banser Ansori (Soleh, khususnya), dan bom pada gereja bukannya meluruskan stigma masyarakat terhadap islam yang berbahaya, melainkan hal yang berbalik ditangkap oleh sebagian orang. Lebih lengkapnya silahkan baca beberapa protes terhadap film "?" pada link ini. Juga ini dan ini.

Dengan banyaknya kritikan yang diterima Hanung, semoga lebih banyak lagi film-film berkualitas lahir dari tangan pria keturunan Jawa-Cina ini. Sementara untuk penikmat film, ambil saja baiknya dan terus mempertembal iman agar bisa memilah baik pun buruk dari film yang disuguhkan.

Have a nice watch.. :))

nunggu cinema 2 'open'
jelang 17.15


@rukan panggung, 11th April 2011, jelang Maghrib